Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.
Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.
5 tahun berlalu~
Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Bu Ria....." Pekik Aini.
Disaat Pak Baskara hendak mendekat, Dewa datang sambil bertepuk ringan. "Bagus sekali aktingnya." Dewa menahan lengan Papahnya.
Pak Baskara agak menyipitkan mata.
Sementara Ria sudah berusaha selemas mungkin. Aina mendongak. Wajahnya cemas memerlukan bantuan. "Pak, tolong... Ini kasihan sekali Bu Ria. Ini dia pingsan."
"Kamu kan antek-anteknya. Jadi tolong kamu saja, Aini! Udah Pah, itu nggak penting. Mending kita makan siang aja," Dewa bergegas memapah bahu Ayahnya lalu di ajaknya untuk segera masuk kembali.
Ria membuka mata. Ia tahu jika suami serta putranya sudah tak lagi peduli. "Bu... Ini bo'ongan? Ibu nggak kenapa-kenapa?"
Ria bangkit. Mendesah kasar. "Rencana kita 5 tahun yang lalu sudah Ezar ketahui, Aini! Dan saya masih bingung, gimana pria gila itu berhasil mendapatkan rekaman cctvnya. Padahal, malam itu kita sudah menghapus rekamannya."
"Aduh, Bu... Gimana kalau ketahuan sama Bapak, kalau saya juga ikut andil dalam penjebakan Miranda? Bisa-bisa saya di pecat, Bu?"
Ria menenangkan. "Kamu nggak usah pikirin. Nggak ada yang berani pecat kamu selain saya."
Meninggalkan dua wanita penuh tipu muslihat itu, kini Bara kembali lagi ke Perusahaan karena memang masih ada beberapa kerjaan yang belum ia selesaikan.
Mobil mewah itu sudah berhenti. Disaat hendak turun, sudut matanya menangkap buku yang tadi ia beli, kini tergeletak di depanya. Ezar baru sadar, jika novel yang dirinya ambil bukanlah novel bertemakan romansa biasa.
Rona Merah Dibalik Air Wudhu
Ezar menggapai buku tadi. "Novel apa ini?" Pria itu membolak balikan buku tadi, penasaran menjalar, tanganya berhasil membuka kalimat pembukaan di bagian depan.
'Cahaya cinta datang tanpa dapat kita pesan. Lakunya pelan, wajahnya sangat indah, begitu ceruk matanya tanpa ketajaman. Akan tetapi, bukan sebuah kisah semata. Asmara kita berbeda. Disaat langkah membawamu ke sebuah Gereja, lajuku tertatih mengikutimu. Aku berhenti. Batinku bergolak. Bukan tempat ini. Aku menoleh, di sana ada sebuah bangunan indah dan sakral. Aku tersenyum. Di sana lah rumah ibadahku. Assalamualaikum, Masjid!
Membaca kilatan beberapa bait kata yang tersusun rapi membuat perasaan Ezar bergetar. Hanya satu ingatannya. Miranda. Ada ketertarikan yang mendorongnya ingin membuka lebih dalam. Ia urungkan, lalu segera turun dan bergegas masuk.
Begitu tiba di ruanganya, Ezar duduk tenang. Ia melanjutkan bacaan novel tadi. 1 bab, 2 bab, bahkan 1 jam itu ia sudah membaca kiranya 10 bab sendiri. Ezar bukanlah sosok penikmat novel. Namun, cerita yang di tuangkan si Penulis itu merangkum sebuah perasaan yang terlerai oleh takdirnya masing-masing.
Sebuah kepercayaan yang terbangun 8 tahun lamanya. Setitik harapan yang hampir hilang karena kepulangan mereka yang berbeda. Entah seperti apa kisahnya di akhir, namun yang jelas tidak ada hal kebetulan di dunia ini.
Ezar baru sadar. Kisah cintanya dengan Miranda terhalang tembok tinggi menjulang. Ia termenung setelah membaca novel tadi.
Reflek, Ezar menatap sebuah kontak dalam gawainya. "Maafkan aku, Miranda," kalimat sakral beberapa tahun yang berdiam di balik ke naifan hidup. Ezar tertunduk. Rasa sesak bercampur sesal menusuk hatinya.
Pintu ruangan terketuk. Asistennya masuk sambil membawa beberapa tumpuk dokumen. Baru tiba di samping meja. Belum sampai tangan Nanda meletakan dokumen-dokumen tadi.
"Tolong kasih tahu saya, bagaimana cara meminta maaf kepada seorang wanita?"
Asisten muda itu mengernyit. "Meminta maaf? Pak Ezar lagi marahan sama Mbak Sinta?"
"Bukan Sinta, tapi Miranda!"
Nanda cukup menyimak. Ia teringat bagaimana penolakan Miranda tadi pagi, sangat jelas dari pancaran wajahnya jika wanita itu sangat membenci Bosnya.
"Pak Ezar... Untuk Mbak Miranda masalahnya bukan hanya sekedar membelikan tas branded terus baik lagi. Ini masalah besar," Nanda memelankan suaranya. "Apalagi Anda sudah membuatnya teramat kecewa," lirihnya sambil menoleh.
Ezar menatap. "Apa kamu bilang? Bilang apa kamu tadi, Nanda?!"
"Hehe... Nggak, Pak Ezar, saya hanya becanda saja! Sepertinya, Anda harus membelikan buket bunga. Biasanya, wanita muslimah seperti Mbak Miranda menyukai ketenangan. Sertifikat rumah misalnya, ohhh... Maksud saya buket bunga, bunga lavender, Pak Ezar. Aromanya sangat menenangkan."
Ezar berusaha yakin. "Kamu yakin akan berhasil?"
"Yakin, Pak. Orang obat nyamuk saya di rumah aja pakai aroma lavender. Selain wangi, aromanya sangat menenagkan. Apalagi dapat membunuh nyamuk-nyamuk," jawab Nanda tanpa dosa.
Plak
Tiba-tiba ada makalah yang tergulung dan menimpuk lenganya. Nanda mengusap agak meringis.
"Saya ini bicara serius, Nanda!" Ezar sudah menajamkan matanya.
Nanda menghalau. "Eits... Tenang dulu, Pak Ezar! Tapi untuk buket bunga tadi sudah benar. Tapi masalahnya hanya satu. Biasanya... Wanita yang sudah sakit hati, dia tidak akan mempan begitu saja. Emangnya, Pak Ezar baru sadar kalau Mbak Miranda baik?"
Ezar menatap lurus ke depan. Tatapanya jauh, tak dapat membayangkan bagaimana nasib Miranda ketika Mamahnya mengusir dari rumah dulu.
Tiba-tiba Ezar teringat pria itu. Ia kembali menatap Asistennya. Ezar tampak membisikan sesuatu ke Nanda, entah apa, tapi Asistennya itu hanya manggut-manggut ragu.
"Baik, Pak Ezar! Saya permisi." Nanda segera keluar. Begitu pintu ruangan Bosnya tertutup, ia menggerutu. "Kenapa harus dapat tugas seberat ini, Ya Allah! Dia yang kecewa'in, aku yang di tumbalkan. Mana aku nggak berani lagi sama Miranda. Nasib-nasib...."
Dan ketika sudah keluar dari ruangan Admin, langkah Nanda di hadang oleh Rasya. Pria tampan berusia 30 tahun itu cukup penasaran, di manakah keberadaan Miranda saat ini.
"Pak Rasya, ada apa ya?"
Wajah Rasya seolah mengintimidasi lawanya. "Kemana Miranda? Kenapa tidak masuk hari ini?"
Nada kelimbungan. Tapi sebisa mungkin wajahnya tenang. "Maaf, Pak Rasya... Tapi saya nggak tahu kemana Mbak Miranda. Coba Anda tanya saja sama Pak Ezar."
Tanpa menunggu pertanyaan Rasya lagi, Nanda langsung ngacir menuruni tangga.
'Kemana Miranda? Apa dia ijin lagi?' batin Rasya tampak tak tenang.
Di dalam, Ezar kembali bangkit. Ia mencoba menghubungi sekertaris perusahaan sebelah, untuk menanyakan keberadaan sosok pria yang sempat menjadi rekan meetingnya waktu lalu.
"Mohon maaf, Pak... Pak Razam sudah resign tadi pagi."
Ezar tersentak, "Apa? Sudah resign? Dimana dia sekarang?"
"Untuk informasi lebih lanjutnya, Anda dapat menghubungi nomor beliau secara pribadi, Pak! Karena tidak ada keterangan apa pun yang tertulis," jelas sang Sekertaris.
Ezar memutus panggilan secara sepihak. Ia meremat gawainya, antara benci dan penyesalan berhasil menghantam hatinya siang ini. "Brengsek! Kemana perginya si Razam? Ya Tuhan...." Ezar meraup lambat wajahnya. Satu tanganya kini menopang di pinggang, tengah menatap jauh di balik dinding kaca, tidak dapat membayangkan, pria yang dirinya bayar buat menghina Miranda, rupanya dia sendiri lah fitnahan terbesar.
"Aku harus bertemu si Razam. Bedabah itu yang membuat hubunganku dengan Miranda berantakan. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya 5 tahun yang lalu."
Ezar kali ini meminta bantuan temanya, Rafael untuk mencari kemana kepergian Razam.
ezar yg tanggung jawab Arya sama dewa, Sinta yang berjaya modal air mata dan ngancam bundir. gak sesuai ekspektasi sih tapi apa lah pembaca hak penuh author 🙏