NovelToon NovelToon
Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: misshel

WARNING!!!!

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN!!!


Mengisahkan dua orang pria dan wanita yang terlibat sebuah pernikahan tanpa cinta. Tetapi sama-sama saling membutuhkan pernikahan tersebut demi kepentingan masing-masing.


Menghadapi pria yang dingin dan kaku, Naja sering menahan sesak karena tindakan dan ucapan pria yang telah menjadi suaminya itu.


Sedangkan Excel, yang tidak pernah berhubungan dengan wanita selain Mikha, harus menyesuaikan diri dengan istrinya yang ceroboh dan pemarah.


Mampukah mereka mempertahankan pernikahan mereka?


Hanya cerita biasa ajah, hiburan semata!

Alur selow Yess ✌, no visual di dalamnya...visual di taro di igeh...

21+ AREA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon misshel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan Ini ...

Excel masih merasa bersalah karena memakai Naja untuk menyelamatkannya dari kekecewaan orang tuanya. Bahkan Excel tak berani melihat ke arah Naja saat dia meninggalkan ruangan ini demi mengejar Tanna. Excel mengepal dalam hati, mengutuk Jen dan ya, semua ini sebab Jen juga. Jika Jen tidak membuka mulutnya, dia tidak akan menjerumuskan Naja dalam masalahnya. Pun dengan Naja, andai saja dia tidak mengiyakan Jen, Excel pasti sudah bergelung selimut dengan damai sekarang. Naja ikut andil dalam masalahnya kali ini. Ya, Excel tidak sepenuhnya salah. Dia hanya terjebak situasi.

“Maafkan Mama telah membentakmu, Sayang.” Kira duduk di sebelah Excel. Mengusap punggung yang sejak kecil menjadi sandarannya. “Mama masih ... yah, kau tau tentunya. Jeje berangkat tiba-tiba dan Mama masih ....”

Excel memeluk Mamanya, melihat Kira menangis, hati Excel selalu hancur. Inilah yang membuat Excel tak pernah mau terlihat buruk hingga membuat Mamanya kecewa dan menangis.

“Hei ... sejak kapan kau pacaran dengan Naja? Dan kenapa kamu menyembunyikannya dari kami, hem?” Kira melerai pelukan, merengut menatap putranya. Berusaha menekan perasaannya sendiri, agar tidak membuat siapapun menjadi cemas.

“Excel lupa Ma ... semua terjadi begitu saja, dan aku takut kalau ... kalau—" mencoba bersikap tenang meski hatinya sedang dilanda angin topan. Benar pepatah bilang, satu kebohongan akan ditutupi oleh kebohongan lain. Terus hingga kebenaran terungkap atau terbawa hingga ke alam kubur. Tak sanggup rasanya bila dia berbohong terlalu banyak, tetapi ... ah, Excel menghela napas panjang dan berat.

Tangan Kira terulur menyisir rambut Excel yang panjang di bagian depan. Menyisihkan helaian liar yang malah membuat putranya tampak begitu tampan. Senyuman di bibir Kira terbit, saat Excel menatapnya dengan lembut. Tak ada aura dingin menguar dari sorot mata putra tersayangnya. “Kenapa Nak? Apa ada masalah?”

“Ma ...,” pertikaian sengit benar terjadi di belakang kening Excel. Pun dengan batin yang sama sengitnya berperang.

“Iya Nak ...,”

Excel menatap lekat manik mata Kira yang begitu teduh dan menentramkan. “Aku ... aku sebenarnya ... belum yakin dengan–“

“Ma ... Jen dan calon kakak ipar ke atas dulu ya!” pekik Jen sumringah, berbeda saat dia keluar dari ruangan ini tadi. Jen berjalan santai dengan lengan mengait lengan Naja. Seolah menunjukkan bahwa mereka sudah seperti saudara.

Seketika Excel memalingkan wajah ke sisi lain saat manik mata gelap pria itu menangkap tatapan begitu dalam terarah kepadanya.

“Iya Sayang, jangan begadang ya ...!” titah Kira pada Jen yang mengacungkan jempol dan langsung menyerbu Mamanya. Memberi Mama dan Papanya ucapan selamat malam.

Naja masih mematung, dalam hati menimbang. “Apa aku hanya akan diam saja seperti ini?”

“Tuan ... Nyonya, saya ingin men—“

“Besok saja minta maafnya, lagian cinta itu gak pernah salah, ya kan Pa?”

Harris tersenyum melihat tingkah putrinya yang sungguh menggemaskan hingga dia hanya bisa mengiyakan, bukan hanya Jen, begitupun dengan Ranu. "iya ... sebaiknya kalian segera ke kamar jika ingin nonton drama. Tapi ingat jangan maraton, sewajarnya saja!”

Telunjuk Harris dengan tegas menunjuk wajah Jen. Memberi peringatan ulang karena Jen lebih abai dari Jeje. Entah kapan gadis ini akan bersikap lebih dewasa, batin Harris.

“Siap Papa,” Jen melingkarkan jemarinya membentuk simpul O, “Ayo Ja ...!”

Sentakan di pergelangan tangan Naja membuatnya memutus pandangan dari Excel yang sedari tadi berpaling ke sisi lain.

“Astaga ... pelan-pelan narik Najanya, Jen!” seru Kira saat Naja terseret paksa oleh Jen. Tubuh Naja bahkan oleng saking kuatnya sentakan Jen.

"Sorry Mum ...," seru Jen sambil terus menarik sahabatnya, hanya sedikit lebih lembut. Harris dan Kira hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anaknya.

"Sampai dimana kita tadi ya?" Kira kembali menghadapi Excel yang menunjukkan gelagat malas menanggapi pertanyaan Mamanya. Sehingga dia memilih menunduk sambil memainkan jemari yang bertaut di depan tubuhnya.

“Apa kau bisa membuktikan ucapanmu, Cel?” selidik Harris saat sekilas tampak keraguan di wajah Excel. Semakin murung dan penuh beban.

Excel menelan salivanya susah payah. Beginikah rasanya jadi terdakwa? Mungkin dari semua pengadilan, inilah ruang sidang yang paling berat. Mau tidak mau Excel harus tetap berbohong lagi.

“Bisa Pa. Papa mau bukti apa dari kami?”

“Kami ...?” Excel mengesah dalam.

“Secepatnya kalian meresmikan hubungan ini.” Cetus Kira tiba-tiba.

Excel membola, "Ma ...,"

"Iya, Mama memutuskan untuk segera melamar Naja untukmu, Cel. Mama tidak akan membiarkan bayangan Mikha menyentuh pikiranmu. Mama benar-benar kesal dengan sikap Mikha dan keluarganya."

"Ma ... jangan gegabah. Pikirkan dulu baik-baik lagi pula mereka belum lama saling mengenal." sela Harris saat Kira seperti sudah sangat yakin dengan ucapannya. Tampak sekali pria itu kurang sepakat dengan istrinya.

"Aku ngga gegabah kok Pa ... Mama hanya yakin, Naja adalah wanita baik-baik, tidak seperti Mikha itu." bantahan Kira membuat Harris mengatupkan bibirnya. Tak dipungkiri olehnya, Mikha telah membuat trauma di keluarga ini. Bahkan Kira meradang hampir satu minggu lamanya akibat ulah Mikha. Bukan masalah uang tapi hati putranya yang sangat mereka jaga.

Excel bergantian menatap dua orang yang teramat disayanginya. Setelak dan secepat ini kebohongannya mendapat respons. "Excel ke kamar dulu Pa, Ma. Aku tidak bisa memberi jawaban sekarang." ucapnya saat mencoba memahami sorot mata orang tuanya yang seakan meminta jawaban.

***

Naja memakai piyama milik Jen, ukuran tubuh yang kurang lebih sama hanya tinggi badan yang membedakan. Jen begitu menjulang sedangkan Naja hanya mencapai perpotongan leher Jen, meski tinggi Naja bisa dikategorikan cukup tinggi.

Naja tidak bisa berpikir saat ini, di tangannya tergenggam ponsel yang sejak beberapa saat lalu hanya dipandanginya. Hanya ucapan Excel dan bagaimana Excel menatapnya saat mengatakan omong kosong yang terngiang di benaknya. Tetapi saat nama Ai muncul secepat kilat dia segera menjawabnya. Apa yang dinanti pun muncul sudah seperti hero yang selalu datang disaat paling genting.

"Maaf Nana, Sayang ... aku baru sampai apartemen yang akan menjadi tempat kita tinggal nanti."

DEG.

Naja lupa ... lupa bahwa dia masih punya harapan untuk pergi dari situasi rumit ini. Ya ....dia masih punya Ai.

"Na ...,"

"I-iya ... aku tadi fokus nonton drama di TV jadi ngga jawab kamu,"

Ai terkekeh, "sejak kapan Nanaku suka nonton drama? gak sabar mau di bucinin sama aku ya? atau lagi cari referensi agar bisa bucin ke aku nanti?"

"Ih ... apaan sih?"

"Pipi kamu pasti panas dan merah sekarang." Ai meledakkan tawanya di ujung telepon.

"Ai ... aku matikan nih ...,"

"Eh, jangan. Aku kan belum puas denger suaramu ...."

Dan mengalirlah cerita Ai tentang perjalanannya hari ini. Hati Naja begitu senang dan bahagia saat mendengar Ai -nya begitu bersemangat terlebih saat memilih hunian untuknya, Ai dengan detail menceritakan kepada Naja.

"Dan khusus tempat untukmu menggambar, aku sudah siapkan meja yang menghadap lautan. Agar kamu bisa leluasa mencari ilham seperti ikan yang berenang dengan gembira di dalamnya."

Naja mengigit bibir, ucapan Ai berhasil membuatnya trenyuh. Entahlah, ini semua terasa mustahil untuk di-nyata-kan. Gumpalan besar seperti sedang menindih hati Naja saat ini.

"Makasih, Ai ... kau tahu yang terbaik untukku. Semoga satu bulan ini tidak lebih lama dari satu kedipan mata."

"Hem ... ada yang sudah tidak sabar untuk menjadi Nyonya Syailendra rupanya."

"Apaan sih ... kau membuatku malu."

"Ah ... Nana. Kau pasti cantik saat merona seperti sekarang."

Naja memegang pipinya yang terasa panas dan ... basah. Sikap Ai dan apa yang baru saja dialaminya membuatnya semakin galau.

"Aku marah nih ...,"

"Eh jangan ... aku bercanda Sayang. Bukan hanya kamu yang tidak sabar menunggu satu bulan, aku pun juga ingin segera sampai di hari itu."

.

.

.

.

.

1
Jessica
Luar biasa
Darmi Hana
Kecewa
Surati
Bagus
Raghiel Phoetra
Luar biasa
Diana Afra
mantap jayaa
jumirah slavina
sial'y bakal bikin km k'canduan
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rini Astria
Kecewa
Rini Astria
Buruk
futurewife
👍
watini fitrah
kmu lebih bodoh ganteng kaya culun😀
citra ucit
jgn2 mikha lagi kekasihnya tristan
El aisya
akhirnya🤣🤣
Widhi Labonee
syukaaaaaakkk
Asha Zhafira
🥰🥰🥰
Dewi Chusnual
😆😆😆biasanya sepanjang... tp ini sependek ,bisa aja Thor😁
Nurwana
berikan kebahagiaan untuk Ai Thor.....
JandaQueen
𝚒𝚝𝚞 𝚜𝚒 𝚖𝚒𝚔𝚑𝚊 𝚐𝚊 𝚓𝚊𝚍𝚒 𝚍𝚒 𝚙𝚎𝚗𝚓𝚊𝚛𝚊 𝚔𝚛 𝚗𝚒𝚔𝚊𝚖 𝚋𝚊𝚙𝚊𝚔 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊...
JandaQueen
𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚐𝚊𝚐𝚊𝚕 𝚏𝚊𝚑𝚊𝚖, 𝚔𝚎𝚜𝚊𝚕𝚊𝚑𝚊𝚗 𝚗𝚊𝚓𝚊 𝚗𝚢𝚊 𝚊𝚙𝚊 𝚢𝚊, 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚎 𝚍𝚒𝚜𝚞𝚛𝚞𝚑 𝚋𝚊𝚕𝚒𝚔 𝚋𝚊𝚍𝚊𝚗. 𝚋𝚒𝚜𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚒 𝚝𝚎𝚕𝚒𝚗𝚐𝚊 𝚢𝚐 𝚋𝚒𝚔𝚒𝚗 𝚎𝚡𝚌𝚎𝚕 𝚖𝚛𝚒𝚗𝚍𝚒𝚗𝚐 𝚍𝚒𝚜𝚌𝚘 𝚔𝚊𝚕𝚒 𝚢𝚊... 🤔
Suka Baca
Sungguh Thor karyamu bagus.. kata2 nya warrbiasa. 👍🏻 tetangga aku pinjem, jempolku cuma 2, kurang buat njempoli karyamu
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
JandaQueen
𝚍𝚞𝚑 𝚎𝚡𝚌𝚎𝚕, 𝚔𝚊𝚕𝚘 𝚗𝚐𝚘𝚖𝚘𝚗𝚐 𝚜𝚊𝚗𝚐𝚎𝚞𝚗𝚊𝚑𝚗𝚊 𝚠𝚊𝚎. 𝚜𝚎𝚋𝚎𝚕 𝚐𝚞𝚎 𝚖𝚊 𝚔𝚎𝚕𝚊𝚔𝚞𝚊𝚗 𝚕𝚘. 𝚐𝚞𝚎 𝚔𝚞𝚝𝚞𝚔 𝚕𝚘 𝚋𝚞𝚌𝚒𝚗 𝚜𝚎 𝚋𝚞𝚌𝚒𝚗2 𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚎 𝚗𝚊𝚓𝚊...😣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!