Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.
Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...
Penasaran dengan alurnya? yukk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANG PERWIRA 28
Aabid senyum-senyum sendiri sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Yang menjadi pertanyaan di benak Aabid sekarang adalah bagaimana bisa Dito mempunyai kesamaan dari berbagai sisi bahkan sekarang cita-cita pun sama?
Aabid menyusul Dito, membaringkan tubuhnya di sebelahnya. Ada rasa lega setidaknya satu perkara bisa terselesaikan. Tinggal bagaimana cara ia meyakinkan anak di sebelahnya itu bahwa kata-kata orang tak perlu didengar dan memudarkan impian.
Sinar mentari menembus jendela kamar Aabid, suara riuh terdengar semakin menjadi.
Aabid mengerjap, lalu melihat ke arah samping. Kosong. Ia bangkit dan berdiri. Mencari keberadaan Dito yang subuh tadi masih ia lihat di sisi sebelahnya setelah membersihkan kotoran di mata untuk menajamkan penglihatan yang masih belum genap sepenuhnya.
Turun dari ranjang ia melangkahkan kaki menuju ke arah pintu, memegang lalu memutar handlenya.
Terkunci. Ah, dia lupa kalau dia tak boleh keluar. Ia lalu melangkah ke arah jendela, di mana terdengar banyak orang berbincang di depan sana.
Ia menyibak gordennya dan melihat ke arah luar.
Matanya kembali mengerjap beberapa kali, melihat tenda sudah terpasang rapi dan pelaminan mulai dihias sedemikian rupa.
Aabid mencebikkan bibirnya kemudian menganggukkan kepala kala tahu jawaban atas pertanyaan dari mana asal muasal suara yang mengganggu tidurnya. Pemasangan tenda adalah jawabannya.
Tak berselang lama, pintu terdengar di buka. Ia menatap ke arah pintu dengan segera. Terlihat Dito masuk membawa sepiring nasi sedangkan sebuah tas di bawa di tangan yang lain.
"Dito, ke mana saja?" tanya Aabid menghampiri.
"Repot, Om. Kayaknya hari ini kita nggak bisa latihan dulu. Nunggu sampe nikahan Teh selina selesai," jawab Dito meletakkan piring di atas nakas.
"Tidak apa-apa, pendaftaran Bintara masih Minggu depan." Aabid mendudukkan diri di ranjang.
Sekilas Dito menatap ke arah Aabid dan bertanya.
"Kok, Om tahu?"
Aabid tersentak.
"Kan semalam Om bilang ada temen polisi." Akhirnya alasan diberikan meski sedikit gelagapan.
Dito menatap ragu pada pria di sebelahnya itu.
"Kenapa?" tanya Aabid yang merasa diintimidasi.
"Kalau Om temennya polisi, kok ...." Dito merasa ragu dan tidak yakin dengan apa yang dikatakan Aabid setelah melihat penampilan pria di hadapannya dari ujung kepala hingga kaki.
"Ah, sudah lah. Ini ada batik buat acara besok." Tapi tak ingin menyinggung dan tahu bagaimana rasanya tersinggung maka Dito memutuskan untuk tidak melanjutkan perbincangan.
Ia memilih merubah topik bahasan dengan menyerahkan tas yang ia bawa kepada Aabid.
"Dari siapa?" tanya Aabid meraih tas dari tangan dito.
"Ibu. Katanya besok Om boleh keluar dan kalau ada yang tanya bilang aja kalau Om temennya Bapak. Ini juga titipan dari ibu." Setelah tas sekarang Dito menyerahkan uang.
"Ibu repot jadi nggak bisa ke sini," lanjut Dito.
"Untuk apa uang ini?"
"Enggak tahu, mungkin untuk nyawer besok kali," kata Dito asal.
"Nyawer?!" Dahi Aabid berkerut dalam.
"Kampungan." Dalam hati Aabid melanjutkan ucapan.
"Enggak, saya nggak suka gitu-gituan," Akhirnya Aabid memutuskan menolak menerima uang dengan nominal dua puluh ribuan sebanyak lima lembar itu.
"Aduh ... terima aja, nanti Dito dimarahi sama Ibu. Udah, ya. Dito tinggal dulu. Repot banget di luar. Jangan lupa dimakan sarapannya."
Dito meraih telapak tangan Aabid, lalu meletakkan uang tersebut dengan memaksa.
"Dito," panggil Aabid saat Dito hendak melangkah pergi.
Dito pun menahan langkahnya dan berbalik ke arah Aabid lagi.
"Kenapa lagi, Om?"
"Saya ... mau ... kencing," ujar Aabid yang terpaksa menahan malu. Karena sudah tidak bisa lagi menahan.
Sementara tak ada kamar mandi di dalam kamar.
"Aduh!" Dito menepuk keningnya, dengan cepat ia membuka laci dan lemari mencari sesuatu.
"Ngapain kamu?" tanya Aabid mencondongkan tubuh ke depan agar tekanan pada perut dan kandung kemih berkurang.
"Nah, ketemu." Dito berkata dengan botol yang ia bawa di tangan.
"Udah, Om, di sini aja kencingnya. Nanti malam kalau nggak ada orang baru dibuang, di laci ada tissue basah dan tissue kering sisa merawat Om kemarin," ujar Dito dengan entengnya, sambil mengarahkan botol air mineral ke arah Aabid.
Seketika mata Aabid melebar.
"Yang bener aja kamu? Nggak mau, jorok!" tolak tegas Aabid.
"Terserah kalau Om mau nahan sampai malam," pungkas Dito meletakkan botol air mineral di atas nakas kemudian meninggalkan Aabid yang masih membeku, tak percaya.
Pintu kembali dikunci oleh Dito. Pupuslah harapan Aabid untuk ikut keluar mengeluarkan sesuatu yang yang sudah berada di bagian paling ujung itu.
Ia lalu menatap botol di atas nakas. Tekatnya memang bulat untuk meringkus dan menyelamatkan semua yang perlu diselamatkan termasuk hotel mamanya, tapi tak mengira akan semenyedihkan ini.
"Ya udah, lah. Daripada kena ISK," dengkus Aabid menahan sabar.
Ia lalu meraih botol pemberian Dito, melangkah menuju ke arah pintu, tepatnya di balik pintu ia berdiri sekarang.
Mengingat pintu hanya bisa dibuka dari luar, ia pun harus berjaga-jaga. Ia tak mau tiba-tiba orang masuk dan melihatnya dalam keadaan tak seharusnya. Masih mending kalau Dito yang masuk.
Kalau selina?
Ia kembali ke ranjang setelah semua selesai ia lakukan dan dibersihkan. Tak lupa ia menjauhkan botol dan menyimpannya di pojokan.
Melihatnya saja Aabid merasa jijik apa lagi kalau orang lain yang melihat.
Membayangkannya saja ia ngeri.
Aabid bergegas menyantap sarapan setelah mencuci tangan dan mengelapnya dengan tissue yang ia temukan di laci seperti apa yang Dito beritahukan.
Menu berbeda ada di piring pagi ini. Mungkin karena ada hajatan sehingga ada daging dan juga acar, bukan tempe dan tahu lagi. Melihatnya Aabid pun berpikir.
Biaya pernikahan yang tidak sedikit darimana mereka dapatkan? Bukan selina, tapi Harun dan Asri yang menjadi pikiran Aabid sekarang.
"Kan orang kaya, ya?!" hatinya berbisik pelan kemudian.
Menepis segala pikiran dan menyantap makanan di piring agar bisa segera minum obat.
double up Thor 🙏
trs d rmh selina ad tamu spa,,,? jd penasaran 🤔🤔🤔
d tanya in tuh selina klo Aabid cinta sama selina gmn ,,,?
mau gak bikin generasi penerus,,,?
🤣🤣🤣🤣🤣