"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."
Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.
"Janji?"
"Janji."
"Sumpah?"
Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."
Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.
"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.
"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.
Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~
Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~
Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~
Happy Reading ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Duh, Hampir Aja~
Malam itu. Rumah mereka.
Hujan gerimis turun sejak magrib. Tidak deras, hanya rintik-rintik kecil yang jatuh ke daun-daun petunia di halaman, menciptakan suara berbisik yang menenangkan. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, tapi di dalam ruang tengah, kehangatan menyelimuti setiap sudut.
Televisi menyala. Sebuah film romantis Korea sedang diputar. Adegan seorang pria dan wanita sedang berjalan di tepi pantai, ombak menyapu kaki mereka, senja berwarna jingga di belakang. Musik latar yang sendu mengalun pelan.
Tapi tidak ada yang benar-benar menonton.
Adea duduk bersandar di dada bidang Angga. Selimut tebal menutupi tubuh mereka berdua, selimut abu-abu yang sama yang selalu ia gunakan untuk menonton film horor. Kaki Adea diluruskan di atas sofa, ujung jari kakinya menyentuh paha Angga. Rambutnya yang terurai tergerai di dada pria itu, beberapa helai terselip di bawah dagu Angga.
Satu tangan Angga melingkar di pinggang Adea, tangan lainnya memegang remote TV tanpa benar-benar menggunakannya.
Cumi tidur di lantai, dekat kaki sofa. Kucing abu-abu gembul itu meringkuk seperti bola, sesekali bergerak dalam tidurnya.
"Angga."
"Hmm."
"Lo tegang."
"Gak."
"Bohong. Pundak lo keras kayak batu."
Adea menekan jarinya ke bahu Angga. Pria itu tidak bergerak, tapi napasnya berubah sedikit lebih berat.
Adea tersenyum kecil.
Ia tahu kenapa Angga tegang. Sejak semalam...sejak ciuman pertama itu. Ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Bukan menjadi canggung, tapi menjadi lebih peka. Setiap sentuhan terasa lebih berarti. Setiap desahan terdengar lebih jelas. Setiap kali bahu mereka bersentuhan, ada listrik kecil yang menyambar di sela-sela.
Dan sekarang, dengan Adea bersandar di dadanya, dengan rambutnya yang menyebar di kemeja tipis Angga, dengan selimut tebal yang menyembunyikan tubuh mereka dari pandangan...
Angga benar-benar tegang.
"Lo bisa santai gak sih?" Adea menoleh sedikit, menatap dagu Angga dari bawah.
"Gue santai."
"Jantung lo dag dig dug kenceng banget."
"Itu detak jantung lo."
"Gue lagi dengerin, Angga. Jantung lo yang kenceng."
Angga tidak menjawab. Ia menatap layar televisi dengan mata menyipit, berusaha fokus pada adegan di pantai itu. Tapi fokusnya buyar ketika Adea menggeser tubuhnya sedikit, hanya sedikit hingga kepalanya lebih nyaman di dada Angga.
Dan tangan Angga di pinggang Adea tanpa sadar menekan sedikit lebih erat.
---
Di televisi, adegan berubah.
Seorang pria dan wanita berdiri di bawah hujan. Mereka basah kuyup. Rambut menempel di dahi. Napas memburu. Dan kemudian-
Pria itu mencium wanita tersebut.
Bukan ciuman biasa. Ciuman yang basah. Yang penuh hujan dan kerinduan. Kamera bergerak lambat, berputar mengelilingi mereka, sementara musik meledak dengan biola dan piano.
Angga bergerak cepat.
Tangannya yang memegang remote naik ke wajah Adea, menutup mata gadis itu dengan telapak tangannya yang lebar.
"Hei!" Adea tertawa, berusaha melepaskan tangan Angga. "Kenapa sih ditutup?!"
"Gak boleh liat."
"Gue udah dewasa!"
"Gak boleh."
"ANGGA!"
Adea berhasil melepaskan tangan Angga dengan memukul-mukul pelan. Ia menatap pria itu, wajahnya sedikit merah, bibirnya mengerucut, alisnya naik turun. Ia masih tertawa, tawa kecil yang membuat matanya menyipit dan pipi chubby-nya naik.
"Mikirin apa lu, hahh?" Adea menggoda. Matanya menatap Angga dengan sorot nakal. "Kenapa sampe nutup mata gue? Lo yang gak boleh liat kali."
Angga mencubit hidung Adea pelan, tapi cukup untuk membuat gadis itu mengerutkan wajahnya.
"Angga!" protes Adea.
"Diem."
"Buka tangan lo!"
"Gak."
Angga masih mencubit hidung Adea, dan gadis itu masih berusaha melepaskan diri dengan tertawa. Tapi di balik tawanya, di balik cubitan dan tarikan tangan itu, ada sesuatu yang lain.
Ada ketegangan.
Ada listrik.
Ada detak jantung yang berdegup tidak karuan.
Dan tiba-tiba..
Adea berhenti tertawa.
Ia melepaskan tangannya dari pergelangan Angga. Matanya berubah. Tidak lagi nakal. Tapi serius. Dalam. Dan penuh tekad.
Ia merangkak.
Perlahan.
Dari posisi bersandar di dada Angga, ia bergerak. Lututnya naik ke sofa, tangannya meraih bahu Angga untuk mempertahankan keseimbangan. Rambutnya yang panjang terjatuh ke depan, membentuk tirai di antara mereka berdua.
Angga otomatis membantu, tangannya yang semula di pinggang Adea kini menopang pinggul gadis itu, membantunya agar tidak jatuh ke bawah.
Dan sekarang Adea sudah di pangkuannya.
Menghadapnya.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Napas Adea berembus ke bibir Angga..hangat, sedikit manis karena permen yang ia hisap tadi.
"Dea..." bisik Angga. Suaranya serak.
Adea tidak menjawab.
Wajahnya mendekat.
Angga menutup mata.
Ia menunggu. Mengharap. Membayangkan bibir mungil itu akan menempel di bibirnya. Membayangkan lidah kecil itu akan menyapa lidahnya. Membayangkan tangannya akan meremas rambut Adea dan menciumnya dalam-dalam seperti semalam.
Tapi yang ia rasakan adalah-
Pelukan.
Lengan Adea melingkar di leher Angga. Tubuhnya yang kecil menekan dada Angga. Wajahnya mengubur di lekuk leher pria itu.
Pelukan.
Bukan ciuman.
Angga membuka mata. Ia menatap langit-langit ruang tamu, pundak Adea yang bergetar karena tertawa tanpa suara di lehernya.
"Adea."
"Hmm?" Suaranya terdengar ceria. Terlalu ceria.
"Lu lagi apa?"
"Peluk elu."
"Itu doang?"
"Iya. Itu doang."
Angga menggeram kecil. Bukan geraman marah, tapi geraman kesal bercampur gemas. Dari dadanya keluar suara rendah yang bergetar, dan Adea mendengarnya. Gadis itu tertawa, tawa kecil yang menggema di ruang tamu, membuat Cumi terbangun dan menatap mereka berdua dengan mata sayu.
"Cumi liat," ucap Angga.
"Biarin. Cumi udah pernah liat yang lebih vulgar."
"Apaan yang lebih vulgar?"
"Kucing tetangga kawin di depan rumah."
Angga menghela napas. "Lu gila."
"Gila karena elu."
Adea melepaskan pelukannya sedikit, cukup untuk menatap wajah Angga dari jarak dekat. Matanya berbinar. Pipinya merona. Senyumnya lebar, tapi ada sesuatu di balik senyum itu. Sesuatu yang menantang.
Angga tidak tahan.
Ia tidak tahu kenapa, tapi melihat Adea di pangkuannya, melihat senyum nakal itu, melihat mata yang seolah berkata "lo gak akan berani"-
Ia menarik rambut Adea.
Bukan menarik dengan kasar. Tapi gusar. Jari-jarinya menyusup ke rambut panjang itu, menggenggam erat di bagian belakang kepala. Lalu ia menarik tengkuk gadis itu mendekat, sementara tangan kirinya menekan punggung Adea. Memaksanya lebih dekat, lebih erat, hingga tidak ada jarak di antara mereka.
Dan ia menciumnya.
Bukan ciuman lembut seperti semalam. Bukan ciuman yang ragu dan canggung.
Ciuman yang penuh keinginan.
Bibir tebalnya melahap bibir mungil Adea dengan nafsu yang sudah ia pendam terlalu lama. Lidahnya masuk tanpa menunggu izin, mencari lidah gadis itu, melilitnya, menariknya dalam tarian basah yang membuat kepala mereka berdua berputar.
Adea tidak melawan.
Tangannya yang semula di leher Angga kini meremas kemeja pria itu, menariknya lebih dekat meski tidak ada lagi jarak yang tersisa. Ia membalas ciuman itu dengan kikuk, tapi penuh semangat. Lidah kecilnya belajar dari lidah Angga, mengikuti gerakannya, kadang membalas dengan dorongan kecil yang membuat Angga semakin panas.
Ruang tamu kecil itu terasa seperti tungku.
Selimut tebal jatuh ke lantai. Cumi yang tadinya tidur di dekat sofa kini bangkit dan berlari ke lorong. Mungkin kucing itu merasa tidak nyaman dengan energi yang tiba-tiba memenuhi ruangan.
Tapi Angga dan Adea tidak peduli.
Mereka hanya terus berciuman.
Hingga akhirnya-
Adea kehabisan napas.
Ia melepaskan ciuman itu dengan tercekat. Napasnya pendek-pendek, dadanya naik turun. Bibirnya terasa sedikit bengkak, basah, dan terlihat lebih merah dari biasanya.
"Angga..." bisiknya. Suaranya parau.
Angga menatapnya. Matanya gelap. Gelap karena hasrat yang tidak bisa ia sembunyikan lagi. Tangannya masih memegang rambut Adea, masih menekan punggung gadis itu.
"Kenapa?" tanyanya serak.
Adea tidak menjawab. Ia hanya bersandar pada bahu Angga. Kepalanya jatuh ke lekuk leher pria itu, dahi nya menempel di tulang selangka.
Dan di posisi itu, ia merasakannya.
Sesuatu yang menonjol.
Di bawah paha nya. Di daerah yang seharusnya tidak menonjol.
Adea membeku.
Ia bukan anak kecil lagi. Ia mahasiswi kedokteran. Ia tahu anatomi pria. Ia tahu apa yang terjadi ketika seorang pria terangsang.
Dan ia tahu bahwa apa yang ia rasakan sekarang...tekanan keras di bawah pahanya adalah...
"Dea." Suara Angga terdengar tegang. "Jangan gerak."
Adea tidak bergerak.
Ia hanya diam. Sunyi. Wajahnya masih mengubur di leher Angga, tidak berani mendongak.
Angga meremas rambut Adea pelan, intens, penuh penekanan. Seolah ia sedang berusaha mengendalikan sesuatu yang hampir lepas kendali.
"Maaf," bisik Angga. Suaranya hampir tidak terdengar. "Gue gak sengaja-"
"Gue tahu." Suara Adea kecil. Tidak marah. Tidak takut. Hanya... sadar.
Mereka berdua diam.
Hanya suara hujan di luar. Hanya suara napas mereka yang perlahan-lahan kembali normal.
Angga menutup mata. Ia menarik napas panjang, dalam, menenangkan dirinya sendiri. Tubuhnya yang tegang perlahan mengendur. Dan di bawah paha Adea, tekanan itu pun perlahan menghilang.
"Udah," bisik Angga setelah beberapa lama. "Udah tenang."
Adea masih tidak bergerak.
"Dea."
"Hm."
"Lo marah?"
"Gak."
"Takut?"
"Gak."
"Terus kenapa diem?"
Adea akhirnya mendongak. Wajahnya merah bukan merah karena malu, tapi merah karena sesuatu yang lain. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tersenyum.
"Gue... kaget aja."
"Maaf."
"Udah, jangan minta maaf terus. Gue bilang gue gak marah."
Adea menepuk dada Angga pelan. Lalu ia merebahkan kepalanya kembali di bahu pria itu.
"Angga."
"Hmm."
"Gue ngantuk."
"Tidur aja."
"Di sini?"
"Gue gendong ke kamar."
Adea tidak menjawab. Matanya sudah terpejam setengah. Napasnya mulai teratur.
Angga menatap wajah gadis di bahunya. Ia menarik sedikit wajah Adea. Cukup untuk melihat bahwa gadis itu benar-benar tertidur. Bibirnya yang bengkak sedikit terbuka, alisnya tidak berkerut, pipinya masih merona.
"Dea."
Tidak ada jawaban.
"Bobo manis."
Angga mengecup bibir bengkak itu. Dalam. Lama. Sampai ia puas. Sampai ia bisa merasakan lagi rasa manis dari bibir gadis yang telah ia cium berkali-kali malam ini.
Lalu ia mengangkat Adea perlahan, lembut, satu tangan di punggung, satu tangan di bawah lutut. Gadis itu tidak terbangun. Ia hanya bergerak sedikit, lalu tangannya melingkar otomatis di leher Angga.
Angga berjalan ke kamar Adea.
Pintu terbuka. Lampu tidur sudah menyala dari tadi, dibiarkan Angga sebelum mereka menonton film.
Ia meletakkan Adea di kasur. Perlahan. Lembut. Seperti meletakkan barang paling berharga yang tidak boleh pecah.
Ia menyelimuti gadis itu. Selimut tebal. Rapi. Sampai ke dagu.
Boneka panda ia letakkan di samping gadis itu, tidak di pelukannya, karena malam ini Adea lebih memilih memeluk bantal yang masih menyimpan aroma Angga.
Angga berdiri di samping kasur.
Ia menatap Adea untuk waktu yang lama.
"Selamat malam, Adea Kara."
Ia menunduk. Mengecup dahi gadis itu. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Lalu ia berjalan keluar.
Ia tidak menutup pintu.
Tidak rapat.
Sedikit terbuka.
Seperti biasa.
---
Bersambung...