Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 – Bima
Bab 11 – Bima
Jadwalku hari ini adalah, konfrensi pres pentas teater yang aku produseri. Konpres diadakan di aula sebuah mall besar di tengah Jakarta. Aku, sutradara, dan pemeran utama masih duduk di sebuah kafe tidak jauh dari aula mall itu. Pengunjung sudah memadati area konpres. Wartawan sedang mempersiapkan kamera di depan meja panjang yang di belakangnya terpampang background judul pementasan teater.
Terdengar suara MC membuka acara konpres yang diadakan sore hari menjelang malam. Mall semakin ramai, karena sekarang hari jumat dan sudah jam pulang kantor.
“Katanya bakal main horror, kak?” tanya Alya si pemeran utama di pementasan teater sanggar milik sutradara. Alya baru berumur 18 tahun.
“Iya, kok tau?” kataku tersenyum.
“Dari ignya Bang Jaka,” Alya nyengir. “Pemeran utamanya Dian Sastro?”
“Belum tahu, masih casting,” jawabku singkat. Celsi tidak ada di sana, aku tidak ingat kapan harusnya casting dengan pemeran utama film horror Bang Jaka Awan itu.
“Ayo, siap-siap!” Cak Ayub, sang sutradara bangkit dan mengajak kami untuk keluar dari kafe dan melakukan konfrensi pers.
Begitu aku keluar dari kafe, suara pengunjung yang menonton konfrensi pers terdengar menggelegar. Mereka berteriak menyebutkan namaku. Aku cuma bisa dadah ke semua penjuru. Beberapa tangan pengunjung menyelinap dari balik bodyguard yang menjagaku dan berhasil mencolek lengan, perut, dan pinggangku.
Aku duduk di meja konpres sambil bernapas lega, kali ini tidak ada yang berhasil mencubit pipiku. MC memulai acara, mengenalkan para pemain, dan aku sebagai produser. Setelah melakukan sambutan singkat, aku duduk mendengarkan penjelasan sutradara dan para pemain tentang cerita dan karakter yang akan mereka pentaskan.
Mataku tidak bisa lepas dari ponselku. Aku menunggu balasan dari Naya atas pesan terakhirku empat hari yang lalu.
Bima : Jadi kapan aku bisa kenal sama orang tua kamu?
Berulang kali aku tutup dan buka layar ponselku. Belum juga ada balasan dari Naya.
Dari kejauhan tampak Celsi berdiri memperhatikan konpres. Aku melambaikan tangan padanya. Celsi tampaknya tidak melihat. Malah Mutia yang berdiri di depannya membalas lambaian tanganku.
Sial. Ternyata dia datang sore ini.
Celsi terlihat menahan tawa. Aku merosot dari kursi, merendahkan posisi dudukku, tidak ingin terlihat berinteraksi dengan Mutia. Walau ibuku berkali-kali menyuruhku untuk bertemu lagi dengannya. Tampaknya kali ini aku tidak bisa menghindar.
Acara konpres berakhir dengan foto bersama dan ajakan untuk bersiap war tiket pementasan teater yang akan dibuka besok pagi. Kami kembali menuju kafe. Tapi Mutia mencegatku di tengah jalan, di antara desakan fans dan pengunjung mall.
“Bima! Selamat ya!” katanya sambil memelukku dan memaksaku untuk cipika cipiki.
Wangi parfumnya sangat menyengat. Aku harus menahan batuk, agar tidak membuatnya tersinggung.
“Makasih,” kataku tersenyum sambil terus berjalan ke dalam kafe. Celsi tampak sudah menunggu di depan pintu kafe.
“Aku dapet tiket gratis kan?” tanya Mutia menggandeng lengan kiriku.
“Oh, iya, nanti aku tanyain ya,” jawabku sambil tersenyum, padahal aku sangat kesal sekali kalau ada orang terdekat minta tiket gratis. Bukannya beli!
“Bener loh! Bulan depan kan? Jangan lupa! Aku udah kosongin tanggal!” tanyanya memelas.
“Oke, sip!” aku berusaha melepaskan gandengannya, lalu mendekati Celsi, “Abis ini ada meeting kan?”
“Nggak ada,” Celsi menjawab singkat.
“Yang itu!” kataku sambil mengedipkan mata.
“Oh, yang itu! Iya, ada,” Celsi mengangguk serius sambil menoleh ke Mutia.
“Sori ya, aku ada meeting dulu,” kataku pada Mutia yang memakai dress bodycon warna abu-abu belang putih.
“Yaaah, kirain bisa makan malem dulu?”
“Sori, lain kali ya,” kataku sambil menarik tangan Celsi dan pergi keluar mall. Di lobi, aku melambaikan tangan menghentikan taksi. Setelah melayani beberapa fans yang datang minta foto, aku dan Celsi masuk ke dalam taksi
“Ke Darmawangsa, Pak,” kataku pada supir taksi. Supir taksi mengangguk lalu menjalankan mobilnya.
“Pak Mardi di mana?” Celsi heran.
“Di kantor,” jawabku singkat sambil melihat ponselku. Naya belum juga membalas. Aku menghela napas, sambil melihat ke luar jendela, “Mutia itu tau dari mana aku ada konpres di sini?”
“Ibu kamu nanya jadwal elu sama gue. Ya gue kasih tau. Ternyata dia ngasih tau Mutia. Sori,” Celsi nyengir.
“Gue males baca gosip, udah mulai ada yang bahas gue deket sama dia,” kataku menyandarkan kepala ke kursi.
“Udah lah, gosip mah.”
“Iya sih, tapi kalau Naya tau, gimana?”
“Naya udah ada jawaban?”
“Belum.”
“Tanya lah! Udah seminggu dari kita meeting keluarga!” Celsi mencolek tanganku menggoda.
Aku menarik badanku menjauhi Celsi, “Nggak tau. Pusing, gue.”
“Mau gue yang tanyain?”
“Ya nggak lah!”
“Ya udah, tanya lah. Besok week end, kan? Bisa nggak elu ke rumahnya?”
“Dia kalau nggak salah ada weeding besok,” aku buka medsosnya Naya, tapi tidak ada petunjuk. Terakhir kali aku lihat dia mencari bunga untuk dekorasi meja akad nikah kliennya minggu ini.
“Ya kan, weeding, sabtu. Minggu weeding juga?”
Aku terdiam.
“Tanya aja. Kalau misalkan Naya emang nggak mau serius. Ya udah, elu coba deketin Mutia!”
“Amit-amit!” kataku sambil membuka ponselku, membuka pesan chat Naya.
“Telepon aja!”
“Nggak lah, chat aja. Mungkin dia lagi sibuk.”
“Justru! Kalau dia sibuk, di chat, nggak bakalan balas!” Celsi meninju pundakku.
Aku berpikir sejenak, lalu menelepon Naya dengan loud speaker.
“Halo,” jawabnya.
Aku kaget ternyata Naya langsung menjawab. “Ha.. halo, lagi sibuk nggak?” tanyaku gugup.
“Nggak. Ada apa?”
“Besok, weeding klien ya?” tanyaku sambil menatap Celsi minta pertolongan harus basa basi seperti apa.
“Iya. Kenapa?”
“Ya udah, semoga sukses ya.”
“Makasih.”
Tanpa bicara, Celsi mengangkat kedua tangannya, menyuruhku untuk bicara lebih lanjut, langsung ke inti. Kedua matanya melotot gemas.
“Halo?” tanya Naya.
“Ya?”
“Udah?”
“Ya, itu. ehmmm,” aku menggaruk rambutku. “Aku sebenernya mau tanya, kapan aku bisa…”
“Sori, aku lagi sibuk banget. Sori belum sempet balas. Boleh telepon lagi nggak besok? Sori?”
Celsi semakin melotot, menyuruhku untuk to the point, tegas!
“Maksud aku, kalau kamu emang nggak mau, bilang aja. Kita kan udah sama sama dewasa. Aku juga nggak mau buang waktu lagi,” kataku sambil memejamkan mata.
Sial. Aku menyesal telah mengatakan kalimat itu.
“Oh!” Naya tampak terkejut. “Maksudnya apa?”
“Aku cuma minta jawaban aja. Maksud aku, kamu nggak usah ragu untuk menjawab, iya atau tidak.”
“Kenapa jadi maksa ya?” Naya terdengar emosi.
“Bukan. Bukan maksa, tapi…,”
“Jangan mentang-mentang kamu itu aktor terkenal, terus bisa seenaknya deketin orang dan maksa untuk menjawab. Aku butuh waktu untuk mikir! Aku hidup, nggak cuma mikirin kamu! Ada banyak yang aku kerjain!”
Aku terdiam. Celsi terdiam. Kami syok, mendengar Naya marah.
Hening.
Suara batuk dari supir terdengar tiba-tiba.
“Sori, aku lagi sibuk. Nanti lagi kita bahas,” kata Naya lalu sambungan telepon terputus.
Aku menyimpan ponsel di kursi dengan kesal, lalu menutup wajah dengan kedua tanganku. “Siaaal!”
Celsi malah tertawa terbahak-bahak.
Aku melirik Celsi. Kesal. “Kenapa ketawa?”
“Kalian berantem, kayak orang pacaran!” Celsi menggelengkan kepala, sambil mengusap air matanya karena tertawa.
Aku terkekeh lalu mengambil ponselku melihat pesan dari Naya.
Naya : Nanti kita omongin lagi ya.
Membaca pesan itu, membuat ada rasa hangat di hatiku.