NovelToon NovelToon
Jejak Hitas

Jejak Hitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Keluarga & Kasih Sayang / Healing
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: Hita Nurhidayanti

PROLOG

Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.

Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.

Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.

Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketakutan yang Kembali Datang

Beberapa bulan setelah kejadian itu, sesuatu yang selama ini paling kutakutkan ternyata benar-benar terjadi. Kondisi Mama perlahan mulai berubah dan sakit yang dideritanya semakin sering kambuh. Batuk yang sebelumnya hanya sesekali terdengar kini hampir setiap hari memenuhi rumah kami. Setiap kali pulang sekolah, aku tidak lagi menemukan Mama seperti dulu, berdiri di dapur sambil menyiapkan makanan, karena sekarang Mama lebih sering terbaring di tempat tidur dengan tubuh yang terlihat semakin lemah.

Hampir setiap hari suara batuk Mama terdengar dari dalam kamar dan memecah suasana rumah yang sebelumnya begitu akrab dengan suara kesibukan.

"Uhuk... uhuk... uhuk..." suara itu terdengar berulang-ulang, terkadang cukup lama hingga membuatku ingin segera masuk dan melihat keadaan Mama. Beberapa kali Mama dibawa ke rumah sakit, kemudian ke klinik, tetapi setelah diperiksa dan mendapatkan pengobatan, Mama kembali dibawa pulang karena penyakit lama yang dideritanya memang sudah sulit untuk disembuhkan.

Aku tidak sepenuhnya mengerti tentang penyakit yang sedang Mama lawan, tetapi aku bisa melihat perubahan yang terjadi pada dirinya. Mama yang dulu selalu sibuk di dapur, membangunkan kami di pagi hari, memarahi kami ketika melakukan kesalahan, dan memastikan kebutuhan kami terpenuhi, kini lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat tidur.

Setiap kali melihat keadaan itu, ada rasa takut yang perlahan tumbuh di dalam diriku, meskipun aku selalu berusaha mengusirnya dengan keyakinan bahwa Mama pasti akan sembuh.

Suatu hari, aku bersama Ucaluna menghampiri Mama yang sedang terbaring sakit. Aku duduk di dekat tempat tidurnya sambil memperhatikan wajah Mama yang terlihat pucat dan lelah. Sesekali Mama kembali batuk, lalu berusaha mengatur napas sebelum akhirnya memandang kami berdua.

"Mama sekarang sudah tidak menyiapkan makanan seperti dulu, ya. Mulai sekarang kalian berdua yang menyiapkan makanan untuk Bapak, ya," ucap Mama dengan suara yang pelan.

Aku langsung merasa tidak nyaman mendengar perkataan itu. Entah mengapa kalimat Mama terdengar berbeda bagiku, seolah-olah ada sesuatu yang ingin disampaikannya, meskipun aku sendiri tidak tahu apa maksud sebenarnya.

"Mama, kenapa bicara seperti itu? Mama pasti sembuh."

Aku berusaha mengatakan itu dengan penuh keyakinan, karena aku tidak ingin Mama berbicara seolah-olah dirinya tidak akan bisa kembali seperti dulu. Aku ingin percaya bahwa sakit yang sedang dialaminya hanyalah sesuatu yang akan berlalu setelah mendapatkan pengobatan.

Mama hanya tersenyum kecil melihat kami. Senyum itu masih sama seperti yang selama ini kukenal, tetapi tubuhnya sudah tidak lagi sekuat dahulu. Beberapa saat kemudian, batuk kembali terdengar dan membuat Mama harus berhenti berbicara untuk beberapa waktu.

Hampir setiap beberapa menit Mama meminta air hangat untuk membantu mengurangi batuknya.

"Hitas, ambilkan Mama air hangat."

"Iya, Ma."

Aku segera mengambilkan air hangat untuk Mama. Aku tahu air itu tidak akan menyembuhkan penyakitnya, tetapi setidaknya bisa sedikit mengurangi rasa tidak nyaman yang dirasakannya ketika batuk datang. Setiap kali Mama meminta air hangat, aku berusaha segera memberikannya, karena aku tidak tega melihat Mama terus menahan batuk seorang diri.

Rumah kami perlahan tidak lagi terlihat seperti dulu. Dapur yang sebelumnya selalu dipenuhi aroma masakan Mama kini lebih sering sunyi karena tidak ada lagi Mama yang sibuk menyiapkan makanan.

Tidak ada lagi suara Mama yang marah-marah ketika kami membuat kesalahan, tidak ada lagi teriakan Mama di pagi hari untuk membangunkan kami, dan tidak ada lagi kesibukan kecil yang dahulu membuat rumah sederhana kami terasa begitu hidup.

Kini, yang lebih sering terdengar hanyalah suara batuk Mama yang memecah keheningan rumah.

Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, kebiasaanku pun ikut berubah. Kalau dahulu aku biasanya langsung menuju dapur atau duduk di kursi depan sebelum berangkat, sekarang aku selalu masuk terlebih dahulu ke kamar Mama untuk menyalaminya. Aku tidak ingin pergi ke sekolah sebelum melihat wajah Mama dan mendengar suaranya.

"Mama, Hitas sama Ucaluna berangkat sekolah, ya."

Mama menatap kami dari tempat tidurnya. Meskipun tubuhnya terlihat lemah, ia tetap berusaha memberikan senyum kecil kepada kami.

"Iya, Nak. Hati-hati dan belajar dengan rajin. Kalau sudah selesai belajarnya, pulang. Jangan singgah."

Suara Mama terdengar begitu lembut ketika mengingatkan kami. Tidak seperti dahulu ketika suaranya sering terdengar keras saat membangunkan kami di pagi hari, kali ini ia berbicara dengan tenaga yang jauh lebih sedikit.

"Iya, Ma. Hitas akan pulang di rumah kalau sudah selesai belajarnya."

Aku kemudian mencium tangan Mama sebelum pergi bersama Ucaluna.

Sepanjang perjalanan menuju sekolah, pikiranku tidak benar-benar tertuju pada pelajaran yang akan kuikuti. Perkataan Mama terus terngiang di kepalaku, begitu pula suara batuknya yang sejak beberapa bulan terakhir menjadi bagian dari keseharian kami. Ada rasa takut yang tidak bisa kujelaskan, terlebih ketika ingatanku kembali kepada Bapak.

Bagaimana kalau Mama seperti Bapak dulu?

Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dalam pikiranku dan membuat langkahku terasa berat. Aku kembali teringat pada masa ketika Bapak sering sakit, suara batuknya yang dahulu memenuhi rumah, wajahnya yang pucat, hingga akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa Bapak tidak akan pernah kembali.

Aku tidak ingin hal yang sama terjadi kepada Mama.

Aku tidak ingin kembali merasakan kehilangan seperti dulu.

Aku segera menyadarkan diriku sendiri dan berusaha mengusir pikiran buruk itu. Astaga, tidak mungkin. Mama pasti sembuh. Mama hanya sakit biasa.

Aku terus meyakinkan diriku sepanjang perjalanan, seolah-olah dengan mengulang kalimat itu berkali-kali rasa takut di dalam hati bisa benar-benar hilang. Namun, semakin aku mencoba untuk tidak memikirkannya, semakin jelas pula bayangan Mama yang terbaring di tempat tidur muncul di kepalaku.

Hitas, bodoh... jangan berpikir seperti itu. Mama pasti sembuh.

Aku menggumamkan kalimat itu dalam hati sambil terus berjalan menuju sekolah. Aku ingin percaya pada perkataanku sendiri, ingin percaya bahwa Mama akan kembali sehat dan suatu hari nanti dapur rumah kami akan kembali dipenuhi aroma masakan, suara Mama yang memanggil kami, serta segala kesibukan kecil yang selama ini tidak pernah kusadari begitu berharga.

Tetapi di balik semua keyakinan itu, ada ketakutan yang diam-diam terus mengikuti langkahku.

Ketakutan kehilangan Mama, seperti aku pernah kehilangan Bapak.

...***...

1
Sahir
semanggat ...👌
Sahir
semanggat hitas😭.....keren banget
Hita Nurhidayanti: "Terima kasih sudah membaca dan memberikan semangat. Semoga Jejak Hitas bisa terus menemani sampai akhir cerita. 🤍✨"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!