NovelToon NovelToon
Asisten Tak Terduga

Asisten Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Abil_

"Menjadi asisten pribadi seorang CEO paling dingin di ibu kota bukanlah rencana awal hidupku."

Bagi Kenzo, perfeksionisme adalah segalanya. Baginya, asisten bukan sekadar pembantu, tapi mesin yang harus bekerja 24/7 tanpa celah. Namun, kedatangan asisten barunya yang "tak terduga" mulai mengacaukan ritme hidupnya yang kaku.

Ia tidak menyangka bahwa di balik kopi yang selalu pas suhunya dan jadwal yang tertata rapi, asistennya menyimpan rahasia besar yang bisa menjungkirbalikkan dunia bisnisnya. Setiap babak baru dalam hubungan mereka hanyalah awal dari lapisan misteri dan percikan rasa yang lebih dalam.

Akankah hubungan profesional ini tetap pada jalurnya, atau justru terjebak dalam permainan perasaan yang tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penggerebekan di Pabrik Semen

Raungan mesin jet militer dari mobil sport hitam peninggalan ayahnya membelah kesunyian kawasan industri Cakung yang gelap gersang. Mobil itu melesat seperti bayangan hantu, lalu berhenti dengan senyap di balik reruntuhan dinding beton yang berjarak seratus meter dari pabrik semen terbengkalai.

Kenzo keluar dari mobil, mengenakan rompi antipeluru hitam di balik kemejanya yang sudah digulung sampai siku. Di telinganya, alat komunikasi nirkabel terus berkedip warna hijau.

"Surya, laporkan situasi," bisik Kenzo, suaranya sangat rendah namun penuh penekanan menahan amarah.

"Tim Alpha sudah mengepung seluruh sektor, Pak Kenzo," suara Surya terdengar cepat dari seberang. "Ada delapan orang penjaga di perimeter luar dengan senjata api rakitan. Pak Ardiansyah disekap di lantai dua, tepat di ruang kontrol utama yang jendelanya menghadap ke arah barat."

"Bagus. Jangan ada yang bergerak sampai gue masuk ke area dalam," perintah Kenzo dingin. Dia mencengkeram senjata laras pendek taktis miliknya dengan erat, lalu bergerak cepat memanfaatkan bayang-bayang kontainer tua yang berkarat.

Malam itu, gerimis mulai turun, membuat suasana pabrik semen yang dipenuhi debu tua itu terasa makin mencekam. Kenzo bergerak seperti singa yang sedang berburu di tengah malam. Begitu dia sampai di dekat pintu masuk samping, dua orang penjaga bertopeng tampak sedang merokok sambil berjaga dengan santai.

Tanpa membuang waktu, Kenzo menerjang maju dengan kecepatan luar biasa. Sebelum penjaga pertama sempat mengangkat senjatanya, Kenzo sudah menghantam rahang pria itu dengan popor senjatanya sampai pingsan seketika. Penjaga kedua yang panik mencoba berteriak, namun Kenzo lebih cepat mengunci leher pria itu dari belakang dan menjatuhkannya ke lantai semen yang dingin sampai tak sadarkan diri.

"Sektor samping bersih. Tim Alpha, masuk dan bersihkan sisa umpan di luar. Jangan sampai ada suara tembakan yang memicu alarm di dalam," desis Kenzo ke mikrofon kecilnya.

"Dimengerti, Pak!"

Sementara itu, di dalam ruangan kontrol lantai dua yang remang-remang, Ardiansyah masih terikat kuat di kursi besi. Sudut bibirnya tampak berdarah akibat hantaman kasar dari para penculik tadi. Di depannya, seorang pria bertubuh jangkung dengan setelan jas hitam yang sudah agak kotor tampak mondar-mandir sambil memegang tablet yang menampilkan grafik saham Aditama Group yang kembali stabil.

"Sialan! Bagaimana bisa bocah ingusan itu punya dana cadangan sebesar dua puluh triliun?!" umpat pria berjas itu kasar. Dia adalah Doni, mantan tangan kanan Paman Bram yang berhasil kabur saat penggerebekan polisi bulan lalu.

Doni berjalan mendekati Ardiansyah, lalu mencengkeram rambut pria paruh baya itu dengan kasar. "Dengar, Ardiansyah! Hubungi menantumu sekarang juga! Suruh dia membatalkan pembelian balik saham itu atau kepala tua ini akan bolong malam ini juga!"

Ardiansyah malah terkekeh pelan, meskipun wajahnya dipenuhi rasa sakit. "Kamu... bener-bener bodoh, Doni. Kamu pikir kamu sedang berhadapan dengan siapa? Kenzo tidak akan pernah tunduk pada gertakan murahan dari pecundang seperti kamu."

"Bajingan!" Doni mengangkat tangannya, siap melayangkan pukulan keras ke wajah Ardiansyah.

BRAAAK!

Pintu besi ruang kontrol tiba-tiba jebol terlempar ke dalam akibat tendangan brutal dari luar. Sesosok pria dengan aura membunuh yang sangat pekat melangkah masuk menembus kepulan debu. Rambutnya basah karena gerimis, dan matanya merah menyala menatap Doni.

"Kenzo?!" Doni terbelalak kaget, langsung mundur beberapa langkah sambil menodongkan pistolnya ke arah kepala Ardiansyah. "Jangan bergerak, Aditama! Kalau lo maju selangkah lagi, gue tembak mati mertua lo!"

Dua orang anak buah Doni yang ada di dalam ruangan langsung mengarahkan senjata mereka ke arah Kenzo. Namun, Kenzo sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Dia justru tersenyum miring—sebuah senyuman psikopat yang membuat para penculik itu mendadak merinding.

"Doni, Doni... lo tahu kesalahan terbesar dalam hidup lo apa?" tanya Kenzo, suaranya terdengar sangat santai sambil berjalan pelan mendekat, sama sekali tidak memedulikan tiga moncong senjata yang mengarah ke tubuhnya.

"Gue bilang berhenti, bajingan!" teriak Doni panik, tangannya mulai gemetaran melihat ketenangan Kenzo.

"Kesalahan terbesar lo adalah... ngerusak malam pertama gue dan bikin istri gue nangis malam ini," ucap Kenzo dengan nada yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan mematikan.

Tepat saat kata terakhir keluar dari mulut Kenzo, terdengar suara tembakan senyap bertubi-tubi dari arah jendela pecah di belakang mereka. JLEB! JLEB! Dua anak buah Doni langsung ambruk ke lantai dengan peluru bersenjata peredam milik tim Alpha tepat bersarang di pundak mereka.

Doni yang syok refleks mengalihkan pandangannya ke arah jendela selama setengah detik. Dan setengah detik itu sudah lebih dari cukup bagi seorang Kenzo Aditama.

Kenzo melesat maju seperti kilat, menepis tangan Doni yang memegang pistol sampai senjata itu terlempar jauh. Tanpa ampun, Kenzo melayangkan pukulan mentah tepat ke arah hidung Doni hingga terdengar bunyi patah yang renyah. Doni terkapar di lantai sambil mengerang kesakitan, memegangi wajahnya yang bersimbah darah.

Kenzo tidak berhenti di situ. Dia menginjak dada Doni dengan sepatu botnya yang berat, menekan tubuh pria itu sampai kesulitan bernapas. Kenzo menunduk, menatap Doni dengan pandangan mata yang sangat kejam. "Lo mau main-main sama keluarga Aditama? Sampaikan salam gue buat Bram di neraka nanti."

Kenzo langsung memberikan isyarat pada Surya yang baru masuk bersama tim Alpha. "Ikat bajingan ini. Serahkan ke pihak interpol bersama semua bukti keterlibatannya dalam sabotase aset X-Corp."

Kenzo kemudian buru-buru mendekati kursi Ardiansyah dan memotong tali pengikat mertuanya dengan pisau taktisnya. "Om Ardi, Om nggak apa-apa?"

Ardiansyah terbatuk pelan, lalu tersenyum bangga sambil menepuk pundak menantunya. "Aku aman, Kenzo. Terima kasih. Sekarang... hubungi Nabila. Anak itu pasti lagi nangis histeris di Puncak menunggu kabar dari kamu."

Kenzo langsung meraba saku rompinya, mengambil ponselnya untuk segera menghubungi sang pawang hati yang sedang cemas menunggunya di atas gunung sana. Pertempuran fisik malam ini mungkin sudah selesai dengan kemenangan mutlak bagi sang singa, namun babak baru kehidupan mereka yang melibatkan restu sang kakek masih menanti di depan mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!