NovelToon NovelToon
Kembaranku Penggantiku

Kembaranku Penggantiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 — Teman yang Seharusnya Sudah Mati

“Rey…”

Suara Arsen nyaris seperti bisikan.

Namun cukup membuat semua orang langsung sadar bahwa pria itu bukan orang biasa.

Hujan masih turun.

Lampu parkiran memantulkan genangan air di aspal.

Raka berdiri kaku di tengah semuanya.

Sedangkan pria bernama Rey itu tersenyum santai.

Seolah situasi ini hanyalah pertemuan biasa.

“Udah lama banget.”

Tatapannya tetap tertuju pada Arsen.

“Gue kira lo bakal senang lihat gue.”

Deg.

Nadira langsung menoleh ke Arsen.

Karena wajah pria itu berubah.

Pucat.

Tidak percaya.

Dan sedikit takut.

“Siapa dia?”

bisik Nadira.

Namun Arsen tidak langsung menjawab.

Tatapannya tidak pernah lepas dari Rey.

Seolah sedang melihat hantu.

“Atau gue harus bilang…”

Rey tertawa kecil.

“…lo kira gue udah mati?”

Sunyi.

Dan kalimat itu langsung membuat suasana makin aneh.

“Mustahil.”

Arsen akhirnya bicara.

Suaranya serak.

“Gue lihat sendiri mobil itu jatuh.”

“Yup.”

Rey mengangguk santai.

“Dan gue hampir mati.”

Tatapannya berubah sedikit dingin.

“Hampir.”

Deg.

Nadira merasakan firasat buruk lagi.

Karena jelas ada sejarah besar di antara mereka.

“Ada yang mau jelasin?”

Damar menyela sambil berdiri di depan Nayla secara refleks.

Arsen mengembuskan napas panjang.

Lalu akhirnya berkata,

“Dia sahabat gue.”

Semua langsung diam.

“Sahabat?”

ulang Nadira.

Arsen mengangguk pelan.

“Dulu.”

Tatapannya kembali ke Rey.

“Kita tumbuh bareng.”

“Main bareng.”

“Berantem bareng.”

Rey tersenyum kecil.

“Dan bikin masalah bareng.”

Namun senyum itu tidak sampai ke matanya.

“Lima tahun lalu…”

Suara Arsen mulai berat.

“Mobil Rey jatuh ke jurang.”

Tatapannya mengeras.

“Polisi bilang dia mati.”

“Dan lo percaya aja?”

Rey tertawa kecil.

“Padahal lo tahu keluarga lo kayak apa.”

Deg.

Semua langsung membeku.

Karena nada bicara Rey berubah tajam sekarang.

Penuh dendam.

“Ayah gue nggak ada hubungannya.”

balas Arsen cepat.

Namun Rey justru tertawa lebih keras.

“Hah?”

Tatapannya dingin.

“Masih juga bela dia?”

Nadira langsung merinding.

Karena cara Rey menatap Arsen sekarang…

Bukan seperti melihat teman lama.

Melainkan musuh.

“Lo datang buat apa?”

tanya Arsen.

Rey perlahan melirik Raka.

Dan itu langsung membuat Nadira waspada.

“Aku cuma mau lihat anak yang bikin semua orang ribut.”

Raka langsung bersembunyi di belakang Nadira.

“Aku nggak suka dia…”

bisiknya pelan.

Deg.

Nadira langsung merinding.

Karena selama ini insting Raka selalu tepat.

“Aku nggak bakal nyakitin dia.”

kata Rey santai.

Namun tidak ada satu orang pun yang percaya.

“Kalau nggak ada urusan…”

Damar mulai maju.

“…pergi.”

Namun Rey hanya melirik sebentar.

Lalu tersenyum mengejek.

“Kamu siapa?”

“Orang yang bakal mukul lo kalau perlu.”

Jawaban Damar membuat Nayla hampir tertawa meski situasinya kacau.

Sedangkan Rey hanya mengangkat alis.

“Menarik.”

“Rey.”

Suara Arsen kembali terdengar.

“Kita pernah temenan.”

Tatapannya serius.

“Jadi gue kasih kesempatan sekali.”

Sunyi.

“Pergi.”

Hujan turun lebih deras.

Namun Rey justru tersenyum kecil.

Senyum yang membuat bulu kuduk Nadira berdiri.

“Masalahnya…”

Tatapannya perlahan berubah dingin.

“…gue nggak datang buat lo.”

Deg.

Semua langsung menegang.

Rey mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari dalam jasnya.

Lalu melemparkannya ke arah Arsen.

Pria itu menangkapnya refleks.

“Apa ini?”

“Hadiah.”

jawab Rey.

Arsen langsung membuka amplop itu.

Dan wajahnya berubah dalam sekejap.

Pucat.

Kaku.

Tidak percaya.

“Arsen?”

Nadira langsung mendekat.

Lalu ikut melihat isi amplop itu.

Dan jantungnya langsung berhenti sesaat.

Foto.

Banyak foto.

Foto ayah Arsen.

Bersama Pak Surya.

Bersama beberapa pria lain yang tidak mereka kenal.

Namun yang paling mengerikan—

Ada foto malam kecelakaan keluarga Nadira.

Deg.

“Dari mana lo dapet ini?”

Suara Arsen berubah dingin.

Rey memasukkan tangan ke saku santai.

“Dari orang yang nyelametin gue.”

“Siapa?”

Namun Rey tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru beralih ke Elena.

Ibu Arsen.

Dan untuk pertama kalinya malam itu—

Ekspresi wanita itu berubah.

Pucat.

Takut.

Sangat takut.

Deg.

Nadira langsung menangkap perubahan itu.

Dan firasat buruknya semakin kuat.

“Tidak mungkin…”

bisik Elena.

Rey tersenyum kecil.

“Nah.”

Tatapannya penuh arti.

“Ternyata masih ingat juga.”

Sunyi.

Arsen langsung menoleh cepat.

“Ibu kenal dia?”

Tak ada jawaban.

Namun diamnya sudah cukup.

“Elena.”

Suara Rey berubah dingin.

“Hidup tenang selama ini?”

Wanita itu mundur satu langkah.

Tangannya mulai gemetar.

“Rey…”

“Jangan panggil nama gue.”

Kalimat itu langsung membuat suasana membeku.

Karena amarah di suara Rey begitu jelas sekarang.

“APA YANG TERJADI SEBENARNYA?”

Bentakan Arsen akhirnya pecah.

Karena ia sudah muak dengan semua rahasia.

Semua kebohongan.

Semua masa lalu yang terus muncul satu per satu.

Dan kali ini…

Ia ingin jawaban.

Hening cukup lama.

Sampai akhirnya Elena menutup mata.

Air mata perlahan jatuh di pipinya.

“Rey…”

Napasnya berat.

“…anakku.”

Deg.

Dunia langsung berhenti.

“Apa?”

Suara Arsen nyaris tidak terdengar.

Nadira juga membeku.

Damar terdiam.

Nayla bahkan lupa bernapas.

Sedangkan Rey hanya tersenyum pahit.

Senyum seseorang yang sudah terlalu lama terluka.

“Iya.”

Tatapannya kosong.

“Aku anaknya.”

Deg.

Arsen mundur satu langkah.

Karena itu berarti—

Rey dan dirinya saudara.

“Tidak…”

bisik Arsen.

Namun Elena justru menangis makin keras.

“Aku hamil sebelum menikah dengan ayahmu.”

Sunyi.

“Dan keluarga kami nggak terima.”

Tatapannya penuh rasa bersalah.

“Aku dipaksa ninggalin Rey.”

Deg.

Nadira langsung menahan napas.

Karena cerita ini terasa terlalu mirip.

Terlalu menyakitkan.

“Lo ninggalin gue.”

Suara Rey datar.

Namun justru itu yang paling mengerikan.

Karena kemarahannya sudah melewati tahap marah.

Menjadi luka yang membeku.

“Aku umur lima tahun.”

Tatapannya tidak lepas dari Elena.

“Lima tahun.”

Air mata wanita itu jatuh tanpa henti.

“Aku cari kamu…”

“Bohong.”

“Rey—”

“BOHONG!”

Bentakan itu menggema di parkiran.

Bahkan polisi yang berjaga ikut terdiam.

“Aku tumbuh sendirian!”

Rey tertawa kecil.

Namun terdengar seperti tangisan.

“Aku pikir ibu gue mati.”

Tatapannya merah.

“Terus suatu hari gue tahu…”

Ia menunjuk Arsen.

“…lo punya keluarga baru.”

Deg.

Arsen langsung tidak bisa berkata apa-apa.

Karena untuk pertama kalinya…

Ia melihat seseorang yang terluka bahkan lebih parah darinya.

“Aku nggak pernah tahu.”

Suara Arsen pelan.

Rey menatapnya lama.

Lalu tertawa kecil.

“Aku tahu.”

Sunyi.

“Makanya gue nggak pernah benci lo.”

Deg.

Kalimat itu membuat semua orang membeku.

Karena selama ini mereka mengira Rey datang untuk balas dendam pada Arsen.

Namun ternyata tidak.

“Aku benci mereka.”

Tatapan Rey berubah gelap.

“Aku benci orang-orang yang mutusin hidup gue.”

Lalu perlahan…

Tatapannya jatuh ke foto-foto dalam tangan Arsen.

“Dan orang-orang itu…”

Senyumnya hilang.

“…masih hidup.”

Deg.

Nadira langsung sadar.

Masalah yang mereka hadapi ternyata jauh lebih besar lagi.

“Pak Surya cuma pion.”

kata Rey pelan.

Sunyi.

Kalimat itu langsung membuat semua orang merinding.

“Apa?”

Damar langsung mengernyit.

Namun Rey hanya tersenyum tipis.

“Kalau kalian pikir semuanya selesai setelah Pak Surya ditangkap…”

Tatapannya menyapu semua orang.

“…kalian naif.”

Deg.

“Ada orang di atas dia.”

lanjut Rey.

“Orang yang bahkan Pak Surya takuti.”

Napas Nadira langsung tercekat.

Karena mereka baru saja melewati neraka.

Dan sekarang Rey bilang itu belum apa-apa.

“Siapa?”

tanya Arsen.

Rey diam beberapa detik.

Lalu mengeluarkan sebuah foto terakhir dari sakunya.

Foto yang sudah tua.

Agak kusam.

Namun wajah seseorang di dalamnya masih terlihat jelas.

Begitu Nadira melihat foto itu—

Tubuhnya langsung membeku.

Papanya yang baru tiba di parkiran juga langsung pucat.

Sedangkan Pak Rudi terlihat seperti baru melihat hantu.

“Astaga…”

bisiknya.

“Kenal dia?”

tanya Rey pelan.

Tak ada yang menjawab.

Karena semua terlalu shock.

Nadira menatap foto itu sekali lagi.

Dan jantungnya berdetak semakin cepat.

Karena pria dalam foto itu…

Adalah orang yang selama ini mereka yakini sudah mati dua puluh tahun lalu.

Seseorang yang namanya selalu muncul dalam semua rahasia keluarga mereka.

Seseorang yang seharusnya tidak mungkin hidup.

Dan tepat di bawah foto itu tertulis sebuah nama:

Mahendra Pratama.

1
Noorjamilah Sulaiman
rumit
Noorjamilah Sulaiman
mungkin mama nadira ini org kaya
Noorjamilah Sulaiman
aku jd binggung, Adrian ini jahat atau papa arsen yg paling licik
Noorjamilah Sulaiman
apa ug sebenarnya berlaku?
Noorjamilah Sulaiman
mantap
Noorjamilah Sulaiman
terlalu rumit,knpa semua itu ada d dlm penjara tmpt Rafael
Noorjamilah Sulaiman
kerena sblm tu ada lelaki yg melihat mereka masa nadira mkn mlm drumah keluarga arsen
Noorjamilah Sulaiman
ceritanya rumit,siapa sebenarnya musuh mereka adakh keluarga arsen sendiri?
Noorjamilah Sulaiman
cerita ini menarik tp mungkin blm djumpai ole pembaca atau sbb cerita ini blm tamat
Noorjamilah Sulaiman
teka teki btl
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!