NovelToon NovelToon
Sekretaris Palsu

Sekretaris Palsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:15.6k
Nilai: 5
Nama Author: REZ Zha

Demi memastikan calon tunangan yang akan dijodohkan orang tuanya, Bella terpaksa menyamar bekerja di perusahaan milik Gilang, pria yang dipilih oleh sang papa untuk menjadi suaminya.

Satria Wijaya,, papa Bella adalah seorang pengusaha kaya raya dan Bella adalah anak semata wayang pasangan Satria dan Hani. Bella tentu tidak ingin calon suaminya, bersedia menikah dengannya hanya karena harta dan ia pun ingin memastikan jika pria yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah pria setia.

Namun, kesalahpahaman terjadi. Gilang justru menganggap Bella adalah wanita simpanan Satria karena Satria lah yang meminta Gilang untuk mempekerjakan Bella sebagai sekretaris Gilang tanpa melalui proses pengrekrutan karyawan pada umumnya.

Lantas, bagaimana perjalanan kisah mereka selanjutnya? Ikuti saja kisah Bella dan Gilang dalam novel Sekretaris Palsu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bapak Sebenarnya Suka Sama Saya, Kan?

Sambil menunggu kedatangan Gilang, Bella berbincang santai dengan kedua pria yang ia ajak kerjasama melakukan sandiwara, mengerjai Gilang.

Pria berkepala botak bernama Udin sementara temannya bernama Wawan. Walau bertampang sangar, ternyata mereka ramah dan bersikap baik terhadap Bella. Mungkin karena Bella memberinya uang, atau memang sikap mereka aslinya seperti itu, yang pasti Bella tak merasa khawatir berada di dekat mereka berdua.

"Bapak-bapak ini kerja apa?" tanya Bella, karena tadi dia melihat mereka berdua duduk santai sambil memainkan kartu, seolah tak ada kesibukan lain yang menyita waktu mereka.

"Kami kerja serabutan, Mbak. Kadang kuli bangunan, kadang juru parkir, kadang ngojek, seadanya aja yang bisa kita kerjakan. Tapi, kalau nggak ada kerjaan, ya kita nganggur begini, ngopi dan main kartu menghilangkan suntuk." Wawan menceritakan rutinitasnya sehari-hari.

"Bapak punya keluarga? Punya istri, anak? Terus gimana Bapak membiayai mereka kalau Bapak nggak punya pekerjaan yang tetap?" Sejak kecil Bella tinggal dalam lingkungan keluarga yang bergelimang harta, apalagi ia anak tunggal, segala kebutuhannya terpenuhi. Melihat kedua pria itu tak mempunyai pekerjaan tetap, hatinya terenyuh, tak tega.

"Kalau saya bujang lapuk, Mbak. Nggak punya anak istri, masih aman buat makan-makan sendiri aja, sih." Udin yang pertama mejawab, "Dia ini yang beranak terus, sampai enam." Lalu menunjuk Wawan.

"Bapak-bapak ini punya keahlian apa? Yang bisa diandalkan buat cari kerja?" tanya Bella, mereka berbincang akrab layaknya berteman sebelumnya.

"Ahli apa, ya?" Udin menggaruk kepalanya dengan senyum menyeringai, merasa tak punya keahlian dalam bidang tertentu yang bisa diandalkan, selain badannya yang kekar seperti bodyguard.

"Dulu kita berdua sempat jadi centeng, Mbak. Tapi, semenjak si bos meninggal, kita jadi pengangguran," jawab Wawan.

"Centeng itu apa, Pak?" tanya Bella tidak mengerti.

"Tukang pukul." Udin menjawab terkekeh.

Jawaban Udin sontak membuat Bella tercengang dan mundur satu langkah. Padahal melihat tampang dan perawakan mereka, menjadi tukang pukul adalah hal yang wajar.

"Hahaha ..." Udin terbahak melihat reaksi terkejut Bella. "Bodyguard gitu, Mbak. Kami nggak asal pukul, kalau memang nggak salah, mana mungkin kita pukul," sambungnya mengklarifikasi karena membuat Bella kaget.

Penjelasan Udin membuat Bella menghela nafas lega. Tatapannya menoleh ke arah ujung jalan, menunggu Gilang yang berkata hendak menuju kemari, hingga lima menit kemudian, orang yang ditunggu datang bersama ojek online.

"Pak, dia datang, cepat marah-marah!" Bella kembali mengintruksikan Udin dan Wawan kembali berakting.

"Kami harus minta ganti rugi berapa, Mbak?" tanya Wawan, karena uang yang diberi Bella tadi, ia rasa sudah cukup memperbaiki motornya, sekaligus service motor juta ganti oli.

"Terserah Bapak, deh! Lima atau sepuluh juta. Pacar saya itu orangnya dermawan, kok!" Bella segera menjawab dan meminta mereka berhenti berdiskusi dengannya, supaya tidak membuat Gilang curiga.

"Mana orangnya!? Kelamaan! Saya harus ngojek! Saya merasa dirugikan." Suara berat Wawan menggelegar, seperti orang kesal yang memarahi Bella.

"Mbak jangan main-main sama kami, ya! Kami ini mantan centeng! Jangan sampai kami menggunakan kekerasan!" Udin malah lebih ekstrim, melontarkan kalimat ancaman dengan mengusap kepalan tangan pada telapak tangan lainnya.

Bersamaan Udin mengakhiri kalimatnya, Gilang yang sampai di tempat langsung melompat dari motor ojek online dengan penuh rasa khawatir.

"Pak ..." Bella langsung melingkarkan tangannya di lengan Gilang memasang ekspresi ketakutan.

Gilang tak menepis, karena ada yang lebih penting diselesaikan olehnya akibat masalah yang ditimbulkan Bella.

"Hey, cepat bayar ganti ruginya!" Wawan kembali membentak.

"Tolong Bapak tenang dulu! Kasihan dia wanita!" Gilang berusaha melindungi Bella dari kemarahan Wawan yang pura-pura.

"Gara-gara pacarmu ini menabrak motor ini, teman saya jadi kehilangan penumpang!" Dengan memasang mata melotot, Udin ikut bicara, mendramatisir.

Gilang terkesiap ketika Udin mengira ia adalah kekasih Bella. Namun, melihat dua pria di hadapannya dalam mode dipengaruhi emosi, Gilang mengabaikan anggapan mereka tentang hubungannya dengan Bella.

"Sebenarnya apa yang terjadi, Bella?" Gilang bertanya tentang kronologi hingga kecelakaan terjadi.

"Saya tadi nabrak motor Bapak itu sampai lampu sen-nya pecah." Bella menunjuk ke arah bagian belakang motor yang sudah dirusak pemiliknya. "Mobil Bapak juga lecet." Lalu tangannya menunjuk pada bagian depan mobil Gilang.

"Ya sudah, berapa biaya untuk memperbaiki motor Bapak? Biar saya ganti." Tak ingin banyak beradu argumen dengan kedua pria itu, Gilang mengambil sikap, menempuh jalan damai dengan ganti rugi.

"Lima juta!" Wawan menyebut nominal terkecil yang disarankan Bella.

"Lima juta?" Gilang tak percaya kerugian yang diderita Wawan mencapai lima juta rupiah. "Sebanyak itu? Motor Bapak saja tidak ada plat nomor, tidak ada kaca spion, knalpot seperti itu, bikin bising pengendara jalan yang lain." Alih-alih segera membayar permintaan Wawan, Gilang justru memprotes. Bukan bermaksud pelit, namun ia merasa pria itu sengaja ingin memeras dan mengambil keuntungan.

"Jadi kamu nggak mau bayar kerugian teman saya!?" Udin memukul telapak tangan dengan kepalan tangannya sendiri, mencoba mengintimidasi, padahal mimik muka Wawan mulai berubah, merasa motor yang ia bawa tidak sesuai aturan.

"Pak, kasih aja uangnya! Nanti saya ganti, potong gaji saya juga nggak apa-apa." Khawatir Gilang akan curiga kalau itu hanya permainannya, Bella meminta Gilang segera memberi apa yang diminta Wawan.

Gilang melirik kesal pada Bella seraya mendengus kasar. Namun, tangannya tetap mengambil dompet di saku celananya.

"Saya tidak bawa uang sejumlah itu, nanti saya ambil di ATM dulu." Gilang mengambil satu kartu debitnya, berniat menarik tunai pada mesin ATM yang ada di depan mini market di seberang jalan, bersebelahan dengan baby shop. "Kamu ikut saya, Bella!" Gilang pun menarik tangan Bella, meminta wanita itu ikut dengannya. Dia terlalu khawatir, meninggalkan Bella dengan dua orang pria yang ia kira dapat menyakiti Bella.

Bella terkesiap saat Gilang menggandeng tangannya. Terasa hangat genggaman tangan Gilang, walaupun hanya menyentuh pergelangan tangannya. Tak sadar senyum pun mulai terkulum di bibir. Setelannya Bella menoleh pada Udin dan Wawan, jemarinya membetuk gerakan seolah memberi pujian karena kedua pria itu berhasil menjalankan misinya.

Setelah menyelesaikan urusan dengan jalan damai, Gilang dan Bella akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.

"Kenapa kamu meninggalkan kantor Pak Satria?" Sejak tadi pertanyaan itu menuntut jawaban dari Bella, hanya saja kekhawatirannya pada Bella, membuatnya menunda pertanyaan tadi. "Kamu tahu? Yang kamu lakukan tadi itu berbahaya!Bagaimana kalau orang-orang tadi mencelakai kamu?" Gilang menegur Bella, menanggap Bella teledor.

"Saya mau cari makan, Pak," jawab Bella tanpa rasa bersalah.

"Kamu bisa makan di kantin atau di restoran depan kantor Pak Satria, kan? Kenapa harus pergi ke tempat lain? Bawa mobil saya tanpa izin!" Alasan Bella tidak bisa diterima oleh Gilang.

"Lagi pula, menapa Bapak suruh saya ikut cuma untuk menjaga mobil Bapak? Memangnya saya tukang parkir?" Bella membalas dengan melipat tangan di dada, menampakkan kekesalan.

"Saya tidak suka Jimmy memanfaatkan kamu saat saya tidak ada di kantor!" tegas Jimmy, memberi alasan dibalik sikapnya.

Bella menarik senyum tipis. Bias perasaan yang ditunjukkan Gilang terhadapnya.

"Bapak bukan keluarga saya, bukan orang tua saya, bukan kakak saya, bukan juga kekasih saya, Jadi kenapa Bapak mesti repot-repot ikut campur masalah saya dan Pak Jimmy? Atau jangan-jangan Bapak itu memang benar suka sama saya, kan?" Bella lalu menarik tangan Gilang dan mengguncangnya, meminta Gilang mengakuinya.

Gilang terkesiap, apalagi saat ini dia sedang memegang kemudi. Tindakan Bella cukup mengganggu konsentrasinya.

"Bella, apa-apaan kamu ini!? Saya dengan mengendarai mobil!" Gilang meminta Bella menghentikan aksinya.

"Bapak jujur dulu sama saya! Bapak sebenarnya suka sama saya, kan?" Bella tak memperdulikan ucapan Gilang dan menuntut kejujuran pria itu.

Gilang membanting setir, menepikan mobilnya karena tindakan Bella bisa membahayakan nyawa mereka.

"Jaga sikapmu, Bella! Saya akan bertunangan, jadi hentikan omong kosongmu itu!" Gilang tak mau mengakui perasaannya pada Bella.

"Tapi, Bapak nggak mencintai calon tunangan Bapak itu, kan? Bapak akan menikah dengannya karena terpaksa, demi menyelamatkan perusahaan Mahesa Persada," ucap Bella, membuat Gilang terbelalak, karena Bella mengetahui alasan yang membuat ia memutuskan menerima perjodohan dengan putri Pak Satria.

"Sial! Jimmy terlalu banyak bicara!" umpat Gilang kesal, karena telah menceritakan hal yang seharusnya harus dirahasiakan dari Bella atau orang lain.

"Itu semua benar, kan, Pak? Bapak menyembunyikan perasaan Bapak pada saya karena Bapak terikat perjanjian dengan Pak Satria?" Bella terus mendesak Gilang.

Tarikan nafas Gilang terdengar berat. pandangannya lalu menatap Bella dengan lekat beberapa saat.

"Sudahlah, tidak usah membahas itu lagi! Saya harap kamu mengerti posisi saya!" Tak berani membenarkan ataupun menyangkal perkataan Bella, Gilang meminta Bella untuk tak mendesaknya mengakui perasaan terhadap wanita itu.

❤️❤️❤️

Bersambung ....

1
Esther
Katty berada di dua kubu, kubu Bella dan Gilang.
Sandiwaranya harus lancar supaya Bella gak curiga😂
Dest Cookies
akhirnya.. dapat keyakinan juga gilang...kl bellalah jodoh yg sebenarnya...
popon susana
awas loh bella hati2 gilang akan balas sandiwaramu.😀
makin seru aja ceritanya.😇🥰
Ernalita Sitompul
otewe rahasia terbongkar,makin deg degan😄😄😄
sri susanti
kenapa baru up kak,,?? lelah menunggu,, ngk sabar dgn kelanjutannya
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ՇɧeeՐՏ🍻
jujur gak nih kira2 Kathy.posisinya makin terpojok.Kathy bukan Bella yang selalu menemukan jawaban cepat di saat2 terjepit.Bella yang mau nikah,Kathy yang pusing ngadepin Gilang😂
popon susana
hati-hati bella sebentar lg sandiwaramu akan terbongkar🤩
ρυтяσ kang'typo✨
jeng jeng jeng.... Kathy terjebak donk 😄😄😄mana Bella asik rebahan di ranjang
ρυтяσ kang'typo✨
cembokur ya Bel🤭🤭pilih bunga yang murah
Esther
Jujur aja Katty, kan cuma berdua sama Gilang, dijamin aman 😄
ρυтяσ kang'typo✨
weeh Bella sengaja banget dech😆😆😆
Juwitae
ayo loh Katty terjebak kan.. Di kiranya Gilang ga tau rahasia kalian
Dest Cookies
tepat sekali gilang ajak katty jln jd bisa leluasa... tp kasihan tuh katty dlm situasi membingungkan...
Septi
beneran bikin ngakak sih mereka 🤣🤣
Ernalita Sitompul
bella tidak dpt menyembunyikan perasaannya..cemburu🤣🤣🤣
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ՇɧeeՐՏ🍻
awas aja nanti kalau sudah sah jadi istri,bakal di hukum sama Gilang😄
Dest Cookies
dari pesenan buket aja udah kelihatan bella ga rela gilang beli yg bagus...tp bagus deh gilang.. biar bella tambah cemburu..
Esther
dipilihin yg murah sama Bella, cemburu ya Bel😂
sryharty
bella cemburu Gilang mau kasih bucket ke Katy makanya dia pesen yg murah
ρυтяσ kang'typo✨
kuy ka ndang pertemukan mereka bertiga.. dah g sabar q tuh🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!