Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.
Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.
Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.
Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.
Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Cahaya matahari Los Angeles menyusup lancang melalui celah gorden otomatis di penthouse mewah itu. Nyx Morrigan mengerjap, merasakan denyut di pelipisnya yang sisa-sisa dari pengaruh obat bius semalam.
Hal pertama yang ia rasakan adalah tekstur kaos katun yang terlalu besar di tubuhnya, dan hal kedua yang ia sadari adalah aroma maskulin dari seprai sutra yang ia tiduri.
Ingatan itu datang seperti air bah.
Setiap sentuhan dingin air shower, rintihannya sendiri yang memalukan, hingga keberaniannya menuntun tangan pria asing itu ke area paling pribadinya. Nyx memejamkan mata rapat-rapat, ingin rasanya ia tenggelam ke dalam kasur dan tidak bangun lagi. Namun, suara langkah kaki dan denting cangkir dari arah dapur membuatnya tersentak duduk.
Knox Lambert Riccardo berdiri di sana, hanya mengenakan celana training hitam tanpa atasan. Tubuh atletisnya penuh dengan lebam keunguan—sisa pertarungan semalam—namun wajahnya tampak jauh lebih segar. Ia sedang menyesap kopi hitam saat matanya bertemu dengan mata Nyx.
Keheningan yang mencekik terjadi selama beberapa detik.
"Kau sudah bangun," ucap Knox parau. Ia meletakkan cangkirnya dan berjalan mendekat, namun berhenti sekitar dua meter dari ranjang, seolah menjaga jarak aman.
"Aku... aku ingat semuanya," suara Nyx serak. Ia menarik selimut hingga sebatas dada, meski ia tahu ia sudah mengenakan pakaian pria itu.
Knox menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. "Bagus kalau kau ingat. Karena aku tidak mau kau mengira aku adalah bajingan yang memanfaatkan situasi."
Knox mulai menjelaskan secara rinci. Ia berbicara dengan kejujuran yang hampir menyakitkan, suaranya naik satu oktav saat ia mulai merasa frustrasi dengan ingatannya sendiri. "Gila... percaya padaku, Nyx, aku benar-benar menahan diriku semalam. Aku hampir kehilangan akal sehatku. Maafkan aku atas semua yang terjadi."
Ia berjalan mondar-mandir di depan ranjang. "Yah, aku akui tubuhmu seindah itu. Aku pria normal, Nyx. Ini bukan pertama kali aku melihat tubuh polos seorang wanita—setidaknya di layar. Aku sudah menghabiskan waktuku menonton film dewasa sejak usiaku 18 tahun, tapi melihat tubuh telanjang mu secara langsung... itu benar-benar menyiksa. Rasanya seperti dibakar hidup-hidup."
Knox berhenti melangkah, menatap Nyx dengan tatapan yang campur aduk antara rasa bersalah dan kegilaan. "Dan aku minta maaf juga karena aku... aku terpaksa memasukkan satu jari saja untuk membantu meredakan rasa panas di bagian itu karena kau terus meronta kesakitan. Hanya satu, dan aku bersumpah demi nyawaku, aku melakukannya agar kau tenang. Percaya padaku."
Nyx terdiam. Ia menatap Knox yang tampak begitu jujur, bahkan terlalu jujur untuk ukuran pria yang baru ia kenal. Pria ini berusia 23 tahun, empat tahun lebih tua darinya, namun saat ini ia tampak seperti remaja yang tertangkap basah melakukan kesalahan besar.
Otak Nyx mulai bekerja cepat. Ia adalah seorang pelari. Ia tidak punya tempat tinggal tetap selain asrama pekerja yang menyesakkan milik ayahnya—tempat yang ingin ia hindari selamanya. Ia menatap sekeliling apartemen ini. Mewah, aman, dan letaknya hanya beberapa langkah dari kampus-nya.
Ini adalah kesempatan.
"Kau merasa bersalah, Knox?" tanya Nyx pelan, matanya menatap tajam.
"Tentu saja! Aku merasa seperti penjahat kelamin meskipun aku penyebab-nya dan mencoba menolong mu," jawab Knox frustrasi.
"Kalau begitu, berikan aku kompensasi atas semua yang kau lakukan padaku semalam. Atas sentuhanmu, atas obat biusmu, dan atas rasa malu yang harus ku tanggung sekarang."
Knox terdiam sejenak, lalu meraih ponselnya di sudut meja nakas. "Baik, Nyx. Katakan saja berapa. Aku akan mentransfernya sekarang juga. Sebutkan nominalnya."
Nyx menggeleng pelan. "Aku tidak menginginkan uangmu, Knox. Simpan saja dolar mu."
Dahi Knox berkerut. "Lalu apa? Kau ingin aku melaporkan diri ke polisi?"
"Beri aku tumpangan. Izinkan aku tinggal di sini," ucap Nyx tegas. "Aku tidak punya tempat tinggal yang layak di kota ini. Sebagai gantinya, aku akan menjadi pelayan di rumahmu. Aku pandai membersihkan rumah, aku bisa memasak, aku bisa melakukan apa saja agar apartemen ini tetap rapi."
Knox menatap Nyx seolah gadis itu baru saja menumbuhkan kepala kedua. Ia melihat kesungguhan di mata abu-abu gadis itu. Ada kemandirian yang keras, namun juga ada keputusasaan yang disembunyikan dengan rapi.
"Tinggal sepuasnya," ucap Knox tiba-tiba, suaranya melunak. "Kau tidak perlu menjadi pelayan. Anggap saja ini rumahmu juga. Kau mengerti? Jadi, anggap saja kita impas."
Nyx terpaku. Ia tidak menyangka akan semudah ini. "Ya... terimakasih, Knox."
Knox mengangguk, lalu pandangannya jatuh ke lengan Nyx yang tersingkap dari balik kaos kebesarannya. Ada sebuah tato di sana, garis-garis halus yang membentuk siluet sayap.
"Tato itu cantik," tunjuk Knox. "Sayap burung yang indah. Simbol kebebasan?"
Nyx menatap tatonya sendiri. "Mungkin. Aku membuatnya saat usiaku 18 tahun. Sesuatu yang kulakukan tanpa izin siapa pun."
"Lalu berapa usiamu sekarang?" Knox bertanya lagi, matanya menyipit mencoba menebak. "Kau tampak seperti pelajar yang tersesat di bar tinju."
"Aku memang pelajar," jawab Nyx dengan nada sedikit tersinggung. "Dan sayang sekali bagi egomu, aku adalah mahasiswi tahun pertama."
Knox terkekeh. Ia melangkah mendekat tanpa canggung, menumpukan tangannya di pinggiran ranjang dan mencondongkan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Nyx. Ia menatap mata gadis itu dengan intensitas yang berbeda dari semalam—kali ini lebih sadar, lebih tajam.
"Oh ya? Mahasiswi? Universitas mana yang membiarkan mahasiswinya berkeliling menghajar orang di tengah malam?"
Nyx tidak mundur. "Di sekitar sini, Tuan Knox. Mungkin kau pernah mendengarnya."
Knox tertawa renyah, sebuah suara yang terdengar hangat dan berbahaya di saat yang sama. Ia tiba-tiba mengulurkan tangannya dan mengelus rambut pendek Nyx dengan gemas, mengacak-acak nya hingga berantakan.
"Hey! Kau merusak rambutku!" protes Nyx sambil mencoba menepis tangan pria itu.
Knox justru terbahak dan mulai berlari menuju arah kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum berangkat kuliah. Namun, sebelum ia menutup pintu, ia menoleh ke arah Nyx dengan seringai nakal yang membuat wajahnya tampak sepuluh kali lebih tampan.
"Aku lebih suka rambut bagian bawahmu... itu jauh lebih lembut!" teriak Knox sambil tertawa keras.
Nyx membelalak, wajahnya memerah padam hingga ke telinga. Ia menyambar bantal kecil di sampingnya dan melemparkannya dengan sekuat tenaga ke arah pintu kamar mandi yang nyaris tertutup.
"KAU MESUM, KNOX!!!" teriak Nyx kesal, namun ada senyum tipis yang tak sengaja terukir di bibirnya.
Di bawah atap mewah itu, di tengah kota Los Angeles yang asing, Nyx Morrigan baru saja menemukan sekutu yang paling tidak terduga. Dan ia tidak tahu bahwa Knox Lambert Riccardo sebenarnya adalah senior di kampus yang sama, pria yang akan menjadi bayang-bayang sekaligus pelindungnya di koridor-koridor universitas nantinya.
gasss baca sampai habis.... 🤭😁😂