Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Utang Nyawa Sang Jenderal dan Token Emas Hitam
Keheningan di Balai Pengobatan Teratai Emas terasa kental dan berat. Udara yang sebelumnya dipenuhi aroma herbal dan kepanikan kini tergantikan oleh ketegangan yang hening.
Dokter Haris, dengan tangan masih sedikit gemetar, perlahan bangkit dari lantai. Sebagai seorang profesional medis yang telah mengabdi selama empat dekade, ia tahu persis apa yang baru saja ia saksikan. Itu bukan trik sulap, bukan pula keberuntungan. Ketepatan, kecepatan, dan aliran energi yang menstabilkan jantung Jenderal Bima adalah bukti dari penguasaan medis kuno yang berada jauh di atas pemahaman sains modern.
"Tuan muda..." suara Dokter Haris terdengar serak, dipenuhi rasa hormat yang mendalam. Ia menundukkan kepalanya, membuang jauh-jauh ego dan senioritasnya. "Saya memohon maaf atas kelancangan saya. Mata tua ini gagal mengenali Gunung Tai di hadapannya. Teknik Formasi Jarum Sembilan Naga... saya pikir itu hanya mitos dalam manuskrip kuno."
Arya hanya melirik sekilas ke arah dokter tua itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Di dunia aslinya—dunia kultivasi dan intrik tingkat tinggi—keterampilan medis adalah alat untuk bertahan hidup, bukan untuk dipamerkan.
"Pengetahuan medis tidak memiliki batasan, Dokter," jawab Arya datar. "Masalahnya bukan pada pengobatan modern atau tradisional, melainkan pada ketidakmampuan mendiagnosis akar penyakit. Dia tidak menderita gagal jantung. Dia menderita serangan balasan akibat memaksakan sirkulasi Qi pada meridian yang tersumbat."
Jenderal Bima, yang kini dibantu duduk oleh perawat, menatap Arya dengan sorot mata tajam bak elang. Meski baru saja lolos dari maut, aura kepemimpinan dan ketegasan dari puluhan tahun berada di medan tempur tidak hilang dari sosoknya.
"Nadia, tenanglah," perintah Jenderal Bima dengan suara berat.
Wanita muda yang tadi dibungkam oleh ketukan jari Arya, Nadia, segera merasakan kelumpuhan di bahunya menghilang seiring berjalannya waktu. Ia mundur selangkah, menatap Arya dengan campuran antara kewaspadaan militer dan rasa syukur yang tertahan. Ia dididik untuk rasional; fakta bahwa pria misterius ini baru saja menyelamatkan nyawa kakeknya adalah hal yang tidak bisa dibantah.
"Anak muda," Jenderal Bima berbicara, menatap langsung ke mata Arya. Ia mencoba mencari jejak kesombongan atau rasa gentar, namun yang ia temukan hanyalah ketenangan absolut, seolah menyelamatkan seorang Jenderal Bintang Empat hanyalah rutinitas harian membuang sampah. "Kau mengatakan aku memaksakan sirkulasi Qi. Fakta bahwa kau mengetahui hal itu membuktikan kau bukanlah warga sipil biasa. Siapa namamu?"
"Itu tidak penting untuk saat ini," potong Arya, mengalihkan pandangannya ke arah pintu geser bergaya oriental di ujung ruangan. Dari sana, seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas abu-abu mahal melangkah keluar dengan tergesa-gesa. Pria itu memancarkan aura seorang praktisi bela diri tahap awal. Dia adalah Yuda, Manajer Utama Paviliun Teratai Emas.
Yuda segera menghampiri Jenderal Bima, memastikan kondisi sang jenderal sebelum menoleh ke arah Arya dengan tatapan menilai yang penuh perhitungan.
"Saya mendengar keributan. Tuan, jika Anda membuat kekacauan di fasilitas—"
"Berhenti di sana, Manajer Yuda," suara Jenderal Bima memotong tajam, mengandung otoritas mutlak. "Pemuda ini baru saja menarikku kembali dari gerbang neraka. Jika Teratai Emas mencoba menyentuh sehelai rambutnya, Komando Militer Utara akan meratakan tempat ini besok pagi."
Yuda seketika menghentikan langkahnya. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Paviliun Teratai Emas memang memiliki bekingan kuat dari dunia kultivasi tersembunyi, namun berhadapan secara terbuka dengan kekuatan militer negara adalah bunuh diri yang tidak rasional. Ia menunduk hormat. "Saya mengerti, Jenderal. Apa yang bisa kami bantu?"
Arya menatap Yuda dengan tatapan yang membekukan. "Aku datang bukan untuk mencari masalah. Aku tahu kalian mengadakan pelelangan bawah tanah malam ini. Ada sebuah Ginseng Darah berusia lima ratus tahun di daftar lelang kalian. Aku menginginkan akses masuk."
Yuda ragu-ragu. "Tuan, mohon maaf. Aturan lelang kami sangat ketat. Tanpa undangan VIP atau bukti aset likuid minimal lima ratus miliar, kami tidak bisa membiarkan siapa pun masuk demi menjaga kerahasiaan klien kami."
Sebelum Yuda menyelesaikan kalimatnya, Jenderal Bima merogoh saku bagian dalam jasnya. Ia mengeluarkan sebuah token logam berat berwarna hitam pekat dengan ukiran naga emas dan huruf "BIMA" di tengahnya. Ia melemparkan token itu kepada Arya.
Arya menangkapnya dengan mudah.
"Itu adalah Token Emas Hitam Keluarga Bima," kata sang Jenderal, nadanya serius tanpa dibuat-buat. "Hanya ada tiga di dunia ini. Pemegangnya diakui sebagai tamu kehormatan tertinggi militer dan Keluarga Bima. Hutang nyawa harus dibayar setimpal. Gunakan itu. Jika ada yang berani menghalangimu di Nusantara City, mereka harus melangkahiku terlebih dahulu."
Yuda membelalakkan matanya, keterkejutannya sulit disembunyikan. Token itu bukan sekadar izin masuk; itu adalah lambang kekuasaan yang bisa menggerakkan pasukan. "Dengan token itu, Anda otomatis terdaftar sebagai tamu VVIP kami, Tuan... Tuan..."
"Arya," ucap Arya singkat, memasukkan token itu ke dalam sakunya. "Pukul delapan malam. Pastikan tempat dudukku siap."
Tanpa membuang waktu lebih lama untuk basa-basi atau perayaan, Arya berbalik dan berjalan keluar dari balai pengobatan tersebut. Ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan. Alur kausalitas dan logika pertukaran manfaat telah terpenuhi; ia menyelamatkan nyawa yang berharga, dan sebagai imbalannya, ia mendapatkan akses krusial untuk kultivasinya.
Di dalam mobil Rolls-Royce yang menunggu di luar, Thomas membukakan pintu belakang dengan sigap.
"Semuanya berjalan lancar, Tuan Muda?" tanya Thomas saat mobil mulai melaju membelah jalanan kota yang mulai padat.
"Lebih dari cukup," jawab Arya sambil bersandar, menutup matanya untuk memfokuskan pikirannya. "Thomas, siapkan dana likuid di rekening utama. Malam ini, aku harus mendapatkan Ginseng Darah itu dengan cara apa pun."
"Ginseng itu sangat penting bagi Anda, Tuan Muda?"
"Bumi di era modern telah kehilangan hampir sembilan puluh persen esensi spiritual murninya akibat industrialisasi dan polusi," Arya menjelaskan dengan nada akademis dan rasional. "Udara yang kita hirup dipenuhi oleh residu karbon, bukan Qi kehidupan. Untuk menerobos Fisik Petarung menuju Pembentuk Fondasi Qi, aku membutuhkan katalis eksternal yang kuat. Tanaman yang bertahan ratusan tahun di lingkungan ekstrem menyerap energi langit dan bumi yang langka tersebut. Tanpa itu, kultivasiku akan stagnan selama lima tahun ke depan. Waktu adalah sesuatu yang tidak aku miliki saat ini."
Thomas mengangguk mengerti. "Dipahami, Tuan Muda. Dana tak terbatas dari Dragon Corp selalu siap untuk Anda."
Tepat pukul 20:00 WIB.
Gedung pusat konvensi bawah tanah yang disamarkan sebagai klub elit eksklusif di pinggiran Nusantara City dijaga dengan ketat. Tidak ada penjaga berseragam mencolok, melainkan pria-pria berjas rapi dengan postur militer yang memindai setiap tamu menggunakan perangkat canggih.
Mobil Arya berhenti di depan pintu masuk pribadi. Kali ini, Arya tidak mengenakan pakaian lusuh. Berkat persiapan Thomas, ia tampil sempurna dengan setelan formal yang menyatu dengan para konglomerat di sekitarnya.
Saat mereka tiba di pos pemeriksaan, Arya hanya menyerahkan Token Emas Hitam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Penjaga itu memindai token tersebut. Mesin seketika memancarkan cahaya hijau terang. Sikap penjaga yang sebelumnya kaku dan waspada berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sangat hormat.
"Tamu VVIP, silakan lewat jalur khusus. Asisten kami akan mengantar Anda ke balkon pribadi di lantai dua," kata sang penjaga sambil membungkuk dalam. Tidak ada konfrontasi yang tidak rasional; di dunia nyata, orang-orang profesional tahu cara mengenali kekuasaan yang absolut.
Arya mengikuti arahan menuju ruang VVIP yang memberikan pandangan luas ke seluruh aula lelang di bawah. Ruangan itu kedap suara, dihiasi dengan interior klasik, dan dilengkapi layar sentuh untuk menempatkan tawaran.
Dari atas sana, pandangan tajam Arya menyapu kerumunan di lantai dasar. Ia mengenali beberapa wajah dari dokumen yang diberikan Thomas: para CEO dari Empat Keluarga Besar, pemimpin sindikat bawah tanah, dan beberapa praktisi bela diri dengan pernapasan yang stabil.
Namun, perhatian Arya tertuju pada sebuah ruang VVIP di seberang balkonnya. Kaca ruang tersebut gelap, namun dengan Fisik Petarung Tahap Awal, indera Arya mampu mendeteksi fluktuasi Qi yang sangat padat dan agresif dari dalam ruangan tersebut.
"Thomas," panggil Arya tanpa mengalihkan pandangannya. "Siapa yang menempati ruang VVIP nomor satu di seberang sana?"
Thomas segera mengecek tablet informasinya. "Data mereka disamarkan, Tuan Muda. Namun, menurut intelijen bayangan kita, malam ini Ketua Cabang dari Asosiasi Naga Hitam dikabarkan hadir secara pribadi. Mereka baru saja kehilangan Master Zhao kemarin malam, dan tampaknya mereka datang untuk mencari kompensasi atau... sumber kekuatan baru."
Arya menyeringai dingin. Sebuah senyuman tanpa humor yang menjanjikan benturan brutal. "Tampaknya kita tidak hanya akan berbelanja malam ini, Thomas. Kita juga akan membersihkan hama."
Tepat pada saat itu, lampu di aula utama meredup. Seorang juru lelang wanita berpakaian cheongsam merah melangkah ke atas panggung.