NovelToon NovelToon
Posesif

Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...

"Kita akan menikah hari ini."

"Aku tidak mau!"

"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."

NB: Season 2 dari Obsession

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

POV: Devandra

Pagi datang begitu cepat, padahal rasanya aku baru saja memejamkan mataku. Hari ini aku memilih tidak ke kantor, entah karena masalah yang sedang terjadi atau karena aku sedang malas, tapi rasanya seolah aku tidak bersemangat untuk menjalani kehidupan.

Ku paksakan tubuhku bangun dari sofa, aku memilih tidur di sini karena kamarku sedang dipakai oleh Nara, sebenarnya aku ingin membuatnya mengintropeksi dirinya sendiri agar dia sadar akan kesalahannya. Aku berjalan menuju dapur, mengambil beberapa bahan masakan di kulkas, lalu menyuruh bik Sumi untuk memasaknya.

Setelah semua selesai aku bergegas naik ke lantai atas membawa nampan berisi sarapan untuk Nara. Tanganku memencet kode pintu itu, ketika pintu terbuka kamar itu masih gelap. Aku membuka tirai jendela, Nara masih meringkuk di dalam selimut.

"Nara, bangun!" Aku mengguncang tubuhnya pelan.

Ia bergerak pelan, wajahnya terlihat pucat, matanya sembab, mungkin dia menangis semalaman. Aku menyentuh keningnya untuk memastikan apakah dia sedang sakit, tapi sepertinya tidak.

"Aku bawakan sarapan, makan!" Ku letakkan nampan itu di atas ranjang.

Namun perempuan itu tidak merespon sama sekali, masih enggan untuk bangun.

"Ini masih pagi, Nara. Kamu lebih memilih sarapan ini melayang daripada memakannya?"

Aku melihat tangannya mengepal, dia tampak kesal tapi setelah itu tubuhnya bangun. Ia mulai meraih sendok dan memakannya dengan pelan. Aku memperhatikannya sambil duduk di sebuah kursi.

Beberapa saat kemudian tangannya mendorong pelan nampan itu, dia berhenti makan. Padahal setengah dari makanan itu belum tersentuh.

"Aku bilang, habiskan!"

Dia menggeleng.

Aku menjadi kesal, reflek ku raih buku di meja belakang ku dan melemparnya ke tembok di belakang Nara, dia reflek menundukkan kepalanya. Air mata itu keluar lagi.

Aku hanya ingin dia menghabiskan sarapannya, hanya itu. Kenapa dia selalu lebih dulu membuatku kesal daripada berusaha untuk menghindarinya?

Dia kembali meraih nampannya, dan makan dengan perlahan. Air matanya terus mengalir, dadanya bergetar sesenggukan.

"Kamu tetap berada di kamar ini sampai aku mengizinkan keluar!" Setelah mengatakan itu dan memastikannya makan dengan baik, aku pergi meninggalkannya.

...***...

POV: Nara

Pintu kamar terdengar akan di buka dari luar, aku enggan untuk menoleh dan melihat siapa yang datang. Aku hanya duduk di lantai, bersandar pada ranjang memeluk lututku sendiri.

"Non..." Itu terdengar seperti suara bik Sumi, sontak aku mengangkat kepalaku.

Bik Sumi berlari ke arahku, memegangi wajahku, mengelus kepalaku. Wajahnya terlihat sangat sedih.

"Non gak apa-apa? Ada yang terasa sakit?" pertanyaannya bertubi, aku hanya tersenyum melihatnya.

"Maafin bibik ya Non, nggak bisa berbuat apa-apa." Lagi-lagi perempuan ini terlihat selalu merasa bersalah setiap kali aku seperti ini.

Aku berusaha memaksakan senyum di wajahku, terlalu berat untuk mengeluarkan suara. Bahkan mungkin suaraku sudah hilang karena terlalu banyak menangis.

"Bibik disuruh bawa kebutuhan dan perlengkapan Non Nara, kecuali ponsel. Bibik juga disuruh memastikan kalau sarapannya sudah habis," katanya lirih.

Aku mengangguk mengiyakan. Lalu dia pergi meninggalkanku membawa kembali nampan itu, kamar ini kembali hening, hanya pikiranku yang masih berisik oleh bayang-bayang kemarin malam.

Aku tahu aku dikurung lagi, dan kali ini entah berapa lama? Rasanya ingin mati saja, daripada membersamai orang jahat yang selalu bersembunyi di balik kata cinta.

Tiba-tiba aku teringat Viona, mungkin dia termasuk orang yang beruntung, mati dengan tenang, setidaknya bukan mati perlahan di tangan kekasihnya sendiri. Sangat tidak beruntungnya aku, yang menggantikan posisinya.

...***...

POV: Leon

Motor kuparkir dengan kasar di halaman rumah itu. Beberapa penjaga mendekati dan bertanya tentang keperluanku. Aku tahu Dev sudah membatasi kehadiranku seolah dia tahu aku pasti akan datang.

Aku mengabaikan pertanyaan-pertanyaan penjaga dan bergegas masuk ke rumah itu. Rumah besar dan megah itu justru terlihat menakutkan, entah sejak kapan. Aku mengetuk pintu kamar Nara, tapi tidak ada jawaban. Langkahku menyusuri setiap ruangan, dan aku melihat bik Sumi berada di sana.

"Bik, Nara ada di mana?" tanyaku dengan nada panik.

Tapi perempuan itu malah diam dengan wajah seperti sedang ketakutan, sampai tiba-tiba.

"Lo gak tau malu ya, malah berani datang ke kandang singa." Devandra muncul dari belakangku.

"Nara di mana?"

Sudut bibirnya terangkat, "lo ngapain cari dia?"

"Gue mau mastiin dia baik atau nggak!" suaraku meninggi.

"Jangan bersikap seolah pahlawan, kalau keadaan Nara buruk, itu karna lo."

Mendengar kata buruk, dadaku langsung terasa sakit. Aku tidak memperdulikan Devandra, dan langsung berlari ke lantai atas. Pintu kamar itu ku ketuk berkali-kali, sambil memanggil nama Nara. Firasatku mengatakan jika Nara ada di dalam.

"Pergi dari sini sebelum gue hajar!"

"Bangsat! Gue gak bakal kemana-mana sebelum lihat keadaan Nara!"

"Lo gak usah ikut campur urusan rumah tangga gue!"

"Gue berhak ikut campur, karna kalau sampai Nara kenapa-napa, gue gak bakal segan-segan buat laporin lo ke polisi." Aku bahkan tidak sadar mengatakan itu.

Devandra terdiam sesaat, yaa mungkin ancaman ini akan berhasil.

"Buka!" aku berteriak di depan wajahnya.

Akhirnya pintu itu di buka.

"Gue cuma kasih lo waktu sepuluh menit."

Setelah bunyi klik pintu terbuka, aku langsung berlari masuk, di sanalah aku melihat perempuan itu benar-benar kacau. Wajahnya pucat, matanya sembab, dia duduk di lantai memeluk lututnya sendiri.

"Nara," aku memeluknya. "Kamu nggak apa-apa? Dev udah ngelakuin apa ke kamu?"

"Aku nggak apa-apa." Suaranya bahkan hampir tidak bisa keluar.

"Nara, jangan selalu bersembunyi di balik kata nggak apa-apa! Kamu terlihat buruk, ayo kita ke rumah sakit kalau ada yang sakit, atau aku akan bawa paksa kamu keluar dari sini."

Nara menggeleng, tangannya menggenggam erat tanganku. "Kamu percaya sama aku, aku baik kok."

Tanpa sadar air mataku menetes begitu saja melihatnya seperti itu. Dia masih saja tidak mau pergi meninggalkan pria yang sudah membuatnya seperti ini.

"Aku minta maaf, Nara. Semua gara-gara ku."

Nara mengangkat wajahku, jempolnya mengusap pipiku dengan lembut. "Ini salah kita berdua. Kamu jangan mengkhawatirkan aku, aku baik. Mana mungkin suamiku sendiri melukaiku. Tapi mungkin kita nggak bisa ketemu lagi."

"Waktu lo habis, keluar!" tiba-tiba suara Dev memecahkan suasana.

"Udah jangan terlalu mikirin aku, aku baik. Sana kamu pulang, aku gak mau kalau dia mukul kamu lagi."

"Aku rela dihajar habis-habisan daripada lihat kamu begini."

"Anjing! Lo denger gak sih?" ucap Dev di ambang pintu.

Sebelum aku pergi, aku berbisik padanya. "Nara, aku janji akan memperbaiki semuanya." Aku pergi meninggalkannya dengan berat hati, dia masih menatapku hingga pintu itu kembali tertutup.

"Denger ya," tanganku mencengkeram kerah bajunya. "Kalau sampai Nara kenapa-napa, gue benar-benar akan laporin lo ke pihak berwajib. Gue gak peduli lo temen gue atau bukan."

Tangannya melepaskan cengkeraman ku dengan kasar.

"Mungkin sekarang, lo udah bukan temen gue lagi." ucapku terakhir kali sebelum aku pergi meninggalkannya.

...***...

POV: Nara

Seminggu sudah berlalu, dan aku masih terjebak di kamar ini. Pintu itu hanya terbuka setiap kali jam makan datang yang diantarkan oleh bik Sumi. Kadang aku bertanya padanya tentang Dev, bik Sumi mengatakan jika selama itu pula Dev hanya berada di rumah tidak pernah pergi ke kantor. Pria itu jarang mendatangiku, hanya ketika ingin mengambil sesuatu di kamarnya. Dia juga tidak pernah berbicara padaku.

Walaupun begitu, tapi aku selalu tahu kalau diam-diam dia memperhatikanku. Setiap pukul satu malam, Dev datang ke kamar, hanya untuk memastikan keadaanku. Devandra akan masuk dengan langkah pelan, hanya untuk memastikan keadaanku. Kadang berdiri beberapa menit di dekat ranjang, kadang sekadar menatap dari jauh sebelum pergi lagi. Mungkin dia pikir saat itu aku sudah tidur, padahal aku masih terjaga dan hampir jarang bisa tidur di saat malam.

Aku lebih banyak tidur di siang hari hingga sore, ketika malam datang pikiranku biasanya kembali berisik. Kadang jika aku benar-benar muak dengan suara-suara di kepalaku, aku memilih berendam air hangat di bathtub. Setidaknya di sana, untuk beberapa menit, rasanya dunia bisa sedikit lebih tenang.

Siang itu, aku mencoba memaksakan diri membaca buku-buku yang ada di kamar ini.

Mencoba sibuk, mencoba tidak terlalu banyak berpikir, walaupun kenyataannya, membaca tiga halaman saja rasanya seperti membaca mantra alien, tidak ada satu pun yang benar-benar masuk ke kepala. Hingga tiba-tiba, klik. Pintu kamar terbuka, Devandra masuk.

Aku terdiam sesaat, rasanya memang sudah cukup lama aku jarang melihatnya selama seminggu terakhir. Tapi, masa iya cuma karena beberapa hari tidak bertemu, wajah orang bisa berubah sejauh itu? Kenapa dia terlihat lebih tampan dari biasanya? Atau jangan-jangan ini efek terlalu lama dikurung di kamar sampai aku mulai halu? Aneh.

Apa manusia memang jadi lebih menarik saat jarang ditemui? Atau otakku mulai error karena terlalu lama stres? Menyedihkan sekali kalau ternyata standar bahagiaku sekarang cuma: melihat laki-laki ganteng masuk kamar.

"Aku punya sesuatu untukmu."

Kalimat itu? Tiba-tiba membuatnya dadaku sesak, pikiranku berkecamuk, aku takut, sangat takut mendengarnya lebih lanjut. Reflek aku mundur dari dudukku.

"Hei, kenapa?" tanyanya bingung.

Aku hanya menggeleng.

Dia mengusap wajahnya, "ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Ini sesuatu yang lain."

Sesuatu yang lain? Apakah lebih menyakitkan?

"Come on!" tangannya terulur padaku.

Dengan ragu aku meraihnya, dia menuntunku keluar kamar. Aku terkejut, apa akhirnya aku boleh keluar, setelah sekian lama?

Langkahnya berhenti di ujung dapur, "kamu harus menutup matamu dengan ini!" Dia meraih sapu tangan merah dari sakunya, lalu menutup kedua mataku. Setelah aku tidak bisa melihat apapun, dia menggandeng tanganku, menuntunku berjalan lebih jauh.

Angin berhembus menerpa tubuhku, rasanya aku benar-benar ingin menangis, bukan karena takut tapi karena akhirnya aku bisa merasakan angin dan udara dengan bebas menyentuh kulitku.

Setelah berjalan cukup jauh, dia berhenti. "Kita sudah sampai, aku akan buka penutup matamu."

Saat tangannya menyentuh ikatan di belakang kepalaku, sapu tangan itu terlepas dari mataku. Aku membuka mata perlahan, jantungku berdegup kencang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!