Ada tiga remaja putri bersahabat mereka adalah Tari, Tiara , dan Karin mereka mempunyai pasangan masing-masing. dan pasangan mereka adalah sahabatan juga termasuk geng brotherhood pasangan Tari adalah Ramdan, pasangan Tiara adalah Bara dan pasangan ketiga ada Karin sama Boby.. karena ada sesuatu hal ketiga cowok itu membuat pasangan mereka kecewa dengan kejadian yang berbeda - beda namun dia antara 3 pasangan itu hanya Tari dan Ramdan yang bertahan karena Tari memberikan kesempatan kembali kepada Ramdan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 Algoritma Gravitasi Hati
Suara ketukan palu sidang di tangan Arga bergema tiga kali, memecah keheningan haru yang sempat menyelimuti Aula Kusuma Bangsa. Getaran emosi dari cerita Alvin dan Raihan tadi masih tersisa di udara, namun jarum jam yang terus berdetak di dinding aula seolah mengingatkan bahwa waktu tidak akan berhenti hanya untuk merayakan sebuah kebaikan.
Tari menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan. Ia membuka laptopnya dengan gerakan yang jauh lebih mantap dari sebelumnya.Namun Tari sangat kaget ketika melihat layar monitor Ramdan yang menampilkan foto Tari sedang serius menulis notulen rapat. Jantung Tari langsung deg-degan kenceng banget, andai dia lagi sendirian pasti dia akan langsung loncat dan mungkin laptopnya di lempar
“Baik, terima kasih atas informasinya yang sangat... mencerahkan,” Arga berdehem, mencoba mengembalikan wibawa Ketua OSIS-nya meskipun matanya masih sedikit kemerahan. “Tapi seperti kata Ramdan, efisiensi waktu adalah prioritas. Mari kita kembali ke Juknis. Silahkan Tim mana dulu yang akan memberikan laporannya.
"Tim acara dulu ya, boleh minta waktunya"kata Tari sambil tersenyum manis
"Boleh banget dong, " kata Arga
" Untuk tim acara udah ready sekitar 98,97 % , tema kali ini adalah HARMONI CINTA Dengan Cinta Kita Kuat, cinta hakiki menjaga dalam do'a. Untuk MC pastinya MC couple kita yang paling kuat chemistry panggungnya semoga di bawah panggung lebih kuat lagi, yaitu Kak Zahra dan kak Arka. Untuk pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Ramdan Alvaro dan saritilawahnya oleh Raihan Aditya Pratama . Kemudian ada penampilan membawakan shalawat Jibril dari aku, Ramdan dan Arga Pradipta. Masih di sesi opening ada penampilan dari Waketos dan sekretarisnya nyanyi duet. Karena akan ada kejutan, dan orang tersebut sudah ready tidak perlu pengawalan pokoknya tim keamanan kita tinggal duduk manis dengan santai sambil minum kopi sepertinya udah cukup laporan dari tim acara. Apakah ada yang mau bertanya?" Tanya Tari
" Bukan bertanya sih hanya penasaran saja kenapa tema pensi nya Harmoni cinta dengan tagline dengan cinta kita kuat, cinta hakiki menjaga dalam do'a. Ibu merasa itu adalah ungkapan hati seseorang ya. Apakah itu murni dari kamu sendiri sebagai tim acara atau ide dari orang lain " kata Bu Melly
Tari merasa seluruh pasokan oksigen di Aula Kusuma Bangsa mendadak hilang. Pertanyaan Bu Melly lebih mematikan daripada soal kalkulus tersulit dari Ramdan sekalipun. Ia bisa merasakan pipinya memanas, dan ia yakin warnanya sekarang sudah lebih merah dari sampul buku absen sekolah.
Ia mencoba menatap layar laptopnya—yang isinya foto dia sendiri—dan itu sama sekali tidak membantu. Tari berdehem, mencoba mencari variabel jawaban yang paling logis agar tidak terlihat seperti sedang mengakui perasaan di depan publik.
" Sebenernya itu ide saya sendiri Bu, namun saya sudah konfirmasi kepada ketua OSIS dan wakil ketua OSIS, mereka menyetujuinya. kenapa saya memilih Harmoni cinta dengan tagline dengan cinta kita kuat, cinta hakiki menjaga dalam do'a ...karena menurut saya, sebuah acara sebesar Pensi ini tidak bisa hanya dijalankan dengan instruksi teknis dan logika semata, Bu. Kita butuh 'Harmoni', sebuah keselarasan antara panitia, siswa, dan guru agar sistem ini tidak crash di tengah jalan.
Kenapa saya memilih tagline 'Cinta Hakiki Menjaga dalam Doa'? Karena cinta yang paling kuat bukan soal siapa yang paling sering terlihat bersama, melainkan siapa yang tetap saling mendukung dan menjaga integritas tugasnya meski terpisah jarak. Seperti saat ini, saat pemimpin kita sedang berjuang di tempat lain, kita yang di sini tetap 'menjaganya' dengan cara menyukseskan acara ini. Doa adalah bentuk dukungan paling logis yang tidak terhalang oleh koordinat mana pun. Dengan cinta terhadap sekolah ini, saya yakin kita akan tetap kuat menghadapi kendala apa pun."
Bu Melly, yang awalnya hanya berniat menggoda, kini tampak terpaku dengan senyum yang semakin mengembang lebar. Beliau melepaskan kacamata bacanya, menatap Tari dengan binar bangga yang tak bisa disembunyikan. "Luar biasa..." gumam Bu Melly pelan, hampir tak terdengar namun penuh penekanan. "Tari, Ibu minta izin untuk mencatat kalimat kamu tadi. Jarang sekali Ibu mendengar definisi cinta yang begitu... matang dari seorang siswi. Kamu baru saja membuktikan bahwa cinta bukan sekadar hormon, tapi sebuah komitmen." Di sampingnya, guru-guru lain tampak saling berpandangan, memberikan anggukan hormat seolah-olah Tari baru saja menyelesaikan pidato kenegaraan.
Arga yang tadi duduk bersandar sambil cengengesan, mendadak menegakkan punggungnya. Mulutnya sedikit terbuka. Sebagai sahabat dekat Ramdan, dia tahu persis siapa "koordinat" yang dimaksud Tari. "Gila," batin Arga. "Ramdan kalau denger ini, bisa-bisa dia nggak mau pulang dari Kalimantan gara-gara pingsan saking bapernya." Arga berdehem keras, mencoba menutupi rasa harunya yang mendadak muncul. Dia merasa kecil di depan kedewasaan cara berpikir Tari. Padahal dulu Tari waktu masih sama dirinya tidak pernah seperti itu, Tari yang sekarang bukanlah Tari yang dulu bersamanya .
Kondisi di kursi belakang sudah tidak kondusif. Alvin sudah menutup mukanya pakai buku agenda, sementara anggota Geng Receh lainnya sibuk mencubit lengan satu sama lain tanpa suara agar tidak berteriak "Cieee" terlalu keras. Mereka merasa sedang menonton drama Korea versi live dan eksklusif. Bagi mereka, Tari bukan lagi sekadar sekretaris, tapi sudah naik level jadi bidadari surganya Ramdan.
Para panitia yang lain, yang tadinya hanya tahu kulit luar hubungan Tari dan Ramdan, kini seolah diberikan jawaban telak. Tidak ada lagi yang berani mencibir. Jawaban Tari barusan memberikan martabat pada perasaan mereka. Ruangan itu kini dipenuhi atmosfer kagum yang kental, seolah semua orang sepakat: Hanya Tari yang pantas berdiri di samping Ramdan.
" Gimana ada yang mau bertanya lagi kepada tim acara?" kata Arga melanjutkan lagi rapat nya
" Kan tadi Tari bilang akan ada kejutan, kira - kira siapa sih yang jadi kejutannya?"tanya Kak Anisa
"Oh , soal kejutan itu kami masih merahasiakannya, pokoknya kejutan itu bakal terjadi di akhir acara.Jadi sesudah ISOMA kita bakal ada kejutan" kata Tari
" Wah , jangan - jangan akan ada cowok ganteng lagi nih yang dateng. Kalau misalnya bener itu terjadi wah bakal seru nih " kata Kak Anisa sambil melirik Arga dan ternyata Arga juga melirik pada kak Anisa seolah berkata 'maksudnya apa nih'
"Hmmm untuk mengefisienkan waktu sudah lupakan saja tentang kejutan itu, sekarang kita fokus pada acara Rapat, masih ada pertanyaan lagi gak untuk tim acara?oh iya aku lupa katanya untuk para perwakilan dari tiap kelas itu bakal ada reward dari Waketos kita yang di berikan sesudah selesai acara" kata Tari sambil menunjukkan bukti chat nya
Pak Satria :" Ri, ini Ramdan.Tolong catat semua perwakilan dari tiap kelas karena data yang waktu itu ada perubahan. Aku akan kasih reward pada mereka karena mereka sudah menjadi perwakilan kelas"
Pak Satria: " jangan lupa kamu istirahat dan makan juga yang paling utama Shalat,aku gak ada disana jadi ga bisa pantau kamu. Aku lagi break 10 menit sebelum nanti lanjut lagi ke esai.
Semua yang hadir terdiam seribu bahasa mereka bingung harus berkata apalagi nih tentang Waketos. Selama ini mereka mengira kalau Ramdan itu memang benar - bener manusia kulkas tapi ternyata masyaallah dia punya rasa peduli yang luar biasa.
" Oke, karena tidak ada lagi yang bertanya tentang acara kita mau lanjut, saya meminta tim logistic yang melaporkan" kata Arga
" untuk tim logistic, kita tinggal menunggu panggung dan sebagainya datang biar nanti langsung di pasang. Dan untuk pemasangan itu dibantu dari tim vendor itu sendiri jadi kita ga terlalu capek. Yang lainnya mungkin oke ya. Oh iya karena yang mengurusi vendor itu Ramdan, jadi nanti tim logistic laporannya pada siapa?" kata Alvin
" Oh iya, sesuai kesepakatan waktu itu, jadi untuk urusan vendor di handle sama Tari jadi nanti laporan aja pada Tari kalau ada apa-apa " kata Arga yang langsung saja di angguki oleh Alvin maupun Tari
" Untuk tim Humas karena timnya lagi keluar untuk mengirimkan surat kepada sekolah lain jadi kita lewat saja karena itu bisa di belakang laporannya, untuk konsumsi alhamdulilah sudah aman dan ready sekitar 98 %, untuk tim keamanan dan dokumentasi itu bagaimana?" tanya Arga
" untuk tim dokumentasi kita aman. Dan katanya dokumentasi tidak akan pakai Hp tapi langsung pakai kamera, waktu itu Ramdan langsung yang ngasih tahu pada kami bertiga" kata Wulan
" Untuk tim keamanan juga kami selalu ready kapanpun kami dibutuhkan. Dan kami akan berjaga di depan gerbang,di belakang sekolah sama di titik titik lapangan yang dekat ke arah panggung " jelas Pajar
" Oke , terimakasih banyak ya para tim sudah melaporkan kesiapannya. Untuk selanjutnya Sekretaris dan bendahara ada yang mau di sampaikan gak?" tanya Arga sambil melirik pada kak Anisa
"Hmmm Bendahara aman kok untuk saat ini, karena tadi udah ada suntikan dana konsumsi dari Waketos kita, " kata kak Anisa
" untuk sekretaris mungkin sama Raihan aja deh, biar nanti aku nambahin aja " kata Tari
" Untuk sekretaris, kami sudah selesai membuat beberapa surat keluar, surat izin bahkan rundown acara sudah ready, Ri, ada tambahan gak?" kata Raihan
" Udah cukup, Han. Karena sebentar lagi kita mau jam 11.30 kita bisa langsung di tutup aja biar kita semua tenang shalat Dzuhur berjamaahnya kemudian nanti kita makan siang bersama " kata Tari
Arga melirik jam di pergelangan tangannya, lalu kembali menatap Tari dengan senyum tertahan. Ia sangat paham kalau Tari sudah mengeluarkan kartu "Makan Siang", itu adalah kode keras bahwa rapat ini tidak boleh diperpanjang satu detik pun.
Arga menegakkan duduknya, lalu menarik mikrofon dengan gerakan mantap. "Oke, dengerin semuanya! Sekretaris kita sudah mengeluarkan komando paling sakti se-jagat raya: Waktu Makan Siang. Dan karena gue juga nggak mau dapet masalah sama Pak Waketos gara-gara bikin Tari telat makan, mending kita akhiri drama ini sekarang juga."
Tawa riuh kembali pecah di aula, mencairkan sisa-sisa ketegangan antara Tari dan Raihan tadi.
"Terima kasih untuk Tari yang sudah memberikan 'update' kilat dari Kalimantan. Terima kasih juga buat tim acara yang sudah bekerja keras. Keputusan sudah bulat: Tagline 'Harmoni Cinta' resmi kita gunakan, dan soal reward dari Pak Waketos, silakan kalian buktikan sendiri kinerjanya biar dapet jatah." Arga mengetukkan pulpennya ke meja tiga kali—pengganti palu sidang.
"Dengan ini, rapat koordinasi Pensi SMA Kusuma Bangsa resmi gue tutup. Silakan langsung menuju masjid untuk Dzuhur berjamaah, setelah itu kumpul lagi di Aula buat makan siang bersama bukan hanya panitia tapi para guru semuanya harus ikut " kata Arga
*********************************************
Aula Kusuma Bangsa yang tadinya kaku berubah jadi hangat dengan aroma nasi kotak dan tawa yang pecah di mana-mana. Meja-meja disusun memanjang, menyatukan jajaran guru, panitia, hingga perwakilan kelas. Arga benar-benar menepati janjinya; tidak ada kasta di jam makan siang ini.
Namun, bagi Tari, duduk di antara jajaran guru dan Geng Receh adalah ujian kesabaran tingkat tinggi.
"Duh, Tari... kok makannya sedikit banget?" celetuk Alvin dari ujung meja, suaranya sengaja dikeraskan sampai Bu Melly menoleh. "Oh, gue tahu! Lagi latihan diet ya? Biar nanti pas Ramdan balik dari Kalimantan, dia pangling liat lo makin tirus?"
"Bukan diet, Vin," sahut anggota Geng Receh lainnya sambil menahan tawa. "Tari itu lagi mempraktikkan tagline-nya sendiri: Menjaga dalam Doa. Makan dikit, doanya yang banyak. Ya kan, Ri?"
Satu meja langsung meledak dalam tawa. Tari hanya bisa menunduk dalam, mencoba fokus pada sebutir nasi di sendoknya, sementara pipinya sudah tidak bisa lagi diajak kompromi merah padam!
Bu Melly yang duduk tak jauh dari mereka ikut tersenyum simpul sambil mengunyah kalem. "Sudah, jangan digoda terus Tarinya. Kasihan, nanti kalau dia pingsan karena baper, Ibu harus lapor apa sama Ramdan lewat HP Pak Satria?"
"WADUH!!" Geng Receh bersorak serempak. "Skakmat dari Bu Melly emang nggak pernah gagal!"
Arga yang duduk di sebelah Raihan cuma bisa geleng-geleng kepala sambil menikmati ayam gorengnya. "Udah, Ri. Telan aja makanannya. Anggap aja ini latihan mental sebelum 'koordinat' utama lo beneran mendarat di sekolah ini."
Tiba-tiba hp Tari bergetar dan ternyata satu chat masuk atas nama Ramdan ❤️
Ramdan: "Sesi terakhir selesai. Logika saya sudah kembali ke frekuensi normal. Bagaimana makan siangnya? Jangan bilang kamu cuma makan kerupuk gara-gara sibuk ngurusin vendor."
Tari yang sedetik lalu masih tampak lesu dan hanya memutar-mutar sendok di atas nasi kotaknya, mendadak berubah drastis. Setelah melirik layar ponsel, ia seperti baru saja menelan pil penambah energi. Dengan gerakan mantap dan rapi, Tari mulai menyuap nasinya dengan lahap. Tidak ada lagi keraguan, bahkan ayam goreng yang tadinya dicuekin pun sekarang habis tak bersisa dalam waktu singkat.
Kak Anisa yang duduk tepat di sebelahnya, meletakkan sendoknya pelan sambil menopang dagu, menatap Tari dengan senyum penuh arti yang sangat lebar.
"Wah, wah... Tari," bisik Kak Anisa dengan nada menggoda yang bikin Tari nyaris tersedak. "Tadi perasaan nasi itu cuma lo ajak kenalan doang, sekarang kok sudah bersih kinclong kayak piring baru? Hebat ya, ternyata suplemen paling ampuh buat nafsu makan itu bukan vitamin dari apotek, tapi notifikasi dari Kalimantan jam dua siang ya?"
Tari buru-buru meraih gelas air mineralnya, mencoba menetralkan rasa panas yang menjalar ke telinganya. "A-apa sih, Kak? Aku emang laper aja kok, tadi kan habis rapat capek banget," elak Tari, tapi tangannya yang sedikit gemetar saat menutup botol minum tidak bisa berbohong.
"Laper atau takut dipantau dari jauh?" Kak Anisa menyenggol bahu Tari pelan. "Hati-hati, Ri. Kalau Ramdan tahu lo makannya lahap begini gara-gara dia, bisa-bisa dia makin gede kepala ngerasa jadi pusat gravitasi hidup lo."
Tari tertegun, botol air mineral di tangannya terasa dingin, tapi tidak sedingin telapak tangannya yang mendadak berkeringat. Kalimat Kak Anisa barusan bukan cuma sekadar godaan, tapi sebuah fakta ilmiah yang baru saja terbukti secara nyata di depan mata seluruh penghuni aula.
Tari melirik ponselnya sekali lagi. Di sana, di layar yang mulai meredup, nama Ramdan masih tertera jelas. Seolah sosok itu memang benar-benar sedang memantau dari ribuan kilometer jauhnya, memastikan bahwa "Sekretaris"-nya tidak tumbang sebelum tugas besar mereka selesai.
"Pusat gravitasi, ya?" gumam Tari dalam hati, sangat pelan hingga hanya dia yang bisa mendengarnya.
Ia tidak membantah. Karena kenyataannya, sejak notifikasi itu masuk, seluruh dunianya yang tadi berantakan karena urusan vendor dan perdebatan rapat, mendadak kembali berputar pada poros yang benar.
Tari menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang sudah berpacu di luar batas normal.
Dengan senyum tipis yang tak bisa ia sembunyikan lagi, Tari memasukkan ponselnya ke dalam saku almamater. Ia sudah siap untuk apa pun yang akan terjadi selanjutnya. Karena sekarang ia tahu, ia tidak sedang berjuang sendirian.
Di ujung aula, jam dinding berdetak pelan, menandakan bahwa waktu tenang sudah habis. Badai yang sesungguhnya mungkin akan datang tapi untuk saat ini... Tari hanya ingin menikmati sisa rasa hangat dari sebuah pesan singkat yang baru saja menyelamatkan harinya.
[BERSAMBUNG]
Scene ini cuma buat cerita jadi gak masuk menurut ku kak 🙏