NovelToon NovelToon
Run Lady Run

Run Lady Run

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:504
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.

"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"

Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Christina

Pintu katedral yang terbuat dari logam Adamant terbuka lebar dengan suara dengung magnetis yang berat. Saat Sybilla (Christina) melangkah masuk, udara di dalam katedral terasa berbeda. Lebih padat, bermuatan listrik, dan beraroma salju yang terbakar.

Di depan sana, sebuah altar melayang di atas lubang tanpa dasar yang memperlihatkan pusaran awan dan petir di bawah pulau Skyrosia. Di tengah altar itu, sebuah Lingkaran Sihir Geometris berpendar dengan cahaya biru neon yang tajam, menunggu tumbalnya.

Sepanjang jalan menuju altar, Sybilla merasa seperti mangsa yang berjalan di tengah kerumunan predator.

Para petinggi Skyrosia dan utusan Aethelgard berdiri kaku. Mata mereka tidak memancarkan simpati, melainkan rasa lapar akan stabilitas. Bagi mereka, Sybilla hanyalah "kunci" yang akan mengunci rantai pulau mereka agar tidak jatuh.

Di pilar-pilar katedral yang tinggi, bertengger makhluk-makhluk yang belum pernah Christina lihat di London. Gargoyle Hidup dengan mata merah menyala mengawasi setiap gerakannya, memastikan ia tidak lari. Spirit Angin yang menyerupai wanita transparan dengan rambut dari awan berputar-putar di langit-langit, membisikkan mantra kuno yang membuat telinga Sybilla berdenging.

Di sisi altar, berdiri para pendeta berjubah perak dengan wajah tertutup topeng burung hantu. Mereka memegang tongkat yang ujungnya adalah kristal biru yang berdenyut selaras dengan detak jantung Sybilla.

Saat kaki telanjang Sybilla (karena tradisi mengharuskan pengantin menyentuh tanah suci tanpa alas) melangkah masuk ke dalam garis cahaya biru di altar, dunia di sekitarnya mendadak sunyi senyap.

Seketika, rambut perak Sybilla berdiri karena listrik statis yang kuat. Lingkaran itu mulai berputar cepat, mengunci pergelangan kaki dan tangannya dengan borgol cahaya.

Christina merasakan jiwa Sybilla yang asli, yang seharusnya sudah mati terbangun sejenak di sudut gelap kesadarannya. Memori Sybilla menjerit ketakutan saat melihat jarum-jarum cahaya mulai keluar dari lantai altar, bersiap untuk menusuk "inti sihir" di dadanya.

Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Pendar biru elektrik dari kupu-kupu London yang meresap ke tubuh Christina tadi sore mulai bereaksi. Bukannya menyerahkan inti jiwanya, tubuh Sybilla justru mulai menyerap energi dari lingkaran sihir tersebut.

Cyprian, yang berdiri tepat di luar lingkaran, membelalakkan mata emasnya. Ia melihat urat-urat di leher Sybilla bercahaya merah darah. Warna kupu-kupu itu kontras dengan sihir biru katedral.

"Sybilla! Jangan melawannya!" teriak Cyprian, suaranya pecah dari ketenangan biasanya. Ia mencoba meraih tangan Sybilla, namun perisai transparan dari lingkaran sihir itu mementalkannya.

Tiba-tiba, suara bisikan nenek Christina kembali terdengar di kepalanya: "Jangan biarkan mereka mengambil warnamu, Sayang. Ubahlah sihir mereka menjadi milikmu."

Cahaya di katedral menjadi begitu terang hingga membutakan semua orang. Makhluk-makhluk magis di pilar mulai menjerit gelisah. Sybilla merasakan rasa sakit yang luar biasa di dadanya, seolah jantungnya sedang ditempa ulang.

Tepat saat jarum cahaya terbesar hendak menusuk pusat jiwanya, Christina (Sybilla) membuka matanya lebar-lebar. Mata ungu itu kini tidak lagi ketakutan; mereka menyala dengan api merah dan biru yang bersinggungan.

Suasana di Katedral Angin Abadi yang tadinya sakral dan penuh kendali berubah menjadi kekacauan metafisika yang mengerikan. Saat Sybilla (Christina) mulai menghisap pendar biru dari lingkaran sihir ke dalam pori-pori kulitnya, hukum alam Skyrosia seolah terbalik.

Para pendeta bertopeng burung hantu yang mengelilingi altar serentak mundur. Tongkat-tongkat kristal mereka bergetar hebat hingga retak, mengeluarkan suara melengking yang memekakkan telinga.

"Mustahil! Inti sihirnya tidak menyerah, dia... dia memangsanya!" teriak Pendeta Agung, suaranya parau di balik topeng perak. Mereka melihat aliran energi yang seharusnya masuk untuk memperkuat Rantai Adamant justru berbalik arah, tersedot masuk ke dada Sybilla.

Ritual yang seharusnya menciptakan "boneka hidup" kini justru melahirkan sesuatu yang jauh lebih kuat dan tak terkendali. Para pendeta jatuh berlutut, mencoba merapalkan mantra penekan, namun setiap suku kata sihir yang mereka ucapkan justru ikut terhisap oleh aura merah-biru yang menyelimuti Sybilla.

Cyprian berdiri paling dekat dengan perisai energi yang berdenyut. Wajahnya yang biasanya kaku seperti batu kini menunjukkan emosi yang telanjang.

Ia menghunus pedang Adamant-nya, bukan untuk menyerang Sybilla, melainkan untuk memutus aliran energi katedral yang tampak menyiksa gadis itu. Namun, saat ia melihat mata Sybilla yang kini berpendar merah darah di tengah warna ungu, ia tertegun.

Cyprian menyadari bahwa gadis di depannya bukan lagi Sybilla yang rapuh yang ia kenal sejak kecil. Ada "sesuatu" yang asing di dalam sana...

"Sybilla! Tahan energinya, jangan biarkan jantungmu meledak!" serunya, tangannya yang bersarung tangan kulit hangus saat mencoba menyentuh garis lingkaran sihir yang kini berubah menjadi panas membara.

Di barisan terdepan saksi, empat sosok penguasa tertinggi membeku dengan reaksi yang sangat kontras.

Count Felix Davenport (Ayah Sybilla): Wajahnya pucat pasi, namun bukan karena khawatir pada putrinya. Ia mencengkeram sandaran kursi emasnya hingga kayunya retak. "Apa yang dia lakukan?! Jika ritual ini gagal, tambang kristal Aethelgard akan kehilangan cahayanya!" Baginya, Sybilla yang "rusak" adalah aset yang gagal total.

Lady Diana Davenport (Ibu Sybilla): Ia menutup mulutnya dengan sapu tangan sutra, matanya yang biru es berair. Namun, ada kilatan aneh di matanya, bukan hanya ketakutan, tapi semacam pengakuan. Ia tahu tentang surat nenek Sybilla, dan ia menyadari putrinya baru saja memilih jalan ketiga yang berbahaya.

Grand Duke & Duchess Mendelssohn (Orang Tua Cyprian): Penguasa lama Skyrosia ini berdiri dengan angkuh namun tegang. Sang Grand Duke menatap Rantai Adamant di luar jendela katedral yang mulai berdentang keras karena energi yang tidak stabil. "Jika dia tidak berhenti, pulau ini akan jatuh ke bumi malam ini juga," geramnya, tangannya sudah siap memberi isyarat pada pasukan pemanah sihir untuk menghentikan Sybilla jika perlu.

Tiba-tiba, seluruh lampu kristal di katedral pecah serentak. Kegelapan total menyelimuti ruangan, kecuali satu titik cahaya: tubuh Sybilla yang kini melayang beberapa inci dari lantai altar.

Suara Christina (yang bukan Sybilla) bergema di dalam kepala semua orang yang ada di sana, bukan dalam bahasa mereka, melainkan dalam getaran emosi murni yang menghancurkan.

"Aku bukan kunci kalian. Aku bukan milik siapa pun."

Ledakan energi terakhir menyapu seluruh ruangan, melemparkan para pendeta ke dinding dan membuat rantai raksasa Skyrosia mengerang keras. Saat debu dan cahaya mereda, Sybilla mendarat perlahan di tengah altar yang hancur.

Ia masih berdiri. Mahkota perak itu kini melayang di atas kepalanya, berubah warna menjadi hitam pekat dengan permata yang berdenyut merah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!