Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Tiga Puluh Menit di Atas Mawar
Lengan kokoh Bumi mengangkat tubuhku dengan kemudahan yang tidak masuk akal. Kedua kakiku terlepas dari lantai, dan secara refleks, aku mengalungkan lenganku di lehernya agar tidak terjatuh.
Setiap langkah kakinya menuju ranjang Super King Size di tengah ruangan itu terasa seperti detak jarum jam yang dihitung mundur menuju sebuah eksekusi. Adrenalin dan kepanikan meledak di dalam pembuluh darahku.
Bumi membungkuk perlahan, meletakkan punggungku di atas hamparan seprai putih. Ribuan kelopak bunga mawar dan kenanga yang menjadi alas tubuhku seketika remuk, melepaskan aroma wangi yang begitu pekat dan memabukkan ke udara.
Alih-alih menjauh, Bumi ikut naik ke atas ranjang. Ia mengurung tubuhku.
Kedua lengannya bertumpu kuat di sisi kanan dan kiri kepalaku, menahan seluruh berat badannya agar tidak menindihku. Jarak wajah kami sangat dekat—hanya tersisa beberapa inci. Aku bisa merasakan embusan napasnya yang hangat dan berantakan menerpa wajahku.
"Kamera itu ada di arah jam sepuluh, bersembunyi di balik mata patung kayu ukiran," bisik Bumi. Suaranya serendah getaran senar bas, hanya ditujukan untuk telingaku.
Aku menelan ludah dengan susah payah. Dada bidangnya yang terekspos di balik kemeja linen putih yang terbuka sebagian, naik-turun dengan cepat.
"Aku akan menggunakan bahu dan punggungku untuk menghalangi pandangan lensa itu dari wajahmu," lanjutnya, menatap lurus ke dalam mataku. Kilat kecemasan dan tekad berbaur menjadi satu di sana. "Dari layar monitor mereka, sudut pandang ini akan membuat kita terlihat sedang... sangat intim."
Aku mengangguk kaku. Otakku memerintahkan tubuhku untuk rileks, namun saraf-sarafku menolak bekerja sama. Seluruh ototku tegang bak dawai biola yang ditarik maksimal.
"Mereka tidak hanya menonton, Aruna. Mereka menyadap suara kita," bisik Bumi lagi, rahangnya sedikit mengeras. "Tolong bantu aku. Jangan kaku. Rangkulkan tanganmu di leherku, dan... gerakkan jarimu di rambutku."
Aku mengerjapkan mata. Wajahku pasti sudah semerah kepiting rebus saat ini. Namun, logika CEO-ku perlahan mengambil alih. Jika kami gagal meyakinkan Rendra di menit-menit pertama ini, bajingan itu akan langsung menyebarkan draf nikah kontrak tersebut. Aku tidak punya pilihan lain.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku mengangkat kedua lenganku, mengusapkannya ke bahunya yang tegap, lalu membenamkan jari-jariku ke dalam helaian rambut hitamnya yang tebal dan lembut.
Seketika, aku merasakan tubuh Bumi berjengit pelan akibat sentuhanku. Napasnya tertahan selama sekian detik.
"Bagus," puji Bumi dengan suara yang kini terdengar lebih parau dari sebelumnya. "Sekarang, aku harus menyentuh lehermu."
Tanpa menunggu persetujuanku, Bumi menundukkan wajahnya. Ia membenamkan hidungnya tepat di perpotongan antara bahu dan leherku.
Aku terkesiap kaget. Napasku terputus.
Hidung mancungnya bergesekan ringan dengan kulit leherku yang sensitif. Sensasi itu mengalirkan sengatan listrik tak kasatmata yang langsung menjalar lurus ke tulang belakangku. Bibirnya tidak menciumku secara langsung, ia hanya mengecup udara tepat di atas permukaan kulit rahangku secara berulang-ulang untuk menciptakan ilusi gerakan berciuman dari arah belakang.
Namun, kedekatan ini terlalu nyata. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang berdentum liar di dalam rongga dadanya, berpacu seirama dengan detak jantungku sendiri.
“Berikan suara, Aruna. Sedikit saja,” bisiknya di telingaku, terdengar seperti sebuah permohonan yang putus asa.
Aku memejamkan mata erat-erat. Aku memutuskan untuk berhenti berpikir. Aku berhenti mencoba menjadi Aruna si bos yang dingin, dan membiarkan naluriku sebagai seorang wanita mengambil alih.
Aku mengembuskan napas panjang, membiarkan sebuah erangan halus—campuran antara kelelahan dan rasa gugup yang ekstrem—lolos dari bibirku. Jariku yang berada di rambutnya bergerak mencengkeram helai-helai hitam itu sedikit lebih erat, menariknya pelan ke arahku.
Reaksi Bumi terjadi seketika.
Pria itu mengerang pelan. Pegangannya pada seprai di sisi kepalaku mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Hembusan napasnya di leherku berubah menjadi sangat berat dan panas.
Dalam pergulatan sandiwara yang mengaburkan batas antara kepura-puraan dan hasrat murni ini, sayup-sayup aku mendengar Bumi menggumamkan sesuatu di sela-sela napasnya yang memburu.
"Astaghfirullahaladzim..."
Pria itu sedang beristigfar. Berkali-kali. Dengan suara yang sangat pelan dan nyaris tak terdengar.
Rasa haru yang aneh tiba-tiba mencubit ulu hatiku. Di saat pria lain mungkin akan memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan dari tubuhku—mengingat kami sudah sah secara agama dan kami memiliki dalih 'berakting'—Bumi justru sedang bertarung mati-matian melawan nafsunya sendiri. Ia menggunakan kalimat suci itu sebagai perisai untuk menjaga kehormatanku, memastikan bahwa ia tidak melewati batas dan benar-benar menyentuh bibir atau kulitku secara tidak pantas.
Ia adalah pria paling terhormat yang pernah kukenal. Dan kesadaran itu, entah mengapa, justru membuatku menginginkannya lebih dari apa pun.
Tiga puluh menit berlalu dengan siksaan yang terasa seperti tiga dekade. Udara di sekitar kami terasa habis terbakar oleh ketegangan.
Lalu, sebuah bunyi bip elektronik bernada rendah terdengar dari saku celana Bumi.
Itu adalah alarm dari jammer (alat pengacak sinyal) miliknya.
Dalam hitungan milidetik, Bumi langsung menarik tubuhnya menjauh. Ia berguling ke sampingku, menjatuhkan dirinya telentang di atas hamparan bunga mawar. Dada bidangnya naik-turun dengan sangat cepat, seolah ia baru saja berlari maraton menaiki tebing Uluwatu. Ia mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan kedua telapak tangannya.
"Berhasil," panggilnya dengan suara serak, masih menatap langit-langit kamar. "Sistem mereka sekarang sudah terputus.Sekarang tinggal mengatur Man-in-the-Middle (Sistem pembuat looping) Rendra dan operator CCTV-nya hanya akan melihat rekaman looping (video yang diulang-ulang) kita yang sedang berpelukan di atas ranjang untuk sisa malam ini. Mikrofonnya juga sudah kumatikan."
Aku buru-buru bangkit duduk. Wajahku terasa seperti baru saja dipanggang di atas kawah gunung berapi. Aku merapikan gaun sifonku yang kusut masai, mencoba menormalkan ritme napasku yang masih berantakan.
"T-terima kasih," gumamku, tidak berani menoleh menatapnya. Kecanggungan yang sempat hilang kini kembali menghantam kami dengan kekuatan sepuluh kali lipat.
Bumi berdeham keras. Ia ikut duduk di tepi ranjang, membelakangiku, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Telinganya merah padam.
"Ya. Sama-sama," jawabnya kaku.
Keheningan melingkupi kami selama beberapa menit. Untuk mengalihkan atmosfer yang terlalu menyesakkan ini, mataku tertuju pada dinding kamar mandi yang terbuat dari kaca transparan di seberang ruangan.
"Lalu... bagaimana dengan itu?" tanyaku, menunjuk kaca raksasa tersebut. "Kamera Rendra mungkin sudah mati, tapi kita berdua ada di sini. Bagaimana caranya kita menggunakan kamar mandi itu?"
Bumi menoleh ke arah yang kutunjuk. Ia membuang napas panjang, lalu berdiri dengan sisa-sisa kewibawaannya. Pria itu selalu menjadikan pemecahan masalah ( problem-solving ) sebagai pelarian dari emosinya.
"Beri aku waktu lima menit," ucapnya.
Bumi melangkah menuju lemari pakaian besar di sudut ruangan. Ia mengeluarkan sebuah selimut tebal ( duvet ) cadangan berukuran raksasa dari rak paling atas. Kemudian, ia mengambil tas ransel hitamnya—tas ajaib yang selalu berisi perlengkapan IT dan perkakas kecil—dan mengeluarkan seutas tali parasut tebal serta beberapa buah suction cup (karet hisap kaca) kelas industri.
Dengan cekatan, Bumi menempelkan karet hisap itu di ujung kiri dan kanan langit-langit kaca pembatas, lalu membentangkan tali parasut layaknya tali jemuran. Terakhir, ia menyampirkan selimut tebal itu ke atas tali, menciptakan sebuah tirai darurat yang kokoh dan sepenuhnya menutup pandangan ke dalam kamar mandi.
"Tidak elegan, tidak sesuai dengan estetika resor bintang lima," kata Bumi, menepuk tangannya membersihkan debu, "tapi setidaknya privasimu aman seratus persen. Silakan mandi duluan, Aruna. Air hangat mungkin bisa meredakan tegang di ototmu."
Aku menatap 'tirai jemuran' darurat itu, lalu menatap suamiku. Kepeduliannya pada kenyamananku selalu berhasil membuat hatiku menghangat.
"Terima kasih, Bumi," ucapku tulus.
Namun, sebelum aku sempat mengambil langkah menuju kamar mandi, suara ketukan pelan terdengar dari arah pintu utama vila.
Bumi berjalan menuju pintu dan mengintip dari lubang intip (peephole). "Itu butler kita," lapornya. Bumi membuka pintu sedikit.
Terdengar percakapan pelan, lalu Bumi kembali masuk membawa dua buah kotak hitam elegan berpita emas. Ia meletakkan kotak itu di atas meja rias.
"Dari manajemen resor. Atau lebih tepatnya, dari Rendra," Bumi menyerahkan sebuah amplop kecil yang terselip di pita kotak tersebut kepadaku.
Aku membuka amplop itu. Tulisan tangan Rendra yang rapi namun menyebalkan terpampang di sana.
"Gaun dan setelan khusus untuk makan malam direksi pukul 19.00 malam ini. Kenakanlah, Aruna. Jadilah pengantin yang membanggakan. Jangan membuat kami kecewa... atau curiga."
Firasat buruk langsung menyodok ulu hatiku. Aku menarik pita emas itu dan membuka penutup kotak bagianku.
Di atas tumpukan kertas tissue pelindung pakaian, tergeletak sebuah gaun malam berbahan sutra berwarna merah darah. Dari depan, gaun itu terlihat sangat elegan dengan kerah halter-neck yang menutupi dada. Namun, saat aku mengangkat gaun itu untuk melihat potongannya secara keseluruhan, darahku mendidih.
Gaun itu memiliki belahan kaki yang sangat tinggi, nyaris mencapai pangkal paha. Dan yang lebih parah, bagian belakang gaun itu benar-benar terbuka ( backless ). Potongannya mengekspos seluruh punggung hingga turun jauh ke batas tulang ekor. Tidak ada ruang sama sekali untuk mengenakan pakaian dalam dengan benar.
"Rendra bajingan," umpatku tanpa sadar. Tanganku gemetar meremas sutra mahal itu.
Ini bukan sekadar hadiah. Ini adalah serangan psikologis. Rendra sengaja memilih gaun ini untuk merendahkanku di depan seluruh pria tua bangka di jajaran direksi. Ia ingin memamerkanku layaknya trofi murahan, mengubah citraku dari seorang CEO yang dihormati menjadi sekadar objek seksual.
Rendra juga ingin menguji Bumi. Jika pernikahan kami palsu, seorang 'suami kontrak' tidak akan peduli jika istrinya menjadi tontonan gratis para pria hidung belang.
"Ada apa?" tanya Bumi, mendekat setelah mengeluarkan setelan jas tuxedo hitam legam dari kotaknya sendiri.
Aku buru-buru menyembunyikan gaun itu di balik tubuhku. Aku tidak ingin Bumi melihat betapa menjijikkannya potongan pakaian ini. "B-bukan apa-apa. Hanya gaun biasa. Aku... aku akan bersiap sekarang."
Aku setengah berlari menuju kamar mandi, masuk ke balik tirai selimut buatan Bumi, dan menguncinya dari dalam.
Setengah jam kemudian, setelah selesai mandi dan merias wajahku dengan riasan tajam khas bold-look, aku berdiri menatap cermin besar di dalam kamar mandi.
Gaun merah itu melekat sempurna di lekuk tubuhku. Dari depan, aku terlihat seperti seorang dewi. Namun saat aku memutar tubuhku, aku merasa seperti ditelanjangi. Seluruh punggungku terpampang nyata. Kulit pucatku terekspos tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi, membuatku merasa luar biasa rentan dan murahan.
Aku memejamkan mata, menguatkan hati. Kau adalah Aruna. Kau tidak akan hancur hanya karena sepotong kain.
Aku menarik napas panjang, memutar kenop pintu kamar mandi, dan melangkah keluar.
Di dekat ranjang, Bumi sedang berdiri membelakangiku. Ia sudah mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam, dan sedang sibuk memasang manset di pergelangan tangannya. Jas tuxedo hitamnya tersampir di punggung kursi rias.
Bunyi ketukan stiletto merahku membuat Bumi memutar tubuhnya.
Pria itu terdiam. Gerakan tangannya yang sedang memasang manset terhenti total.
Matanya menyapu penampilanku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Keterkejutan melintas di matanya, disusul oleh sesuatu yang jauh lebih gelap.
Aku memaksakan sebuah senyum sinis untuk menutupi kegugupanku. "Rendra seleranya memang murahan. Tapi mau bagaimana lagi, kita harus memainkan peraturannya malam ini jika tidak ingin—"
Aku tidak sempat menyelesaikan kalimatku.
Bumi melangkah maju dengan cepat. Tidak ada keraguan dalam setiap langkahnya. Rahangnya mengeras hingga ototnya berkedut. Matanya memancarkan badai gelap yang belum pernah kulihat sebelumnya—badai kemarahan yang dipicu oleh sesuatu yang sangat purba dan protektif.
Pria itu berjalan melewatiku, meraih jas tuxedo hitam miliknya yang tergeletak di atas kursi rias, lalu berbalik dan menghampiriku lagi.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Bumi membentangkan jas raksasa miliknya itu dan menyampirkannya dengan gerakan tegas ke atas bahuku. Ia menarik kedua ujung kerah jas itu ke depan dadaku, menutupi punggungku yang terbuka secara keseluruhan dalam perlindungan kain wol mahal miliknya.
Tubuhku tenggelam di dalam kebesaran jasnya. Aroma maskulin dan hangat seketika menyelimutiku.
"Bumi?" Aku mendongak menatapnya dengan bingung. "Apa yang kamu lakukan? Nanti kamu pakai apa untuk makan malam?"
Bumi tidak mundur. Ia berdiri sangat dekat, menundukkan kepalanya hingga wajah kami sejajar. Mata cokelatnya menatap lurus ke dalam mataku dengan intensitas yang membuat lututku seketika melemas.
"Mereka mengundang seorang Ratu untuk makan malam, Aruna," bisik Bumi, suaranya rendah dan tajam bagai silet. "Bukan sepotong daging untuk dipajang di etalase."
Bumi mengangkat tangannya. Jari-jarinya yang panjang merapikan kerah jas yang kini bertengger di bahuku, memastikan tidak ada satu sentimeter pun kulit punggungku yang terlihat dari luar.
"Rendra sengaja memberikan gaun ini untuk merendahkanmu. Untuk mengujiku," lanjutnya. Rahangnya kembali mengeras saat menyebut nama pria itu. "Tapi dia melakukan satu kesalahan besar. Dia lupa bahwa aku memiliki hak penuh atas dirimu."
Aku terdiam. Jantungku bergemuruh hebat menghantam tulang rusuk. Ini bukan lagi sandiwara untuk mengelabui direksi. Posesivitas yang terpancar dari setiap helaan napasnya ini benar-benar nyata.
Bumi sedikit memajukan wajahnya. Jarak bibir kami kini hanya selembar kertas.
"Tidak akan kubiarkan satu pun dari bajingan-bajingan tua kotor itu menikmati pemandangan kulitmu malam ini, Aruna," bisiknya parau, matanya turun menatap bibirku sebelum kembali mengunci tatapanku.
Sengatan listrik mengalir deras di setiap nadiku.
"Karena..." Bumi menjeda kalimatnya, sebuah deklarasi mutlak yang ia bisikkan tepat di atas bibirku, "...pemandangan ini, seutuhnya hanya milikku."
Tanganku tanpa sadar mencengkeram ujung jas kebesarannya yang menutupi tubuhku. Dunia di sekitarku seolah berhenti berputar. Tatapan matanya yang sangat memuja namun mendominasi itu meruntuhkan seluruh sisa-sisa tembok pertahananku. Malam ini, aku akan berjalan memasuki ruangan makan malam yang berisi para musuhku yang paling mematikan. Namun untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak merasa takut sedikit pun, karena di sampingku, berjalan seorang Raja yang siap membakar seluruh pulau ini jika ada satu orang saja yang berani menyentuh Ratunya.
𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣
𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...
𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘