Daniela Arden Atmaja terpaksa masuk ke dunia malam demi bertahan hidup.
Darren Arkhanio Callister adalah pria perfeksionis yang menilai segalanya dari apa yang terlihat. Baginya, Daniela tidak pantas berada dalam hidupnya, apalagi ia sudah memiliki Crissiana, kekasih sempurna.
Namun di ujung napasnya, sang kakek memohon Darren menikahi Daniela, cucu dari almarhum sahabatnya.
Pernikahan pun akhirnya terjadi secara diam-diam. Tanpa cinta. Tanpa pengakuan. Tanpa diketahui siapa pun.
Darren tetap merendahkan Daniela dan tidak pernah ingin mengenalnya. Sementara Daniela memilih cuek dan tak perduli. Mau menikah pun karena permintaan terakhir dari sahabat almarhum kakeknya.
Hingga sebuah insiden terjadi.
Harga diri Daniela direnggut.
Saat Darren akhirnya menyadari bahwa Daniela tidak seperti yang ia kira, semuanya sudah terlambat.
Daniela pergi tanpa penjelasan dan tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tujuh
Gusti dengan sigap merangkul bahu Daniela, menopang sebagian besar bobot tubuh wanita itu agar tidak ambruk. Langkah mereka yang tergesa-gesa keluar dari area bermain anak seketika mencuri perhatian orang-orang di sekitar mal. Bisik-bisik yang biasanya bernada nyinyir kini berubah menjadi seruan panik dari beberapa rekan kerja yang melihatnya.
"Pak Gusti, Daniela kenapa?" tanya salah seorang pramuniaga yang kebetulan berpapasan di depan gerai pakaian.
"Tolong hubungi pos satpam, minta siapkan mobil di drop off utama sekarang!" perintah Gusti tegas tanpa menghentikan langkahnya.
Daniela semakin erat mencengkeram kemeja Gusti. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Rasa mulas yang melilit perutnya terasa begitu asing sekaligus menakutkan, membuat kedua kakinya terasa lemas seperti jeli.
"Sakit, Pak..." bisik Daniela lirih dengan suara bergetar.
"Tahan sebentar, Daniela. Tarik napas dalam-dalam, embuskan pelan-pelan. Kita hampir sampai di lift," sahut Gusti, mencoba menenangkan sambil terus memapahnya menuju deretan lift pengunjung di ujung lorong.
Gusti menekan tombol lift berulang kali dengan tidak sabar. Beruntung, salah satu kotak besi itu segera terbuka. Di dalam lift, suasana terasa begitu menegangkan seiring angka lantai yang bergerak turun menuju lobi utama. Daniela terus memejamkan mata sambil mengusap perut buncitnya.
Begitu pintu lift terbuka di lantai dasar, tanpa pikir panjang Gusti langsung membopong tubuh Daniela dalam gendongannya, menuju pintu keluar mal, di mana sebuah mobil operasional sudah bersiap dengan pintu penumpang di bagian belakang yang terbuka. Gusti membantu Daniela masuk ke dalam kabin dengan sangat hati-hati. Lalu ia pun duduk di sebelah Daniela.
"Ke rumah sakit bersalin terdekat, Pak. Cepat!" seru Gusti pada sopir.
Mobil pun melaju membelah jalanan kota. Di dalam kendaraan yang bergerak cepat itu, ketakutan besar mulai menyergap pikiran Daniela. Ia belum siap jika harus kehilangan calon bayinya sekarang, di saat usia kandungannya bahkan belum genap sembilan bulan.
***
Begitu tiba di rumah sakit, Daniela langsung ditangani oleh dokter. Sementara itu, Gusti hanya bisa mondar-mandir di depan ruang tindakan dengan wajah tegang. Sesekali lelaki itu melirik ke arah pintu ruangan, menunggu kabar tentang kondisi Daniela.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Seorang dokter wanita keluar sambil melepaskan masker dari wajahnya. Gusti segera menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan Daniela, Dok?"
Dokter itu terlihat tenang. Senyum tipis terbit di bibirnya sebelum menjawab.
"Pasien hanya mengalami kontraksi palsu. Kemungkinan besar disebabkan oleh kelelahan fisik dan tekanan psikis."
Gusti terdiam. Penjelasan itu langsung mencubit hatinya. Dia teringat bagaimana Daniela telah bekerja keras saat memberikan ide-ide briliannya dalam membuat area bermain anak menjadi lebih hidup dan lebih disukai anak-anak. Ia malah menyambutnya dengan sukacita padahal Daniela sedang dalam keadaan hamil besar dan seharusnya sudah mengambil cuti. Apalagi tugas sebenarnya Daniela hanyalah sebagai kasir supermarket.
"Maaf, Dok. Daniela bu..."
"Gusti?!"
Ucapan lelaki itu terpotong saat seseorang memanggil namanya dari kejauhan. Seorang wanita terlihat berjalan cepat menghampiri mereka dengan wajah tegang.
"Sukma? Kenapa kamu ada di sini?"
Namun Sukma tidak langsung menjawab. Tatapannya justru terlihat sengit dengan napas memburu, seolah sedang menahan amarah yang sudah berada di puncak kepala.
"Baiklah, Pak. Sebaiknya kondisi pasien lebih diperhatikan. Jangan sampai terlalu kelelahan, apalagi sampai tertekan secara psikis," ucap sang dokter sebelum akhirnya berlalu pergi.
Kini hanya tersisa Gusti dan Sukma yang saling berhadapan. Dan melihat ekspresi wanita itu, sepertinya perang dunia ketiga akan segera dimulai.
"Sukma, kumohon jangan salah sangka dan jangan membuat keributan di sini!"
Gusti langsung memberi peringatan saat Sukma sudah ingin bicara lagi.
"Kenapa aku tidak boleh marah, sementara kamu rela dianggap sebagai suami wanita itu tanpa berusaha membantah?" sindir Sukma tajam.
"Sudah kubilang jangan salah paham!" tegas Gusti. Namun Sukma mendengus kasar.
"Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini, tunggu aku di rumah! Semuanya akan aku jelaskan, sejelas-jelasnya!"
Tapi Sukma malah memberikan tatapan menantang. Emosi sudah menguasai akal sehatnya. Tanpa diduga dia langsung masuk ke dalam ruang tindakan.
Gusti tersentak kaget. Ia berniat menahan lengan Sukma, tetapi gerakan wanita itu jauh lebih cepat. Dengan emosi yang sudah membakar dada, Sukma mendorong pintu ruang itu dan langsung melangkah masuk ke dalam.
Suasana di dalam ruangan itu terasa sangat sunyi. Tidak ada perawat ataupun dokter lain di sana. Hanya ada Daniela yang sedang berbaring terlentang, terdiam sambil menatap kosong ke langit-langit kamar. Rasa nyeri akibat kontraksi palsunya memang sudah mulai mereda, tetapi gurat kelelahan masih tercetak jelas di wajah ayunya.
Suara langkah kaki yang dihentakkan dengan sengaja seketika memecah keheningan. Daniela menoleh, terkejut saat mendapati seorang wanita asing yang sama sekali tidak ia kenal, kini sudah berdiri di samping brankar tempat tidurnya.
"Jadi kamu yang namanya Daniela?" tanya Sukma. Suaranya terdengar rendah, namun sarat akan nada intimidasi.
Daniela mengerutkan keningnya samar, mencoba mencerna situasi. Sebelum ia sempat bersuara untuk menjawab, Sukma sudah lebih dulu bersedekap dada dan menatap perut buncit Daniela dengan pandangan menghina.
"Hebat ya kamu. Masih berstatus karyawan biasa, tapi sudah pintar memanfaatkan kondisi untuk menarik perhatian manajer sendiri," sindir Sukma tajam, tidak memberikan celah bagi Daniela untuk membela diri.
"Kamu sengaja, kan, pura-pura sakit di depan Gusti supaya dia panik dan mengabaikan pekerjaannya demi kamu?"
Daniela tertegun. Jantungnya mendadak berdegup kencang, bukan karena sisa rasa sakit di perutnya, melainkan karena tuduhan tiba-tiba yang dilemparkan kepadanya.
"Kamu siapa? Kenapa tiba-tiba marah seperti itu..."
"Halah, tidak usah berlagak polos!" potong Sukma cepat. Ia maju selangkah, mempersempit jarak di antara mereka hingga Daniela bisa merasakan aura kemarahan yang meluap-luap dari wanita itu.
"Asal kamu tahu ya, Gusti itu pacar aku! Dan gara-gara perempuan kegatelan seperti kamu, dia sampai dikira suami kamu oleh dokter tadi! Kamu tahu diri sedikit dong, punya anak tapi tidak punya suami, sekarang malah mau merebut pacar orang lain?!"
Lelah memang mendengar makian yang tidak mendasar dan begitu merendahkan harga dirinya. Namun setitik pun tidak tampak raut tertekan di wajah Daniela. Sebaliknya wajah cantik itu terlihat tenang dan tak peduli.
Dengan gerakan perlahan, Daniela mengubah posisinya menjadi bersandar pada bantalan brankar. Sorot matanya yang jernih menatap lurus ke arah Sukma, tanpa ada binar kepanikan sedikit pun.
"Sudah selesai bicaranya?" tanya Daniela datar.
Sukma terperangah. Ia mengira wanita hamil di hadapannya ini akan langsung gemetar ketakutan atau bersimpuh memohon ampun, tetapi reaksi Daniela justru sebaliknya.
"Kamu..."
"Pertama, aku tidak pernah meminta Pak Gusti untuk membawa saya ke sini, apalagi berpura-pura sakit," potong Daniela sebelum Sukma kembali meluapkan emosinya. Suara Daniela terdengar sangat tenang, namun sarat akan ketegasan.
"Kedua, masalah Pak Gusti yang dianggap sebagai suami saya oleh dokter, itu murni kesalahpahaman mungkin karena situasi panik tadi. Jika kamu merasa keberatan, silakan konfirmasikan pada dokter, bukan malah melabrak saya."
Wajah Sukma seketika memerah menahan geram. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya.
"Kamu berani menjawab saya?! Dasar tidak tahu diri, ya! Tidak tahu terima kasih!"
Daniela tersenyum tipis, sebuah senyuman yang justru terlihat sangat menyebalkan di mata Sukma karena terkesan meremehkan amarahnya.
"Aku sangat tahu diri, Mbak. Dan aku sangat berterima kasih pada Pak Gusti. Meskipun aku hanya seorang kasir di supermarket itu, tapi tanpa ragu Pak Gusti yang seorang manajer, mau menolong saya. Lalu di mana letak kesalahan saya?"
Tepat setelah Daniela menyelesaikan kalimatnya, pintu ruang tindakan terbuka. Gusti masuk dan langsung menarik tangan Sukma.
"Ayo pergi dari sini!" ucapnya dingin. Lalu menatap pada Daniela.
"Maaf atas kekacauan ini, Daniela. Saya pergi dulu."
Daniela mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Setelah kepergian mereka, Daniela langsung menelepon Harsiwi.
***
"Darren, kamu benar-benar sudah kuat? Apa tidak sebaiknya kunjungan ke mal Medan diwakilkan ke Reymond saja?" tanya Citra dengan wajah cemas.
"Tidak bisa, Ma. Ada seseorang yang ingin aku temui di sana."
"Menemui seseorang?"
Mata Citra seketika berbinar cerah.
"Berarti ingatan kamu sudah mulai pulih?"
Darren mengembuskan napas kasar.
"Tidak seperti itu. Aku masih belum mengingat apa pun."
Jawaban Darren membuat Citra semakin bingung. Ia langsung menahan lengan Darren yang akan keluar dari kamarnya. Lalu memeluk tubuh putranya dengan erat sambil terisak.
"Jangan membuat Mama ketakutan lagi, Nak. Mama tidak akan bisa hidup jika harus kehilangan kamu."
Darren tersenyum tipis lalu mengusap lembut punggung ibunya, mencoba menyalurkan ketenangan.
"Aku akan baik-baik saja, Ma. Aku ke sana karena ingin bertemu langsung dengan salah satu kasir supermarket. Katanya dia sedang hamil, tapi mampu memberikan warna baru untuk memajukan mal kita."
Citra melepaskan pelukannya dan menatap Darren dengan kening berkerut. Ia semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran putranya. Apa hubungannya seorang kasir supermarket yang sedang hamil dengan kemajuan mal mereka?
"Sudahlah, Ma. Aku bisa terlambat kalau terus ditahan. Nanti sepulang dari sana, akan aku ceritakan semuanya sama Mama."
Darren mengecup kening ibunya sekilas sebelum akhirnya melangkah mantap meninggalkan kamar. Citra hanya bisa berdiri terpaku di ambang pintu, menatap punggung Darren yang kian menjauh dengan perasaan campur aduk. Antara cemas dan penasaran, sambil melafazkan doa-doa untuk keselamatan putranya itu.
Sementara di dalam mobil, Darren menatap lurus ke luar jendela. Mungkin ingatannya masih seperti selembar kertas putih, tapi entah kenapa, seperti ada dorongan kuat yang membawanya untuk datang ke tempat itu.
mungkin di masa lalu Darren org yg arogan Daniela ,,
tp saat ni Darren sosok ayah yg merindukan keluarga kecil ny ,,
mungkin sulit tuk melupakan masa lalu yg menyakitkan ,, tp fikirkan juga daphnee ,, dy juga merindukan papa ny ,,
ayooo darreeen berusaha teruus ,, bukti kan klo km uuddh berubah