NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang CEO

Istri Rahasia Sang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 028: Bunga Beracun

Seminggu setelah Jessica memakai Gelang Akik Merah, Sayap Giok kembali tenang seperti permukaan kolam yang tidak pernah mengenal badai.

Pagi hari ada laporan belanja. Siang hari ada daftar pekerja yang harus ditandatangani. Sore hari, biasanya ada bunga.

Compound Hendrawan punya kebiasaan yang terdengar boros bagi orang biasa, tetapi sangat normal bagi keluarga sebesar itu. Setiap minggu, florist langganan mengirim rangkaian bunga segar ke beberapa sayap utama. Pavilion Mama mendapat anggrek putih atau mawar lembut. Sayap Anggrek milik Vivienne sering menerima bunga warna pucat yang mahal dan sulit dirawat. Sayap Giok, sejak Keira tinggal di sana, biasanya mendapat rangkaian sederhana yang tidak terlalu harum.

Keira tidak pernah meminta itu.

Tetapi setelah memegang Kunci Utama, ia mulai belajar bahwa di rumah orang kaya, bahkan bunga pun punya arsip, anggaran, dan tanda tangan penerima.

Sore itu Ningsih masuk membawa vas kristal tinggi dan seikat bunga baru. Ada lili putih, chamomile kecil berwarna kuning, dan beberapa daun hijau yang disusun rapi dengan pita krem.

"Mbak, bunga minggu ini cantik banget," kata Ningsih, wajahnya cerah. "Tadi Mas Andi bilang kirimannya datang lebih cepat, jadi saya langsung bawa ke sini sebelum layu."

Keira sedang duduk di dekat jendela, memeriksa laporan pembelian bahan dapur. Angka telur yang minggu lalu membengkak sudah turun setelah ia mengganti prosedur tanda tangan. Tetapi pengeluaran aneh untuk pemeliharaan fasilitas luar masih belum punya jawaban.

Ia mengangkat wajah.

"Serena tidak ikut?"

"Ci Serena katanya sedang di kamarnya istirahat," jawab Ningsih sambil menaruh vas di meja. "Dari pagi tidak turun. Ci Jessica juga di kamar, katanya mau video call sama temannya."

Keira mengangguk.

Nama Serena membuat dadanya bergerak pelan. Dalam seminggu terakhir, gadis itu terlalu pandai hadir. Ia tahu kapan Keira membutuhkan teman minum teh, kapan harus diam, kapan harus memuji Mama Lian secukupnya agar tidak terdengar menjilat.

Justru karena itu, ketidakhadirannya terasa seperti titik kosong di atas kertas putih.

Namun Keira tidak punya bukti untuk curiga pada orang yang sedang beristirahat.

"Biar aku rapikan," katanya.

"Biar saya saja, Mbak."

"Tidak apa-apa. Aku juga perlu berdiri sebentar."

Keira meletakkan pena, lalu mendekati vas. Lili itu memang cantik. Putih bersih, kelopaknya membuka dengan sikap anggun yang terlalu sempurna. Chamomile kecil di sela-selanya memberi kesan lembut, seperti senyum seseorang yang tidak berbahaya.

Ia mengambil gunting kecil dari laci, memotong ujung batang yang terlalu panjang, lalu menyusun ulang beberapa tangkai agar rangkaiannya tidak berat sebelah.

Saat jari telunjuknya menyentuh salah satu batang lili, sesuatu yang halus menempel di kulitnya.

Keira berhenti.

Di bawah cahaya sore, ada serbuk tipis pada batang itu. Tidak banyak. Hampir tidak terlihat. Warnanya pucat, bukan debu biasa dari perjalanan, dan teksturnya terlalu rata untuk tanah.

"Ningsih," panggilnya pelan.

"Iya, Mbak?"

"Bunga ini sudah disemprot sesuatu?"

Ningsih mendekat, bingung. "Setahu saya tidak, Mbak. Biasanya florist cuma kirim sudah rapi. Kenapa?"

Keira menggosokkan ujung jari pada ibu jarinya. Ada rasa licin yang aneh.

Instingnya menegang.

Ia baru hendak berkata agar bunga itu dibuang ketika panas menyambar kedua telapak tangannya.

Awalnya seperti terkena air mendidih tipis. Lalu berubah menjadi gatal tajam yang menusuk dari kulit ke tulang. Keira menarik napas, tetapi udara yang masuk terasa pendek.

"Mbak?"

Keira menunduk. Dalam beberapa detik, kulit di punggung tangannya memerah. Bintik-bintik kecil muncul, cepat sekali, seperti api yang merambat di bawah kulit.

"Jangan sentuh bunganya," kata Keira, suaranya serak.

Ningsih membeku.

Keira melangkah mundur, tetapi lantai seperti bergeser. Penglihatannya kabur di bagian tepi. Perutnya berbalik dengan keras. Ia menutup mulut, lalu terhuyung.

"Mbak!"

Tubuh Keira membentur sisi meja. Laporan pembelian jatuh berserakan. Ia berusaha menarik napas lagi, tetapi dadanya menyempit. Bau lili yang tadi lembut berubah menjadi sesuatu yang mual, manis, dan memualkan.

Ia tidak sempat mencapai kamar mandi.

Rasa muntah menghantamnya begitu keras sampai lututnya lemas.

Ningsih menjerit.

"Tolong! Tolong! Mbak Keira kenapa!"

Ratna yang sedang berada di koridor berlari masuk hampir bersamaan dengan dua pekerja kebersihan. Wajah Ratna langsung berubah ketika melihat tangan Keira yang memerah dan tubuhnya yang gemetar di dekat meja.

"Jangan ada yang sentuh bunga itu!" bentak Ratna. Ia meraih bahu Keira dan menopangnya ke sofa. "Ningsih, mundur. Jangan panik."

"Saya tidak tahu, Bu Ratna. Saya cuma bawa bunga. Mbak Keira tiba-tiba..."

"Panggil medis."

Ratna mengambil walkie-talkie dari pinggangnya.

"Kode medis di Sayap Giok. Sekarang. Hubungi Dokter Xiao. Hubungi Pak Rio."

Keira ingin berkata tidak.

Jangan.

Jangan sampai Darren tahu.

Ia tahu persis apa arti namanya jika disebut di saluran darurat compound. Dalam lima menit, semua orang akan tahu. Dalam sepuluh menit, Rio akan mengunci gerbang. Dalam dua puluh menit, Darren akan meninggalkan apa pun yang sedang ia lakukan.

Dan Darren, jika melihatnya dalam keadaan seperti ini, tidak akan menjadi orang yang mudah dihentikan.

Keira mengangkat tangan, tetapi jemarinya gemetar. Napasnya tersangkut. Setiap tarikan udara terasa seperti melewati kapas basah.

"Ningsih..." bisiknya.

Ningsih menangis sambil memegang ujung sofa. "Mbak, saya di sini."

Keira menangkap pergelangan tangannya dengan sisa tenaga.

"Jangan... bilang Darren..."

Ratna menoleh cepat.

Tetapi di lorong, suara langkah sudah ramai. Seorang petugas medis membawa kotak darurat. Di belakangnya, Dokter Xiao datang dengan wajah yang jarang sekali kehilangan ketenangan.

Ia melihat vas, melihat kulit tangan Keira, lalu memberi perintah singkat. Bunga diamankan. Area meja dijauhkan. Kontak pada kulit dibersihkan. Keira diberi penanganan darurat untuk reaksi akutnya.

Semua terjadi seperti potongan gambar yang pecah.

Lampu di langit-langit.

Wajah Ningsih yang basah.

Suara Ratna melarang orang mendekat.

Tangan Dokter Xiao yang bergerak cepat tetapi tidak kasar.

Lalu gelap tipis, bukan pingsan sepenuhnya, hanya dunia yang menjauh beberapa langkah dari tubuhnya.

Pada saat yang sama, di lantai atas Hendrawan Tower, Darren sedang duduk di ujung meja panjang ruang rapat.

Di layar depan, angka tiga puluh miliar rupiah ditampilkan dalam huruf besar. Sebuah akuisisi kecil, jika dibandingkan dengan skala Hendrawan Group, tetapi cukup penting untuk membuat empat direktur, dua penasihat hukum, dan tiga investor duduk tegak sejak pukul dua siang.

Seseorang sedang menjelaskan proyeksi integrasi aset.

Darren mendengarkan tanpa ekspresi.

Ponselnya bergetar.

Biasanya, tidak ada panggilan yang boleh masuk ke ruang rapat seperti itu kecuali dari tiga orang: Pak Ji, Rio, atau Keira.

Nama di layar: Rio Kurniawan.

Darren mengangkat.

"Bicara."

Ia hanya diam selama tujuh detik.

Tujuh detik itu cukup untuk membuat seluruh ruangan berubah dingin.

Direktur keuangan yang sedang menunjuk grafik menurunkan tangannya perlahan. Penasihat hukum saling melirik. Investor yang tadi tersenyum mengencangkan rahang.

Wajah Darren tidak berubah banyak. Tetapi jari-jarinya yang memegang ponsel memutih.

"Keadaannya?"

Rio menjawab dari seberang.

Darren berdiri.

Kursinya bergeser di lantai marmer dengan suara pendek yang membuat semua orang menahan napas.

Pria yang tidak pernah terlambat, tidak pernah membatalkan, dan tidak pernah menunjukkan emosi di meja bisnis itu menatap layar presentasi seolah angka tiga puluh miliar di sana mendadak tidak lebih penting daripada debu.

"Rapat ditunda."

Hanya itu.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada permintaan maaf.

Ia keluar dari ruang rapat, meninggalkan semua orang dalam kesunyian yang canggung dan takut.

Pak Ji menyusul dengan wajah tegang sambil memberi instruksi kepada asisten melalui telepon. Di bawah gedung, mobil sudah menunggu. Rio mengatur jalur dari compound, mengirim pengawal bermotor untuk membuka jalan di titik paling padat.

Jakarta sore hari selalu keras kepala. Tetapi hari itu, kemarahan Darren Hendrawan bergerak lebih cepat daripada lalu lintas.

Ketika ia tiba di Sayap Giok, matahari sudah turun dan seluruh sayap dipenuhi suara langkah tertahan.

Keira terbaring lemah di sofa. Wajahnya pucat, bibirnya kehilangan warna, tetapi napasnya sudah lebih stabil. Tangan yang tadi memerah sudah dibalut kain bersih setelah ditangani. Dokter Xiao berdiri di sisi sofa. Ningsih duduk di lantai dekat kaki Keira, masih menangis tanpa suara.

Darren berhenti di ambang pintu selama satu detik.

Satu detik saja.

Seperti orang yang melihat lubang terbuka tepat di bawah hidupnya.

Lalu ia melangkah masuk.

"Keira."

Suaranya rendah. Terlalu rendah.

Keira membuka mata dengan susah payah. Saat melihat wajahnya, seluruh ketegangan yang ia tahan sejak pertama kali rasa panas menyerang kulitnya akhirnya retak.

"Pak Darren..."

Darren berlutut di samping sofa dan memeluknya.

Tidak keras. Tidak sampai menyakitkan. Tetapi cukup erat untuk membuat semua orang di ruangan itu paham bahwa jika Keira benar-benar hilang dari tangannya, sesuatu di Jakarta mungkin ikut runtuh malam itu juga.

Keira merasakan dagunya menempel di rambutnya. Ia juga merasakan tangan Darren bergetar.

Pria itu, yang bisa membuat ruangan rapat bernilai puluhan miliar berhenti hanya dengan satu kalimat, sedang gemetar.

"Aku tidak apa-apa," bisik Keira.

"Diam."

Kata itu kasar. Tetapi lengannya justru semakin hati-hati.

Keira menutup mata. Untuk sesaat, rasa sakit dan mual seolah mundur. Yang tersisa hanya dada Darren, napas Darren, dan bau kain jas yang membawa sedikit aroma hujan dari jalan.

Namun kelembutan itu tidak bertahan lama.

Darren melepaskannya perlahan, memastikan ia masih sadar, lalu berdiri.

Ketika ia berbalik, pria yang tadi gemetar sudah tidak ada.

Yang berdiri di depan Rio adalah Darren Hendrawan yang membuat pekerja lama compound menundukkan kepala bahkan sebelum ia bicara.

"Siapa yang melakukan ini? Temukan orangnya. Dan pastikan keluarganya menghilang dari Jakarta."

Ruangan itu hening.

Ningsih menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ratna menunduk. Bahkan Dokter Xiao tidak segera berkata apa pun.

Rio tidak bertanya apakah perintah itu berlebihan.

"Baik, Pak."

Malam itu, compound Hendrawan dikunci seperti benteng.

Gerbang utama ditutup. Gerbang samping dijaga dua kali lipat. Semua kendaraan yang masuk sejak pagi diperiksa ulang. Rekaman kamera dari pintu servis, dapur, halaman belakang, dan rumah kaca bunga ditarik ke ruang keamanan.

Setiap orang diminta tetap berada di kamar masing-masing.

Mama Lian mendapat kabar di Pavilion Mama. Kabarnya, ia berdiri lama di depan jendela, wajahnya kaku, tetapi tidak datang ke Sayap Giok. Mungkin karena gengsi. Mungkin karena takut melihat Darren dalam keadaan itu.

Jessica juga diberitahu oleh pelayan agar tidak keluar kamar. Ia sempat ingin datang, tetapi Ratna mengirim pesan tegas bahwa area Sayap Giok sedang disterilkan.

Di Sayap Anggrek, Vivienne mendengar semuanya dari pelayan yang bolak-balik mengambil air panas. Tidak ada yang tahu apa yang ia pikirkan. Tetapi malam itu lampu kamarnya menyala lebih lama dari biasanya.

Serena saat itu tidak ada di Sayap Giok. Ia bilang sedang di kamarnya istirahat.

Kalimat itu dicatat begitu saja oleh Ratna dalam laporan awal, tanpa penekanan, tanpa kecurigaan.

Sementara itu, di Ruang Kerja Darren, udara berubah seperti ruang sidang tanpa hakim.

Pak Ji berdiri di dekat pintu. Rio memimpin pemeriksaan. Andi datang dengan wajah pucat, membawa tablet inventaris dan satu map plastik bening berisi salinan tanda terima bunga.

Keira seharusnya tetap berbaring di sofa.

Tetapi setelah napasnya stabil, ia menolak dipindahkan ke kamar sebelum mendengar laporan pertama.

Darren tidak setuju.

Keira hanya menatapnya dengan wajah masih pucat.

"Kalau aku tidak tahu, aku tidak bisa tidur."

"Kamu hampir mati."

"Maka aku harus tahu siapa yang membuatku hampir mati."

Darren menatapnya lama.

Pada akhirnya, ia menyuruh Ratna membawa kursi empuk ke Ruang Kerja dan meletakkannya di dekat sofa kecil. Keira duduk di sana dengan selimut di pangkuan, tangan masih terasa panas dan lemah, tetapi matanya sudah mulai jernih.

Rio membuka laporan.

"Florist langganan mengirim seperti biasa, tapi jadwal hari ini berbeda. Biasanya pukul empat sore. Hari ini tiba pukul dua lewat sepuluh."

Andi menelan ludah.

"Saya yang menerima laporan dari pintu servis, Pak. Karena pengirimnya bilang jadwal dimajukan dari pusat florist. Saya belum sempat cek ulang karena ada perbaikan daftar pantry."

Darren tidak menatap Andi.

Itu justru lebih menakutkan.

Rio melanjutkan, "Yang membawa rangkaian ke pintu servis bukan kurir lama. Asisten florist baru. Identitasnya sudah kami kirim untuk dilacak. Dia masuk tiga minggu lalu ke vendor itu."

Pak Ji bertanya pelan, "Siapa yang merekomendasikan?"

Rio meletakkan selembar kertas di meja.

"Helena."

Nama itu jatuh seperti gelas pecah.

Keira tidak langsung bicara.

Di dalam kepalanya, potongan kejadian seminggu terakhir bergerak cepat. Helena yang dipermalukan. Helena yang sakit perut setelah minum teh. Helena yang dibatasi aksesnya. Helena yang punya cukup dendam untuk ingin melihat Keira jatuh.

Motifnya ada.

Jalannya ada.

Orang yang direkomendasikannya ada di jalur bunga.

Jika ini dibawa ke depan Darren, Helena mungkin tidak akan punya kesempatan menjelaskan.

Seolah mendengar pikirannya, pintu Ruang Kerja terbuka.

Helena dibawa masuk oleh dua petugas keamanan. Wajahnya pucat, rambutnya tidak serapi biasa. Ketika melihat Darren, ia langsung bergetar.

"Koh Darren, aku tidak tahu apa-apa."

Darren tidak menjawab.

Helena menoleh ke Keira. Matanya melebar melihat wajah Keira yang masih pucat.

"Aku memang tidak suka dia, tapi aku tidak segila itu. Aku tidak..."

"Diam," kata Rio.

Helena menutup mulut, tetapi air matanya langsung jatuh.

Keira memperhatikannya.

Di kehidupan sebelumnya, Helena pernah menyebarkan rumor, menjatuhkan martabat orang lain, menangis di depan laki-laki yang bisa melindunginya, bahkan memakai rasa sakit sendiri sebagai senjata. Helena licik, manja, dan kejam dengan cara yang dangkal.

Tetapi bunga ini berbeda.

Serbuk pada batang. Jadwal yang dimajukan dua jam. Asisten baru yang masuk ke vendor tiga minggu lalu. Rangkaian bunga yang cukup biasa untuk tidak menimbulkan kecurigaan. Semua terlalu rapi, terlalu sabar, terlalu tenang.

Ini bukan ledakan amarah Helena.

Ini perangkap.

Dan yang membuat perangkap seperti ini biasanya tidak berdiri di tengah ruangan sambil menangis takut.

Kepala Keira berdenyut. Bau lili kembali muncul dalam ingatannya, bercampur dengan bayangan lain dari kehidupan sebelumnya.

Sebuah ruangan putih.

Bunga di dekat ranjang.

Seseorang tersenyum lembut sambil berkata bahwa itu hanya hadiah kecil.

Keira mencoba menangkap wajah dalam ingatan itu, tetapi semuanya kabur seperti kaca berembun.

Darren menoleh padanya.

"Keira."

Ia tahu Darren sedang menunggu. Satu kata darinya bisa membuat Helena jatuh malam itu juga.

Keira menggerakkan bibir.

Suaranya hampir tidak terdengar.

"Bukan dia."

Helena terisak.

Rio mengerutkan alis.

Darren tidak segera membantah, tetapi matanya menjadi lebih gelap.

Keira menatap bunga yang sudah tidak ada di ruangan itu, lalu menatap tangannya yang masih memerah di bawah kain.

Rasa takutnya belum hilang. Tubuhnya masih lemah. Tetapi di balik semua itu, ada sesuatu yang lebih dingin mulai terbangun.

Bukan dia. Aku pernah melihat ini sebelumnya... tapi di mana?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!