Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Malam sudah cukup larut ketika mobil Harsa akhirnya memasuki halaman rumah. Jam di dashboard menunjukkan hampir pukul sembilan malam.
Meski tidak jadi lembur seperti rencana awal, seharian penuh mengurus revisi proyek dan rapat tambahan benar-benar menguras tenaga Harsa. Lehernya terasa pegal kepalanya berat. Namun, saat pintu rumah terbuka suasana hangat langsung menyambutnya. Lampu ruang makan masih menyala terang.
Aroma masakan memenuhi udara. Dan di sana Arsyi sedang berdiri di meja makan sambil menata beberapa piring dengan rapi.
Wanita itu mengenakan dress rumah sederhana berwarna lembut dengan rambut yang diikat asal. Begitu mendengar suara pintu, Arsyi langsung menoleh.
“Oh … Kak Harsa udah pulang?” Nada suaranya terdengar ringan. Tidak berlebihan cukup membuat rasa lelah Harsa sedikit berkurang.
“Hm,” jawab Harsa pelan sambil melonggarkan dasinya.
Arsyi memperhatikan pria itu beberapa detik.
“Kakak nggak jadi lembur?”
Harsa berjalan mendekat ke ruang makan lalu mengembuskan napas panjang.
“Enggak.”
Pria itu menarik kursi perlahan.
“Cuma banyak berkas yang harus diurus.”
Arsyi mengangguk kecil.
“Oh…”
Ia lalu berjalan mengambilkan air minum hangat untuk Harsa tanpa diminta. Dan entah sejak kapan semua perhatian kecil itu mulai terasa begitu biasa di rumah ini.
Harsa menerima gelas itu pelan.
“Terima kasih.”
Arsyi tersenyum kecil.
“Mbak Sari tadi mau panasin makanannya, tapi aku bilang biar aku aja.”
Harsa menatap meja makan yang sudah tertata rapi. Ada sup hangat lauk sederhana. Dan beberapa makanan favoritnya yang entah sejak kapan Arsyi hafal.
“Kamu masak sendiri?”
“Hm.”
“Melodi nggak rewel?”
“Lumayan,” jawab Arsyi sambil tertawa kecil. “Tadi sempat nangis karena ngantuk.”
Mendengar itu, tatapan Harsa sedikit melembut.
“Sekarang tidur?”
“Iya, baru tidur sekitar setengah jam lalu.”
Suasana terasa nyaman, sampai akhirnya Harsa berkata pelan,
“Mungkin seminggu ke depan aku bakal sibuk.”
Arsyi yang sedang mengambil nasi sedikit terdiam.
“Sibuk proyek?”
“Hm.” Harsa menyandarkan tubuhnya sebentar.
“Proyek Mahesa Group ternyata lebih rumit dari perkiraan.”
Arsyi memperhatikan wajah pria itu, bisa melihat jelas rasa lelah di sana.
“Kakak kelihatan capek.”
Harsa tertawa kecil tanpa tenaga.
“Lumayan.”
“Kalau gitu jangan terlalu dipaksa.”
“Aku nggak bisa ninggalin proyek ini.” Nada suaranya terdengar serius.
Arsyi mengangguk pelan. Ia memang tidak terlalu mengerti dunia bisnis Harsa. Namun, ia tahu pria itu selalu bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.
“Aku mungkin pulang malam terus beberapa hari ini,” lanjut Harsa lagi.
Tatapan Arsyi perlahan turun ke meja makan beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil.
“Iya … nggak apa-apa.” Jawaban itu terdengar tenang. Namun entah kenapa Harsa justru sedikit merasa tidak nyaman. Karena biasanya Arsyi akan terlihat kecewa atau sedih.
“Kamu nggak marah?” tanya Harsa tiba-tiba.
Arsyi terlihat bingung.
“Marah?”
“Hm.”
“Kenapa harus marah?”
“Karna aku jarang di rumah nanti.”
Arsyi tersenyum kecil.
“Itu kan kerjaan.” Jawaban sederhana itu membuat Harsa diam. Lalu perlahan pria itu kembali menatap wanita di depannya.
Arsyi kini benar-benar berubah. Perubahan itu justru membuat Harsa semakin sulit berhenti memperhatikannya.
“Ya udah, makan dulu,” ujar Arsyi pelan memecah keheningan. “Nanti makanannya dingin.”
Harsa mengangguk kecil.
Namun, sebelum mulai makan, pandangannya kembali jatuh pada Arsyi yang duduk di seberangnya.
Harsa akhirnya mulai makan malamnya setelah cukup lama hanya diam memandangi meja. Sementara di seberangnya, Arsyi duduk menemani dengan segelas teh hangat di tangannya. Seperti biasanya wanita itu tidak ikut makan malam lagi karena sudah makan lebih dulu bersama Mbak Sari sore tadi.
Namun, ia tetap duduk menemani Harsa. Dan anehnya kehadiran kecil itu kini mulai terasa penting bagi pria tersebut.
“Ayamnya enak?” tanya Arsyi pelan.
Harsa mengangguk kecil sambil mengambil sup.
“Hm.”
“Aku tadi coba resep baru.”
“Pantes rasanya beda.”
Arsyi langsung tersenyum kecil.
“Enak nggak?”
“Enak.” Jawaban singkat itu tetap berhasil membuat wajah Arsyi sedikit berbinar.
Melihat itu, Harsa tanpa sadar memperhatikannya beberapa detik lebih lama. Wanita ini memang mudah sekali bahagia hanya karena hal-hal sederhana.
“Oh iya,” ujar Arsyi lagi. “Tadi aku jadi ikut Mbak Sari belanja.”
Harsa mengangkat pandangannya.
“Hm.”
“Aku beli beberapa perlengkapan Melodi.”
Arsyi lalu mulai bercerita pelan.
“Tadi susu sama popoknya hampir habis, terus aku lihat ada baju bayi lucu jadi sekalian beli…”
Nada suaranya terdengar antusias. Tangannya bahkan ikut bergerak kecil menjelaskan.
“Terus aku beli mainan gantung buat box bayinya. Melodi tadi senang banget lihat warnanya.”
Harsa mendengarkan diam-diam sambil makan. Justru sesekali sudut bibirnya terangkat tipis mendengar cara Arsyi bercerita.
“Dan tadi Mbak Sari ngajarin aku pilih botol susu yang bagus,” lanjut Arsyi lagi sambil tertawa kecil. “Ternyata banyak banget jenisnya.”
“Kamu senang?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Harsa.
Arsyi sedikit terdiam sebelum mengangguk kecil.
“Senang.” Tatapannya perlahan berubah lembut saat menyebut nama bayi itu.
“Kalau buat Melodi aku nggak capek.”
Dan lagi-lagi kalimat sederhana itu membuat hati Harsa terasa aneh. Karena Arsyi benar-benar mencintai Melodi dengan tulus.
Sampai akhirnya Harsa meletakkan sendoknya pelan.
“Ada satu hal yang mau aku bilang.”
Arsyi langsung menoleh.
“Apa?”
Harsa menarik napas kecil.
“Mungkin seminggu ke depan aku bakal lebih sibuk.”
Arsyi mengangguk pelan.
“Soal proyek itu?”
“Hm.” Pria itu menatap meja makan beberapa detik sebelum akhirnya melanjutkan,
“Aku kemungkinan bakal sering kerja sama Rina.”
Kalimat itu membuat suasana berubah sedikit lebih hening. Namun Harsa tetap melanjutkan,
“Karena dia udah lama pegang proyek itu dari awal.” Tatapannya perlahan beralih pada Arsyi.
Harsa terlihat seperti sedang menunggu reaksi wanita itu.
“Apa kamu nggak masalah?” Pertanyaan itu keluar pelan.
Namun cukup membuat Arsyi sedikit tertegun. Karena sebelumnya Harsa tidak pernah menjelaskan apa pun padanya. Tidak pernah merasa perlu meminta pendapatnya.
Arsyi menatap pria itu beberapa detik lalu tersenyum kecil.
“Itu kerjaan kan?”
“Hm.”
“Kalau memang perlu kerja sama ya nggak apa-apa.” Jawabannya terdengar tenang. Tanpa nada cemburu ataupun curiga. Namun justru itu yang membuat Harsa diam.
“Aku percaya sama Kak Harsa,” lanjut Arsyi pelan.
“Lagipula…” ujarnya pelan sambil memainkan ujung gelas tehnya. “Aku juga nggak mau jadi istri yang terlalu mengekang.”
Harsa menatapnya cukup lama.
lanjut thorrrr