NovelToon NovelToon
ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aksi / Mengubah Takdir / Horor
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Gerbang Kesunyian

Bus antarkota yang ditumpangi Arjuna melaju membelah kegelapan malam yang kian pekat. Di dalam bus yang pengap dan hanya terisi beberapa penumpang, Arjuna duduk di pojok paling belakang. Tas ransel berisi laptop bututnya ia peluk erat, seolah itu adalah satu-satunya harta karun yang tersisa di dunia ini.

.

Sarung hijau pemberian sang Guru kini menyelimuti pundaknya, memberikan kehangatan yang tidak masuk akal meski AC bus bertiup kencang tepat di atas kepalanya. Arjuna memejamkan mata, membiarkan lidahnya terus menari di langit-langit mulut. Allah... Allah... Allah...

.

"Mas, sampun tekan terminal terakhir. (Mas, sudah sampai di terminal terakhir)," tegur kondektur bus sambil menepuk bahu Arjuna.

.

Arjuna tersentak pelan. Ia tidak sadar bahwa zikirnya telah membawanya ke dimensi waktu yang terasa begitu cepat. "Oalah, nggih Pak. Matur nuwun. (Oalah, iya Pak. Terima kasih.)"

.

Arjuna turun dari bus. Terminal kecil di pinggiran kabupaten itu terasa sangat lengang. Udara dingin pegunungan langsung menyergap kulitnya. Hanya ada satu atau dua tukang ojek yang masih mangkal di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip.

.

"Badhe teng pundi, Le? (Mau ke mana, Nak?)" tanya seorang tukang ojek tua yang wajahnya hampir tertutup sarung.

.

"Teng Dusun Keramat, Mbah. (Ke Dusun Keramat, Mbah)," jawab Arjuna sopan.

.

Tukang ojek itu terdiam sejenak, menatap Arjuna dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Dusun Keramat? Jam semene? Kowe yakin, Le? (Dusun Keramat? Jam segini? Kamu yakin, Nak?)"

.

Arjuna mengangguk mantap. "Nggih, Mbah. Kulo badhe sowan Guru Mursyid. (Iya, Mbah. Saya mau menghadap Guru Mursyid.)"

.

Mendengar nama Guru Mursyid disebut, sorot mata tukang ojek itu mendadak berubah hormat. Ia segera merapikan motornya. "Yowis, ayo. Ora kabeh wong kuat munggah rono yen atine ora resik. (Ya sudah, ayo. Tidak semua orang kuat naik ke sana kalau hatinya tidak bersih.)"

.

Motor butut itu pun melaju menanjak, menembus kabut tebal yang menyelimuti perbukitan. Di sepanjang jalan, pohon-pohon jati yang besar tampak seperti raksasa diam yang sedang mengawasi perjalanan Arjuna.

.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba mesin motor mati mendadak di tengah hutan jati yang gelap gulita. Hawa dingin yang menusuk tulang mendadak berubah menjadi hawa panas yang menyesakkan.

.

"Lho, kok mati?!" tukang ojek itu panik, berkali-kali mencoba menyalakan motornya tapi gagal. "Waduh, Le. Iki dudu mati biasa. Kayane ono sing 'ngadangi' dalanmu. (Waduh, Nak. Ini bukan mati biasa. Sepertinya ada yang 'menghalangi' jalanmu.)"

.

Arjuna turun dari motor. Ia merasakan getaran aneh di dadanya. Zikir sirri-nya mendadak berdenyut lebih kencang, seolah-olah sedang memberikan alarm tanda bahaya. Matanya yang tajam menatap ke arah semak-semak gelap di pinggir jalan.

.

Sraakkk!

.

Sesosok bayangan hitam besar dengan mata merah menyala tampak bersembunyi di balik pohon. Itulah ujian pertama bagi seorang musafir yang ingin mencari kebenaran—godaan dari mahluk yang tak kasat mata.

.

"Mpun Mbah, mboten nopo-nopo. (Sudah Mbah, tidak apa-apa)," ucap Arjuna tenang. Ia melangkah maju satu tindak, tangannya memegang tasbih kayu di saku celananya.

.

Arjuna menarik napas dalam-dalam, lalu membatin sebuah kalimat rahasia yang pernah diajarkan gurunya. "Bismillah... mboten pareng ngganggu wong sing lagi luru ilmu! (Bismillah... tidak boleh mengganggu orang yang sedang mencari ilmu!)"

.

Seketika, aura dingin berwarna hijau samar memancar dari tubuh Arjuna. Bayangan hitam besar itu mendadak mengerang pelan, lalu menghilang ditiup angin malam. Mesin motor yang tadi mati, tiba-tiba menyala kembali dengan sendirinya.

.

Tukang ojek itu gemetar hebat. "Kowe... kowe dudu wong sembarangan ya, Le? (Kamu... kamu bukan orang sembarangan ya, Nak?)"

.

Arjuna hanya tersenyum tipis, kembali duduk di boncengan motor. "Kulo mung ngetik neng kamar, Mbah. Mboten nggadhahi menopo-menopo. (Saya cuma mengetik di kamar, Mbah. Tidak punya apa-apa.)"

.

Motor itu kembali melaju. Di ujung jalan yang menanjak, sebuah cahaya lampu minyak dari sebuah gubrak kayu tua mulai terlihat. Itulah gerbang menuju kediaman Guru Mursyid—tempat di mana nasib Arjuna Wijaya akan diubah selamanya.

Motor butut itu akhirnya berhenti tepat di depan sebuah gapura kayu tua yang sudah berlumut. Di baliknya, terlihat sebuah rumah panggung sederhana yang dikelilingi oleh pepohonan rimbun. Bau wangi kemenyan Arab dan kayu gaharu langsung menyerbak di udara malam yang dingin.

.

"Mpun tekan, Le. Kulo mboten wanton mlebete nggih. (Sudah sampai, Nak. Saya tidak berani masuk ya)," ucap tukang ojek itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena kejadian tadi.

.

Arjuna turun dari motor, lalu menyerahkan selembar uang terakhir yang ada di saku celananya. "Matur nuwun nggih, Mbah. Pangestunipun. (Terima kasih ya, Mbah. Mohon doanya.)"

.

"Nggih, Le. Sing ati-ati. (Iya, Nak. Yang hati-hati)," sahut tukang ojek itu sebelum berbalik arah dan memacu motornya secepat kilat meninggalkan tempat sunyi itu.

.

Arjuna melangkah pelan melewati gapura. Setiap langkah kakinya terasa berat, seolah-olah tanah yang ia injak memiliki daya tarik magnet yang sangat kuat. Begitu sampai di depan pintu kayu rumah panggung itu, ia melihat sesosok pria tua berjubah putih sedang duduk bersila di teras.

.

Pria itu adalah Guru Mursyid. Wajahnya begitu bersih, kerutan di dahinya justru memancarkan wibawa yang luar biasa. Matanya terpejam, namun bibirnya tak henti-hentinya bergerak dalam zikir yang sunyi.

.

"Mlebuo, Juna. Guru wis nunggu kowe ket mau sore. (Masuklah, Juna. Guru sudah menunggumu dari tadi sore)," ucap sang Guru tanpa membuka mata.

.

Arjuna tersentak. Ia segera mendekat, bersujud di kaki sang Guru dengan air mata yang akhirnya pecah. Segala beban hinaan dari Pak Wijaya dan Guntur yang ia tahan sejak tadi, tumpah di sana. "Guru... Juna dibuang... (Guru... Juna dibuang...)"

.

Sang Guru membuka matanya perlahan. Sorot mata itu begitu teduh, seolah bisa melihat langsung ke dalam lubuk hati Arjuna. Beliau mengelus kepala Arjuna dengan penuh kasih sayang.

.

"Juna, macan kuwi nek arep mburu, pancen kudu metu seko kandange. (Juna, macan itu kalau mau berburu, memang harus keluar dari kandangnya)," bisik sang Guru dengan suara yang dalam. "Kowe dudu dibuang, tapi lagi dipisahke karo dunya sing palsu." (Kamu bukan dibuang, tapi sedang dipisahkan dengan dunia yang palsu.)

.

Arjuna mendongak, menatap wajah Gurunya yang bercahaya. "Tapi Juna mboten nggadhahi menopo-menopo malih, Guru. Jeneng Wijaya sampun kulo coret. (Tapi Juna tidak punya apa-apa lagi, Guru. Nama Wijaya sudah saya coret.)"

.

Sang Guru tersenyum tipis. Beliau mengambil sebuah tasbih kayu hitam dari balik jubahnya. "Kowe coret jeneng menungso, tapi Gusti Allah lagi nulis jenengmu neng buku takdir sing luwih dhuwur. (Kamu coret nama manusia, tapi Allah sedang menulis namamu di buku takdir yang lebih tinggi.)"

.

"Guru, Juna badhe luru jati diri. Juna pengen mbuktikke drajat niku mboten saged dituku ngangge dhuwit. (Guru, Juna mau mencari jati diri. Juna ingin membuktikan derajat itu tidak bisa dibeli dengan uang.)" ucap Arjuna dengan tekad yang membaja.

.

"Yowis, yen ngono kekarepanmu. Mulai sesuk, kowe ora oleh ngetik dhisik. (Ya sudah, kalau begitu kemauanmu. Mulai besok, kamu tidak boleh mengetik dulu.)" perintah sang Guru yang membuat Arjuna tertegun. "Kowe kudu topo pendem neng njero ati, ngresiki zikir sirrimu." (Kamu harus bertapa di dalam hati, membersihkan zikir rahasiamu.)

.

Arjuna mengangguk patuh. "Sendika dhawuh, Guru. (Saya patuh pada perintahmu, Guru.)"

.

Tiba-tiba, dari arah kegelapan hutan di belakang rumah, terdengar suara geraman harimau yang sangat keras. Namun anehnya, Arjuna tidak merasa takut sama sekali. Ia justru merasa ada kekuatan baru yang mengalir dari sarung hijau pemberian Gurunya.

.

"Ojo wedi. Kuwi dudu mungsuh, kuwi sing arep njogo kowe mulai saiki. (Jangan takut. Itu bukan musuh, itu yang akan menjagamu mulai sekarang.)" sang Guru berdiri, lalu menunjuk ke sebuah kamar kecil di pojok teras. "Mlebuo rono. Istirahat. Perjalananmu sing asli lagi wae dimulai." (Masuklah ke sana. Istirahat. Perjalananmu yang asli baru saja dimulai.)

.

Malam itu, di bawah lindungan doa sang Guru, Arjuna Wijaya mulai melepaskan semua atribut kemewahan duniawinya. Ia siap ditempa menjadi pedang yang tajam di jalan Tuhan

Arjuna melangkah masuk ke dalam kamar kecil yang ditunjukkan oleh sang Guru. Ruangan itu sangat sederhana, hanya ada sebuah amben bambu, satu bantal kapuk yang sudah mengeras, dan sebuah lampu tempel yang apinya menari-nari ditiup angin malan yang menyelinap dari celah dinding kayu.

.

Ia meletakkan tas ranselnya di pojok ruangan. Laptop butut yang biasanya menjadi teman setianya setiap malam, kini ia biarkan tertutup rapat. Perintah sang Guru sangat jelas: jangan mengetik dulu. Arjuna harus "mengetik" takdirnya sendiri di dalam batin.

.

"Gusti... Juna pasrahaken sedoyo nasib Juna... (Tuhan... Juna pasrahkan semua nasib Juna...)" bisik Arjuna lirih sembari duduk bersila di atas amben.

.

Ia mulai memejamkan mata, memfokuskan seluruh pikirannya pada detak jantung yang tak henti-hentinya menyebut nama Allah. Baru beberapa saat ia tenggelam dalam keheningan, tiba-tiba hawa di dalam kamar itu berubah menjadi sangat panas, padahal di luar sedang hujan deras dan angin gunung bertiup kencang.

.

Grrr... Grrr...

.

Suara geraman harimau yang tadi ia dengar di luar, kini terdengar sangat dekat, seolah-olah mahluk itu berada tepat di belakang punggungnya. Bau harum bunga melati yang bercampur dengan bau anyir hutan menyengat hidung Arjuna.

.

Arjuna nyaris membuka matanya karena ketakutan, namun ia teringat wejangan sang Guru: "Ojo noleh, ojo obah. Yen kowe wedi, kowe kalah karo bayanganmu dhewe. (Jangan menoleh, jangan bergerak. Kalau kamu takut, kamu kalah dengan bayanganmu sendiri.)"

.

Arjuna tetap diam. Ia terus mengencangkan zikir sirri-nya. Allah... Allah... Allah...

.

Tiba-tiba, ia merasakan sebuah lidah yang kasar dan hangat menjilat telinga kanannya. Hawa panas yang tadi menyesakkan, mendadak berubah menjadi kekuatan yang merambat dari tulang ekor hingga ke puncak kepalanya.

.

"Mpun, Le. Kuwi Kyai Loreng sing lagi kenalan karo kowe. (Sudah, Nak. Itu Kyai Loreng yang sedang berkenalan denganmu.)" Suara sang Guru terdengar dari balik dinding, sangat tenang dan berwibawa.

.

Arjuna mengatur napasnya. Begitu ia membuka mata perlahan, sosok harimau besar berwarna putih dengan loreng hitam pekat tampak sedang duduk bersimpuh di depannya. Matanya yang kuning keemasan menatap Arjuna dengan sorot mata yang patuh, bukan mengancam.

.

Harimau itu kemudian menundukkan kepalanya ke kaki Arjuna, seolah-olah mengakui Arjuna sebagai tuannya yang baru. Sesaat kemudian, sosok mahluk gagah itu perlahan memudar, berubah menjadi asap tipis yang masuk ke dalam sarung hijau pemberian sang Guru.

.

Arjuna tertegun. Ia meraba sarung yang ia kenakan. Kini, sarung itu tidak hanya terasa hangat, tapi juga memancarkan aura perlindungan yang sangat kuat.

.

"Juna... drajatmu lagi diunggahke. (Juna... derajatmu sedang dinaikkan.)" Sang Guru masuk ke dalam kamar, membawa sebuah piring berisi singkong rebus. "Sesuk pagi, kowe mudhun menyang desa. Goleko omah sing paling mlarat, sing paling dihina wong akeh. Rewangono wong kuwi. (Besok pagi, kamu turun ke desa. Carilah rumah yang paling miskin, yang paling dihina orang banyak. Bantulah orang itu.)"

.

Arjuna menerima piring itu dengan hormat. "Nggih, Guru. (Iya, Guru.)"

.

"Ojo pisan-pisan nganggo kekuatanmu nggo pamer. Yen kowe pamer, Kyai Loreng bakal ninggal kowe. (Jangan sekali-kali memakai kekuatanmu untuk pamer. Kalau kamu pamer, Kyai Loreng akan meninggalkanmu.)" pesan sang Guru sebelum kembali ke teras rumah.

.

Malam itu, Arjuna tidur dengan sangat nyenyak di atas bambu yang keras. Ia bermimpi melihat ayahnya, Pak Wijaya, dan adiknya, Guntur, sedang terduduk lemas di sebuah tanah lapang yang gersang, sementara ia berdiri di puncak gunung dengan jubah cahaya.

.

Arjuna Wijaya tidak lagi menyimpan dendam. Ia hanya ingin mengikuti skenario Tuhan yang jauh lebih indah daripada sekadar harta dan jabatan duniawi.

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!