NovelToon NovelToon
Lingerie Merah Dikamar Adikku

Lingerie Merah Dikamar Adikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.

Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????

Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.

Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Alena sampai mendelik. Ia rasa, Perjaka tua di depanya itu sudah gila. Bagaimana bisa tawaran itu terucap secara gamblang, sedangkan dirinya bukan gadis atau pun Janda.

"Pak Danu benar-benar gila, ya?! Saya ini masih Istrinya orang!" kecamnya.

Danu tersenyum remeh. Menghembuskan napas kecil, lalu berkata kembali. "Kamu masih menganggap suami, sementara Dewan hanya menganggap kamu sebagai pelampiasan dari Adikmu, Alena?! Saya sudah tahu semuanya. Tawaran saya bukan hanya untuk kepentingan pribadi saya. Selain kamu dapat membalaskan rasa sakit hatimu... Kamu juga dapat menjamin masa depan putramu kelak."

Alena kembali terdiam. Mendadak, alam terbuka pun terasa senyap. Angin seolah berhenti berbisik.

Danu mengeluarkan kartu namanya. "Ini kartu saya. Kamu pikir-pikirkan saja dulu tawaran saya. Saya permisi," ucap Danu setelah meletakan kartu namanya di telapak tangan Alena.

Alena masih cukup bergeming. Kartu nama tadi tergenggam erat. Mobil Danu sudah mulai melaju pergi. Pandangan Alena kembali jatuh pada kartu tadi.

"Mas Dewan memang keterlaluan. Dia bahkan tidak pernah memikirkan nasib putranya."

Puas bertarung dengan pikirannya, Alena membalikan badan lalu kembali melangkah menuju pabrik.

Sebelum benar-benar masuk ruangan luas itu, Alena pandang Pabriknya dalam-dalam. Akankah ia dapat melepaskan perjuangan mertuanya begitu saja. Sebelum mertuanya tiada, Pabrik sudah di serahkan oleh Dewantara secara pribadi. Sementara Fauzan, pria itu mendapatkan lahan beberapa hektar di Desa Ayahnya-Sleman.

Huh!

Hembusan napas kecil itu sudah menjawab seberapa penatnya hidup yang Alena jalani. Sementara, ia tatap sekeliling. Para pekerjanya banyak yang menggantungkan hidup pada Pabriknya. Bagaimana bisa ia mematahkan harapan itu.

Mungkin bagi banyak wanita di luaran, tawaran Pria Sukses itu adalah sebuah bongkahan permata di pesisir pantai. Namun, bagi Alena itu adalah hal menyakitkan yang merenggut batinnya.

Jika pun ia akan memilih, semua itu demi mempertahankan kesejahteraan bersama. Dan ada putranya yang masih ia pikirkan masa depannya.

Alena tidak ingin egois.

*

Setelah selesai; ikut terjun langsung dalam memproses olahan cengkeh, Alena kini beristirahat sejenak. Keringat di dahinya mengalir. Ia memilih singgah di sebuah ruangan yang sering suaminya gunakan untuk Istirahat.

Di dalam ruangan itu terdapat kasur busa single. Ada nakas kecil yang biasanya untuk tempat baju ganti Dewan ketika ikut terjun langsung di ladang-ladang.

Ruangan itu meskipun tidak terlalu luas namun cukup terasa sejuk dan nyaman karena terdapat Ac di sisi atasnya. Alena terduduk di atas kasur tadi.

Akan tetapi, mata Alena menyipit menatap celah pintu nakas di samping yang sedikit terbuka.

Alangkah terkejutnya Alena, kala pintu nakas tadi ia tarik. Sebuah lingerie dan beberapa pakaian dalam wanita keluar dari nakas itu. Mata Alena terbuka tajam, pakaian haram itu berhamburan di depannya.

"Ya Allah... Apa ini?" Alena sungguh syok berat sampai membekap mulutnya.

Membiarkan barang haram itu berhamburan, Alena memilih keluar. Wanita cantik itu berjalan menghampiri mandor di ujung ruang.

Pria berpenampilan cukup rapi itu menoleh, kala mendengar langkah kaki tergesa dari belakang. Wajahnya cukup syok. Antara cemas dan ketakutan saling mencengkram perasaanya.

"Bu Alena?"

Sejenak Alena menyipitkan mata. Wajah pria di depanya itu seolah menahan resah. "Pak Adnan, bisa kita bicara sebentar?!"

Pria berusia 40 tahun itu mengangguk lemah. "Mari, silahkan, Bu...." tanganya menengadah ke arah sebuah ruangan untuk sekedar beristirahat.

Di sana ada sebuah bangku. Alena duduk, Mandor tadi juga ikut duduk. Kedua tanganya saling meremas. Napasnya berangsur memberat.

"Saya tidak basa basi lagi, Pak Adnan... Sejak kapan Juragan dan Adik saya berselingkuh?" tanyanya dengan wajah datar. Alena menatap sangat serius.

Mandor tadi mengangkat pandanganya menegak. "Apa maksud, Bu Alena? Saya sama sekali tidak tahu apa-apa?"

"Anda tidak usah berbohong dan takut lagi. Saya sendiri sudah melihat dengan mata kepala saya sendiri."

Wajah Mandor tadi syok berat. "Bu Alena maafkan saya. Sudah lama saya juga mempergoki Juragan petang-petang datang ke Pabrik bersama Mbak Tiyas. Saya di ancam akan di keluarkan jika saya memberi tahu Anda. Itu pun sudah lama sekali, mungkin 3 bulanan yang lalu."

Tak ada lagi keterkejutan di wajah Alena. Napasnya kali ini juga berangsur teratur. Ia tak menyangka saja, rupanya Suami dan Adiknya itu menjalin hubungan sudah begitu lamanya. Itu saja saat Tiyas tinggal di rumah 3 bulan terakhir. Belum yang di Semarang.

"Ya sudah, Pak Adnan silahkan bekerja lagi. Terimakasih atas informasinya."

Mandor tadi segera bangkit, lalu melenggang keluar. Alena memejamkan mata dalam-dalam. Meksipun berusaha kuat, namun hatinya terasa penuh dan sesak.

Drttt!!!

Di tengah rasa lelahnya, gawai dalam sakunya bergetar. Petugas Notaris menghubungi.

"Hallo, ada apa, Mas Hasbi?"

"Mbak, ini saya di rumah sakit... Niatnya mau jenguk mertuanya Mbak Lena sekalian, sama mau kasih sertifikatnya yang udah jadi. Tapi...." Hasbi menatap ke arah pintu sekilas, dimana disana Fauzan berdiri di ambang pintu sambil bersedekap dada.

Alena mengernyit, "Tapi apa?"

"Saya di intimidasi Iparnya Mbak Lena. Padahal saya niatnya 'kan emang mau apel, eh... Maksud saya mau jenguk Bu Sarah," Hasbi merutuki mulut lemesnya.

Alena cukup tertawa mendengar itu. Mungkin saat ini Pegawai Notaris itu sedang menghadapi wajah garang Fauzan.

"Mas Hasbi ke rumah saja, ya! Saya juga baru mau balik dari Pabrik. Kita ketemu di rumah saja," putus Alena.

*

Di rumah sakit sendiri, Hasbi yang sudah effort membawakan satu jinjing buah tangan sambil menggendong ransel yang berisikan data-data penting, kini harus menelan rasa getir, sebab Alena malah ada di rumah.

"Tidak menerima sales! Lebih baik kamu pulang aja sana!" Cibir Fauzan sambil bersedekap dada.

Hasbi merasa tidak terima. Meskipun usianya terpaut jauh dari pria dewasa di depanya kini, tapi jiwa lakinya tak tunduk begitu saja.

"Enak saja sales-sales! Saya ini Pegawai Notaris, Om! Lihat dong Id Card saya," Hasbi bahkan sampai mengeluarkan Id Cad dari kantornya. "Bisa baca 'kan, Om?"

"Om-Om kepala Nenekmu! Sejak kapan saya kawin sama Tantemu, ha? Saya juga tahu kalau kamu pasti mau deketin Alena 'kan? Pake acara mau bicara serius segala," kecamnya lagi. Wajah Fauzan menatap sangat remeh.

Hasbi kembali mencibir, "Saya ini jauh lebih muda daripada Anda, Om! Tapi saya rasa ucapan Anda benar sekali. Selain saya mau antarkan sertifikat kepada Mbak Alena... Saya juga mau melamarnya sebentar lagi," ucapnya penuh ke angkuhan.

Fauzan sampe geleng-geleng menahan tawa. "Heh, bocah... Mandi aja kamu itu nggak bersih, udah mau pake lamaran-lamaran segala."

Hasbi berdesis, batinnya mengumpat sejak tadi.

"Noh ada kaca, mending ngaca dulu. Kamu pake tas kek gitu udah mirip bocah Smp!" cerca Fauzan lagi.

Hasbi mengeratkan tasnya, memang sudah mirip anak Smp sekolah. Apalagi kemejanya yang di masukan ke dalam celana.

"Biarin... Yang penting setelah ini saya mau ke rumah Mbak Alena. Nggak papa ganti-gantiin gendong anaknya, nanti juga bakal jadi calon Papah muda ini," angkuhnya sambil menjulurkan lidah kepada Fauzan.

Melihat Pria dewasa itu sudah mengangkat sandalnya, Habi langsung ngiprit begitu saja.

"Nekad bener tu bocah!"

Fauzan sudah ingin mengikuti Pegawi Notaris tadi ke rumah Iparnya, namun langkahnya terhenti.

Nama sang kekasih muncul,

Drttt!!!

1
Mundri Astuti
yeeee dewan ga ada otak ...cepet urus surat cerainya alena
Soraya
lanjut thor
Machmudah
Ayo Danu....maju terus jgn kasih kendor...💪💪💪
Dew666
💟💟💟💟
nunik rahyuni
cepat urus perceraian nya lena ..rasa muak aq sama dewan ...g tau diri tebal muka...dulu pas ngeloni gundik ja terbang melayang g ingat anak bini duit milyaran raib di slangkangan gundik...dan skrg g mau nglepas lena..maunya apa sih...rasa mau ta tabok pke kawat beduri beracun...kok kya sok cakep aja😡😡
Ariany Sudjana
Dewantara aja ga tahu diri, sudah menikah siri dengan pelacur murahan kok masih kepo sama Alena? sudah urus saja pelacur murahan kesayangan kamu itu Dewantara 😂😂🤣🤣
nunik rahyuni
thor hilang g ada kabar🤔🤔🤔🤔
nunik rahyuni
emang bener kan apel istri orang...kan
nunik rahyuni
nama nya sering tetukar thor..dewan kan bspaknya
tinie
hihiii Hasbi
emang mulutnya lemes banget
nunik rahyuni
lanjuuuut jut jut juuuut
nunik rahyuni
seru ni klo lena sama daru...ly tikus dan kucing jd rame
Soraya
lanjut
tinie
jika kamu sudah menikahi Tiyas
maka kamu harus melepaskan alena
Marko Taik
lagi seru ni Thor lanjuttt thorrt
Meri Meri
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Ig:@septi.sari21: macihhh akak😍😍
total 1 replies
Kusmini Kusmini
Iiih bkin greget crita nya,lnjut trus 👍
Ig:@septi.sari21: stay tune akak😍✋
total 1 replies
Dew666
🪭🪭🪭
Ig:@septi.sari21: kak dew macihhh😍😍
total 1 replies
Dew666
🪭🪭🪭🪭
tinie
semangaatt Lena


aku bingung mau komen apa tentang Fauzan ini🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!