NovelToon NovelToon
Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:373
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.

**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.

Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:

*"Om… aku mencintaimu."*

*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*

Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?

Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.

Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

Hujan

Tiga minggu setelah ulang tahun Rangga, hujan membanjiri kamar kosku.

Awalnya hanya satu tetes dari sudut plafon. Aku memindahkan meja belajar dan meletakkan ember. Lima menit kemudian, air merembes dari dua titik lain. Cat dinding menggelembung, lampu berkedip, lalu seluruh kamar gelap ketika listrik turun.

Aku berdiri di atas kasur sambil memegang senter ponsel. Air sudah menutupi sebagian lantai dan mendekati kabel ekstensi.

Penjaga kos memintaku mematikan sakelar utama kamar. Pemilik bangunan menjawab telepon setelah tiga kali panggilan, tetapi tukang baru bisa datang pagi. Dia menawarkan kamar kosong di lantai bawah, lalu menemukan plafonnya juga bocor.

Aku memotret kerusakan, mengangkat laptop dan buku ke rak tertinggi, kemudian memasukkan pakaian secukupnya ke tas. Hujan di luar terdengar seperti kerikil dilemparkan ke atap seng.

Dinda sedang pulang ke rumah orang tuanya. Panggilanku tidak tersambung, mungkin karena jaringan terganggu.

Tanpa berpikir panjang, aku membuka kontak Om Bram.

Jariku belum sempat menekan panggil ketika tubuhku sudah mengambil jaket dan berlari ke gerbang. Taksi daring sulit didapat. Aku menunggu hampir dua puluh menit di bawah kanopi sempit, tetapi angin meniup air dari samping sampai seluruh bajuku basah.

Saat mobil akhirnya datang, alamat tujuan yang kumasukkan adalah Puri Cendana.

Aku baru menyadarinya setelah kendaraan bergerak.

Rumah itu masih menjadi tempat pertama yang kupikirkan ketika semua tempat lain tidak aman.

Hampir tengah malam saat aku berdiri di depan pintunya. Petugas keamanan sudah menghubungi rumah, tetapi aku tetap ragu mengetuk. Rambutku menempel di wajah, gigiku bergemeletuk, dan air menetes dari ujung jaket ke lantai teras.

Pintu terbuka.

Om Bram muncul dengan kaus lengan panjang dan celana rumah. Wajahnya langsung berubah ketika melihatku.

"Apa yang terjadi?"

"Kos bocor."

Dia menarik handuk mandi besar dari lemari dekat pintu, lalu menyelubungkannya ke bahuku.

"Masuk dulu."

Aku melangkah ke dalam. Kehangatan rumah membuat kulitku semakin sadar betapa dinginnya hujan. Om Bram memanggil Mbok Nah, meminta pakaian kering dan wedang jahe, lalu mengambil handuk kecil.

"Boleh saya keringkan rambutmu?" tanyanya.

Aku mengangguk.

Dia berdiri di belakangku dan menekan handuk perlahan pada ujung rambut yang menetes. Gerakannya hati-hati, tidak menggosok kasar. Sesekali jemarinya menyentuh rambut, lalu langsung menjauh dari kulit.

"Kenapa tidak menelepon sebelum datang?"

"Aku nggak kepikiran."

"Tapi kepikiran datang ke sini."

Nada suaranya berubah lebih lembut.

"Iya," jawabku.

Mbok Nah membawa pakaian tidur lama milikku yang masih tersimpan di lemari. Aku berganti di kamar mandi, mengeringkan tubuh, lalu kembali ke ruang tamu dengan selimut menutup bahu.

Secangkir wedang jahe mengepul di meja.

"Minum sampai habis, Neng," kata Mbok Nah. "Mbok harus berangkat ke Bekasi sebentar. Cucu Mbok demam tinggi dan anak Mbok minta ditemani ke klinik."

"Sekarang, Mbok? Hujan deras."

"Mobil dari anak Mbok sudah di jalan. Den Bram, Mbok izin sampai besok siang."

Om Bram mengangguk. "Kabari kalau butuh bantuan rumah sakit. Jangan menyetir sendiri."

Setelah Mbok Nah pergi, rumah menjadi sangat sunyi.

Aku dan Om Bram duduk berdampingan di sofa, terpisah jarak satu bantal. Petir menyala di balik jendela. Sesaat kemudian, suara guntur mengguncang kaca.

Aku merapatkan selimut.

"Pemilik kos sudah tahu?" tanyanya.

"Sudah. Tukang datang pagi. Aku matikan listrik kamar dan pindahkan barang elektronik."

"Bagus. Besok Fikri akan membantu memeriksa kerusakan dan memastikan tempat itu aman sebelum kamu kembali."

"Om mulai mengatur lagi."

"Saya menawarkan bantuan teknis. Kamu boleh menolak."

Aku menatapnya. Dia benar-benar menunggu jawaban.

"Aku terima," kataku.

"Baik."

Om Bram mengambil ponselnya dan memintaku menunjukkan foto kerusakan. Dia memperbesar bagian kabel yang hampir terkena air, lalu menghubungi penjaga kos untuk memastikan sakelar utama lantai benar-benar sudah diputus. Setelah mendapat konfirmasi, dia meminta nomor pemilik bangunan, tetapi menyerahkan ponsel kembali kepadaku.

"Kamu yang bicara sebagai penyewa," katanya. "Saya duduk di sini kalau kamu butuh bantuan memahami perbaikannya."

Aku menelepon dan meminta pemeriksaan atap, instalasi listrik, serta laporan tertulis sebelum kamar dinyatakan aman. Om Bram tidak mengambil alih satu kalimat pun. Dia hanya menuliskan tiga poin di kertas dan menggesernya ke arahku.

Ketika panggilan berakhir, pemilik kos berjanji menanggung pembersihan dan menyediakan kamar pengganti setelah listrik diperiksa.

"Ternyata aku bisa mengurusnya," kataku.

"Saya tidak pernah bilang kamu tidak bisa."

"Dulu Om pasti sudah membeli gedung kosnya."

"Saya sempat memikirkan itu."

Aku tertawa. "Untung Om belajar."

"Belajarnya mahal."

Perubahan kecil itu membuat dadaku hangat. Dulu dia akan langsung memindahkanku dan memberi perintah. Sekarang dia memberi pilihan, meski kekhawatiran tetap jelas di wajahnya.

Kami mendengarkan hujan beberapa saat.

"Aku boleh tidur di kamar lama?"

"Tentu."

"Om nggak akan menyuruhku kembali ke kos sebelum selesai diperbaiki?"

"Saya tidak akan menyuruhmu tinggal di tempat yang tidak aman. Tapi keputusan setelah perbaikan tetap milikmu."

Aku memegang cangkir dengan kedua tangan. Uap jahe menyentuh wajah.

"Makasih udah selalu ada, Om."

POV Bram

Sekar mengucapkannya tanpa melihatku.

Rambutnya masih lembap. Beberapa helai menempel di dahi, dan ujung bulu matanya menangkap cahaya lampu seperti sisa air hujan. Selimut besar membuat tubuhnya tampak kecil, tetapi aku memaksa diri mengingat bahwa perempuan di sampingku telah datang atas pilihannya sendiri.

`Selalu ada.`

Aku nyaris tertawa pahit. Beberapa minggu lalu aku sengaja menghilang dan hampir membuatnya menghancurkan diri. Aku tidak pantas menerima terima kasih itu seolah keberadaanku tidak pernah gagal.

"Saya tidak selalu ada," kataku.

Sekar menoleh. "Tapi malam ini Om ada."

"Sekar."

"Aku nggak minta jawaban malam ini." Dia meletakkan cangkir. "Aku cuma bilang terima kasih."

Guntur terdengar lagi. Sekar tidak terkejut. Aku justru merasa seluruh pertahananku retak oleh kalimat sederhana itu.

Tanganku terangkat untuk menyingkirkan rambut basah dari dahinya. Aku berhenti sebelum menyentuh.

"Boleh?"

Dia mengangguk.

Aku menyelipkan helai rambut itu ke belakang telinganya. Jemariku tinggal sepersekian detik terlalu lama di dekat pelipis. Sekar tidak mundur.

Mata kami bertemu.

Jarak satu bantal tadi sudah hilang entah sejak kapan. Aku bisa mendengar napasnya di antara suara hujan. Dia memiringkan wajah sedikit, bukan menjauh, melainkan memberiku ruang untuk memilih.

Aku condong mendekat.

Tidak ada alkohol, kepanikan, atau orang lain yang mendorong keputusan ini. Kami sama-sama sadar dan sama-sama masih memiliki kesempatan untuk mundur.

"Kalau Om mau berhenti, berhenti sekarang," bisiknya.

Aku tidak berhenti.

Sekar menutup mata. Aku melakukan hal yang sama ketika petir menyala penuh di balik jendela. Hanya tersisa hangat napasnya dan jarak terakhir yang belum kulewati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!