Di sebuah kabupaten kecil di provinsi Jawa Barat, di Negara Nusantara, Arkan Wijaya baru saja lulus SMA, namun saat pulang dia mendapati rumahnya kosong, kedua orang tuanya tidak ada, dia mencari kesana kemari namun tidak ada kabar tentang mereka, hanya menemukan secarik kertas bertuliskan "Arkan kamu sudah dewasa, carilah jalanmu sendiri, kami tidak bisa terus menjagamu, dan ada kewajiban yang harus kami lakukan, suatu saat nanti mungkin kamu akan mengerti, maafkan kami Arkan." Dan di samping kertas itu ada cincin emas berbentuk kepala dan permata kecil berkilau di kedua matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suryadharma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Final Turnamen dan Pengkhianatan
Gunung Gede pagi itu diselimuti kabut tipis. Arena turnamen sudah penuh sesak dengan ribuan penonton dari berbagai sekte. Panggung final berdiri megah di tengah lapangan, dikelilingi formasi pelindung kuat.
Arkan berdiri di ruang tunggu peserta dengan pedang Naga Emas Muda di pinggang. Tubuh kekarnya dibalut baju hitam sederhana yang menonjolkan otot-ototnya. Sela berada di sampingnya, mengenakan pakaian tempur ketat berwarna putih-emas yang membuat tubuh seksi dan cantiknya semakin mencuri perhatian.
“Hari ini kita selesaikan,” kata Arkan sambil menggenggam tangan Sela. “Kamu di semifinal wanita. Aku di final utama. Jangan ambil risiko.”
Sela tersenyum tegas. “Kamu juga. Aku tunggu kemenanganmu.”
Babak semifinal wanita dimulai lebih dulu. Sela melawan seorang gadis dari Sekte Bunga Merah yang sudah Tingkat 5. Pertarungan berlangsung sengit. Lawan menggunakan jurus cambuk bunga beracun, tapi Sela dengan Teknik Pelindung Naga Lembut menahan semuanya. Di akhir pertarungan, Sela melepaskan **Serangan Naga Lembut** — telapak tangan emas yang lembut tapi mematikan — membuat lawannya terbang keluar arena.
Sela juara kategori wanita. Penonton bertepuk riuh. Nama “Sela Juanda – Pendamping Naga Emas” semakin dikenal.
Sekarang giliran final utama pria.
Lawan Arkan adalah Xiao Zhen, seorang jenius dari Sekte Langit Biru yang sudah mencapai Qi Condensation Tingkat 7. Tubuhnya tinggi besar dan auranya sangat kuat.
“Kau pewaris cincin itu? Hari ini aku akan pecahkan mitosmu,” kata Xiao Zhen sombong.
Arkan hanya tersenyum dingin. “Coba saja.”
Wasit memberi aba-aba. Pertarungan dimulai.
Xiao Zhen menyerang duluan dengan **Tinju Langit Biru** — serangan berat yang membawa angin kencang. Arkan menghindar menggunakan Naga Step, lalu balas dengan satu tebasan pedang. Benturan mereka membuat arena berguncang. Formasi pelindung bergetar hebat.
Arkan mendominasi kecepatan. Setiap gerakannya seperti naga meluncur. Pedangnya menebas bertubi-tubi, memaksa Xiao Zhen bertahan. Di menit ketiga, Arkan berhasil menebas lengan lawan hingga berdarah.
“Dia terlalu kuat!” bisik penonton.
Tiba-tiba, Murong Xue yang duduk di tribun VIP memberi kode. Beberapa elder Sekte Langit Biru mengaktifkan formasi pengkhianatan. Arena tiba-tiba dipenuhi kabut hitam. Energi Naga Hitam menyusup masuk.
Xiao Zhen tertawa. “Kau bodoh! Kami sudah bersekongkol dengan Naga Hitam. Hari ini kau mati di sini!”
Dari bawah arena muncul dua elder Core Formation Tingkat 4. Mereka menyerang Arkan dari tiga arah sekaligus.
Arkan tidak panik. Aura Naga Emas-nya meledak penuh. “Kalian semua… ingin mati?”
Ia melepaskan **Naga Emas Mengamuk** sepenuh kekuatan. Bayangan naga emas raksasa muncul di atas arena, meraung keras. Serangan gabungan tiga lawan dihancurkan dalam satu jurus. Xiao Zhen terpental parah, dua elder Core Formation muntah darah.
Arkan melompat ke arah Xiao Zhen dan menindihnya dengan kaki. Pedangnya ditempelkan di leher lawan.
“Siapa dalang pengkhianatan ini?” tanyanya dingin.
Xiao Zhen ketakutan. “Itu… Murong Xue! Dia agen ganda Naga Hitam!”
Murong Xue yang melihat situasi buruk langsung melarikan diri. Arkan melempar pedang spiritualnya seperti panah. Pedang itu menembus bahu Murong Xue dan menancap di tanah, membuatnya tak bisa kabur.
Sela melompat ke arena membantu Arkan mengikat semua pengkhianat.
Wasit turnamen yang ketakutan akhirnya mengumumkan, “Pemenang Turnamen Pemuda Nusantara adalah… Arkan Wijaya dari Pewaris Naga Emas!”
Sorak sorai membahana. Arkan naik ke panggung juara bersama Sela. Hadiah diberikan: sebuah Batu Spiritual Tinggi, tiga Pil Foundation, dan sebuah token masuk ke Alam Rahasia Gunung Gede.
Setelah upacara, Arkan langsung menghadapi para elder Sekte Langit Biru yang tersisa. Mereka memohon maaf dan menyerahkan Murong Xue sebagai ganti rugi.
Arkan berdiri di depan Murong Xue yang terikat. “Katakan semuanya.”
Murong Xue tersenyum sinis. “Naga Hitam sudah merencanakan ini sejak lama. Mereka ingin cincinmu untuk membangkitkan Naga Hitam Sejati yang tertidur di dasar laut. Orang tuamu hanya umpan. Target sebenarnya adalah kamu.”
Arkan menghabisinya dengan satu tebasan pedang. Tidak ada ampun bagi pengkhianat.
Malam harinya, di vila penginapan, Arkan dan Sela merayakan kemenangan secara pribadi. Arkan memeluk tubuh Sela yang masih hangat setelah mandi.
“Kamu luar biasa hari ini,” bisik Arkan sambil mencium lehernya.
Sela mendongak, matanya penuh cinta dan hasrat. “Semua karena kamu. Aku ingin selalu di sampingmu, berjuang bersamamu.”
Mereka jatuh ke ranjang. Malam itu penuh gairah dan transfer Qi yang intens. Arkan naik ke Tingkat 6 setelah menyerap Batu Spiritual Tinggi, sementara Sela mencapai Tingkat 5.
Keesokan paginya, rombongan kembali ke Jakarta. Juanda menyambut dengan pesta kecil di apartemen.
Ayah Arkan berkata serius, “Nak, sekarang kau sudah terkenal. Tujuh Sekte Gelap pasti akan buru kamu. Kita harus lebih kuat.”
Arkan mengangguk. “Saya tahu. Setelah ini kita akan ke Alam Rahasia Gunung Gede. Ada harta dan kesempatan breakthrough di sana.”
Sela memegang tangannya. “Kita bertiga… eh, kita semua bersama.”
Arkan tersenyum dominan sambil memeluk Sela dan melihat orang tuanya.
“Babak baru dimulai. Aku akan jadi Raja Naga yang sebenarnya di Nusantara ini.”
Di kejauhan, seorang mata-mata Naga Hitam melaporkan ke markas utama:
“Pewaris sudah mencapai Tingkat 6. Dia semakin berbahaya.”
Di sebuah istana bawah laut yang gelap, seorang pria berjubah hitam dengan aura mengerikan tersenyum.
“Bagus… semakin kuat semakin enak untuk kugunakan. Tunggu aku, Pewaris Naga Emas.”