NovelToon NovelToon
Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik / Dunia Masa Depan
Popularitas:2
Nilai: 5
Nama Author: Silviriani

Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Aulia, Tetangga mu.

"Total lima juta rupiah!"

Angka itu berdengung dikepala Cakka, hanya perabot dapur tapi harganya bikin Cakka terdiam.

"Hei! Lima juta!" Ucap penjaga toko menyadarkannya.

Tangan Cakka merogoh saku celana yang tak terlalu dalam, ia mengeluarkan uang sebesar tiga juta "Aku cuma punya segini pak" Cakka menyimpan uangnya dimeja kasir. Dihitungnya uang-uang itu.

Penjaga toko menghela nafas "Kalau mau segini berarti harus ada barang-barang yang tidak jadi kamu beli" Cakka menyunggingkan bibirnya sembari menggaruk kepala yang tak gatal.

"Ya sudah, aku gak jadi beli piring satu lusin. Aku juga gak jadi beli termos"

"Gimana kalau semuanya setengah, piring, gelas, sendok, garpu, yang penting barang-barang seperti magic com dan termos tetap bisa di ambil, kompor juga beli yang satu tungku saja. Mau minim budgetkan?"

Merasa semuanya masuk di akal akhirnya Cakka setuju dengan menganggukkan kepalanya. Penjaga toko itu mulai memindahkan barang yang tak jadi Cakka beli ke troli. Pun Cakka melihat-lihat barang yang lain. Ketika matanya fokus pada sebuah gelas ukir, tiba-tiba dari arah luar terdengar, sayup-sayup suara perempuan meminta tolong.

Langkah Cakka bergegas keluar toko, Pandangan matanya menyebar luas ke lorong pasar, sampai fokusnya terpecah pada seorang pria memakai sweater hitam, berlari membawa tas perempuan yang datang tepat dari sisi kirinya.

Srut!!!!!!

Lari pria itu cepat! Hingga rambut Cakka sedikit tergoyang menutupi mata kirinya.

Jambret!!!!

Tolong!!!!!!

Jambret!!!!

Tolong!!!!

Melengking, nyaring, dan mendekat. Wanita berusia tiga puluh tahun memakai jilbab berbaju gamis tengah berlari, mengejar pria yang baru saja melewati Cakka.

"Jangan-jangan jambretnya?!"

Mata Cakka membulat, entah kenapa kakinya secara otomatis ikut berlari mengejar jambret yang tadi. Namun, ia mengambil jalur yang lain. Sempat beberapa kali hampir berhasil menahan jambret itu tapi selalu lolos. Cakka fokus mengejar namun, tak disangka, tiba-tiba Aulia menghadangnya.

Sret!!!!!!

"Jangan kejar dia! Aku mohon, kalau kamu kejar dia yang ada nanti kamu disalahkan orang lain bukan dia!" Ucapnya sembari menahan Cakka dengan tangan yang mengudara tepat didepan wajahnya.

Cakka menepis tangan Aulia.

Plak!!!

"Apa sih?! Ibu-ibu itu membutuhkan pertolongan aku, kamu siapa ngatur aku?"

Cakka pergi, kembali berlari mengejar jambret itu meski harus melewati kerumunan orang-orang dan barang-barang yang di lemparkan ke arah Cakka oleh si jambret. Pun, ia harus meminta maaf pada yang lain karena tak sengaja menubruk mereka.

"Maaf bang!"

Lagi langkahnya berlari sampai akhirnya pejambret itu menyerah. Tepat di jalan buntu, pejambret itu meremas kepalanya sendiri lalu berbalik memperlihatkan identitasnya pada Cakka. Dibukanya kupluk sweater yang sedari tadi melindungi kepalanya "Gue Debo!" Dilemparnya tas itu ke Cakka dan ia menerimanya.

Srak!

"Ambil tas itu! Isinya uang dua juta rupiah, sayangkan udah lari jauh tapi, gak dipakai jajan"

Cakka menggelengkan kepalanya tanpa banyak bicara, ia pergi dari hadapan Debo. Langkah yang tadi semangat menjadi pelan pun ibu yang masih setia mengejar akhirnya bertemu juga dengan Cakka.

Tas itu diberikan pada ibu yang nafasnya sudah terengah-engah "Bu, ini tas nya" ucap Cakka pelan. Tas itu diterima tapi kejadian tak terduga menimpanya.

Plak!!!!

Tiba-tiba Cakka ditampar, cepat dan tak ter-elakkan. Dunia seperti berhenti berputar, Cakka tak bisa berkata sepatah katapun.

"Pak! Dia jambretnya!" Ucap ibu itu lantang dan menunjuknya tegas.

Cakka menggelengkan kepala tapi orang-orang tak percaya, tanpa aba-aba dirinya dipukuli massa.

Bugh!

Bugh!

Cakka melindungi kepalanya dengan kedua tangan sedangkan tubuhnya diinjak-injak hingga dipukul jatuh ketanah. Dia bertahan tanpa melawan.

Prit!!!! Prit!!!!

Peluit Satpam pasar berbunyi nyaring, dia bernama satpam Adi. Semua massa dihalaunya, tangan Cakka ditarik oleh satpam Adi.

"Kasih ke polisi pak!" Ucap yang lain menghasutnya.

"Kita pukul dulu sebelum dia dipenjara!" Timpal si ibu pemilik tas.

"Stop!!!!!!!!!" Teriak Adi "Orang ini akan saya bawa ke kantor polisi, jangan khawatir dia akan mendapatkan hukumannya! Beri jalan, biar saya tidak kagok membawanya!!" Semua orang serempak membuka jalan untuk satpam Adi dan Cakka.

Langkah mereka berhasil melewati massa. Mungkin masih kesal, kepala Cakka didorong oleh orang yang tak dikenalnya sembari disoraki.

Huh!!!!!!!!!!!

Tapi satpam Adi tetap fokus berjalan yang akhirnya berhasil membawa Cakka ke tempat sepi. Kepala satpam Adi tengok kanan kiri, begitu sudah aman ia langsung memegang kedua pipi Cakka.

"Kamu gakpapa?" Tanya satpam Adi khawatir.

Cakka mengangguk pelan sembari menahan air mata. Satpam Adi memeluknya "Ya Allah, saya lihat kamu keluar dari toko perabotan, pak Jojo bilang kamu pelanggannya" Dielus punggung Cakka pelan "Sudah, langsung pergi saja! Gak usah ke kantor polisi, saya percaya kamu!" Ucap satpam Adi sembari menatap mata Cakka.

" Terimakasih ya pak, terimakasih!!!" Ucap Cakka sembari membungkukkan punggungnya berkali-kali pada satpam Adi.

"Iya, sudah sana pergi sebelum orang lain melihat kita!" Ucap satpam Adi sembari melihat situasi sekitar.

Cakka mengangguk senang dan ia berlalu meninggalkan satpam Adi. Langkahnya tergesa namun tetap berhati-hati. Didunia ini meski dirinya diperlakukan kejam oleh orang lain, tapi tetap hal baik selalu datang padanya. Rasa syukur selalu terucap, seraya agar Tuhan selalu senantiasa memberikan hal baik yang lebih untuknya.

"Terimakasih ya Allah, engkau maha melihat. Padahal aku menolong, bukan mencuri. Dasar manusia!" Cakka menggerutu sembari memijat ringan bahu dan lengannya yang terasa sakit karena sudah dikeroyok orang pasar.

"Kan aku sudah bilang, kamu jangan kejar orang itu! Ngeyel sih!"

Suara Aulia terdengar lagi dari arah belakang, sontak Cakka langsung menoleh dan langkahnya berhenti.

"Kamu!"

Aulia tersenyum sembari menggendong tangannya ke belakang.

"Kamu harus percaya sama aku, kalau tidak kamu akan sial terus"

Cakka menyunggingkan senyumnya, membuang muka ke arah yang lain.

"Memangnya kamu Tuhan? Hari gini percaya wanita. Nanti, aku jadi tameng lagi"

"Tapi sama aku, kamu gak pernah ngerasain sakitkan? Entah itu diperas, ditampar, dituduh bahkan jadi tempat persembunyian orang? Gak pernahkan?"

Cakka mengernyitkan keningnya.

"Kamu sebenarnya siapa sih?"

"Aku sudah bilang, aku tetangga mu. Aulia"

Cakka tersenyum, tak menyangka. Ia seperti mimpi yang tak berkesudahan. Nama itu terucap lagi, dan berdengung ditelinganya. Ia memejamkan matanya lalu menarik nafas, perlahan dihembuskan.

"Baiklah Aulia, aku Cakka senang bertemu denganmu."

Aulia mengangguk sembari tersenyum.

"Jangan lama-lama di sini, pak Jojo nungguin kamu di toko. Yuk kita ke sana!" Ajak Aulia sembari menggandeng tangan Cakka.

Seperti sudah memang seharusnya, Cakka mengikuti langkah Aulia pun dia tidak protes dengan tangan yang digandeng begitu erat. Sembari berjalan Cakka menatap wajah wanita itu, hingga beberapa kali bahunya terkena pilar tembok dan bahu orang lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!