Dara Kaylie Virginia, gadis muda, Cantik Dan berprestasi dibidang akademik berusia 18 tahun, mahasiswi arsitektur semester awal yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi bergengsi di Jakarta. Ia merupakan anak tunggal dari keluarga Adiguna Wiratama seorang pengusaha, senator dan politisi ternama. Sejak umur 5 tahun ia ditinggal meninggal oleh ibunya karena menderita sakit kanker.
Keenan Aldrich William, 25 tahun, seorang CEO muda, tampan , lelaki blasteran Indo- Inggris-Turkey Dan ambisius terkenal bertangan dingin dalam dunia Bisnis. Ia merupakan pewaris Dari keluarga konglomerat terkaya di Asia William Abraham.
Awal pertemuannya dengan Dara tanpa disengaja karena ia telah menyelamatkan nyawa gadis muda korban kecelakaan maut . Sejak kejadian malam itu entah mengapa ia merasakan ada yang aneh pada dirinya. Ia selalu teringat pada wajah gadis cantik itu dan perasaan ingin selalu melindunginya.
Kisah cinta yang romantis antara Dara Keenan ditengah konspirasi dan balas dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tracy Marie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Mendengar penuturan Adiguna barusan Keenan jadi teringat saat dikantor kemarin, ia menyuruh Bram untuk mencari tau siapa pemilik mobil sport merah itu. Bram menceritakan siapa sebenarnya tuan Adiguna. Dan sepak terjang dia di dunia perpolitikan yang banyak membantu aparat dalam memberantas mafia-mafia dalam dunia pertambangan dan penebangan hutan liar.
Kini orang itu sedang ada dihadapannya, ia mengakui lelaki paruh baya itu termasuk orang yang pemberani dan sangat tegas. Walaupun ia lahir dan tinggal di luar negeri tetapi ia selalu mengikuti berita dan isu-isu hangat yang sedang terjadi di negara asalnya.
"Maafkan kalau saya terlalu banyak bicara tuan Keenan.
Waktu sudah menunjukan pukul 04.00 wib.
Lampu diatas sudah dipadamkam, artinya tindakan operasi sudah selesai. Mereka berdua menunggu dengan cemas apakah operasinya berhasil atau tidak.
Tak lama kemudian dokter kepala keluar dari ruangan operasi, beliau langsung menemui Adiguna dan Keenan. Mereka langsung berdiri ketika mengetahui dokter sudah berjalan kearahnya.
"Bagaimana keadaan anak saya dok? Ujar Adiguna dengan nada cemas. Apakah saya bisa menemuinya sekarang??" ujarnya dengan spontan. Wajar saja ia merasa cemas, karena sejak tiba di rumah sakit ia belum melihat langsung kondisi anak semata wayangnya itu.
" Syukurlah operasinya berjalan lancar, tetapi saat ini masih belum sadar karena pengaruh obat bius. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang pemulihan dan bapak bisa bertemu dengan anak bapak" ujar dokter itu dengan sopan.
"Syukurlah kalau operasinya lancar, saya bisa sedikit lega " ujar Adiguna sambil mengusap dadanya. Mendengar penjelasan dokter membuat ia sedikit tenang.
" Untuk kondisi pasien sudah agak stabil, tetapi kami masih akan melakukan pengawasan dan observasi lebih lanjut. Karena setelah dilakukan pengecekan ulang hasil CT scannya menunjukan ada sedikit gangguan pada pembuluh darah dari leher ke otak"
" Apakah itu berbahaya dok" tanya Keenan.
" Kalau tidak cepat ditangani akan berbahaya, tetapi semoga saja dengan bantuan obat-obatan dan teknologi alat medis yang canggih bisa cepat disembuhkan"jelas dokter.
"Saya percayakan semua dengan dokter, tolong upayakan sebaik mungkin agar anak saya bisa sembuh" ujar Adiguna.
"Baik pak kami akan berusaha semaksimal mungkin atas kesembuhan anak bapak, dan juga kami sangat salut dengan anak bapak, ia pasti wanita yang kuat dan pemberani. Karena melihat kondisinya ketika dibawa tuan Keenan kesini sudah sangat kritis" ujar dokter menjelaskan.
Tak lama kemudian ada perawat yang memberi tahu bahwa pasien sudah dipindahkan ke ruang pemulihan.
"Kalau begitu saya permisi dulu, silakan keluarga pasien boleh masuk ke ruang pemulihan" ujar dokter kepala mengizinkan Adiguna dan Keenan melihat pasien.
Adiguna langsung menuju ke ruang pemulihan, sedangkan Keenan masih menunggu diluar ruangan. Ia membuka pintu dengan perasaan campur aduk. Antara senang dan sedih, tetapi ia harus bersikap tenang didepan anaknya ,ia tidak boleh menunjukan bahwa sebenarnya ia sangat rapuh jika sudah menyangkut anak kesayangannya itu.
Adiguna membuka pintu pelan-pelan, ia melihat anaknya terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Ia masih belum sadar karena pengaruh obat bius. Lelaki itu mendekati anaknya yang masih dipasangkan alat-alat medis ditubuhnya yang sangat lemah dan pucat. Ditambah lagi beberapa bekas luka di tubuhnya. Ia berusaha kuat tetapi tidak bisa. Ia menciumi kepala anaknya sambil meneteskan air mata. Akhirnya benteng pertahanannya runtuh juga.
Bersambung...
coba mampir di cerita aku ya kak.
aku ga butuh like cuma butuh saran🙏🙏🙏🙏🙏