"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."
Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.
Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.
Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Protokol yang Berubah
Suara ketukan jemari Malik di atas papan ketik virtual perangkat satelit portabel milik Arsa Group terdengar konstan dan cepat, memecah kesunyian ruang tengah rumah aman yang mencekam. Di balik kacamata tuanya, sepasang mata Malik bergerak dinamis membaca barisan kode enkripsi hijau yang mulai merayap naik di layar monitor.
Adrian berdiri diam di samping meja dengan tangan kiri yang bertumpu pada sandaran kursi Malik. Matanya yang gelap terus mengawasi pergerakan persentase akses masuk ke peladen utama Komisi Tindak Integritas (KTI). Di seberang meja, Elena berjaga di dekat jendela, dengan satu tangan tetap siaga memegang senjata peredam suara sembari sesekali melirik jam taktis di pergelangan tangannya. Fajar akan segera tiba, dan status mereka sebagai buronan wilayah membuat setiap detik yang berlalu terasa seperti bom waktu yang siap meledak.
"Sedikit lagi..." gumam Malik, napasnya memburu pendek saat bar kemajuan sistem menunjukkan angka delapan puluh sembilan persen. "Begitu gerbang keamanan tingkat tinggi ini terbuka, kunci enkripsi data tingkat tiga akan langsung terunggah ke seluruh peladen cabang regional. Otoritas luar tidak akan bisa menutupnya."
Namun, tepat saat angka di layar menyentuh sembilan puluh dua persen, seluruh barisan kode hijau di layar mendadak membeku. Detik berikutnya, warna layar berubah menjadi merah darah yang pekat, memantulkan cahaya kemerahan yang mengerikan di wajah Malik.
BZZZZ... ALERT: ACCESS DENIED. PROTOCOL SECURITY ALTERED.
Malik tersentak mundur, tangannya gemetar di atas papan ketik. "Tidak... ini tidak mungkin. Mereka sudah mengubahnya."
Elena langsung melangkah mendekat dengan dahi yang berkerut dalam. "Apa yang terjadi, Tuan Malik? Kenapa aksesnya ditolak?"
"Protokol keamanan utama KTI pusat telah dirombak total," ucap Malik dengan suara yang mendadak parau dan lemas. Ia mendongak, menatap Adrian dengan keputusasaan yang besar. "Petinggi dewan pengawas yang disuap oleh Vanguard Maritim ternyata bergerak lebih jauh dari perkiraanku. Mereka tidak hanya menonaktifkanku, mereka juga mencabut hak akses bypass darurat milik ketua komisi dan menggantinya dengan sistem enkripsi berlapis yang baru. Data kita tidak bisa disiarkan secara instan malam ini. Butuh waktu minimal tiga sampai empat hari untuk meretas atau mendekripsinya secara manual dari luar."
Mendengar hal itu, Elena mengepalkan tangan kirinya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Empat hari? Dalam empat hari, reputasi kita sudah hancur total di mata publik, dan Syndicate punya lebih dari cukup waktu untuk melacak keberadaan kita!"
Adrian tidak mengeluarkan suara. Aura predator di dalam dirinya justru semakin pekat saat situasi bergerak ke titik paling kritis. Ia melirik rembesan darah di lengan kanannya yang mulai mengering, lalu menatap layar merah di depan Malik. Otak taktisnya langsung berputar, memetakan ulang skala pertempuran di Konflik Kedua ini. Syndicate internasional terbukti bukan lawan amatir seperti Paman Bram, gurita finansial mereka jauh lebih cepat dan kejam dalam membalikkan keadaan.
Sebelum Adrian sempat memberikan komando baru, sebuah notifikasi darurat berwarna kuning berkedip di sudut tablet taktis milik Elena yang terhubung dengan sistem keuangan internal perusahaan.
PING
Elena membuka notifikasi tersebut, dan matanya seketika melebar saat membaca laporan finansial teranyar yang masuk.
"Adrian... Otoritas Pengawas Finansial baru saja mengeluarkan surat perintah pembekuan darurat. Seluruh rekening domestik dan asing milik Arsa Food Group serta Luminous Beauty resmi dikunci untuk sementara waktu selama masa penyelidikan terorisme korporat."
"Bukan hanya itu, Nyonya," Hendra mendadak menyambung lewat jalur audio komunikasi terenkripsi yang terpasang di telinga Adrian dan Elena. Suaranya terdengar sangat bising oleh deru angin kendaraan. "Perang saham yang sesungguhnya baru saja dimulai di bursa bawah tanah. Menggunakan jaringan media Vanguard Maritim, mereka terus menyemburkan berita bahwa Tuan Adrian melarikan diri karena bersalah. Saham Luminous Beauty terjun bebas hingga lima belas persen dalam satu jam terakhir sejak pasar pra-pembukaan dimulai. Investor asing mulai panik dan menarik modal mereka secara massal."
Pembunuhan karakter dan pencekikan finansial skala global sedang berjalan bersamaan untuk melumpuhkan mereka tanpa perlu melepaskan satu peluru pun. Faksi atas benar-benar ingin mengubur Arsa Group hidup-hidup di dalam lumpur hukum dan kebangkrutan.
"Tuan Adrian, rumah aman ini sudah tidak lagi steril," Hendra memperingatkan dengan nada yang makin mendesak. "Unit taktis cadangan musuh terdeteksi sedang bergerak menuju koordinat kalian dari arah jalur protokol timur. Kalian harus segera mengosongkan tempat itu!"
Adrian langsung meraih perangkat pemancar satelit di atas meja dengan tangan kirinya, lalu menatap Malik dengan tatapan mata yang penuh dengan otoritas absolut yang tak tergoyahkan. "Tuan Malik, kemasi apa yang perlu dibawa. Kita harus pindah ke tempat isolasi yang tidak ada di dalam peta wilayah mana pun."
"Kita mau ke mana, Adrian?" tanya Elena sembari memasukkan kembali pistolnya ke dalam rompi taktis, mencoba mempertahankan ketenangannya di tengah hantaman badai finansial yang bertubi-tubi.
"Ke pangkalan rahasia lama milik mendiang ayahku di sektor terlarang utara," sahut Adrian rendah, suara baritonnya terdengar begitu dingin namun sarat akan janji perlindungan yang mutlak. Pria itu melangkah maju, kembali meraih pergelangan tangan Elena dengan remasan yang kuat, menarik tubuh istrinya agar tetap berada di dalam jangkauan proteksinya. "Tempat itu terisolasi secara total dari jaringan radar publik maupun satelit Vanguard. Di sana, kita akan menyembunyikan diri, menjaga Malik tetap hidup, dan membiarkan tim IT kita memecahkan enkripsi baru KTI sembari kita menyusun serangan balik untuk menghancurkan saham mereka dari dalam kegelapan."
Elena menatap lurus ke dalam sepasang mata gelap Adrian. Di tengah kehancuran reputasi mereka di dunia luar, dan di tengah pembekuan aset yang membuat imperium bisnis mereka di ambang kelumpuhan, sentuhan tangan kiri Adrian yang kokoh di pergelangan tangannya kembali menyalurkan rasa aman yang aneh. Ikatan perasaan nyata di antara mereka kini semakin teruji. Mereka bukan lagi sekadar rekan kontrak, melainkan dua orang buron yang hanya memiliki satu sama lain untuk bertahan hidup dari kepungan dunia.
"Mari kita lihat seberapa lama Vanguard Maritim bisa menahan data tingkat tiga kita saat kita mulai bergerak dari bawah tanah," ucap Elena dengan senyuman menantang yang sangat elegan, menyetujui rencana pelarian darurat tersebut.
Dengan gerakan yang taktis dan senyap di bawah siraman cahaya fajar yang mulai terlihat di ufuk timur. Mereka bertiga, Adrian, Elena, dan Malik segera melangkah keluar melalui pintu belakang rumah aman, bergegas menembus kegelapan hutan menuju mobil SUV mereka sebelum unit taktis faksi atas tiba untuk mengepung tempat yang telah kosong itu.
......BERSAMBUNG......