NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala

Kutukan Jiwa Niskala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:696
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"

Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.

Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.

Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Kecamuk di Cheon Gi Won

Seol-Ah menyeringai tanpa dosa, otaknya berputar cepat mencari alasan. "Maaf, Tuan Muda. Itu karena aku... aku..."

Ia memejamkan mata rapat-rapat. "Aku jatuh cinta padamu!"

Seo Jun mematung. Detak jantungnya mendadak berpacu tidak keruan. Memanfaatkan keterpautan itu, Seol-Ah justru merangsek maju dan memeluk Seo Jun dengan erat.

Namun, tangannya tidak diam. Matanya menangkap sesuatu yang familier di saku Seo Jun: peluit burung kesayangannya yang hilang.

Kenapa benda ini ada padanya? pikir Seol-Ah.

Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar peluit itu dan menyembunyikannya di balik lengan baju.

Seo Jun yang merasa suasana menjadi terlalu canggung segera melepaskan pelukan itu. "A-aku harus pergi," gumamnya gugup, lalu bergegas pergi dengan wajah yang memanas.

****

Pertemuan di Jembatan Kayu

Setelah Seo Jun pergi dengan terburu-buru, Seol-Ah melangkah menuju jembatan kayu yang membentang di atas kolam taman Cheon Gi Won. Suasana sangat sunyi, hanya ada suara gemericik air. Seol-Ah menimang peluit burung di tangannya, lalu tanpa sadar meniupnya pelan.

Fyuuuu...

Suara peluit itu melengking halus, meniru kicauan burung malam yang merdu namun terdengar kesepian.

Di sisi lain taman, Seo Jun yang sedang panik meraba sakunya baru saja menyadari benda itu hilang. Tepat saat ia hendak berbalik untuk mencari, suara peluit itu membelah keheningan malam. Ia tertegun. Ia sangat mengenali bunyi itu.

Seo Jun segera berlari ke arah sumber suara dan menemukan Seol-Ah sedang berdiri di tengah jembatan, masih menempelkan peluit itu di bibirnya.

"Kembalikan," ucap Seo Jun, suaranya terdengar lebih mendesak dari biasanya. "Seol-Ah, kembalikan peluit itu padaku."

Seol-Ah menurunkan tangannya, menatap Seo Jun dengan senyum kemenangan. "Aku tidak menyangka Tuan Muda sehebat Anda akan menyimpan benda kecil seperti ini. Apa ini sangat berharga?"

Seo Jun tidak menjawab, namun matanya yang tidak tenang sudah cukup menjadi jawaban.

"Aku akan mengembalikannya," lanjut Seol-Ah, melangkah selangkah lebih dekat. "Asalkan kau memberitahuku teknik pernapasanmu. Bagaimana?"

Seo Jun menatap peluit di genggaman Seol-Ah, lalu menatap mata gadis itu. Ada pergulatan batin sesaat sebelum akhirnya ia menyerah.

Tanpa diduga, Seo Jun mendekat, meraih pergelangan tangan Seol-Ah yang masih memegang peluit, lalu menuntun tangan itu hingga telapak tangan Seol-Ah menempel tepat di atas perutnya.

"Rasakan," bisik Seo Jun pelan, membiarkan Seol-Ah merasakan getaran napasnya yang tidak teratur. "Ini terakhir kalinya aku melanggar aturan demi benda ini."

Seol-Ah terpaku. Sentuhan itu tidak sedingin sebelumnya. Ia bisa merasakan betapa berartinya peluit itu bagi Seo Jun, hingga pria itu rela menyerahkan rahasia keluarganya hanya demi mendapatkannya kembali.

****

Malam semakin larut saat Han Seol akhirnya berhasil membaringkan Master Baek di ranjang salah satu kamar tamu kediaman Han. Tubuh tua itu terasa ringan, namun energi sihir yang meluap darinya terasa begitu nyata di punggung Han Seol.

Master Baek bergumam, napasnya bau arak. "Seol... jangan lupa... arak itu. Bawakan ke rumahku..." Kepalanya terkulai lemas, tertidur pulas dalam sekejap.

Han Seol tersenyum puas sambil merapikan selimut pria tua itu. "Tentu, Master. Besok akan kukirim satu kereta penuh jika perlu. Tapi untuk sekarang, tidurlah. Aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan."

Tanpa membuang waktu, Han Seol bergegas menuju Cheon Gi Won. Ia ingin segera berbagi kemenangan ini dengan Seol-Ah.

Namun, langkahnya terhenti di dekat jembatan kayu. Dari balik bayangan pohon, matanya memicing panas.

Di sana, di bawah sinar rembulan, ia melihat Seol-Ah—tangannya masih menempel di perut Seo Jun, sementara pria itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Han Seol mengepalkan tangan, menahan diri untuk tidak langsung melabrak. Ia menunggu hingga Seo Jun beranjak pergi, barulah ia muncul dari kegelapan dengan langkah yang dihentak-hentakkan.

"Kenapa kau lama sekali?" Han Seol berdiri di depan Seol-Ah, dadanya naik turun menahan kesal. "Lupakan saja. Aku sudah tahu teknik pernapasan Master Baek tanpa bantuanmu."

Seol-Ah berdecih, tatapannya masih terpaku pada arah kepergian Seo Jun. "Kau pikir kau saja yang hebat? Aku pun sudah mendapatkannya, langsung dari sumbernya."

"Bagus kalau begitu," sahut Han Seol dingin. "Sekarang, berhentilah mendekatinya. Jangan pernah temui dia lagi."

Seol-Ah tertegun. Kata-kata Han Seol menariknya kembali ke kenyataan, namun memorinya justru terbang jauh ke masa remaja—saat ia masih menjadi Nara dan menghabiskan waktu rahasia bersama Seo Jun.

"Seol..." gumam Seol-Ah lirih, suaranya nyaris hilang ditelan angin malam. "Sepertinya... aku benar-benar menyukainya."

Han Seol tertawa hambar, mencoba menepis rasa sesak di dadanya. "Sudahlah, Seol-Ah. Aktingmu terlalu berlebihan. Aku memang menyuruhmu berpura-pura menyukainya hanya agar kau bisa mencuri teknik itu. Sekarang misi kita selesai."

Han Seol menarik pergelangan tangan Seol-Ah, memaksanya berbalik. "Cukup. Ayo pulang."

****

Hasutan di Myeong-gyeong-gak

Pagi itu, udara di Padepokan Myeong-gyeong-gak terasa dingin, namun arena latihan tampak panas oleh dentingan pedang. Jin Wu berdiri tegak di tepi arena, matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik pria tampan yang sedang mengayunkan pedang dengan gagah—Putra Mahkota Negeri Niskala—Go Si-Woo.

Dengan satu putaran cepat, Putra Mahkota berhasil menjatuhkan tiga prajurit Jin Wu sekaligus. Ia menyarungkan pedangnya, napasnya sedikit memburu namun wajahnya tetap terlihat angkuh dan berwibawa.

"Latihan yang luar biasa, Yang Mulia," puji Jin Wu dengan senyum tipis yang sulit diartikan.

Ia kemudian mengajak Putra Mahkota beristirahat di paviliun pribadinya. Di sana, sebuah meja kayu panjang telah tersaji dengan teh hangat. Mereka duduk berseberangan, dikelilingi oleh kesunyian yang sengaja diciptakan Jin Wu untuk melancarkan siasatnya.

"Yang Mulia," Jin Wu memulai pembicaraan setelah menyesap tehnya. "Apakah Anda tidak merasa... para penerus keluarga penyihir saat ini mulai bertingkah terlalu berani?"

Go Si-Woo mengangkat alisnya. "Maksudmu Han Seol, Jin Chae-Rin, Do Hyun, dan Baek Seo Jun?"

"Tepat sekali," Jin Wu mengangguk pelan, suaranya merendah seolah berbagi rahasia besar. "Generasi keempat ini tumbuh dengan kekuatan yang berbahaya, namun tanpa rasa hormat pada takhta. Terutama Han Seol. Saya mendengar ia kini menguasai Pedang Nara—senjata legendaris yang seharusnya menjadi simbol kekuatan negeri ini, bukan milik pribadi seorang pemuda dari keluarga Han."

Jin Wu menatap mata Putra Mahkota dengan dalam, mencoba mencari celah ambisi di sana. "Pedang itu adalah kunci kekuatan yang tak tertandingi. Jika pedang itu tetap di tangan Han Seol, bukankah itu berarti kekuatannya suatu saat nanti bisa melampaui kekuasaan Yang Mulia sendiri?"

Putra Mahkota terdiam, jemarinya mengetuk-ngetuk meja kayu dengan ritme yang tidak tenang. Benih keraguan mulai tumbuh di hatinya.

"Ambillah apa yang seharusnya menjadi milik kerajaan, Yang Mulia," bisik Jin Wu penuh racun. "Rebut kembali pedang itu sebelum Han Seol menyadari cara membangkitkan seluruh kekuatannya."

1
Soobin Chan
mampir juga di cerita baru aku kak. 'The Emerald and Her Four Mates'
Protocetus
Beludru itu apa thor?
Soobin Chan: beludru itu sejenis bahan kain halus dan lembut gitu. jadi ibaratnya suaranya itu kaya beludru, lembut dan halus.🤭
total 1 replies
Protocetus
Ini bacanya Cheongi apa Cheon Gi min?
Soobin Chan: Cheon-gi 🤣
total 1 replies
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Soobin Chan: oke kak😄
total 1 replies
Dao Biru
Latar Korea ya
Soobin Chan: iya kak😄
total 1 replies
T28J
wah wah wah
Soobin Chan: 🤣terima kasih udah mau komen
total 1 replies
T28J
woww.. secantik apakah dia /Slight/
Soobin Chan: bayangin ajah wajah song he kyo. begitulah kira kira.😄
total 1 replies
T28J
mantap kak 👍
Soobin Chan: terima kasih🤭
total 1 replies
Soobin Chan
komen dong guys. biar aku semangat nulusnya😍🤭
Soobin Chan: tetap semangat. mudah-mudahan banyak yang suka sama ceritanya💪
total 1 replies
Soobin Chan
ceritanya bagus guys, ayo merapat! di jamin kalian bakalan suka/Drool/
Soobin Chan: ramein dong guys...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!