NovelToon NovelToon
Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Komedi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Mi

Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 28 Tes Kecocokan Pasangan

Pukul tujuh lewat tiga menit pagi.

Rania Azarina terbangun karena satu fakta menyedihkan:

hidup benar-benar membencinya.

TOK TOK TOK.

“Bangun!”

Suara Mama Ratna.

Disusul—

TOK TOK TOK.

“Peserta tes tidak boleh telat!”

Suara Mama Ambar.

Peserta?

TES?

Rania langsung membuka mata.

Oh tidak.

Oh tidak.

Ia belum lupa ancaman semalam.

Tes kecocokan pasangan.

Pukul tujuh pagi.

Yang jelas-jelas terdengar seperti sesuatu yang melanggar privasi manusia.

Rania menarik selimut sampai kepala.

“…Saya mau pura-pura meninggal.”

Di sisi lain ranjang—

Gavin membuka mata perlahan.

Ekspresi datar seseorang yang sudah terlalu lelah melawan takdir.

“…Saya dukung keputusan itu.”

Sunyi dua detik.

Lalu—

mereka sadar sesuatu.

Mereka baru saja bercakap normal.

Setelah awkward semalam.

Setelah minta maaf.

Setelah—

“…Saya nggak niat ninggalin kamu.”

Oh.

Bagus.

Pagi ini langsung canggung lagi.

Rania langsung duduk terlalu cepat.

“Eh— saya mandi dulu.”

Terlalu cepat.

Terlalu gugup.

Gavin memperhatikan sepersekian detik.

Lalu mengangguk kecil.

“…Oke.”

Pendek.

Masih sedikit hati-hati.

Seolah takut salah bicara lagi.

Dan anehnya—

itu justru membuat Rania semakin tidak nyaman.

Karena—

kalau Gavin terlalu baik—

itu bahaya.

Sangat bahaya.

Lima belas menit kemudian—

Rania keluar kamar dengan hoodie oversized, rambut asal dicepol, dan ekspresi orang yang sudah menyerah pada takdir.

Lalu—

membeku.

Di ruang tengah—

terdapat meja panjang.

Lengkap.

Sangat lengkap.

Ada clipboard.

Pulpen.

Kartu soal.

Bel.

Dan—

spanduk kecil.

TES KECOCOKAN PASANGAN — PROGRAM PERCEPATAN CUCU

Apa ini acara TV?

Mama Ratna berdiri dengan penuh semangat.

Mama Ambar duduk anggun sambil memegang map.

Dan—

Gavin sudah duduk di sofa.

Kaos hitam.

Celana training.

Rambut sedikit berantakan.

Masih terlihat terlalu mahal untuk ukuran orang yang baru kena sidang keluarga.

Dan—

sayangnya—

terlalu enak dilihat pagi-pagi.

Tatapan Rania refleks naik.

Lalu cepat-cepat turun lagi.

Sial.

Mama Ratna langsung menunjuk mereka.

“Peserta lengkap!”

Gavin berhenti melihat banner.

Diam tiga detik.

Lima detik.

Lalu—

“…Saya rasa saya lebih siap audit pajak.”

“Ditolak,” jawab Ratna cepat.

“Duduk.”

Mereka duduk berdampingan di sofa.

Tidak terlalu dekat.

Tidak terlalu jauh.

Tapi tetap—

terlalu sadar satu sama lain.

Terutama setelah sidang tadi malam.

Mama Ratna langsung berdiri seperti MC kuis nasional.

“BAIK!”

"Hari ini—

kita akan menguji apakah kalian benar-benar cocok sebagai pasangan!"

“Atau cuma pasangan pajangan,” tambah Mama Ambar elegan.

Rania langsung duduk.

“Saya pulang aja boleh?”

“Tidak,” jawab dua mama bersamaan.

Gavin mengembuskan napas.

“…Kalau kami lulus?”

Ratna tersenyum.

“Dinner ulang tetap jalan.”

“…Kalau gagal?”

“Sesi bonding tambahan.”

Sunyi.

Gavin menoleh pelan pada Rania.

“Kita harus menang.”

Untuk pertama kalinya pagi itu—

Rania setuju seratus persen.

ROUND 1: PENGETAHUAN DASAR PASANGAN

Mama Ambar membuka kartu pertama.

“Pertanyaan pertama.”

Tatapannya ke Gavin.

“Makanan favorit Rania.”

Gavin bahkan tidak berpikir.

“Mie ayam.”

Rania berkedip.

“…Hah?”

“Mie ayam depan kantor cabang Sudirman,” lanjut Gavin santai.

“Kalau stres kamu makan dua porsi.”

Sunyi.

Mama Ratna perlahan menoleh.

Terharu.

“OHHHH…”

Rania langsung defensif.

“Itu kebetulan!”

Pertanyaan kedua.

“Minuman favorit pasangan.”

Kali ini untuk Rania.

Rania langsung percaya diri.

“Kopi hitam.”

Mama Ratna membunyikan bel.

SALAH.

Gavin mengangkat tangan pelan.

“Americano no sugar.”

Rania membeku.

“…Lho?”

“Kopi hitam bikin asam lambung kamu naik.”

Boom.

Sunyi.

Mama Ratna menatap Gavin dengan ekspresi ibu mertua yang mulai berharap cucu lahir sehat.

“Dia perhatian…”

Rania mendadak merasa diserang secara personal.

ROUND 2: KEBIASAAN BURUK PASANGAN

Ratna tampak terlalu bahagia sekarang.

“Gavin dulu!”

“Apa kebiasaan buruk Rania?”

Tanpa jeda—

“Kalau marah dia bersih-bersih.”

Sunyi.

Rania langsung menunjuk.

“Itu fitnah!”

“Kamu nyapu emosional.”

“Maksudnya apa nyapu emosional?!” pekik Rania.

Gavin tetap tenang.

“Keliling apartemen sambil ngomel sendiri.”

Mama Ratna nyaris menangis haru.

“Dia memperhatikan…”

“Saya merasa sedang dibongkar di pengadilan,” gumam Rania.

Sekarang giliran Rania.

“Kebiasaan buruk Gavin?”

Rania menyipit.

“Menyebalkan.”

Bel.

“Salah.”

“Perfeksionis.”

“Salah.”

“Kerja terus?”

Mama Ratna menatap iba.

“Ya ampun…”

Mama Ambar menghela napas.

“Kamu nggak terlalu kenal suamimu ya.”

Memalukan.

Sangat memalukan.

Gavin akhirnya bicara pendek.

“Saya suka lupa makan.”

Rania diam.

Oh.

Pantes.

Kadang dia memang suka marah sendiri lihat Gavin masih di kantor jam sepuluh malam sambil cuma minum kopi.

Kenapa dia baru sadar?

ROUND 3: SEBERAPA HAFAL PASANGAN

Mama Ratna menyeringai.

Pertanyaan pamungkas.

“Apa hal kecil yang pasanganmu lakukan tanpa sadar tapi kamu perhatiin?”

Gavin duluan.

Tatapannya pindah ke Rania.

Lebih lama dari biasanya.

“Kalau dia gugup…”

Jeda.

“Dia suka mainin ujung baju.”

Boom.

Refleks.

Tangan Rania langsung berhenti.

Karena—

tanpa sadar—

memang sejak tadi dia memainkan ujung hoodienya.

Apa?

Kapan dia merhatiin?

Sunyi.

Mama Ratna memegang dada.

“Oh Tuhan…”

“Bukan Tuhan,” koreksi Ambar otomatis.

“Ini chemistry,” jawab Ratna nyaris menangis.

Rania mendadak tidak nyaman.

Karena—

anehnya—

dadanya terasa terlalu hangat.

Sekarang giliran Rania.

Sunyi.

Panjang.

Karena—

apa yang dia perhatikan dari Gavin?

Banyak.

Tapi—

tidak mungkin bilang.

Tidak mungkin bilang kalau dia hafal suara langkah kaki Gavin.

Atau cara pria itu otomatis menarik kursi buatnya.

Atau kebiasaan kecil merapikan posisi gelas supaya tangannya gampang ambil.

Terlalu…

berbahaya.

Akhirnya—

“…Kalau stres,” katanya pelan.

“Dia suka pijet pelipis.”

Sunyi.

Tatapan Gavin naik.

Berhenti tepat di wajahnya.

Dan—

untuk alasan yang sangat mengganggu—

ekspresi pria itu berubah sedikit.

Lebih lembut.

Seolah—

tidak menyangka dia memperhatikan juga.

Mama Ratna langsung berdiri.

“AKHIRNYA!”

“Mulai peka!” bisik Ambar terharu.

Lalu—

Mama Ratna membuka kartu terakhir.

Dan mendadak tersenyum terlalu licik.

“Oh.”

“Pertanyaan bonus.”

Firasat buruk langsung datang.

Namun—

bagian paling buruk—

justru datang terakhir.

Pertanyaan bonus.

Mama Ambar membaca pelan.

“Kalau pasangan kalian sedih…”

“Apa yang biasanya kalian lakukan?”

Tidak ada yang menjawab.

Rania langsung menunduk.

Karena—

jujur saja—

mereka bahkan belum sejauh itu.

Namun—

Gavin menjawab duluan.

Nada rendah.

Tenang.

“…Saya biasanya diam di dekat dia.”

Rania perlahan menoleh.

Gavin masih melihat kartu.

Tidak menatap siapa-siapa.

“Tunggu sampai dia mau cerita.”

Jeda kecil.

“Kalau belum mau…”

Tatapannya naik.

Sebentar.

Ke arah Rania.

“…minimal dia nggak sendirian.”

Boom.

Sunyi.

Dan anehnya—

Gavin tidak langsung mengalihkan tatapan.

Seolah tanpa sadar sedang memastikan—

Rania baik-baik saja.

Kalimat itu terasa terlalu personal.

Terlalu nyata.

Dan sangat tidak kontrak.

Mama Ratna sampai memegang dada.

“Ratna mau nangis,” bisiknya dramatis.

Ambar mengangguk pelan.

“Anakmu jatuh duluan kayaknya.”

Gavin langsung batuk.

“…Ma.”

Sementara—

Rania?

Tidak bisa bicara.

Karena untuk pertama kalinya—

ia mulai takut.

Takut kalau—

mungkin—

pria ini mulai terasa terlalu sulit untuk dianggap sementara saja.

Dan itu—

masalah besar.

Dan yang paling buruk—

untuk pertama kalinya,

Rania mulai takut:

bagaimana kalau nanti semuanya selesai…

tapi perasaannya tidak ikut selesai?

Mama Ratna langsung berdiri penuh semangat.

“Baik.”

“Karena hasil tes menunjukkan kalian cocok—”

senyumnya terlalu lebar.

“Dinner ulang malam ini WAJIB romantis.”

Gavin langsung punya firasat buruk.

“Mama…”

“Dan Mama pilihin dress code.”

1
Evi Yolanda
Thor susulan nya jng LM apa Thor dah gak sabar nunggu saling bucin
MayAyunda
keren kak 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kak 👍
total 1 replies
cynth
Ninggalin jejak 👣
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak
total 1 replies
MayAyunda
keren 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
Sahabat Oleng
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😄
Raihan
mampir juga di novel ku kelas arang nanti kita saling support 🙏
Azandis
Lanjut Thor
Azandis
Wkwkwk...
BDaska
Thor, banyakin update episode nya
Fabio
Lanjut thor
Sahabat Oleng: Siap 👍
total 1 replies
Evi Yolanda
ahhh udah lahhh Thor jd ky penagih utang .. bentar bentar intip dah up date blm
Fatan
Bagus ceritanya
Sahabat Oleng: Makasih kak 👍
total 1 replies
T28J
kak, kok tulisan yang ini beda sama yng sebelah ya 🙏
T28J: beda sama novel kakak yang satu lagi gaya tulisannya
total 2 replies
Evi Yolanda
seru dan buat penasaran setiap babnya
Sahabat Oleng: Makasih kakak 😍
total 1 replies
Raihan
halo kakak izin ayok mampir juga di novel ku "kelas arang"
Raihan
bagus cerita
Wawan
Hadir Rania 😍
cinta
Gavin dan Rania sama-sama lucu. 😂
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.
Sahabat Oleng: Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak 😘
total 1 replies
Susanti Santi
Cerita nya menarik
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!