NovelToon NovelToon
Surga Yang Terlupakan

Surga Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh / Pelakor
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"

Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.

Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.

Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Pelukan di Ambang Pintu

Surabaya yang biasanya garang dengan teriknya, pagi itu seolah memberikan sedikit ruang bagi kesejukan. Langit biru bersih membentang di atas kawasan Perak, dan di depan ruko kolonial yang kini telah bersalin rupa menjadi "Ruang Temu", kerumunan orang mulai memadat. Karpet merah sederhana yang terbuat dari anyaman serat alam—karya pengrajin binaan koperasi—terbentang dari pintu masuk hingga ke podium kecil yang dihiasi bunga sedap malam dan melati segar.

Hana berdiri di balik kaca jendela lantai dua, memperhatikan kesibukan di bawah. Ia mengenakan kebaya kutubaru modern berwarna putih tulang dengan kain batik pesisir bermotif parang kecil. Rambutnya disanggul rapi, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang kini tampak lebih berisi dan bercahaya. Di sampingnya, Raka tampak gagah dengan kemeja batik tulis yang warnanya senada dengan kebaya Hana.

"Gugup?" tanya Raka, tangannya melingkar hangat di pinggang Hana.

Hana menghela napas panjang, lalu tersenyum. "Lebih ke arah haru, Ka. Aku teringat saat pertama kali membuka ruko di Jakarta Selatan. Saat itu aku hanya ingin punya tempat untuk bersembunyi. Sekarang, aku membangun tempat untuk orang lain berhenti bersembunyi."

"Kamu sudah melakukannya, Sayang. Lihat mereka," Raka menunjuk ke arah kerumunan.

Di bawah, tampak Ibu Menteri Koperasi dan UKM baru saja turun dari mobil kepresidenan, disambut oleh Laras dan tim protokol. Namun, mata Hana justru tertuju pada sosok wanita yang berdiri di dekat tiang bendera. Dewi. Hari ini Dewi tampak sangat berbeda. Ia mengenakan seragam resmi staf "Ruang Temu" Surabaya—blazer biru dongker dengan bros logo koperasi di dada kirinya. Wajahnya tidak lagi menunduk. Ia berdiri tegak, menyambut tamu dengan senyum yang tulus.

Acara peresmian berlangsung dengan khidmat namun jauh dari kesan kaku. Saat Hana naik ke podium untuk memberikan sambutan, suasana seketika hening. Ia tidak membaca teks. Ia bicara dari tempat terdalam di hatinya.

"Sepuluh tahun saya hidup di dalam rumah yang mewah, namun jiwa saya merasa gelandangan," suara Hana menggema melalui pengeras suara, tenang namun bertenaga. "Saya belajar bahwa kemandirian seorang wanita bukan dimulai dari seberapa tebal dompetnya, melainkan dari seberapa berani ia berkata 'tidak' pada penindasan dan 'ya' pada harga dirinya sendiri. 'Ruang Temu' Surabaya ini adalah milik Anda semua. Tempat bagi siapa saja yang pernah dianggap hancur, untuk membuktikan bahwa puing-puing pun bisa dirangkai kembali menjadi istana."

Tepuk tangan bergemuruh. Ibu Menteri yang duduk di barisan depan tampak menyeka sudut matanya dengan sapu tangan. Dalam pidatonya kemudian, beliau secara resmi menyatakan bahwa sistem manajemen koperasi "Ruang Temu" akan diadopsi sebagai modul nasional dalam program pemberdayaan ekonomi perempuan di seluruh provinsi.

Namun, momen puncak hari itu bukanlah guntingan pita atau penandatanganan prasasti.

Sesaat setelah acara formal selesai, sebuah mobil van perak berhenti di ujung jalan. Seorang pria berseragam petugas dinas sosial turun, diikuti oleh dua orang anak kecil—seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun dan seorang anak perempuan yang lebih kecil.

Dewi yang sedang mengobrol dengan tamu undangan, tiba-tiba mematung. Cangkir kopi di tangannya gemetar.

"Ibu!" teriak anak laki-laki itu.

Dewi menjatuhkan cangkirnya begitu saja, tidak peduli dengan kopi yang membasahi sepatunya. Ia berlari sekuat tenaga menembus kerumunan. Di ambang pintu "Ruang Temu", Dewi berlutut dan merengkuh kedua anaknya dalam pelukan yang seolah tidak akan pernah ia lepaskan lagi.

Hana yang melihat dari kejauhan, merasa dadanya sesak oleh kebahagiaan. Maya, yang baru saja selesai berurusan dengan administrasi pengadilan, menghampiri Hana dan membisikkan sesuatu.

"Keputusan sela hakim keluar pagi ini, Na. Hak asuh sementara jatuh ke tangan Dewi karena Haris terbukti melakukan intimidasi dan memiliki catatan perilaku yang tidak patut di depan umum. Polisi juga mulai menyelidiki dugaan penyalahgunaan wewenangnya di beberapa proyek pemerintah. Haris sedang sibuk menyelamatkan dirinya sendiri sekarang, dia tidak akan berani menyentuh anak-anak ini untuk sementara waktu."

Hana memejamkan mata, membisikkan doa syukur yang tak putus-putus. Kemenangan Dewi adalah kemenangannya juga. Kemenangan bagi setiap wanita yang pernah diancam akan dipisahkan dari darah dagingnya sendiri.

Sore harinya, saat tamu-tamu besar sudah pulang dan matahari Surabaya mulai meredup, suasana di dalam kafe terasa sangat hangat. Anak-anak Dewi sedang duduk di pojok baca, asyik dengan buku-buku bergambar, sementara Dewi duduk di samping mereka, sesekali menyuapi mereka kue kering.

Raka menghampiri Hana yang sedang duduk di bar, menatap pemandangan itu. "Satu misi selesai, Kapten?"

Hana bersandar di bahu Raka. "Satu misi kemanusiaan selesai, tapi misi bisnis baru saja dimulai, Ka. Kita punya janji untuk Makassar bulan depan."

"Makassar akan menjadi tantangan yang berbeda," ujar Raka. "Budayanya lebih keras, tapi aku yakin sistemmu bisa masuk ke sana."

"Aku tidak takut lagi, Ka. Melihat Dewi memeluk anak-anaknya tadi... itu memberiku bahan bakar untuk seratus tahun ke depan. Aku ingin setiap wanita yang datang ke sini pulang dengan perasaan bahwa mereka berharga."

Tiba-tiba, Laras menghampiri mereka membawa sebuah tablet. "Mbak Hana, ada kabar dari Jakarta Timur. Renovasi ruko pemberian Tuan Aris sudah dimulai. Tim kontraktor bertanya tentang desain interior untuk 'Pondok Literasi Mama Sarah'. Mereka butuh arahan Mbak soal pembagian ruang untuk kelas membaca."

Hana tersenyum. "Katakan pada mereka, buatlah ruangan yang paling terang. Gunakan banyak jendela besar. Aku ingin anak-anak di sana merasa bahwa dunia itu luas dan penuh cahaya, tidak sesempit pikiran orang-orang yang ingin mengurung mereka."

Malam harinya, sebelum mereka kembali ke hotel untuk beristirahat, Hana menyempatkan diri menulis di buku catatannya yang selalu ia bawa.

"Bab 28 ditutup dengan sebuah pelukan. Pelukan yang menyatukan kembali potongan-potongan jiwa yang sempat tercerai-berai. Aku belajar hari ini bahwa keadilan mungkin lambat, tapi ia tidak pernah tidur. Ia bekerja lewat tangan-tangan yang tulus, lewat suara-suara yang berani, dan lewat ruang-ruang pertemuan seperti ini. Surabaya telah memberikan hatinya padaku, dan aku akan membawanya ke mana pun aku pergi."

Ia menatap Raka yang sedang membantu staf membereskan kursi. Raka selalu ada di sana, di bayang-bayang, menjadi pilar yang tak tergoyahkan. Tanpa Raka, Hana mungkin akan tetap sukses, tapi ia tidak akan pernah merasa selengkap ini.

"Ka!" panggil Hana.

Raka menoleh. "Ya?"

"Aku sayang kamu."

1
Weni suci Fajar wati
sungguh karya yang luar biasa,,👍
Weni suci Fajar wati
Kak aku membaca dari awal sampai di titik ini,,, banyak sekali hal yang aku pelajari dari cerita kakak,,, makasih untuk cerita yang luar biasa ini,,, semangat Kak,,,aku tunggu cerita selanjutnya,,,
PNC
bener bener Satra
PNC
kereeeeeennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!