Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Hari pertemuan kedua dengan Haesung Group akhirnya tiba.
Langit Seoul pagi itu cerah, menyinari gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi, namun suasana di dalam lantai eksekutif Aegis Corp terasa begitu tegang dan penuh antisipasi.
Ini adalah momen penentu—apakah kerja sama ini akan berlanjut dengan dasar kepercayaan yang baru, ataukah akan berakhir dengan ketidakpahaman yang lebih dalam.
Kim Ae Ra berdiri di depan cermin di ruang ganti kecil kantor, memeriksa penampilannya untuk terakhir kalinya.
Ia mengenakan setelan blazer berwarna biru tua yang rapi, membuatnya terlihat profesional namun tetap anggun. Di dalam tasnya, ia membawa berkas-berkas penting yang sudah ia persiapkan dengan matang, termasuk catatan-catatan hasil diskusinya dengan tim hukum dan Jae Hyuk.
Namun, yang lebih penting dari semua dokumen itu adalah ketenangan hati yang baru ia temukan setelah pertemuannya dengan Seo Jun di toserba beberapa hari lalu.
"Ae Ra, kau sudah siap?" suara Hyun Jae Hyuk terdengar dari pintu ruangan.
Ae Ra menoleh dan melihat Jae Hyuk berdiri di sana, mengenakan setelan jas hitam yang sempurna, dengan tatapan yang tegas namun juga hangat saat menatapnya.
"Sudah, Tuan. Semuanya sudah siap," jawab Ae Ra sambil tersenyum yakin.
Jae Hyuk berjalan mendekat, lalu berhenti di hadapan Ae Ra.
Ia menatap gadis itu lekat-lekat, seolah ingin memastikan bahwa ia benar-benar siap menghadapi situasi yang mungkin akan menegangkan nanti.
"Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya Jae Hyuk pelan.
"Apakah kau merasa cukup siap untuk bertemu dengannya lagi?"
Ae Ra mengangguk pelan.
"Iya, Tuan. Saya merasa lebih siap dari sebelumnya. Setelah bicara dengan Seo Jun… eh, maksud saya Tuan Lee, di toserba itu, saya merasa lebih tenang. Saya tahu apa yang harus saya harapkan, dan saya tahu bahwa dia juga berniat baik."
Jae Hyuk tersenyum tipis, meskipun ada kilatan kecil cemburu yang masih samar di matanya, namun ia dengan cepat menekannya.
"Baguslah jika begitu. Aku percaya padamu, Ae Ra. Dan ingat, apapun yang terjadi nanti di meja perundingan, aku ada di sana bersamamu. Kita hadapi semuanya bersama-sama."
Ia mengulurkan tangannya, dan Ae Ra dengan senang hati menerimanya. Genggaman tangan itu memberikan kekuatan yang luar biasa bagi Ae Ra.
"Terima kasih, Tuan. Ayo kita berangkat," kata Ae Ra tegas.
Mereka pun berjalan menuju lift bersama-sama, menuju lobi tempat mobil sudah menunggu untuk membawa mereka ke lokasi pertemuan—sebuah ruang konferensi di hotel bintang lima yang sama dengan sebelumnya.
Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak bicara, namun keheningan di antara mereka terasa nyaman dan penuh dengan dukungan yang tak terucapkan.
Sesampainya di hotel, suasana di lantai VIP sudah terasa sibuk namun teratur. Tim dari Aegis Corp sudah berkumpul, melakukan persiapan terakhir.
Dan tidak lama setelah kedatangan Ae Ra dan Jae Hyuk, rombongan dari Haesung Group pun tiba.
Pintu ruang pertemuan terbuka, dan masuklah Lee Seo Jun diikuti oleh beberapa eksekutif dan pengacaranya.
Hari ini, Seo Jun tampil dengan setelan jas berwarna abu-abu muda yang elegan, penampilan yang sempurna untuk seorang pewaris perusahaan besar.
Namun, saat matanya bertemu dengan tatapan Ae Ra, ada senyum kecil dan anggukan pelan yang ia berikan—sinyal diam-diam bahwa pembicaraan mereka di toserba itu nyata dan memiliki arti.
Jae Hyuk yang melihat interaksi itu hanya diam tenang, namun ia melangkah maju dengan sikap profesional.
"Selamat pagi, Tuan Lee," sapa Jae Hyuk, mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Selamat pagi, Tuan Hyun," balas Seo Jun, menerima jabatan tangan itu dengan kuat namun sopan.
"Terima kasih telah menunggu. Saya harap hari ini kita bisa mencapai kesepakatan yang baik dan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak."
"Saya juga berharap demikian, Tuan Lee. Mari kita duduk," ajak Jae Hyuk.
Pertemuan pun dimulai. Suasana di awal terasa cukup formal dan kaku, namun berbeda dengan pertemuan pertama kali ini, ada nuansa yang berbeda. Seo Jun langsung memulai dengan membuka dokumen yang ia bawa.
"Sebelum kita masuk ke pembahasan detail, saya ingin menyampaikan sesuatu terlebih dahulu," kata Seo Jun dengan suara yang tegas namun sopan, menatap seluruh anggota tim di ruangan itu.
"Beberapa hari yang lalu, setelah pertemuan pertama kita, tim saya menemukan beberapa poin dalam draf perjanjian awal yang mungkin menimbulkan kesalahpahaman atau kerugian bagi pihak Aegis Corp. Saya sangat menyesalkan hal itu. Itu bukanlah niat saya maupun perusahaan kami untuk merugikan mitra kerja. Oleh karena itu, kami telah merevisi seluruh dokumen tersebut, menghapus klausul-klausul yang bermasalah, dan menyusun draf baru yang jauh lebih adil dan transparan."
Ia kemudian mengisyaratkan pada asistennya untuk membagikan berkas baru itu kepada seluruh hadirin, termasuk kepada Jae Hyuk dan Ae Ra.
"Ini adalah draf revisi yang baru. Saya sudah memeriksanya sendiri bersama tim hukum kami, dan saya menjamin bahwa semua isi di dalamnya mengutamakan keadilan dan keuntungan bersama. Jika ada poin yang masih kurang jelas atau masih dirasa kurang pas oleh pihak Aegis, silakan sampaikan, dan kami siap mendiskusikannya secara terbuka," lanjut Seo Jun dengan penuh keyakinan.
Kejadian itu membuat beberapa eksekutif Aegis tampak terkejut dan berbisik-bisik satu sama lain.
Mereka tidak menyangka bahwa pihak Haesung akan begitu terbuka dan mengakui adanya kekurangan dalam dokumen sebelumnya, apalagi langsung membawa revisi yang sudah jadi.
Jae Hyuk menerima berkas itu dengan tatapan yang tajam namun penuh perhatian.
Ia melirik ke arah Ae Ra, dan melihat gadis itu mengangguk pelan kecil, seolah membenarkan bahwa ini adalah kelanjutan dari apa yang pernah ia ceritakan pada Jae Hyuk.
"Terima kasih atas keterbukaan dan itikad baik ini, Tuan Lee," kata Jae Hyuk akhirnya, memecah keheningan.
"Ini adalah langkah yang sangat positif dan menunjukkan profesionalisme yang tinggi dari pihak Haesung. Kami akan mempelajari draf revisi ini dengan saksama, dan saya yakin kita bisa melanjutkan diskusi dengan lebih lancar mulai sekarang."
Pertemuan pun berlanjut dengan suasana yang jauh lebih cair dan produktif.
Kali ini, diskusi berfokus pada penyempurnaan detail-detail teknis, pembagian tugas, dan strategi pelaksanaan kerja sama yang saling menguntungkan.
Seo Jun terbukti sangat kooperatif dan terbuka terhadap masukan-masukan dari tim Aegis. Ia tidak memaksakan kehendak, melainkan selalu mencari jalan tengah yang terbaik bagi kedua perusahaan.
Ae Ra duduk di samping Jae Hyuk, mencatat poin-poin penting dengan cekatan. Sesekali, ia melirik ke arah Seo Jun, dan melihat pria itu bekerja dengan sungguh-sungguh dan jujur. Hatinya merasa lega.
Ternyata, keputusannya untuk mendengarkan penjelasan Seo Jun adalah langkah yang tepat. Sekarang, ia bisa melihat bahwa Seo Jun benar-benar berusaha memperbaiki keadaan dan membuktikan niat baiknya.
Sore harinya, pertemuan kedua itu ditutup dengan hasil yang sangat memuaskan bagi kedua belah pihak. Kesepahaman awal telah tercapai dengan dasar yang kuat dan saling percaya.
Tanggal untuk penandatanganan perjanjian resmi pun telah ditetapkan beberapa minggu ke depan setelah semua proses administrasi dan pengecekan terakhir selesai dilakukan.
"Sampai jumpa beberapa minggu lagi, Tuan Hyun. Saya yakin kerja sama ini akan membawa kesuksesan besar bagi kedua perusahaan kita," kata Seo Jun saat mereka bersalaman di akhir pertemuan.
"Saya juga yakin demikian, Tuan Lee. Sampai jumpa," balas Jae Hyuk ramah.
Saat rombongan Haesung mulai meninggalkan ruangan, Seo Jun berjalan melewati Ae Ra.
Ia berhenti sebentar, dan dengan suara yang sangat pelan yang hanya bisa didengar oleh Ae Ra, ia berbisik,
"Terima kasih, Ae Ra. Terima kasih sudah percaya padaku."
Ae Ra tersenyum kecil dan mengangguk pelan.
"Sukses untuk kita semua, Tuan Lee."
Seo Jun tersenyum lebar, lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan.
Di dalam mobil perjalanan pulang menuju Aegis Corp, suasana terasa sangat berbeda dari perjalanan pergi tadi.
Sekarang, udara terasa penuh dengan kemenangan dan kelegaan.
"Kau benar, Ae Ra," kata Jae Hyuk tiba-tiba, memecah keheningan sambil menatap ke luar jendela.
"Dia memang terbukti memiliki niat baik. Dan kau beruntung, karena kau punya insting yang tajam dan hati yang cukup besar untuk memberinya kesempatan menjelaskan."
Ae Ra menoleh ke arah Jae Hyuk dan tersenyum.
"Itu semua juga karena Tuan yang selalu mendukung dan mempercayai saya, Tuan. Tanpa dukungan Tuan, mungkin saya tidak akan berani mengambil langkah itu."
Jae Hyuk menoleh dan menatap Ae Ra dengan tatapan yang hangat dan penuh kasih sayang.
"Kau hebat, Ae Ra. Sangat hebat. Dan aku sangat bangga padamu."
Kata-kata itu membuat hati Ae Ra berbunga-bunga. Ia tahu, perjalanan mereka masih panjang, dan masih banyak hal yang akan terjadi di masa depan.
Namun untuk saat ini, ia ingin menikmati momen kemenangan kecil ini, momen di mana kebenaran terungkap, kepercayaan dipulihkan, dan masa depan terlihat lebih cerah dan penuh harapan bersama orang-orang yang ia sayangi.