Di lorong-lorong megah Université Paris-Sorbonne, Xienna Elizabeth Mapelli Mozzi dikenal karena dua hal, kecantikannya yang ningrat dan cintanya yang mencekik terhadap Brandon Alton Everett.
Namun, ketika cinta itu hancur secara publik, Xienna justru terperangkap dalam radar pria paling berbahaya di Paris, Denzzel Lambert Riccardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kelahiran Dua jagoan
Malam di Amalfi tidak pernah sesunyi ini. Badai musim dingin menghantam tebing-tebing karang, namun di dalam vila yang telah disulap menjadi ruang medis kelas atas, suasananya jauh lebih mencekam.
Denzzel tidak melepaskan tangan Xienna sedetik pun. Peluh membasahi dahi Xienna, wajahnya memucat, namun matanya memancarkan tekad yang luar biasa. Ia sedang berjuang melahirkan dua nyawa di tengah isolasi yang ia pilih sendiri demi keamanan.
Menit-Menit yang Menegangkan
"Satu dorongan lagi, Xienna! Satu lagi!" seru dokter dengan nada mendesak.
Xienna mengerang, mencengkeram tangan Denzzel hingga buku jarinya memutih.
Di saat yang sama, Denzzel hanya diam dengan rahang mengeras, namun sorot matanya yang biasanya sedingin es kini tampak bergetar hebat. Untuk pertama kalinya, sang iblis Riccardo merasa tidak berdaya di depan takdir.
Tepat pukul 03.15 pagi, suara tangisan pertama memecah ketegangan. Lengkingannya kuat, memenuhi ruangan, seolah mengumumkan kedatangan seorang penguasa baru.
"Bayi pertama lahir. Laki-laki, sangat sehat!"
Belum sempat Xienna bernapas lega, gelombang kontraksi kedua menghantam. Lima belas menit kemudian, tangisan kedua yang tak kalah lantang menyusul. Dua putra mahkota telah mendarat di dunia yang sedang membenci ibu mereka.
Dua Raja Kecil, Marcello dan Valerio
Denzzel menatap kedua bayi yang telah dibersihkan dan dibaringkan di dada Xienna. Matanya memerah. Ia mencium kening istrinya dengan sapaan paling lembut yang pernah ia berikan.
"Kau melakukannya, Xienna. Kau memberikan mereka padaku," bisik Denzzel.
Denzzel memberi mereka nama yang sudah ia siapkan: Marcello Riccardo dan Valerio Riccardo. Nama yang mengandung arti "Pejuang Kecil" dan "Kekuatan". Dua bayi yang memiliki fitur wajah Denzzel—rahang yang tegas—namun memiliki sorot mata Mapelli Mozzi yang tajam dan indah.
Di tengah kebahagiaan itu, Denzzel tidak lupa pada "musuh" sekaligus "ayah mertuanya". Ia mengambil ponsel pribadinya, memotret kedua bayi yang sedang tertidur lelap dalam dekapan Xienna yang masih lemas namun tersenyum cantik.
Denzzel mengirim foto itu langsung ke nomor pribadi Vittorio yang masih ia simpan. Tanpa kata-kata, tanpa ancaman. Hanya foto dua bayi laki-laki yang mengenakan selimut bayi dengan bordiran lambang keluarga Riccardo, namun di leher mereka tergantung medali emas kuno milik keluarga Mapelli Mozzi—hadiah anonim dari Vittorio tempo hari.
Di Paris, Vittorio sedang berdiri di jendela kantornya, menatap hujan. Ponselnya bergetar. Saat ia membuka pesan itu, jantung pria tua itu seakan berhenti berdetak sejenak.
Ia melihat wajah kedua cucunya. Ia melihat medali leluhurnya melingkar di leher mereka. Gengsi yang ia pertahankan mati-matian akhirnya runtuh. Vittorio jatuh terduduk di kursinya, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, dan menangis tersedu-sedu dalam keheningan.
"Selamat datang ke dunia, cucu-cucuku," bisiknya lirih.
Kelahiran si kembar bukan berarti perdamaian telah tiba. Justru, ini adalah awal dari babak baru. Dunia luar kini tahu bahwa pewaris sah dua dinasti terbesar telah lahir.
Denzzel berdiri di balkon vilanya, menatap laut lepas sambil menggendong salah satu putranya. Ia tahu, mulai hari ini, ia bukan lagi bertarung untuk dendam, melainkan untuk masa depan dua bayi ini.
"Dunia akan takut pada kalian," gumam Denzzel pada bayinya. "Dan kakekmu... dia akan segera menyadari bahwa tidak ada tempat yang lebih aman bagi cucunya selain di bawah perlindunganku."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading 🥰😍🥰
simple tapi penuh makna