Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.
Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.
Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasus pemerkosaan
Langkah kaki beralas sepatu kulit itu terhenti tepat di depan gerbang besi yang menjulang. Prawira, seorang pengacara yang sudah kenyang dengan berbagai drama ruang sidang, terpaku. Di sudut pembatas, seorang wanita paruh baya berdiri kaku dengan tangan bersedekap.
Drap...
Drap...
Drap...
Suara langkah itu seolah bergema di tengah kesunyian subuh yang menggigit. Prawira tahu, wanita itu sedang bertarung dengan hawa dingin yang menggerogoti tubuh rentanya, jemarinya meremas lengan sendiri dengan sangat erat. Ada sedikit keterkejutan di benak Prawira. Tamu asing, sepagi ini?
Fajar bahkan belum menunjukkan semburatnya. Wanita tua itu adalah orang pertama yang berani memecah kesunyian di kediamannya. Meski ada rasa enggan untuk bekerja di luar jam kantor, nurani Prawira terusik melihat kondisi sosok di depannya.
Ia melangkah mendekat. "Permisi. Apa yang Anda lakukan di sini?"
"Aa---maaf. Apakah Bapak Prawira-nya ada?" ujar wanita itu, Surti, dengan raut penuh harap.
Dari jarak dekat, barulah terlihat betapa mengenaskannya kondisi wanita itu. Bibirnya gelap dan pecah-pecah. Lingkar hitam di bawah matanya begitu kontras dengan kulit yang pucat. Ia tampak seperti mayat hidup. Jika ada tetangga yang melihat, mereka mungkin akan mengira Prawira sedang menelantarkan ibunya sendiri.
"Iya, saya orang yang Ibu cari," sahut Wira, mencoba melembutkan suaranya.
"Anda... Bapak!" Surti tersentak, alisnya terangkat tinggi. "Saya butuh bantuan Bapak. Maukah Bapak menjadi pengacara untuk kasus anak saya?"
Suaranya gemetar, beradu dengan tubuh yang mulai menggigil hebat.
"Tenang, Bu. Mari masuk dulu. Kita bicara di dalam," ajak Wira. Ia tidak tega melihat bibir itu terus bergetar. Hawa dingin kian menusuk, seolah memberi peringatan akan gelapnya cerita yang dibawa tamu subuhnya ini.
Di ruang tamu, segelas teh hangat tersaji, mengepulkan uap tipis di atas meja kayu. Surti duduk di sofa empuk yang terasa terlalu mewah untuknya. Ia menatap Wira seolah pria itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra.
"Silakan diminum, lalu... Ibu boleh menceritakan tujuannya."
Surti meneguk habis teh panas itu dalam sekali waktu, seakan-akan rasa panas itu bisa membakar rasa takutnya.
"Putri saya dilecehkan. Saya ingin melaporkan pelakunya."
Wira mencondongkan tubuh, tatapannya menajam. "Ceritakan apa yang terjadi."
Dengan suara yang sesekali terputus isak tangis, Surti bercerita. Tentang suaminya yang meninggal dua tahun lalu, tentang putri sulungnya yang berhenti sekolah demi menjadi pembantu rumah tangga, dan tentang petaka di minggu lalu.
"Majikan kami... dia melakukan hal tidak senonoh. Dia memperkosa putri saya," bisik Surti parau. "Dia bahkan menembak pembantu lain yang mencoba menolong."
Wira mengernyitkan dahi. "Tunggu! Jika ini terjadi seminggu yang lalu, kenapa Ibu baru menemui saya sekarang?"
Pertanyaan itu tajam. Dalam kasus kekerasan seksual, waktu adalah kunci. Menunda berhari-hari hanya akan mengaburkan bukti fisik dan mental.
"Bapak adalah pengacara kelima yang saya temui," sahut Surti pelan, membuat Wira tersentak. "Empat pengacara sebelumnya... mereka menolak saya."
Wira membatin. "Pengacara kelima? Kenapa yang lain menolak?" Ia melirik pakaian Surti, rok cokelat lusuh dengan noda di sana-sini dan blus abu-abu yang sudah pudar warnanya. "Apa karena dia tidak punya uang?"
"Alasan mereka selalu sama," ungkap Surti, suaranya merendah hingga ke level bisikan yang mencekam. "Pelakunya adalah... Willy Buwono."
Wira terbelalak. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. "Maksud Ibu, wakil gubernur?"
"Iya. Kenapa Bapak terlihat sangat terkejut?"
"Tentu saja!" Wira berdiri, kepanikan mulai merayapi wajahnya. "Ibu, mana mungkin saya berani melawannya? Saran saya, lupakan masalah ini. Dia punya kekuasaan besar. Jika dia tahu saya terlibat, sebelum saya menginjakkan kaki di ruang sidang, karier saya---atau bahkan nyawa saya, akan tamat!"
"Maaf, Bu. Saya tidak bisa membantu."
"Lalu setelah itu kamu putus asa..." gumam Rafan dengan nada datar, melanjutkan narasi yang sempat terhenti oleh tangis Surti.
Di sebuah ruang interogasi yang remang, Rafan menatap Surti dengan tatapan yang sulit dibaca. "Kamu menyerah dan terjebak rayuan Willy. Kamu percaya pria itu akan bertanggung jawab, lalu kamu kembali bekerja di sana. Satu bulan berlalu, dan janji itu hanya isapan jempol."
Rafan bangkit, berjalan mengitari meja. "Putrimu tetap menjadi pembantu, bukan nyonya. Dan kamu tahu apa yang lebih buruk?"
Surti mendongak, wajahnya pias. "B-bagaimana kamu tahu?"
"Aku tahu dia dilecehkan berkali-kali. Setiap ada kesempatan, Willy memanggilnya ke kamar. Dan putrimu hanya diam."
"Tidak mungkin! Hana tidak pernah bilang..."
"Tentu saja tidak," potong Rafan, giginya bergeletuk menahan geram. "Willy mengancam akan melakukan hal yang sama pada adiknya yang masih berusia empat belas tahun."
Ruangan itu mendadak terasa makin sempit. Penyesalan menyayat batin Surti hingga ia meraung memanggil nama anaknya. Isaknya memenuhi ruangan, mengiris hati siapa pun yang mendengar, kecuali Rafan yang masih tampak kaku.
"Aku akan mengungkap kebenaran ini," tegas Rafan. "Beritahu aku, siapa yang membunuh Willy?"
Surti menghapus air matanya dengan kasar. "Dia tidak akan bisa ditangkap dengan mudah..."
"Tapi, bagaimana Bapak bisa tahu sebanyak ini?" tanya Surti ragu.
"Heru. Mantan pelayan yang berhenti sehari sebelum kematian Hana. Dia adalah kekasih putrimu."
Surti tertegun. Ia merasa gagal sebagai ibu. Tak tahu cinta anaknya, tak tahu derita anaknya.
"Mereka saling mencintai," lanjut Rafan sembari menyodorkan berkas berita acara. "Heru pergi karena kecewa Hana tak mau melapor, tanpa tahu Hana hanya berusaha melindungi adiknya. Sebelum putrimu mengakhiri hidupnya, dia menulis surat kebenaran itu untuk Heru."
Tring... Tring...
Ponsel di saku Rafan bergetar, memutus ketegangan. Ia memberikan instruksi cepat pada asistennya, Andre, untuk menyelesaikan urusan dengan Surti. Ada urusan lain yang jauh lebih penting bagi sisi lain hidupnya, sebuah seminar penulis.
Pukul 07.00
Mobil Rafan berhenti di depan gedung toko buku terbesar di provinsi tersebut. Wajahnya yang tadinya kaku kini melembut, menyisipkan senyum antusias. Ia melangkah masuk, mengabaikan tatapan aneh orang-orang yang melihatnya bicara sendiri pada wallpaper ponselnya, foto seorang gadis yang ia juluki kucing liar.
Namun, langkahnya terhenti secara mendadak. Di dekat wastafel lorong toilet, ia melihat sosok familiar. Gadis ber-setelan jas abu-abu yang tampak sangat berwibawa namun sedang sibuk membersihkan noda saus di pakaiannya.
Itu Myra.
Rafan mengikuti Myra ke lorong toilet yang sepi. Suara langkah kakinya yang berat menciptakan gema yang membuat Myra waspada.
Tap... Tap... Tap...
Myra berbalik dengan cepat. "Kamu!"
"Apa yang kamu lakukan di sini?" geram Myra, matanya menyipit penuh selidik.
"Memberikan sapu tangan," sahut Rafan santai, menyodorkan selembar kain.
"Tidak perlu. Aku bisa pakai air."
"Kenapa menolak? Apa kamu ingin aku yang membersihkannya untukmu?" ancam Rafan dengan senyum tipis. Ia tahu Myra sangat benci kontak fisik secara tiba-tiba.
Myra merampas kain itu dengan kasar. "Dasar keras kepala."
Saat Myra berdiri di depan cermin wastafel, ia masih merasakan sepasang mata menatapnya intens dari pantulan kaca. Rafan tidak bergeming, ia justru melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Myra bisa merasakan kehadirannya yang dominan.
"Kenapa kamu terus menatapku?" cibir Myra. "Apa kamu sebegitu tertariknya kepadaku?"
Rafan menatapnya dalam-dalam, suaranya memberat. "Tertarik? Itu kata yang terlalu sederhana untuk menggambarkan apa yang kurasakan."