NovelToon NovelToon
GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.

Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.

Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.

Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manusia & Sisi Gelapnya

"Buat siapa penampilan kamu hari ini?" tanya Adden lagi.

Melody mencoba menjawab tapi suaranya tertahan. Adden tersenyum miring lalu mendekatkan wajahnya lagi.

"Aku bakal lepasin tangan aku. Kalau kamu teriak, aku tutup lagi dan aku bakal hajar kamu di sini juga. Aku bakal masukin punyaku ke dalam, dan kamu pasti bakal suka. Angguk kalau ngerti."

Melody mengangguk pelan. Dalam hati ia yakin cowok itu hanya mengintimidasinya. Melody tidak takut.

Tangan Adden perlahan turun dari mulutnya, menyentuh dagu, leher, hingga berhenti tepat di lekukan dadanya.

"Apa yang kamu mau? Aku kan udah tinggalin kamu sendiri," desis Melody.

Adden menatap bibir Melody lekat-lekat. Kakinya masih terjepit kuat di antara kedua kaki Melody, membuat jantung gadis itu berdegup kencang tak karuhan.

"Aku gak pernah bilang bakal ninggalin kamu sendirian," bisik Adden tepat di samping leher Melody. "Aku juga gak pernah janji bakal gak muncul kapan pun aku mau. Ingat ya Melody, aku bakal muncul. Dan aku bakal lakuin apa aja yang aku mau ke kamu."

Dada Melody naik turun menahan napas. Ia kehilangan kata-kata. Adden menjulurkan lidah, menjilat bibirnya sendiri seakan Melody adalah hidangan lezat. Wajah mereka begitu dekat hingga napas mereka bercampur menjadi satu.

"Ada yang mau aku omongin. Ingat gak ciuman pertama kita?"

"Kamu bilang ...."

Belum selesai Melody bicara, bibir Adden sudah mendarat dengan kasar di bibirnya. Lidah mereka bertaut dengan dahsyat dan penuh nafsu.

Melody mendesah pelan. Ia meremas bibir bawah Adden, mencoba menahan rasa panas yang mulai menjalar hingga ke selangkangan. Tangan besar Adden mengelilingi leher Melody, menahan kepala gadis itu agar tak kemana-mana.

Adden mundur sedikit lalu menunduk, mencium area dada Melody dengan rakus. Jari-jari Melody otomatis mencengkeram rambut hitam itu.

Lidah panas Adden bermain di atas kain bra, memutari puting yang sudah mengeras. Tubuh Melody rasanya terbakar habis.

"Adden ...." desisnya pelan. Sebenarnya ia ingin melawan, tapi tubuhnya justru mendambakan sentuhan itu.

"Sialan," gumam Adden parau.

Tangannya bergerak cepat turun ke bawah. Ia menarik kancing celana jeans Melody dan dengan kasar memasukkan tangannya ke dalam celana dalam gadis itu.

Kain tipis itu disingkirkan dengan kasar, membuat tubuh Melody gemetar hebat. Mulut Melody pun terbuka lebar. Lehernya mendongak ke belakang saat merasakan jari-jari dingin Adden menyentuh area paling sensitifnya.

Gerakan memutar yang dilakukan jari itu membuat Melody mendesah keras. Rasa itu membuatnya sangat butuh akan pria itu.

Kalau ini terus berlanjut, Melody sadar dirinya akan membiarkannya terjadi. Dengan atau tanpa ancaman, ia akan membiarkan Adden mengambilnya.

Ia mungkin akan berteriak, tapi bukan karena ketakutan. Ia mungkin akan berteriak menyebut nama pria itu saat ia mencapai puncak kenikmatannya.

Ada sesuatu yang terus berdenyut di dalam dirinya. Sulit menahan gejolak saat hasrat sudah terlalu lama dipendam.

Pria itu menarik tangannya. Jari-jarinya basah dan berkilau karena gairah Melody. Wajahnya memerah malu, ia buru-buru memalingkan wajah.

"Lihat aku," tuntutnya tegas.

Mata Melody terpaku menatap matanya yang penuh nafsu. Pria itu memasukkan jari-jarinya yang basah ke dalam mulut. Melody terpana melihatnya memejamkan mata seakan menikmati rasa itu, menghisap jari-jarinya dengan perlahan.

Adden mengeluarkan jarinya, lalu merenggangkan kaki Melody dan mendekatkan wajahnya. Suaranya berat dan serak.

"Ada sisi gelap di dalam dirimu yang selalu memanggilku, Melody. Sisi yang ingin aku jelajahi."

Ia berhenti sejenak, menatap tajam.

"Itu ada karena kita semua punya sisi jahat di dalam diri kita. Dan kalau dibiarin, itu bakal lepas kendali."

"Kenapa?" bisik Melody sambil memejamkan mata.

Pria itu menggesekkan hidungnya di pipi Melody, menghirup aroma kulitnya lalu menjilat bibirnya sendiri.

"Karena saat aku tahu penyebabnya ... saat aku tahu siapa yang pernah hancurin kamu ... orang yang berani lakuin itu bakal menanggung akibatnya."

Mulut Melody terbuka lebar saat tangan pria itu kembali menyelinap di antara kakinya, menutupi area intimnya dengan telapak tangan yang hangat.

"Ini cuma milik aku. Siap-siap ya, nanti aku cari kamu lagi."

Melody bahkan tak sadar saat pria itu menutup pintu bilik toilet. Sebelum pergi, ia memastikan baju Melody menutupi dada dengan rapi, lalu membanting pintu dan pergi. Melody ditinggalkan dalam keadaan masih terengah-engah.

Setelah keluar dari toilet, Melody kembali ke tempat duduknya. Ia menyaksikan penampilan band dan koreografi tim tari Giggi.

Tidak ada yang istimewa, sampai Melody melihat Luccy, Mihoy, dan cewek lain yang sering bareng Messy. Mereka tertawa mengejek di belakang punggung Giggi sambil menutup wajah dengan pom-pom. Melody yakin mereka sengaja mau bikin Giggi terlihat bodoh.

Koreografinya sebenarnya biasa saja, tapi musiknya kuno dan gerakannya sering tidak pas sama irama.

Giggi menatap Melody dan menggigit bibir. Ia sadar penampilannya kali ini gagal total. Tanpa sadar, pandangan Melody melayang ke bawah tribun. Apa yang terjadi di toilet tadi sungguh liar dan penuh gairah.

Seharusnya ia merasa bersalah, tapi justru ia senang. Paling tidak, pria itu tidak menganggapnya buruk sampai berani menyentuh dan menciumnya.

Kalau dia mau main api, Melody siap bermain. Dia yang suruh Melody menjauh, tapi pertanyaannya ... bisakah Adden menjauhi Melody?

Rambut hitamnya masih terasa halus di jemarinya. Wangi parfumnya pun masih menempel di tangan Melody. Melody jadi tidak betah duduk di situ, apalagi melihat Luccy melirik Adden dan tersenyum aneh.

Apa tadi beneran serius atau cuma main-main?

Melody mencoba mengabaikannya. Toh ia sudah dapat apa yang ia mau, ciuman. Tapi Melody akui, secara fisik... Adden itu tipe yang sempurna.

Adden berdiri dengan gaya santai. Celana jeans-nya melorot sedikit di pinggang, memperlihatkan perut rata dan paha yang berotot.

Ia memakai rantai dan punya banyak tato di tubuh. Tato favorit Melody yang ada di leher, tertulis, 'Kegelapan ada di dalam diri kita semua'.

Persis sekali dengan apa yang dia bicarakan tadi. Kegelapan di diri Melody ternyata menjadi daya tarik buat dia.

Tapi ... apakah kegelapan itu cukup buat menjinakkan dia?

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!