WARNING ⚠️
(untuk umur 17 keatas)
...
Arkeas InjitAsmo hidup dalam keteraturan yang mewah. Baginya, hidup adalah tentang estetika dan wangi yang presisi. Namun, dunianya runtuh saat istrinya pergi dan ia harus mengurus Alisya sendirian di tengah kesibukan peluncuran parfum terbaru. Sepuluh pengasuh profesional sudah ia pecat dalam sebulan karena "bau badan mereka tidak estetik."
Masuklah Zollana, melamar pekerjaan. Karena sebuah insiden di mana Zollana tidak sengaja memecahkan Vas bunga kristal itu hingga hancur berkeping-keping, Arkeas justru menyadari satu hal: Alisya anaknya berhenti menangis saat berada di dekat Zollana.
Arkeas terpaksa mempekerjakan Zollana sebagai nanny sekaligus asisten rumah tangga dengan kontrak "Dilarang Ceroboh". Namun, nyatanya? Zollana justru membawa kekacauan yang berwarna di rumah minimalis Arkeas yang dingin.
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 Drama GTM Alisya & Mas CEO yang Kena Mental
.........
Malam Minggu yang seharusnya menjadi waktu istirahat tenang di penthouse Arkeas InjitAsmo, mendadak berubah menjadi konser tangisan frekuensi tinggi. Cahaya lampu ruang tengah yang temaram biasanya memberikan kesan estetik, tapi malam ini justru terasa menyesakkan karena Alisya sedang melakukan aksi "mogok makan" alias GTM (Gerakan Tutup Mulut) tingkat dewa.
Arkeas, yang masih mengenakan kemeja kerja yang lengan bajunya digulung sampai siku, tampak frustrasi. Di tangannya ada botol susu hangat yang susunya sudah mulai mendingin karena ditolak berkali-kali.
"Alisya, please... Satu sedotan saja," bujuk Arkeas, suaranya yang biasanya berat dan berwibawa kini terdengar serak dan memelas. "Ini susu favorit kamu, Sayang. Papa sudah buatkan dengan suhu yang pas."
Tapi Alisya justru makin kencang menangis. Wajah bayi mungil itu memerah, kakinya menendang-nendang, dan tangannya menepis botol susu itu hingga hampir jatuh ke karpet.
Zolla, yang baru saja selesai mandi dan masih mengenakan piyama satin warna maroon dengan rambut yang dibungkus handuk, berlari keluar kamar. "Mas! Kenapa Alisya nangisnya sampai begitu? Kedengeran sampai kamar mandi!"
"Saya nggak tahu, Zol! Tumben sekali dia begini. Dia menolak botolnya, padahal ini jadwal dia minum susu sebelum tidur," Arkeas berdiri, mencoba menggendong Alisya sambil berjalan mondar-mandir (pacing), tapi tangis Alisya malah makin histeris.
...
Arkeas yang biasanya bisa menyelesaikan masalah perusahaan bernilai miliaran rupiah dalam sekejap, kini tampak benar-benar glitch. Dahinya berkeringat, dan tatapan matanya menunjukkan kecemasan yang luar biasa.
"Mungkin dia sakit? Atau susunya basi?" Arkeas memeriksa tanggal kedaluwarsa kaleng susu dengan tangan gemetar. "Atau mungkin airnya terlalu panas? Tapi saya sudah cek pakai termometer digital!"
Zolla mendekat, ia meletakkan tangannya di bahu Arkeas yang kaku. "Mas, tenang dulu. Mas panik, Alisya makin kerasa energinya. Sini, kasih Alisya ke saya."
"Nggak, Zol! Saya ayahnya, saya harus bisa nenangin dia!" Gengsi Arkeas muncul di saat yang tidak tepat. Ia mencoba mendekap Alisya lebih erat, tapi bayi itu justru berteriak seolah-olah sedang disiksa.
"Mas Arkeas InjitAsmo! Stop jadi CEO sekarang!" bentak Zolla pelan tapi tegas. "Kasih dia ke saya. Mas duduk, tarik napas. Mas itu lagi stres, dan Alisya tahu itu."
Arkeas akhirnya menyerah. Ia memberikan Alisya ke pelukan Zolla dengan bahu yang merosot lesu. Begitu berpindah ke pelukan Zolla, Zolla tidak langsung menyodorkan botol. Ia justru menggendong Alisya dengan posisi tegak, menempelkan dada bayi itu ke dadanya, lalu mulai bersenandung kecil sambil mengusap punggung Alisya dengan gerakan memutar.
"Cup, cup, sayang... Alisya kenapa? Perutnya kembung ya? Atau kangen digendong kelinci?" bisik Zolla lembut.
Ajaibnya, dalam hitungan menit, tangis Alisya mereda menjadi sesenggukan kecil.
...
Arkeas duduk di sofa, menyandarkan kepalanya yang pening. Ia memperhatikan bagaimana Zolla dengan sangat telaten menenangkan anaknya. Ada rasa iri, tapi lebih banyak rasa syukur yang membuncah di dadanya.
"Mas, ambilin minyak telon di tas Alisya dong," pinta Zolla.
Arkeas segera berdiri—tanpa membantah—dan membawakan minyak itu. Zolla duduk di karpet, lalu ia mulai memijat lembut perut Alisya dengan gerakan "ILU" yang pernah ia pelajari dari YouTube.
"Dia kembung, Mas. Tadi sore kayaknya dia kebanyakan ketawa pas main sama Kak Biyan, jadi masuk angin," jelas Zolla. "Dan dia nggak mau minum susu karena perutnya nggak enak. Jangan dipaksa, nanti malah muntah."
Setelah beberapa kali bersendawa, Alisya akhirnya terlihat lebih rileks. Matanya yang bulat mulai sayu karena kelelahan menangis. Zolla mencoba memberikan botol susu itu lagi, dan kali ini, Alisya menerimanya dengan tenang, menyedotnya perlahan sambil memegang jari kelingking Zolla.
Arkeas berlutut di samping mereka. Ia mengulurkan tangannya, mengusap pipi Alisya yang masih basah oleh air mata. "Maafin Papa ya, Nak. Papa sok tahu."
Zolla menoleh, menatap Arkeas yang kini tampak sangat rapuh dan manusiawi. "Mas... jangan merasa gagal. Jadi orang tua itu nggak ada sekolahnya. Mas sudah hebat banget kok."
Arkeas beralih menatap Zolla. Tatapannya bukan lagi tatapan majikan ke asisten, tapi tatapan seorang pria yang sangat berterima kasih pada wanitanya. "Saya nggak tahu apa yang bakal terjadi sama saya dan Alisya kalau kamu nggak ada di sini, Zol."
...
Setelah Alisya benar-benar tertidur pulas dan dipindahkan ke boks bayinya, Arkeas dan Zolla masih duduk di karpet ruang tengah. Suasana mendadak jadi sangat sunyi dan heavy.
"Zol," panggil Arkeas, suaranya rendah dan dalam.
"Ya, Mas?"
Arkeas meraih tangan Zolla, menggenggamnya erat. "Makasih ya. Untuk malam ini. Untuk Alisya. Dan untuk kesabaran kamu ngadepin saya yang kaku ini."
Zolla tersenyum manis, senyum yang bikin Arkeas makin sulit untuk menjaga jarak. "Sama-sama, Mas. Saya kan asisten Mas. Eh, tapi tadi Mas bilang apa? 'Rumah'? Berarti saya sudah lulus jadi bagian dari rumah ini?"
Arkeas menarik tangan Zolla ke bibirnya, mencium punggung tangan itu dengan sangat lama hingga Zolla bisa merasakan napas hangat Arkeas. "Kamu bukan cuma bagian dari rumah ini, Zol. Kamu itu jantungnya. Tanpa kamu, rumah ini cuma sekumpulan semen dan kaca yang dingin."
Zolla merasa jantungnya mau meledak. "Mas... jangan gombal. Nanti saya beneran nggak mau pulang ke kosan."
"Emang saya pernah izinin kamu pulang?" Arkeas menatap mata Zolla dengan tatapan posesif yang ugal-ugalan. "Kamu sudah saya klaim, ingat? Bahkan Alisya pun sudah milih kamu. Jadi, menyerah saja. Kamu terjebak di sini selamanya sama saya."
Arkeas mendekatkan wajahnya, mencium kening Zolla dengan penuh perasaan, lalu turun ke ujung hidungnya. "Sekarang istirahat. Besok kita bangun siang. Nggak ada agenda kantor. Cuma ada saya, kamu, dan Alisya."
Zolla mengangguk, ia menyandarkan kepalanya di dada Arkeas. Di balik kedinginan sang CEO, ternyata ada kehangatan yang sanggup meluluhkan segala ketakutannya.
...
(Bersambung ke Episode 22...)