Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan! 31
Di dalam mobil Reza yang menggendong Elio terus berusaha memanggil sang putra. Namun, Elio seolah tidak bereaksi. Ani juga melakukan apa yang dia bisa. Dia juga menghubungi dokter dan menjelaskan kondisi Elio.
Sedangkan di kursi kemudi, Eva menggenggam setir kemudi dengan erat. Akan tetapi tubuhnya gemetar dengan hebat. Pikiran buruk menyelimuti kepala Eva.
Dia juga sangat takut jika terjadi sesuatu kepada Elio. Dia takut semua mimpi dan harapannya pupus begitu saja.
Ckiiit
Eva menghentikan mobil tepat di depan pintu Instalasi Gawat Darurat dimana Reza lebih dulu turun dari mobil dan berlari masuk.
Pintu IGD yang terbuka lebar itu ternyata sudah ada petugas medis di sana. Dokter langsung mengambil tindakan atas Elio.
"Dokter ini kenapa anak saya?" tanya Reza dengan wajah yang begitu pucat. Dia sangat takut terjadi apa-apa dengan putranya. Baru kali ini Reza merasa ketakutan sepanjang hidupnya.
"Kami akan memeriksanya dulu. Dan tolong jelaskan apa yang terjadi tadi saat masih di rumah," jawab sang dokter.
Reza langsung menjelaskan kejadian sesuai apa yang diingatnya. Dia menceritakan semua yang terjadi pada Elio. Tak ada yang terlewat ketika dia menjelaskan kondisi Elio hari itu. Apalagi dia yakin betul sebelumnya Elio juga tidak sakit apapun.
Dokter mendengarkan secara seksama dan melakukan tindakan. Elio diberi obat kejang dan juga di pasangan infus. Selanjutnya dokter langsung melakukan serangkaian tes kepada Elio.
Reza terus mondar-mandir karena dia sangat tidak tenang. Hatinya sangat was-was dan pikirannya sudah kemana-mana.
Setelah beberapa waktu dokter menghampiri Reza dan memberitahukan tentang apa yang terjadi pada Elio. Dan kabar itu sangat mengejutkan bagi Reza dan Eva. Keduanya langsung jatuh tertunduk.
Ani yang berdiri di sisi lain pun tak sanggup berdiri ketika mendengar penjelasan tersebut.
"Kejang yang dialami bayi Bapak mungkin sudah berlangsung lumayan lama. Dan setelah dilakukan observasi serta tes, ternyata ada peradangan pada selaput otak atau yang biasa kita kenal dengan meningitis. Saat ini kondisi putra Bapak tengah kritis. Mari kita berdoa semoga ini bisa dilewati. Kami akan berusaha dengan baik, namun sebaiknya Anda dan istri menyiapkan hati untuk kejadian terburuk. Pasalnya kondisi putra Anda berdua saat ini tidak baik."
Bruk!
Reza terjatuh di lantai. Dia tergugu di sana. Lalu Eva, dia hanya berdiri menatap nanar ke arah dimana Elio berada.
Ingatannya berputar ke beberapa jam yang lalu. Pagi tadi, siang tadi, bahkan sampai malam tadi sebelum Elio mengalami hal ini, Eva benar-benar menghabiskan waktunya bersama Elio.
Bayi itu nampak sangat tenang. Minum susu dengan baik bahkan tidur dengan tenang. Dia sama sekali tidak menangis, tak seperti hari-hari sebelumnya. Dan saking tenangnya, Eva merasa sangat senang lalu akhirnya membawa Elio tidur bersamanya.
Harapan Eva pun melambung tinggi dengan bersedianya Elio meminum ASI nya. Setidaknya mulai hari itu ia berhasil menjadikan Elio putranya. Tapi kejadian malam ini, langsung membuatnya takut akan terjadi sesuatu yang buruk.
Terlebih sekarang bayi itu, tubuhnya di penuhi alat medis dan dalam kondisi yang tidak tentu.
"Kenapa disaat aku udah bisa masuk ke dia, dia malah kayak gini,"gumam Eva lirih. Tatapan matanya sungguh nanar dan tangannya mengepal erat. Wanita itu benar-benar tidak habis pikir dengan kejadian ini.
Alih-alih tetap menunggu di sana, Eva malah melenggang pergi dan masuk ke mobil. Di dalam mobil, dia berteriak dengan sangat keras. Dia meluapkan semua yang saat ini dirasakan. Ada kemarahan di sana.
"Arrrgh!!! Kenapa begini sih. Kenapa saat bayi itu udah nerima aku. Dia udah mau minum ASI ku, tapi kenapa malah sekarang kondisinya kayak gini. Kenapa???"
Entah dia marah dengan siapa. Tapi yang jelas saat ini Eva tengah kesal dan marah. Dia tidak bisa berpikir dengan jernih.
Sedangkan Reza, pria itu hanya terdiam sambil menatap wajah putranya. Wajah Elio yang lemah entah mengapa mengingatkannya pada Laras.
Reza jadi ingat saat kali terakhir dia melihat Laras. Saat itu Laras baru saja selesai menjalani persalinan. Wajah Laras juga pucat dan rambutnya basah karena keringat.
"Aaah Laras,"gumam Reza lirih. Matanya seketika berembun, dan air mata itu luruh juga membasahi pipinya.
Reza meraih tangan Elio dan menggenggamnya lembut. Dia juga menciumi tangan sang putra dengan air mata yang masih berlinang. Dalam hati dia berharap bahwa pikiran buruknya itu pergi. Tapi harapannya tak sesuai kenyataan.
Suara monitor berbunyi nyaring.
Tuuuuuuuut
"Aaaah jangan Nak, jangan tinggalin Papa sayang."
Tangis Reza pecah. Dikala dokter berdatangan, Reza hanya berdiri membeku di sisi Elio yang sudah tak terselamatkan.
TBC