Ketika kepercayaan sudah ternodai, akankah hati masih bisa bertahan?
Sebuah perjalanan cinta dan pernikahan antara Maira dan Agam yang diwarnai kehadiran orang ketiga yang sama sekali tak diharapkan oleh keduanya.
Diantara Maira dan Agam maupun Sita yang merupakan orang ketiga disini, tidak ada yang menghendaki hubungan ini sama sekali.
Lalu bagaimanakah akhirnya hubungan ini bisa terjadi?
Bagaimana Agam berjuang meyakinkan Maira dan merebut kembali hatinya yang terluka? Namun selain itu, mampukah Agam menjaga hatinya setelah menikahi Sita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sujie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Bersama
"Ibu mau ngomong sama kamu, Maira. Ayo ikut Ibu sebentar!" Bu Siti mengajak dan menggandeng tangan menantunya lalu menuntunnya memasuki sebuah kamar. Hatinya terasa sesak mengingat nasib menantunya.
"Sini, Nak! Duduklah!" Ia menepuk ruang kosong disebelahnya, meminta Maira untuk duduk bersebelahan dengannya disana.
Tanpa penolakan sedikitpun, Maira mengikuti apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya. Ia duduk tepat disamping ibunya Agam.
Sambil mengusap punggung Maira dengan lembut, Bu Siti berkata. "Maira, Ibu tau kamu adalah wanita yang tangguh, kuat dan juga sangat murah hati. Tapi, Nak ... cobalah pikirkan kembali apa yang menjadi keputusanmu ini! Apa kamu yakin?" tanya ibu mertua Maira.
Bu Siti lalu meraih dagu menantunya dan menatap kedua mata Maira yang terlihat sedang memendam luka.
"Berumah tangga berdua dengan suamimu itu saja bisa menimbulkan banyak konflik, Nak. Apalagi jika ada pihak yang lainnya? Pikirkan baik-baik tentang hal ini! Sesekali cobalah untuk tidak mengutamakan orang lain, Maira! Kamu juga butuh bahagia, Nak," lanjut Bu Siti.
"Lalu Maira harus bagaimana, Bu? Situasinya seperti ini, Sita juga nggak tau apa-apa disini. Apalagi anak yang ada di dalam kandungannya." Maira menatap sayu. Kepalanya sudah terasa berat sekali saat ini, memikirkan solusi untuk masalah yang sedang menderanya sekarang ini.
Bu Siti menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.
"Ibu hanya takut suatu saat seiring berjalannya waktu, Agam akan jatuh juga ke dalam pelukan Sita, Nak. Siapa yang akan menjamin Agam tidak akan meliriknya, nanti? Apa kamu sanggup jika hal itu terjadi? Memiliki madu itu sangat tidak mudah, Maira. Selain rezeki yang terbagi, perhatian suamimu juga akan terbagi, Nak."
Maira lalu menunduk, hatinya begitu bimbang mendengar ucapan ibu mertuanya. Ia tak lagi berkata-kata, hanya tetesan air bening dari matanya yang mampu menggambarkan perasaannya.
Bu Siti lalu merangkul dan menepuk bahunya. "Maafin Ibu, Maira. Ibu tau kamu pasti bingung sekarang. Ibu juga tau ini sangat sulit untukmu. Mengambil keputusan yang sangat beresiko untuk kelangsungan pernikahanmu. Oleh karena itulah Ibu ingatkan kamu sekali lagi. Agar tidak ada penyesalan di suatu hari nanti. Hati manusia siapa yang bisa menjamin?"
"Maafkan anak Ibu juga, ya! Agam sudah membuat masalah yang rumit seperti ini," sambungnya.
Maira tak menjawab, ia hanya mengangguk dan berusaha mengangkat kepalanya untuk menatap ibu mertuanya seraya mengambil udara yang banyak untuk menyejukkan paru-parunya.
"Ibu doakan saja agar semua berjalan baik-baik saja. Doakan Maira juga, supaya Maira bisa menghadapi semua ini dengan tegar dan ikhlas. Maira hanya tidak ingin ada satu diantara kita semua yang dirugikan atas hal ini, terutama anak yang ada di dalam kandungan Sita. Terlepas dari status Maira yang hanya seorang wanita dan juga seorang istri dengan segala perasaan yang ada di hati Maira, Maira juga adalah seorang hamba yang tidak boleh egois memikirkan diri sendiri."
Bu Siti mengangguk. "Kamu memang wanita yang mulia, Maira. Ibu sangat beruntung menantu sepertimu. Ibu doakan yang terbaik untuk kamu, Nak. Semoga pengorbanan kamu akan berbuah manis suatu saat nanti. Dan ... satu lagi pesan Ibu untuk kamu ... suatu saat jika kamu sudah tidak sanggup menjalaninya, lebih baik kamu lepaskan saja, Nak! Kamu adalah wanita yang baik, kamu pantas mendapat kebahagiaan."
Maira lalu memeluk ibu mertuanya, sementara air matanya masih belum bosan mengalir dari kelopak mata Maira yang sudah sembab. Ia masih bersyukur memiliki ibu mertua yang bisa memahami dan mengerti dirinya.
"Terimakasih atas doanya, Bu," ujarnya.
"Lalu bagaimana dengan orang tua kamu, Maira? Apa mereka sudah tau hal ini?" tanya bu Siti kemudian setelah meleraikan pelukan menantunya.
Maira menggeleng. "Ibu sama bapak nggak tau, Maira nggak kasih tau mereka. Dan Maira juga mohon sama ibu sama bapak, tolong sembunyikan hal ini dari mereka! Maira takut jika ibu mendengar hal ini, kondisi ibu akan menurun drastis," pinta Maira. Ia lalu menunduk, mengingat ibunya yang sedang menderita sakit jantung sejak setahun yang lalu.
Bu Siti mengangguk tanda mengerti, ia lalu meraih tangan menantunya dan menepuk punggung tangannya.
"Baiklah, Ibu akan rahasiakan hal ini. Ya sudah, ayo kita kembali ke depan!"
Setelah itu mereka berdua pun kembali ke ruang tamu dan membahas tentang rencana pernikahan kedua Agam. Pernikahan yang sama sekali tak mengundang senyum bahagia bagi siapapun, termasuk kedua calon mempelainya.
Hari telah diputuskan setelah melalui pembicaraan yang panjang. Tinggal memberi kabar pada orang tua Sita terkait hal ini.
Sore harinya mereka pulang kembali ke kediaman Maira dan Agam. Tak ada obrolan yang mewarnai perjalanan mereka sore itu. Agam hanya fokus mengemudi, sementara Maira masih terngiang akan ucapan ibu mertuanya. Dan disisi yang lain, Sita juga nampak menatap kosong pada jendela mobil yang sedang melaju itu, memikirkan bagaimana ia akan mengatakan pada bapaknya nanti.
Malam itu setelah makan malam, Maira mengajak Agam dan calon madunya untuk membahas kesepakatan serta permintaan yang diajukan oleh Agam.
"Sita ... sebelumnya Mbak ingin minta maaf sama kamu karena harus menyampaikan hal ini. Terkait pernikahan kamu dengan mas Agam, Mas Agam hanya sanggup menikahi kamu secara siri," ujar Maira.
"Sita ngerti, Mbak," jawabnya seraya menunduk.
"Sebenarnya jika pak Agam tidak ingin menikahi saya pun tidak apa-apa, Mbak. Karena ini bukan sepenuhnya salah pak Agam. Mungkin justru saya yang bersalah karena tidak berhasil melawan dan meloloskan diri malam itu. Tentang anak ini, saya bisa merawat anak ini sendiri, Sita hanya minta agar Sita diijinkan tinggal disini dan tetap bekerja disini sampai anak Sita lahir agar Sita punya tabungan," lanjutnya.
"Lalu bagaimana dengan pandangan orang-orang, Sita? Ya sudah, biar mas Agam yang menjelaskan lagi. Silahkan, Mas!" Maira memberi waktu untuk suaminya.
"Sita, saya juga minta maaf atas perbuatan saya ke kamu yang telah membuat kerugian dalam diri kamu. Untuk itu sebagai seorang lelaki yang telah berbuat hal itu, saya akan bertanggung jawab untuk anak yang ada dalam kandungan kamu sekarang. Dengan kata lain saya akan menikahi kamu tapi saya hanya bisa menikahi secara siri. Dan setelah anak itu sudah lahir, sekali lagi saya minta maaf, pernikahan siri kita juga berakhir. Masalah anak kamu dan juga segala biayanya akan tetap saya tanggung meskipun pernikahan itu sudah berakhir. Jadi kamu tidak perlu khawatirkan masalah biaya," terang Agam.
"Terserah Pak Agam dan Mbak Maira, Sita ikut saja," jawabnya. Sita tak berani menuntut apapun meski hatinya juga merasa sakit sekali. Terlebih lagi mengingat nasib anak yang dikandungnya kelak.
gw intip koq gk ad🙃