Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Darah di Atas Salju Puncak
Darah Arka menetes di atas tanah perkebunan yang membeku, bercampur dengan embun malam yang dingin—dan di situlah Aisha menyadari bahwa malam ini hanya satu dari mereka yang akan keluar hidup-hidup dari sarang monster ini.
---
Lampu sorot menyilaukan mata Arka. Ia berdiri di depan Aisha, Sari, Mia, dan Tono, berusaha melindungi mereka meski tubuhnya sendiri gemetar. Di sekeliling mereka, setidaknya dua belas pria bersenjata membentuk lingkaran, laras senapan mengarah tepat ke dada mereka.
Hartono berjalan turun dari beranda dengan langkah santai, seperti seorang raja yang akan mengeksekusi pemberontak. Tepuk tangannya pelan, penghinaan yang sempurna.
“Hebat, Arka. Kau benar-benar nekat. Aku pikir kau hanya akan menangis di sudut rumah seperti biasa. Ternyata kau punya sedikit nyali juga.”
“Lepaskan mereka, Ayah,” suara Arka terdengar parau, bergetar antara amarah dan ketakutan. “Ini antara aku dan kau. Tidak perlu melibatkan mereka.”
Hartono tertawa. Suaranya menggema di perkebunan yang sunyi, disambut oleh lolongan anjing di kejauhan. “Antara aku dan kau? Kau pikir kau sepadan dengan aku, Arka? Kau anak haram yang lahir dari wanita gila. Kau tidak punya hak apa pun atas nama Wiryawan.”
Aisha merasakan tangan Sari menggenggam erat lengannya. Wanita itu gemetar hebat, matanya terpaku pada Hartono seperti mangsa yang melihat predator.
“Dia akan membunuh kita semua,” bisik Sari nyaris tidak terdengar. “Dia tidak pernah membiarkan saksi hidup.”
“Tidak, dia tidak akan,” Aisha berbisik balik. “Kita akan keluar dari sini. Percayalah.”
Hatinya sendiri tidak percuh pada kata-katanya. Tapi ia harus memberi harapan pada Sari. Kepanikan hanya akan membuat segalanya lebih buruk.
Tono bergerak sedikit, tangannya merogoh saku jaket. Arka melihatnya dan menggeleng pelan. Bukan sekarang. Masih terlalu berisiko.
“Ayah, apa yang kau inginkan sebenarnya?” Arka mencoba lagi. “Kau sudah punya segalanya. Uang, kekuasaan, nama besar. Apa kurang?”
“Ketenangan, Arka. Aku ingin ketenangan. Aku tidak ingin terus-menerus diancam oleh wanita gila seperti Sari dan Mia. Aku tidak ingin anak pengecut seperti kau melaporkanku ke polisi. Aku ingin semuanya berakhir. Malam ini.”
Hartono mengangkat tangannya, memberi isyarat pada anak buahnya. Beberapa dari mereka mengokang senapan.
“Tapi sebelum itu, aku ingin kau melihat sesuatu, Arka. Agar kau tahu apa yang terjadi pada orang yang melawanku.”
Dua anak buah Hartono membawa seorang pemuda keluar dari vila. Pemuda itu babak belur, wajahnya bengkak dan berdarah, lusuh seperti baru saja disiksa. Tapi Aisha mengenalinya.
“Ren!” teriak Aisha.
Ren tersungkur di tanah di depan Hartono. Wajahnya sulit dikenali, matanya bengkak, bibirnya pecah-pecah. Ia mengerang kesakitan ketika salah satu pria itu menendang punggungnya.
“Ren membantu Sari kabur,” kata Hartono dingin. “Dia pikir aku tidak tahu. Tapi aku tahu segalanya. Aku selalu tahu.”
Arka mengepalkan tangan. “Lepaskan dia. Dia tidak bersalah.”
“Tidak bersalah? Dia mengkhianatiku. Aku yang memberinya pekerjaan, yang memberinya kehidupan, yang menyelamatkannya dari jalanan. Dan dia membalasnya dengan mengkhianatiku.”
Hartono berjalan mendekati Ren, menginjak tangan pemuda itu dengan sepatu botnya. Ren menjerit, suaranya parau.
“Hukumannya mati, Arka. Tapi kau tahu, aku orang yang berbelas kasih. Aku akan beri dia pilihan. Ren, pilih satu orang di antara mereka yang harus mati. Jika kau memilih, yang lain akan kubiarkan hidup.”
Ren mengangkat wajahnya yang babak belur, matanya menyusuri satu per satu wajah di hadapannya. Arka, Aisha, Sari, Mia, Tono. Lalu matanya berhenti pada Aisha.
“Jangan, Ren,” bisik Aisha. “Jangan.”
Ren tersenyum getir. “Maaf, Aisha. Aku sudah terlalu banyak berbuat jahat. Tidak perlu ditambah lagi.”
Lalu ia menatap Hartono. “Aku memilih diriku sendiri. Bunuh aku. Lepaskan mereka.”
Hartono tertawa. “Mulia. Tapi aku tidak tertarik pada kemuliaan. Aku ingin tontonan.”
Ia menarik pistol dari pinggangnya, menyodorkannya pada Arka. “ Kau yang bunuh Ren, Arka. Atau aku bunuh Aisha.”
Dunia Aisha berhenti berputar. Ia melihat pistol itu berpindah tangan, melihat Arka yang menolak mengambilnya.
“Tidak. Aku tidak akan melakukannya.”
“Maka Aisha yang mati.”
Hartono mengarahkan pistolnya pada Aisha. Sari menjerit, Mia menangis, Tono meraih senjatanya.
Tapi sebelum Hartono sempat menarik pelatuk, ada suara letusan dari kejauhan.
Bukan dari pistol Hartono.
Seorang satpam di belakang Hartono terjatuh, berlumuran darah.
“Tembakan!” teriak salah satu pria bersenjata.
Kekacauan pecah. Semua orang berlarian, bersembunyi di balik mobil dan semak. Tono memanfaatkan momen, menarik pistolnya dan membalas tembakan.
“Lari! Cepat!” teriak Tono pada Arka dan yang lain.
Arka meraih tangan Aisha, menariknya berlari ke arah kebun teh. Mia dan Sari mengikuti di belakang. Ren masih tergeletak di tanah, tidak bisa bergerak.
“Ren!” teriak Aisha.
“Dia tidak bisa kita selamatkan sekarang! Cepat!”
Mereka berlari di antara barisan teh yang gelap, peluru bersiul di sekitar mereka. Aisha merasakan batang-batang teh memukul wajah dan tangannya, tapi ia tidak berhenti.
Tiba-tiba, Aisha tersandung akar pohon. Ia jatuh, lututnya berdarah, lumpur membasahi bajunya. Arka berbalik, menariknya berdiri.
“Ayo, Aisha. Kau bisa.”
Di belakang mereka, Mia jatuh juga. Sari berusaha membantunya berdiri, tapi Mia menggeleng. “Aku tidak bisa lari lagi. Pergilah tanpa aku.”
“Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu!” teriak Sari.
Arka kembali, menggendong Mia di punggungnya. “Kita pergi bersama. Tidak ada yang tertinggal.”
Mereka terus berlari, diikuti oleh suara tembakan yang semakin dekat. Tono bertahan di belakang, berusaha menahan para pengejar.
“Ke mobil! Cepat!” teriak Tono.
Mobil mereka terlihat di kejauhan. Arka berlari lebih cepat, meskipun punggungnya dibebani Mia. Aisha dan Sari berlari di sampingnya.
Ketika mereka hampir mencapai mobil, Arka terjatuh. Bukan karena kelelahan. Tapi karena sebuah peluru bersarang di betis kirinya.
Darah menyembur, membasahi tanah perkebunan.
“Arka!” Aisha berteriak, berlutut di samping suaminya.
“Aku tidak apa-apa. Cepat, bawa Mia ke mobil.”
“Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu.”
“Aisha, ini perintahku!”
Dari belakang, Tono berlari menghampiri, membantu Arka berdiri. “Aku bawa dia. Kau bawa Mia dan Sari ke mobil.”
Mereka berlima berjalan tertatih, meninggalkan jejak darah di tanah perkebunan. Di belakang mereka, api mulai berkobar di vila—mungkin tembakan Tono mengenai tangki bensin, mungkin sesuatu yang lain.
Aisha tidak tahu. Yang ia tahu, mereka harus keluar dari sini sekarang.
---
Mobil melaju kencang meninggalkan perkebunan. Tono menyetir, sesekali menengok ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengejar. Arka duduk di kursi belakang, Aisha menekan lukanya dengan potongan bajunya sendiri.
“Kau akan baik-baik saja,” bisik Aisha, meski darah tidak berhenti mengalir di sela-sela jarinya. “Kau kuat, Arka.”
Arka tersenyum tipis, wajahnya pucat. “Maafkan aku, Aisha. Aku tidak bisa melindungi kalian.”
“Kau sudah melakukan yang terbaik.”
Mia menangis di samping Sari, memeluk wanita itu erat-erat. “Sari, maafkan aku. Maafkan aku karena tidak pernah bisa melindungimu.”
“Bukan salahmu, Mia. Kau juga korban.”
Mereka bertiga—Aisha, Mia, Sari—adalah tiga wanita yang hancur oleh pria yang sama. Tapi malam ini, mereka bersatu. Bukan sebagai korban. Tapi sebagai pejuang.
---
Mobil berhenti di depan rumah sakit. Tono membopong Arka masuk ke UGD, sementara Aisha, Mia, dan Sari menunggu di ruang tunggu. Darah masih membasahi baju Aisha, tangannya masih gemetar.
“Aisha, kau juga harus diperiksa,” kata suster.
“Aku tidak apa-apa. Tolong rawat suamiku.”
Suster itu mengangguk, berlari ke ruang UGD.
Aisha duduk di kursi plastik, memejamkan mata. Pikirannya melayang ke Ren, yang tertinggal di vila. Ke Hartono, yang mungkin masih hidup. Ke anak buahnya, yang mungkin masih mengejar mereka.
“Aisha,” panggil Mia pelan. “Kita harus lapor polisi.”
“Polisi tidak bisa dipercaya, Mia. Mereka bayaran Hartono.”
“Tapi kakek Arka? Atau siapa? Aku yakin ada orang baik di kepolisian.”
Sari menggenggam tangan Aisha. “Aku punya teman di LSM anti perdagangan orang. Mereka punya koneksi ke polisi pusat. Mungkin mereka bisa membantu.”
Aisha mengangguk. “Coba hubungi. Sekarang.”
---
Dua jam kemudian, Arka keluar dari ruang UGD. Peluru sudah diangkat, lukanya sudah dijahit. Dokter bilah dia beruntung tidak mengenai tulang.
Arka duduk di kursi roda, dipandu oleh suster ke ruang perawatan. Aisha mengikutinya, duduk di samping tempat tidur.
“Arka, kita harus bicara.”
“Tentang apa?”
“Tentang Ren. Tentang Hartono. Tentang apa yang akan kita lakukan selanjutnya.”
Arka menghela napas. “Aku akan hancurkan dia, Aisha. Aku tidak akan berhenti sampai dia masuk penjara.”
“Tapi caranya bagaimana? Dia punya segalanya.”
“Dia tidak punya segalanya. Dia tidak punya kebenaran. Dan aku punya kau, Aisha. Punya Mia, punya Sari, punya Tono. Kita akan lawan dia bersama.”
Aisha tersenyum. “Aku bangga padamu, Arka. Kau tidak lagi pengecut.”
“Karena kau yang mengajarkanku, Aisha. Kau yang mengajarkanku bahwa kebenaran lebih penting daripada ketakutan.”
Mereka berdua tersenyum, saling menggenggam tangan. Di luar jendela, langit mulai memutih. Subuh telah tiba.
---
Pukul enam pagi, ponsel Aisha berdering. Nomor tidak dikenal. Ia mengangkat dengan hati-hati.
“Halo?”
“Aisha, ini Ren.”
Aisha terkejut. “Ren? Kau masih hidup? Di mana kau?”
“Aku di rumah sakit lain. Aku bisa kabur saat kekacauan tadi malam. Aku babak belur, tapi masih hidup.”
“Syukurlah. Arka juga selamat. Dia di rumah sakit.”
“Aisha, aku minta maaf untuk semuanya. Aku tahu aku sudah banyak berbohong. Tapi aku ingin kau tahu, hartono tidak akan menyerah. Dia akan mencari kalian. Dia akan menghabisi siapa pun yang menjadi saksi.”
“Apa yang harus kami lakukan?”
“Kau harus pergi. Jauh dari Jakarta. Bawa Arka, Baskara, Mia, Sari. Pergi ke tempat yang tidak akan pernah dia temukan.”
“Ke mana?”
“Aku punya tempat di luar negeri. Aku bisa atur keberangkatan kalian. Tapi kau harus memutuskan sekarang. Waktu tidak banyak.”
Aisha menatap Arka. Pria itu mengangguk pelan. Ia sudah mendengar semuanya.
“Baik, Ren. Aturkan.”
“Aku akan hubungi lagi.”
Panggilan terputus. Aisha memegang ponselnya, memandangi Arka.
“Apa ini benar, Arka? Kita lari?”
“Ini bukan lari, Aisha. Ini strategi. Kita akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar. Tapi untuk sementara, kita harus selamat dulu. Untuk Baskara.”
Aisha mengangguk. “Aku akan jemput Baskara. Kau tunggu di sini.”
“Hati-hati, Aisha.”