Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 005
Bell tanda masuk berbunyi dengan nada yang menurut Ziva sangat tidak estetis—terlalu melengking untuk telinga yang sedang butuh ketenangan. Dengan langkah berat, seolah setiap inci aspal kantin adalah magnet yang menahan sepatunya, Ziva berjalan kembali menuju kelas.
Di belakangnya, Manda dan Tika masih asyik berbisik-bisik, sesekali melirik Ziva dengan tatapan seolah-olah sahabat mereka itu baru saja memenangkan lotre nasional.
"Ziv, lo sadar nggak sih? Tadi Aksa—si Manusia Kutub itu—ngasih lo minum."
"Lo tau nggak, jangankan ngasih minum, cewek yang nggak sengaja nyenggol jaket dia aja bisa kena tatapan maut selama seminggu!" Cerocos Tika sambil mencoba menyamai langkah Ziva yang diseret.
Ziva berhenti mendadak, membuat kedua dayangnya itu hampir bertabrakan. Ia menoleh, menatap mereka berdua dengan ekspresi serius yang jarang terlihat. "Nda, Tik! Dengerin gue baik-baik," Ziva menjeda, membuat suasana mendadak tegang.
"Botol air itu isinya cuma air mineral biasa. Bukan air suci dari gunung Fuji. Jadi berhenti bersikap kayak kita baru aja liat keajaiban dunia kedelapan. Oke?"
"Tapi itu Aksa, Ziv," jawab Manda bersikeras.
"Aksa itu manusia, punya dua mata, satu hidung, dan hobby bikin bising parkiran pakai motor sport-nya," sahut Ziva datar.
"Udah, daripada kalian bahas cowok yang bahkan nggak bakal minjemin catetan kalau kalian nanya, mending bantu gue."
"Bantu apa?" jawab Manda dan Tika bersamaan.
"Bantu gue buat nggak ngapa-ngapain. Berhenti nyari gara-gara sama Liana. Berhenti dandan kayak mau konser dangdut di jam sekolah, dan yang paling penting, berhenti bikin gue capek dengerin gosip."
Manda dan Tika melongo. Transformasi Ziva ini benar-benar membuat logika mereka error. Namun, aura Ziva (Zura) yang sekarang terasa lebih berwibawa meski dalam mode "mager", membuat mereka hanya bisa mengangguk pasrah.
Begitu sampai di kelas, Ziva langsung menuju "singgasananya" di pojok belakang. Ia baru saja hendak memposisikan tas sebagai bantal darurat ketika ponsel di saku roknya bergetar hebat.
...Ting.! ...
Satu pesan baru dari: Kak Abi Sableng.
[Kak Abi Sableng]: Dek, tadi ada temen gue yang adiknya sekolah di situ. Katanya lo nggak pake bedak? Lo lagi sakit ya? Apa lagi nyamar jadi rakyat jelata? Jangan lupa pesenan martabak gue. Telor 4, bebek, jangan ayam. Kalau lo lupa, gue kunci pintu rumah.
Ziva menggeram pelan. Jarinya bergerak lincah di atas layar.
[Zivanna]: "Berisik. Gue lagi hibernasi. Pesen martabak lewat ojek online aja kenapa sih? Gue capek bawa-bawa martabak, berat."
[Kak Abi Sableng]: "Nggak mau. Rasanya beda kalau bukan hasil keringat adik gue yang paling galak. Buruan belajar yang bener, jangan tidur terus. Papa nanya tadi, kenapa lo berangkat nggak minta uang jajan tambahan. Lo kesambet apa, Ziva?"
Ziva terdiam menatap pesan terakhir itu. Ada rasa sesak yang bukan miliknya muncul tiba-tiba. Ingatan Ziva yang asli menunjukkan betapa gadis itu selalu berusaha mencari perhatian Papanya lewat cara-cara yang salah termasuk menghamburkan uang atau membuat masalah agar dipanggil ke sekolah.
"Hadeh, drama keluarga lagi," gumam Ziva sambil melempar ponselnya ke dalam tas.
"Mending tidur, minimal di mimpi gue nggak ada martabak bebek atau Papa yang kaku."
Baru saja ia memejamkan mata, suasana kelas yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap. Ziva tahu tandanya, guru sudah masuk. Ia tidak peduli, selama itu bukan guru olahraga yang menyuruhnya lari lapangan, ia akan tetap di posisinya.
Namun, bukan suara guru yang terdengar, melainkan suara berat dan datar yang tadi ia dengar di kantin.
"Permisi, Bu. Saya mau mengantarkan daftar absensi kelas XII ke kantor, tadi kata Pak kepsek dititip lewat kelas ini." Itu suara Aksa.
Ziva yang kepalanya terkubur di lipatan tangan, tidak bisa menahan diri untuk tidak mengintip sedikit lewat celah lengannya. Di depan kelas, Aksa berdiri dengan santai, namun matanya yang tajam justru sedang menyapu seluruh ruangan dan berhenti tepat pada sosok gadis yang sedang pura-pura mati di pojok belakang.
Mata mereka bertemu selama satu detik. Aksa tidak tersenyum, tapi ada kilatan aneh di matanya sebelum ia berbalik dan keluar kelas.
"Duh, kenapa sih si Manusia Es itu hobby banget muncul tiba-tiba?" Batin Ziva kesal. Bikin rencana rebahan gue jadi nggak tenang aja.
Ziva kembali menutup matanya rapat-rapat, mencoba mengabaikan degup jantungnya yang sedikit lebih cepat mungkin karena lapar, atau mungkin karena martabak bebek pesanan Abi mulai membayangi pikiran.
Ziva berusaha keras menstabilkan napasnya. Sial, kenapa jantung raga ini malah bereaksi berlebihan hanya karena tatapan singkat dari si "Manusia Es" itu? Mungkin ini sisa-sisa hormon Ziva asli yang memang gampang baper kalau melihat cowok tampan, atau mungkin efek samping terlalu banyak asupan micin dari bakso tadi.
"Oke. Tenang. Tarik napas, buang, anggap Aksa itu cuma tiang listrik yang bisa jalan," gumamnya sangat pelan hingga hanya dia yang dengar.
Tak lama setelah Aksa menghilang di balik pintu, Bu Retno—guru Matematika yang terkenal dengan kacamata tebal dan selera humor yang minus—mulai mengetukkan penggaris kayu ke papan tulis. Suara tak tak tak itu terdengar seperti palu hakim yang menjatuhkan vonis hukuman mati bagi waktu tidur Ziva.
"Anak-anak, buka halaman seratus lima puluh dua. Kita bahas turunan fungsi aljabar," suara Bu Retno melengking, membelah kesunyian kelas.
Ziva mengintip dari balik lengannya. Manda dan Tika sudah mulai sibuk mengaduk-aduk tas mencari buku yang mungkin terselip di antara tumpukan makeup. Di depan, Liana tampak sangat fokus, punggungnya tegak lurus—benar-benar citra murid teladan yang sangat kontras dengan Ziva yang sudah seperti jeli meleleh di atas meja.
"Zivanna Clarissa Winata."
Panggilan itu membuat Ziva tersentak. Ia mengangkat kepalanya dengan rambut yang sedikit mencuat ke sana kemari.
"I-iya, Bu?"
Bu Retno membetulkan posisi kacamatanya, menatap Ziva dengan selidik. "Ibu dengar dari guru-guru lain, hari ini kamu tidak pakai riasan tebal."
"Ibu kira kamu sakit, tapi melihat kamu mau tidur di jam Ibu, sepertinya kamu sangat sehat. Coba kerjakan soal nomor tiga di depan."
Kelas mendadak riuh rendah dengan bisikan. Manda menatap Ziva dengan ngeri, seolah melihat sahabatnya dikirim ke kandang singa. Ziva asli biasanya akan membentak atau pura-pura pingsan jika disuruh maju ke depan.
Ziva (Zura) menghela napas panjang. "Duh, Bu Retno ganggu jadwal hibernasi saya aja," batinnya. Dengan langkah malas yang diseret, Ziva (Zura) berdiri.
Ia tidak membantah, tidak marah, hanya berjalan ke depan dengan wajah bantalnya yang justru terlihat sangat menggemaskan bagi murid laki-laki di kelas itu.
Ia mengambil spidol. Matanya menatap soal di papan tulis: f(x) \= 3x^2 - 5x + 2. "Cuma ini?" batin Zura—sang mantan pejuang tugas kampus yang sudah melahap soal jauh lebih rumit dari ini.
Dengan gerakan cepat dan tanpa ragu, ia menuliskan: [ f'(x) \= 6x - 5 ]
Setelah meletakkan spidol dengan bunyi tek yang mantap, Ziva berbalik. "Sudah, Bu. Saya boleh balik tidur?"
Bu Retno terdiam. Kelas hening seketika. Reygan yang baru saja lewat di depan kelas XI-IPA 1 untuk menuju ruang OSIS, sempat berhenti di jendela dan melihat adegan itu. Ia terpaku melihat Ziva yang begitu tenang, tanpa beban, dan pintar?
"I-iya, silakan duduk," jawab Bu Retno gagap, masih tak percaya murid paling bermasalah di sekolah ini bisa menjawab secepat itu.
Ziva kembali ke bangkunya, menelungkupkan kepalanya lagi tanpa memedulikan tatapan kagum Manda atau tatapan bingung Reygan di luar jendela. Di otaknya, hanya ada satu daftar prioritas:
* Tidur sampai bel pulang.
* Beli martabak bebek pesanan kakak sablengnya.
* Melanjutkan misi menjadi pengangguran kaya raya di dunia novel ini.
Namun, di lantai atas, di koridor kelas XII, Aksa sedang berdiri menyandar di pagar pembatas koridor. Ia baru saja melihat pemandangan di kelas bawah tadi. Sudut bibirnya terangkat tipis, sangat tipis hingga tak ada yang sadar.
"6x minus 5, ya?" bisiknya. Ternyata otak lo nggak se-mager gaya jalan lo, Zi.
Zivanna Clarissa Winata benar-benar telah mengubah permainan di SMA Pelita Bangsa tanpa ia sadari. Ratu Bully yang ditakuti kini telah mati, digantikan oleh gadis misterius yang hanya ingin martabak bebek dan waktu tidur yang tenang.
lanjut ya thor... 🤧