Putus cinta membuat seorang gadis bernama Emeery menerima perjodohannya dengan seorang duda beranak dua. Namun, sikapnya yang tengil membuat sang duda pusing tujuh keliling, akankah Emeery mampu menaklukkan dinding es suaminya, yang bahkan belum move on dari sang mantan?
Kalau ada, sembilan duda ~
Mau duitnya saja, semuanya ~
Ini dada, isinya duit semua ~
Penasaran dengan kisah mereka? Ikuti ceritanya di sini🤗
Jangan lupa follow
Ig @nitamelia05
fb @Nita Amelia
TT @twins✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Fitnah
"Kamu ngusir Anjas demi aku?" tanya Emeery saat mereka sudah merebahkan diri di ranjang, kepala Emeery bertopang pada lengan Gerry.
"Nggaklah, tapi demi kita," jawab Gerry dengan cepat. Dia tidak mau kalau sampai Anjas merusak lebih jauh, biar semua ini menjadi pelajaran untuk pemuda itu supaya tidak gegabah mengambil tindakan.
"Tapi gimana kalo nanti Anjas akhirnya nggak masuk kuliah, terus nggak lulus?" tanya Emeery lagi, bukan karena dia khawatir, tapi ia takut Gerry akan menjadi merasa bersalah.
"Itu urusan dia, kan itu hidup—hidup dia, kenapa kamu jadi perhatian begini ke Anjas?" Gerry langsung memasang wajah masam, tak suka Emeery membahas sepupunya itu lebih jauh.
"Bukan gitu, maksud aku—"
"Aku marah!" tukas Gerry, dia menarik tangannya hingga kepala Emeery jatuh ke kasur, lalu membalik badan seakan benar-benar tak ingin bicara dengan Emeery.
Emeery mendesahkan napas, meraih lengan suaminya agar segera berbalik. "Iya-iya aku minta maap."
"Maap saja tidak cukup, kamu pikir itu bisa menyembuhkan hatiku?"
"Terus harus gimana dong?" Tangan Emeery bergerak lihai dan berhenti di satu titik. Gerry tak bisa menahannya dan akhirnya dia terbahak.
"Geli, Sayang," keluh Gerry, tapi tergambar jelas di wajahnya dia menginginkannya lagi. Tangannya pun menahan tangan Emeery agar tidak menjauh.
"Makanya jangan marah," ucap Emeery dengan manik memohon. Gerry langsung mengangguk. "Apakah malam ini ada semacam ritual?" lanjut Emeery tersenyum penuh arti.
Gerry yang merasa lucu segera menarik tubuh sang istri, mengecup bibirnya dengan lembut. "Nanti saja, besok kan kita beres-beres untuk pindahan. Aku takut kamu kecapekan."
Seperti kucing kecil yang manis, Emeery langsung menurut, dia kembali tidur di lengan Gerry. Namun, sebelum benar-benar menutup mata mereka sempat berbagi saliva.
***
Sejak semalam Anjas sudah meninggalkan rumah kedua orang tua Gerry. Dia berusaha menghubungi sang pacar, tetapi tak kunjung diangkat hingga akhirnya malam itu dia tidur di emperan toko.
[Suara notifikasi panggilan]
Anjas yang masih terlelap segera terbangun mendengar suara tersebut. Dia mengucek matanya dan melihat ada panggilan balik dari Sisil.
"Halo, Sayang?" sapa Anjas dengan suara serak.
"Kamu ada masalah apa sampe hubungi aku malem-malem?" tanya Sisil tanpa membalas sapaan. Dia cukup kesal, karena cukup banyak janji yang Anjas abaikan.
"Oh iya, Sil, gimana kalo kita ketemuan aja? Supaya aku enak ceritanya. Nanti aku sharelok tempatnya," jawab Anjas dengan memelas. Dia berharap Sisil bisa membantunya, karena sekarang dialah satu-satunya harapan.
"Ya udah cepetan, aku nggak punya banyak waktu soalnya," balas Sisil dengan ketus. Senyum Anjas langsung mengembang dan langsung mengirim lokasi. "Itu, Sayang—"
Tut ...
Panggilan langsung dimatikan. Anjas merasa cukup tertegun, tapi kali ini dia tidak bisa marah. Apalagi setelahnya pemilik toko datang dan mengusirnya.
Tak lama kemudian Sisil datang dengan mengendarai mobilnya. Dia tidak turun sama sekali, dan memilih untuk mengajak Anjas mengobrol di dalam kendaraan roda empat tersebut.
"Kenapa kamu bisa ada di sini, dan bawa-bawa tas segala?" tanya Sisil tidak sabaran, tatapannya pun sudah menaruh curiga bahwa ada sesuatu yang terjadi dengan pacarnya.
"Aku—aku—aku diusir, Sayang, sama Kak Gerry," jawab Anjas terbata-bata, mata Sisil pun langsung terbelalak, seakan berkata 'Kok bisa?'.
Kemudian Anjas pun menceritakan alasannya, tentunya tidak semuanya benar. Supaya Sisil bisa iba padanya, dan dia mendapatkan tumpangan.
"Emeery itu benar-benar provokator, Sayang, dia sengaja ngelakuin ini buat ngebales aku. Padahal masalah kita udah selesai," papar Anjas di sela ceritanya.
"Jadi semua ini gara-gara si tengil itu?" tanya Sisil dengan nada sewot. Tentu saja dia tak terima sang kekasih diperlakukan seperti ini, apalagi oleh mantannya.
Anjas langsung mengangguk mantap, fitnahnya benar-benar diterima dengan baik oleh Sisil.
"Kurang ajar banget ya. Ya udah biar nanti aku yang bales, biar dia tahu dia berhadapan sama siapa. Dasar cupu!" maki Sisil sambil mengeratkan geraham dan mengepalkan tangan. Mendengar itu Anjas pun cukup panik.
"Sayang, kalo soal itu kayaknya nggak usah deh. Sekarang aku cuma butuh tumpangan aja, aku nggak punya siapa-siapa lagi di kota ini selain kamu," rengek Anjas sambil memegang kedua pipi Sisil. Namun, amarah Sisil sudah terlanjur memuncak.
"Udah kamu tenang aja, aku bakal bantu kamu, asal kamu juga nggak ngelarang-larang aku buat bales si cupu itu!" tandas Sisil, dia benar-benar tidak sadar bahwa dirinya sedang dimanfaatkan oleh laki-laki m0k0nd0, alias titttt ... Doang!
Anjas tuh pengecut dan mokondo
Skrg aja dia gak punya tempat tinggal
Udah tinggalin Anjas 😄
Kutunggu updatenya lagi kak 😊