Dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merampas akar spiritual bawaannya, Lin Tian—sang jenius nomor satu dari Kota Daun Gugur—jatuh menjadi "sampah" yang dilumpuhkan dan dihina oleh klannya sendiri. Selama tiga tahun, ia menelan segala penderitaan dan penindasan dalam diam, bertahan hidup hanya demi mencari kebenaran tentang orang tuanya yang hilang dan membalas dendam pada mereka yang merampas masa depannya.
Namun, roda takdir berputar ketika darahnya tanpa sengaja membangkitkan jiwa Kaisar Alkemis Surgawi yang tertidur di dalam liontin peninggalan ibunya, Mutiara Kekacauan Primordial.
Mendapatkan warisan kuno dan merombak fisiknya menjadi Tubuh Pedang Kekacauan, Lin Tian kembali menapak jalan kultivasi yang kejam. Di dunia di mana hukum rimba berlaku mutlak dan kekuatan adalah satu-satunya kebenaran, Lin Tian harus menggunakan akal, taktik, dan kekuatan barunya untuk membelah segala rintangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Logika Perpisahan dan Gerbang Kekaisaran Bintang Surgawi
Fajar belum sepenuhnya menyingsing di Kota Daun Gugur. Udara pagi masih membawa hawa dingin yang menusuk tulang, namun di halaman belakang kediaman Kepala Klan Lin, perpisahan yang terjadi sama sekali tidak diwarnai oleh drama emosional yang berlebihan.
Lin Tian berdiri mengenakan jubah perjalanan berwarna abu-abu gelap, sebilah pedang biasa tersarung di punggungnya untuk menyembunyikan identitasnya sebagai pengguna Qi murni. Di hadapannya, Lin Zhen berdiri tegap. Berkat Pil Pemulihan Meridian, pria paruh baya itu tampak sepuluh tahun lebih muda, memancarkan vitalitas yang stabil meski kultivasinya harus dimulai kembali dari bawah.
"Ayah, aku meninggalkan kendali utama Formasi Penyembelih Bintang di dalam Stempel Leluhur," ucap Lin Tian, menyerahkan sebuah token giok tambahan. "Energi formasi ini disuplai oleh urat bumi buatan dari sisa Batu Spiritual. Cukup untuk menahan tiga kali serangan ahli Inti Emas. Namun ingat, keamanan absolut adalah sebuah ilusi. Jangan terlalu bergantung pada formasi."
"Aku mengerti, Tian'er," Lin Zhen mengangguk, menerima token tersebut dengan rasionalitas seorang pemimpin. Ia tidak meneteskan air mata atau mencoba menahan putranya. Di dunia bela diri, menahan langkah seekor naga yang baru bangkit sama saja dengan memotong sayapnya. "Klan Lin akan beroperasi di bawah sistem meritokrasi yang kau rancang. Kami tidak akan menarik perhatian sekte-sekte besar sampai fondasi kami benar-benar solid."
"Bagus. Jika faksi dari kota lain mencoba menekan, gunakan Paviliun Beribu Harta sebagai perisai diplomasi. Mereka berutang nyawa kepadaku," Lin Tian memberikan instruksi terakhirnya dengan presisi logis.
Tanpa kata-kata perpisahan yang klise, Lin Tian berbalik. Ia memutar Qi di kakinya, melesat ke udara seperti bayangan buram, dan menghilang di balik kanopi awan pagi. Tujuannya adalah timur jauh: Benua Tengah, pusat peradaban di mana Kekaisaran Bintang Surgawi berkuasa.
Perjalanan dari wilayah perbatasan menuju Benua Tengah memakan jarak puluhan ribu mil. Menggunakan penerbangan Qi secara terus-menerus adalah tindakan boros energi yang tidak masuk akal, terutama saat melewati Pegunungan Punggung Naga, wilayah buas yang memisahkan kedua benua.
Kalkulasi Lin Tian sangat sederhana: efisiensi. Di kota persinggahan pertama, ia menyewa seekor Elang Sayap Besi, siluman terbang tingkat menengah yang telah dijinakkan. Meskipun kecepatannya lebih lambat dari Kapal Penghancur Udara yang telah ia korbankan, menggunakan elang ini memungkinkannya mempertahankan Qi dalam kondisi prima (seratus persen) setiap saat untuk menghadapi variabel tak terduga di jalan.
Selama dua minggu perjalanan di udara, Lin Tian tidak membuang waktu. Ia duduk bersila di punggung elang raksasa tersebut, menutup mata, dan bermeditasi. Ia terus mengompresi danau Qi di Dantiannya, menstabilkan fondasinya di Tahap Pendirian Yayasan Tingkat 5. Energi murni dari Urat Bumi Sekte Pedang Surgawi yang sebelumnya ia telan secara brutal kini sepenuhnya terintegrasi dengan Tubuh Pedang Kekacauan, tidak menyisakan efek samping sedikit pun.
Pada hari kelima belas, pemandangan di bawahnya mulai berubah drastis.
Hutan lebat dan perbukitan tandus yang menjadi ciri khas wilayah perbatasan mulai tergantikan oleh dataran luas yang dipenuhi oleh aliran sungai spiritual buatan, susunan formasi pertanian skala besar, dan kota-kota megah yang memancarkan cahaya giok bahkan di siang hari.
"Kepadatan Qi di udara sini tiga kali lipat lebih tinggi daripada di Kota Daun Gugur," analisa Lin Tian saat elangnya mulai terbang merendah. "Hukum alam di Benua Tengah lebih sempurna. Ini menjelaskan mengapa ahli Inti Emas bisa lahir lebih mudah di sini."
Di ufuk depan, sebuah struktur masif menjulang membelah cakrawala. Itu bukanlah sekadar tembok kota, melainkan dinding logam berwarna hitam setinggi seratus meter yang membentang bermil-mil jauhnya, dilindungi oleh tirai formasi cahaya berwarna emas.
Ini adalah Kota Gerbang Besi, pintu masuk resmi pertama menuju wilayah Kekaisaran Bintang Surgawi.
Lin Tian memerintahkan elangnya untuk turun di pos pemberhentian luar kota. Sesuai aturan tidak tertulis yang logis di Benua Tengah, terbang melintasi tembok kota tingkat kekaisaran adalah pernyataan perang langsung yang akan direspons dengan tembakan meriam anti-udara.
Saat melangkah menuju gerbang utama, Lin Tian segera menyadari perbedaan skala hierarki kekuatan. Para pedagang keliling dan tentara bayaran yang mengantre di gerbang rata-rata berada di Pengumpulan Qi Tingkat 8 atau 9. Penjaga gerbang yang berseragam zirah perak semuanya adalah kultivator di Tahap Pendirian Yayasan tingkat awal, tingkat yang sama dengan status puncak di wilayah perbatasan.
Bagi seorang kultivator dari daerah terpencil, kenyataan ini bisa menghancurkan mental. Namun bagi Lin Tian, ini adalah konfirmasi rasional dari apa yang ia antisipasi. Ia menggunakan teknik manipulasi Kekacauan untuk menekan auranya, membuatnya tampak seperti kultivator Pendirian Yayasan Tingkat 1 biasa—cukup kuat untuk tidak diganggu preman jalanan, namun cukup rendah untuk tidak menarik perhatian petinggi kota.
Tiba gilirannya di pos pemeriksaan. Seorang komandan penjaga dengan aura Pendirian Yayasan Tingkat 3 menatapnya dengan dingin.
"Identitas klan atau token sekte," pinta sang komandan, mengulurkan tangan.
"Kultivator pengembara. Tidak berafiliasi," jawab Lin Tian datar.
"Pengembara dari perbatasan? Hmph." Komandan itu mendengus meremehkan, namun tetap profesional tanpa drama permusuhan yang tidak beralasan. Logika militernya bekerja: uang adalah uang. "Biaya masuk tanpa identitas resmi adalah seratus Batu Spiritual tingkat menengah. Token izin tinggal berlaku untuk satu bulan."
Seratus batu tingkat menengah adalah harga yang fantastis, cukup untuk membuat bangkrut sebuah klan kecil di perbatasan. Beberapa kultivator di belakang Lin Tian mulai berbisik, berasumsi pemuda berpakaian biasa ini akan diusir.
Tanpa ekspresi berlebih, Lin Tian menyapu tangannya di atas meja batu pos penjagaan. Sepuluh keping Batu Spiritual yang memancarkan cahaya biru pekat—Batu Spiritual tingkat Tinggi (satu batu tingkat tinggi setara dengan sepuluh batu menengah)—muncul berdenting di atas meja.
Mata komandan penjaga itu sedikit melebar. Ia segera mengukur ulang pemuda di depannya. Orang yang bisa mengeluarkan batu tingkat tinggi dengan santai bukanlah sekadar pengembara miskin. Kesopanan komandan itu seketika meningkat.
"Token masuk Anda, Tuan," ucapnya, menyerahkan pelat logam berukir rune dengan kedua tangan. "Selamat datang di Kekaisaran Bintang Surgawi."
Lin Tian mengambil token tersebut dan melangkah masuk menembus gerbang tebal. Ia tidak peduli dengan tatapan penasaran para penjaga. Berdebat atau menunjukkan arogansi di pos pemeriksaan hanyalah tindakan bodoh yang membuang waktu.
Begitu melewati lorong gerbang, pemandangan kota metropolis kultivasi terbentang di depannya. Kendaraan yang ditarik oleh siluman tingkat tinggi berlalu-lalang, dan paviliun-paviliun alkimia berdiri menjulang bersaing dengan menara tempa senjata.
Lin Tian tidak terpesona oleh kemegahan tersebut. Otaknya segera memindai informasi dari lingkungan sekitarnya. Pandangannya berhenti pada sebuah papan pengumuman raksasa yang terbuat dari kristal memori di alun-alun kota, dikerumuni oleh ratusan kultivator muda.
"Pengumuman Kekaisaran: Akademi Bintang Surgawi Membuka Pendaftaran Ujian Masuk Tahunan. Hanya menerima mereka yang berada di bawah usia dua puluh tahun dengan minimal Pendirian Yayasan Tingkat 1. Mereka yang lolos ujian akan mendapatkan akses ke Perpustakaan Hukum Kekaisaran dan Kolam Sumsum Naga."
Mata Lin Tian menyipit penuh perhitungan.
"Kolam Sumsum Naga... itu adalah katalis yang sempurna untuk mendorong Tubuh Pedang Kekacauanku menuju Tahap Inti Emas tanpa efek samping. Sementara Perpustakaan Hukum Kekaisaran mungkin menyimpan peta spasial tentang keberadaan fragmen pedang milik Guruku," analisa Lin Tian secara rasional.
Memasuki faksi akademi jauh lebih fleksibel daripada bergabung dengan sekte konservatif yang menuntut loyalitas buta. Akademi beroperasi berdasarkan transaksi: kau memberikan bakat dan poin kontribusi, mereka memberikan sumber daya. Ini adalah sistem yang sangat cocok dengan metode jalan pedang Lin Tian.
Tanpa menunda langkah, Lin Tian berbalik menuju arah pusat pendaftaran yang tertera di peta kota.