NovelToon NovelToon
Matahari Untuk Erlan

Matahari Untuk Erlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.

Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.

Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

Sore itu langit mulai meredup ketika Linda akhirnya sampai di rumah Anita. Tangannya penuh dengan kantong belanja berisi kebutuhan bayi untuk Kirana, mulai dari susu, popok, hingga beberapa camilan frozen food yang ia pilih khusus untuk anaknya. Wajahnya tampak lelah, tetapi ada kelegaan yang samar karena setidaknya hari ini ia bisa memenuhi kebutuhan putrinya.

Begitu pintu dibuka, suara ceria Anita langsung menyambutnya.

“Linda! Kamu akhirnya pulang juga!” seru Anita dari ruang tengah.

Linda tersenyum tipis sambil melepas sandal. “Iya, lumayan lama juga tadi di luar.”

Namun langkahnya langsung terhenti ketika melihat Kirana. Bayi kecil itu sudah bersih, mengenakan baju lucu berwarna pastel dengan pita kecil di rambutnya. Wajahnya segar dan tampak sangat menggemaskan.

Anita berdiri di sampingnya dengan ekspresi bangga. “Gimana? Cantik, kan? Tante Anita yang mandiin dan dandanin.”

Linda tak bisa menahan senyum lebarnya. Ia segera menghampiri dan mengangkat Kirana ke dalam pelukannya.

“Anak Mama… kamu cantik sekali hari ini,” bisiknya lembut.

Ia menciumi pipi Kirana berkali-kali, membuat bayi itu mengeluarkan suara kecil yang terdengar seperti tawa. Momen itu terasa hangat, sederhana, tapi begitu berarti.

Sementara itu, Anita mengambil beberapa kantong belanja dari tangan Linda.

“Ini apa saja?” tanya Anita sambil melihat isi plastik.

“Cuma kebutuhan Kirana… sama sedikit frozen food buat dia nanti,” jawab Linda.

Anita mengangguk dan langsung berjalan ke dapur. “Ya sudah, aku masukkan ke kulkas dulu.”

Linda masih berdiri di ruang tengah, menggendong Kirana sambil mengusap lembut punggungnya. Tatapannya sedikit kosong, seolah masih memikirkan sesuatu.

“Anita…” panggilnya pelan.

“Iya?” sahut Anita dari dapur.

Linda menarik napas pelan. “Aku masih tidak percaya… ada orang yang mau donasi sebanyak itu untuk Kirana.”

Anita keluar dari dapur sambil mengelap tangannya. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding, menatap Linda dengan santai.

“Itu sih biasa,” jawabnya ringan. “Kalau sudah masuk dunia mereka… orang-orang sultan begitu, uang segitu tidak ada artinya.”

Linda mengerutkan kening. “Tetap saja… rasanya aneh.”

Anita tersenyum kecil. “Yang penting kamu tidak perlu terlalu memikirkannya. Ambil sisi baiknya saja.”

Linda terdiam, lalu mengangguk perlahan.

Namun Anita kemudian melanjutkan dengan nada sedikit lebih serius. “Tapi satu hal… aku tidak akan memanfaatkan Kirana.”

Linda menatapnya, sedikit terkejut. “Maksudnya?”

“Aku mungkin akan bawa dia muncul di streaming,” kata Anita, “tapi hanya kalau dia memang belum tidur. Itu pun tidak lama.”

Linda tampak berpikir sejenak, lalu berkata pelan, “Kalau itu bisa membantu pemasukanmu… aku tidak masalah.”

Anita langsung menggeleng tegas. “Bukan itu poinnya.”

Linda menatapnya bingung.

“Kirana itu anak kecil, Linda,” lanjut Anita. “Yang dia butuhkan itu bermain, istirahat, dan tumbuh dengan normal. Bukan jadi bahan konten terus-menerus.”

Linda terdiam.

Anita melipat tangan di depan dada. “Kalau terlalu sering ditampilkan, nanti orang-orang mulai melihat dia sebagai peluang. Bisa saja ada brand baju anak yang datang, lalu minta dia jadi model.”

Linda mengerutkan kening. “Itu kan tidak sepenuhnya buruk…”

“Tidak buruk untuk orang dewasa,” potong Anita. “Tapi untuk anak kecil? Itu sama saja menyuruh dia bekerja.”

Kata-kata itu membuat Linda terdiam lebih lama.

“Aku tidak mau Kirana kehilangan masa kecilnya,” tambah Anita pelan. “Dia masih terlalu kecil untuk itu.”

Linda menunduk, menatap wajah Kirana yang tenang di pelukannya.

Beberapa detik kemudian, ia tersenyum kecil.

“Aku senang kamu berpikir seperti itu,” ucapnya tulus.

Anita hanya mengangkat bahu. “Aku mungkin cerewet, tapi aku tidak kejam.”

Linda tertawa pelan.

Tak lama kemudian, Kirana mulai menguap kecil. Matanya yang tadi cerah perlahan menjadi sayu.

“Sepertinya dia mulai mengantuk,” kata Linda.

Anita mengangguk. “Ya sudah, bawa dia tidur saja.”

Ia kemudian menatap Linda dengan sedikit khawatir. “Dan kamu juga sebaiknya istirahat. Seharian cari kerja… pasti capek.”

Linda tersenyum. “Iya, memang sedikit melelahkan.”

Ia kemudian mengangkat tangan kecil Kirana dan melambaikannya ke arah Anita.

“Kirana bilang selamat malam ke Tante Anita.”

Anita tertawa kecil dan melambaikan tangan balik. “Selamat malam, cantik.”

Linda pun berjalan menuju kamar, langkahnya pelan agar tidak membangunkan Kirana. Ia membaringkan putrinya dengan hati-hati di atas kasur, lalu menyelimutinya.

Beberapa saat ia hanya duduk di samping tempat tidur, menatap wajah kecil yang kini sudah terlelap dengan damai.

Napas Kirana teratur. Wajahnya tenang. Seolah dunia tidak pernah menyentuhnya dengan keras.

Linda mengusap pelan rambut anaknya.

“Hidup Mama… mungkin tidak sempurna,” bisiknya pelan, “tapi kamu membuat semuanya terasa cukup.”

Matanya sedikit berkaca-kaca.

“Tanpa siapa pun… Mama tetap kuat. Karena ada kamu.”

Ia menarik napas dalam, lalu tersenyum tipis.

Malam itu terasa lebih ringan dari biasanya.

Di tempat lain, suasana jauh berbeda.

Lampu kantor Erlan masih menyala terang meskipun waktu sudah menunjukkan malam. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara kertas yang dibalik dan ketukan halus dari meja.

Pintu diketuk.

“Masuk,” ucap Erlan singkat.

Adi masuk sambil membawa beberapa berkas. Wajahnya serius, berbeda dari biasanya.

“Saya sudah mendapatkan informasi yang Anda minta,” katanya.

Erlan mengangkat kepala. Tatapannya tajam. “Dari catatan sipil?”

Adi mengangguk. “Ya. Berkat koneksi yang saya miliki.”

Ia meletakkan berkas di atas meja.

Erlan segera membukanya. Matanya bergerak cepat membaca setiap detail.

Beberapa detik kemudian, rahangnya mengeras.

“Seperti yang saya duga…” gumamnya.

Adi menatapnya. “Linda belum menikah.”

Erlan mengangguk pelan.

“Dan anak itu… Kirana,” lanjut Adi, “tidak memiliki nama ayah yang tercatat.”

Ruangan itu menjadi hening.

Erlan menutup berkas itu perlahan. Matanya menyipit, seolah sedang menyusun sesuatu di pikirannya.

“Artinya jelas,” katanya pelan. “Aku ayahnya.”

Adi tidak langsung setuju.

“Itu belum tentu,” ucapnya hati-hati.

Erlan menatapnya tajam. “Apa maksudmu?”

“Data itu hanya menunjukkan bahwa tidak ada ayah yang tercatat,” jelas Adi. “Bukan berarti otomatis Anda adalah ayahnya.”

Erlan berdiri dari kursinya.

“Instingku tidak pernah salah,” katanya dingin.

Adi menghela napas pelan. “Insting bukan bukti.”

Erlan berjalan mendekati jendela, menatap ke luar dengan tatapan dalam.

“Kalau begitu, kita buat bukti,” katanya.

Adi mengerutkan kening. “Maksud Anda?”

“Tes DNA,” jawab Erlan singkat.

Adi terdiam sejenak.

“Itu memang cara paling akurat,” katanya, “tapi…”

“Tapi apa?”

Adi menatapnya serius. “Jangan memaksakan Linda.”

Erlan menoleh cepat. “Memaksakan?”

“Ya,” tegas Adi. “Kalau Anda memaksa, itu bisa memperburuk keadaan.”

Erlan tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di sana.

“Aku hanya ingin kebenaran.”

Adi menggeleng pelan. “Cara mendapatkan kebenaran juga penting.”

Sebelum Erlan sempat menjawab, pintu kembali diketuk.

“Masuk,” ucapnya.

Rama masuk sambil membawa map berisi dokumen.

“Ini berkas yang harus Anda periksa malam ini,” katanya.

Erlan mengambilnya tanpa banyak bicara.

Namun Rama tampak ragu, seolah ingin mengatakan sesuatu.

“Ada lagi?” tanya Erlan.

Rama menarik napas. “Saya tidak sengaja mendengar sedikit pembicaraan tadi…”

Erlan menatapnya dingin. “Lalu?”

Rama menelan ludah. “Saya hanya ingin tahu… kenapa Linda pergi dari Anda dulu?”

Ruangan itu kembali hening.

Adi melirik Erlan, seolah memperingatkan.

Namun Erlan justru duduk kembali di kursinya.

“Karena aku terlalu sibuk,” jawabnya akhirnya.

Rama mengerutkan kening. “Hanya itu?”

Erlan tersenyum tipis, pahit.

“Sejak aku mulai memegang tanggung jawab dari ayahku… hidupku berubah,” katanya. “Semua waktuku habis untuk pekerjaan.”

Ia menatap kosong ke depan.

“Aku pikir… tidak apa-apa. Selama aku bisa menjadi cukup kuat.”

“Untuk apa?” tanya Rama pelan.

“Untuk membuat keluargaku menerima Linda,” jawab Erlan.

Adi dan Rama sama-sama terdiam.

“Dia tidak punya siapa-siapa,” lanjut Erlan. “Asal-usulnya tidak jelas. Orang tuaku pasti menolak.”

Ia mengepalkan tangannya.

“Tapi aku yakin… kalau aku sudah menjadi pewaris yang sah, mereka tidak akan punya alasan untuk menolak keputusanku.”

Rama menunduk, memahami.

“Namun…” Erlan berhenti sejenak.

Tatapannya berubah lebih gelap.

“Linda tidak melihatnya seperti itu.”

“Apa maksud Anda?” tanya Rama.

Erlan tersenyum pahit.

“Dia mengira aku bosan,” katanya. “Karena aku jarang menemuinya. Jarang menghubunginya.”

Ia tertawa kecil, tanpa humor.

“Padahal aku sedang berjuang… untuk masa depan kami.”

Ruangan itu terasa semakin berat.

“Dan dia memilih pergi,” lanjutnya pelan. “Tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.”

Tak ada yang berbicara.

Erlan menutup matanya sejenak.

“Sekarang… aku akan mendapatkan jawaban itu,” katanya.

Matanya terbuka kembali, penuh tekad.

“Dengan atau tanpa persetujuannya.”

1
Nessa
udalah balikan aja kalean
onimaru rascall: bapaknya ga bolehin karena pengen menantu yang setara keluarganya dari segi kekayaan 🤫🤫🤫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!