NovelToon NovelToon
SERIBU JARUM EMAS

SERIBU JARUM EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Di dunia persilatan yang luas, pedang dan tombak dianggap sebagai raja senjata.

Namun, bagi Mo Fei, benda terkecillah yang paling mematikan.

Tidak menggunakan golok raksasa, tidak mengandalkan kekuatan otot. Senjatanya hanyalah jarum-jarum emas seukuran biji padi.

Siapa pun yang ditandanya... pasti mati sebelum sempat berkedip.

Dikenal sebagai Pengamat Malam, ia datang tanpa suara, pergi tanpa jejak, hanya meninggalkan kilatan cahaya emas dan mayat yang tertancap jarum di titik vital.

"Pedang hanya bisa memotong daging. Tapi jarumku... bisa menusuk jiwa."

Ketika ia ditugaskan melindungi putri cantik yang keras kepala dan terjerat dalam intrik istana, Mo Fei harus menghadapi sekte jahat dan pendekar-pendekar legendaris.

Bisakah seribu jarum emas ini mengubah takdir dunia?

Siap-siap terpukau dengan aksi bela diri tercepat dan paling elegan yang pernah ada! .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: PERJALANAN MENUJU PUSARAN BADAI

Setelah perpisahan yang berat dan penuh air mata dengan Lian Er di kota Chang An, Mo Fei tidak membuang waktu sedikitpun. Ia segera berkemas dan memulai perjalanannya sendirian menuju ke utara, menuju ke tempat yang konon menjadi markas besar dan pusat kekuasaan organisasi gelap itu.

Tempat itu bernama Puncak Gunung Es Abadi, sebuah wilayah yang sangat terpencil, dingin membeku, dan tidak pernah disinggahi oleh manusia biasa selama ratusan tahun. Konon, di sana terdapat sebuah istana kuno yang tersembunyi di balik kabut tebal dan badai salju abadi.

Perjalanan ini jauh, sangat jauh, dan penuh dengan rintangan mematikan.

Mo Fei berjalan melewati hutan-hutan lebat yang gelap, menyeberangi sungai-sungai yang deras dan dingin, serta mendaki bukit-bukit terjal yang berbahaya. Ia tidak menggunakan kereta kuda atau kuda tunggangan, ia memilih berjalan kaki agar bisa lebih waspada dan agar tubuhnya terus terlatih menghadapi cuaca ekstrem.

Selama di perjalanan, pikirannya tidak pernah tenang. Bayangan wajah Kakek terus muncul di benaknya. Wajah yang dulu penuh kasih sayang, kini terbayang menjadi wajah yang dingin, kejam, dan penuh ambisi gelap.

"Kakek... tunggulah aku," bisik Mo Fei setiap malam saat ia beristirahat di bawah langit terbuka. "Aku datang bukan untuk membunuh, tapi untuk mencari jawaban. Aku ingin mendengar langsung dari mulutmu sendiri... kenapa kau melakukan semua ini."

 

Beberapa hari berlalu, cuaca semakin lama semakin dingin. Udara terasa menusuk tulang, dan tanah mulai tertutup oleh embun beku. Mo Fei tahu, ia semakin dekat dengan tujuannya.

Namun, di tengah hutan pinus yang tinggi dan sunyi itu, tiba-tiba langkah kakinya terhenti.

Ia merasakan sebuah aura yang sangat familiar. Aura yang dingin, tajam, namun elegan. Aura yang sangat ia kenal.

WUSH!

Dari balik pepohonan yang lebat, meluncurlah sosok wanita cantik dengan pakaian biru muda yang berkilauan di bawah sinar matahari yang tembus dari celah daun. Ia memegang kipas peraknya dengan santai, namun tatapan matanya sangat serius.

Itu adalah Bai Yue!

"Hei! Berhenti di situ dulu, Bocah Aneh!" seru wanita itu dengan suara lantang namun terdengar lega.

Mo Fei terkejut bukan main.

"Bai Yue?! Kenapa kau ada di sini?! Bukankah kau sudah pulang ke sekte mu?!" tanya Mo Fei bingung. "Dan bagaimana kau bisa mengikutiku sampai sejauh ini?!"

Bai Yue berjalan mendekat, wajahnya terlihat sedikit lelah karena perjalanan jauh, tapi matanya tetap menyala penuh semangat.

"Hmph! Dasar bodoh! Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi mati sendirian begitu saja?!" cecar Bai Yue sambil mendengus kesal. "Sejak insiden di kuil itu, aku sudah curiga ada sesuatu yang besar akan terjadi. Aku mengikutimu dari jauh sejak kau keluar kota. Aku tidak percaya kau bisa sampai di sana selamat tanpa bantuan siapa pun!"

"Tapi ini terlalu berbahaya, Bai Yue! Musuh yang kuhadapi bukan main-main! Itu..."

"Itu gurumu sendiri kan?!" potong Bai Yue cepat.

Mo Fei ternganga. "Kau... kau tahu?"

"Aku tahu segalanya," jawab Bai Yue dengan tenang. "Sebagai pendekar besar, aku punya informan dan mata-mata di mana-mana. Aku tahu tentang Lembah Naga Tidur. Aku tahu tentang perubahan Kakekmu. Dan aku tahu dia sekarang adalah penguasa Istana Kematian yang ditakuti semua orang."

Bai Yue lalu melangkah maju dan berdiri tepat di samping Mo Fei, bahu membahu dengannya.

"Dan karena itu... aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian. Kau mungkin kuat, Mo Fei. Kau mungkin level Dewa. Tapi saat berhadapan dengan orang yang mengajarimu segalanya... hatimu pasti ragu. Hati pasti lemah. Dan di saat itulah kau akan terbunuh."

Ia menatap tajam ke depan.

"Aku akan ikut. Aku akan menjadi mata dan telingamu di saat kau bingung. Aku akan melindungi punggungmu. Kita hadapi dia bersama-sama. Bagaimana?"

Mo Fei menatap wajah wanita itu lama. Hatinya terasa sangat hangat dan terharu. Di saat ia merasa dunia memusuhinya, di saat ia merasa sendirian dan kehilangan arah, ternyata masih ada orang yang begitu peduli dan berani menemaninya menghadapi maut.

"Terima kasih, Bai Yue..." ucap Mo Fei pelan dengan tulus. "Maafkan aku selama ini sering mengganggumu dan bersikap tidak sopan."

"Ehem! Sudah sudah! Jangan lebay!" Bai Yue langsung memalingkan wajah agar pipinya yang memerah tidak terlihat. "Yang penting sekarang kita satu tim! Jangan berharap aku akan memanjakanmu ya! Aku tetap galak!"

Mo Fei terkekeh pelan. Beban di dadanya terasa sedikit lebih ringan.

"Baiklah, Nona Galak. Ayo kita lanjutkan perjalanan. Tapi ingat ya, di depan sana sudah bukan wilayah manusia lagi. Itu wilayah iblis. Kita harus ekstra hati-hati."

 

Semakin ke atas, jalanan semakin sulit dilalui. Udara semakin tipis dan dinginnya bisa membekukan darah dalam sekejap. Akhirnya, setelah berjalan berhari-hari, mereka sampai di sebuah lembah sempit yang menjadi satu-satunya jalan menuju puncak gunung.

Di sana, pemandangan yang mereka lihat membuat mereka terdiam terpaku.

Di kejauhan, berdiri megah sebuah bangunan istana yang terbuat dari batu hitam dan kristal es. Bangunan itu tampak kuno, megah, namun sangat menyeramkan. Di sekelilingnya, awan hitam berputar-putar membentuk pusaran badai yang tak henti-henti. Aura gelap yang dipancarkan dari sana begitu pekat hingga membuat langit di atasnya terlihat abu-abu gelap permanen, tidak ada matahari, tidak ada bulan.

Itulah ISTANA KEMATIAN yang sesungguhnya!

"Wah... Jadi ini sarang utamanya ya..." bisik Bai Yue dengan napas tertahan. "Aura di sana... sangat jahat dan menekan. Rasanya ingin pingsan saja."

Mo Fei mengepal tangannya kuat-kuat. Matanya berbinar tajam.

"Ya. Di sanalah dia berada. Di sanalah kebenaran berada."

Tiba-tiba...

DUNG... DUNG... DUNG...

Suara lonceng besar yang berat dan mendayu-dayu terdengar bergema dari arah istana itu! Suaranya tidak indah, justru terasa mengerikan dan mencekam!

WUSSSSS!!!

Dari arah gerbang istana, ratusan pasukan penjaga berjalan keluar berbaris rapi! Mereka semua mengenakan baju besi hitam dan membawa tombak panjang! Mereka membentuk jalan setapak kehormatan... atau jalan menuju kematian!

Dan di ujung barisan itu, muncul sebuah singgasana yang diusung oleh delapan orang kuat. Di atas singgasana itu, duduk seorang sosok tua yang mengenakan jubah kerajaan hitam yang sangat mewah dan megah.

Wajahnya tenang, penuh wibawa, namun matanya... matanya memancarkan kekuatan yang menghancurkan segalanya!

Itu adalah Kakek Tian Lao! Gurunya sendiri!

Ia duduk dengan anggun, menatap ke arah Mo Fei yang datang dari jauh dengan senyum tipis yang sulit dimengerti maknanya.

"Akhirnya... kau datang juga, cucuku yang tercinta," suara itu bergema tanpa mulutnya bergerak, langsung masuk ke dalam pikiran Mo Fei. "Aku sudah menunggumu sejak lama. Masuklah... Mari kita selesaikan semua ini hari ini."

Mo Fei menggertakkan giginya, lalu melangkah maju. Bai Yue berdiri tegak di sampingnya siap siaga.

"Aku datang, Kakek... Atau harus aku panggil kau Penguasa Kematian sekarang?" tantang Mo Fei lantang.

1
anggita
Mo Fei...👌 ikut ng👍like aja, ☝iklan. moga novelnya lancar.
putra ilham: ​"Amin! Terima kasih banyak atas dukungannya dan sudah kasih 'like'. Doa seperti ini sangat berarti buat saya sebagai penulis. Stay tuned terus ya!"
total 1 replies
Fwyz
ih apalah nih judul ngerii amatt, btw ceritanya epick sih, thc thor
putra ilham: ​"Hehe, judulnya memang sengaja dibuat bikin penasaran. Makasih ya sudah bilang epik! Tunggu saja bab-bab selanjutnya, bakal lebih seru lagi!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!