Cinta di tolak dukun bertindak itulah sebutan buat Ninis. Penolakan dari laki-laki yang bernama Tirta membuat dia nekat bersekutu dengan jin agar bisa menolongnya untuk mendapatkan Tirta.
Sebagai tunangan Tirta, Sena berjuang mati-matiam gar bisa menyelamatkan Tirta dari pengaruh sihir yang Ninis kirim.
Mampukah Sena menyelamatkanya?
Simak ceritanya di sini. Jangan lupa, Like, Coment, Vote, jangan lupa mawar dan kopinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osiye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Jadikan Aku Milikmu Seutuhnya
Sejak kejadian di arak masa keliling kampung sampai harus sidang di kantor kelurahan berapa bulan lalu akhirnya Topan di nyatakan tidak bersalah. Laki-laki itu terbebas dari tuduhan para warga yang menuduh dirinya sudah memperko*a Sakinah, sekarang Topan sudah enggak pernah berkumpul lagi bareng teman-temannya. Ia merasa sakit hati sama ketiganya, laki-laki itu berjanji pada dirinya kalau dia ingin membalas dendam sama Andi dan lainya. Ia masih ingat betul saat dimana Ninis dan Asri terus menyudutkannya dan menuduh dirinya yang tidak-tidak hanya demi membela Andi.
Sudah satu bulan lamanya Mutia mengalami trauma berat akibat kejadian pemerkosaan waktu itu, setiap malam gadis itu selalu berteriak minta tolong menggedor-gedor rumah tetangganya, gadis itu terkadang menangis dan terkadang tertawa, penampilannya kini sunggu sangat jauh berbeda tubuh yang dulunya berisi kini terlihat sangat kurus, wajahnya pucat, tatapan matanya sayu. Mutia terus melamun seperti seseorang yang sudah tidak memiliki semangat hidup lagi.
Andi si pelaku yang sebenarnya sampai saat ini masih bebas tanpa rasa bersalah. Menyandang anak dari orang terpenting di kampungnya membuatnya besar kepala, para warga nggak ada yang percaya sama ucapan Topan yang memberi tau kalau dirinya yang sudah memperko*a Mutia.
"Nak, makanlah sedikit," ucap Bu Nasa mengulurkan sendok ke mulut Mutia.
Mutia menutup mulutnya rapat hanya melihat Ibunya sekilas dan kembali memainkan hijabnya, air matanya terus menetes membasahi wajahnya Mutia terisak-isak sambil memeluk tubuhnya sendiri, gadis itu sudah kehilangan arah terlebih lagi sampai saat ini dia belum bisa ngomong.
Bu Nasa meletakan piring di atas meja beliau memeluk putrinya erat. Bu Nasa tergugu melihat keadaan putrinya saat ini, orang tua mana yang kuat melihat putrinya seperti orang tidak waras? Saat ini keduanya lagi berada di meja makan, Bu Nasa dengan setia menemani putrinya bahkan beliau rela begadang demi menjaga Mutia.
"Nak, katakan sama Ibu, siapa laki-laki itu? Siapa laki-laki yang sudah melecehkan kamu sampai membuatmu seperti ini? Tolong beri tau Ibu! Beri tau Ibu." Bu Nasa semakin terisak memeluk putrinya.
Air mata Mutia semakin menganak sungai menyenderkan kepalanya di pundak sang Ibu, tanganya bergerak membalas pelukan Ibunya. Mutia merasa bersalah sudah membuat Ibunya bersedih karena melihat keadaannya.
"Allah, tolong kembalikan suaraku, berikan keadilan buatku. Ibu maafkan aku sudah membuat Ibu bersedih. Aku berjanji aku sendiri yang akan menyeret orang itu dan memasukannya ke penjara." ucap Mutia dalam hati.
*****
Tirta baru saja keluar dari ruang perawatan, dirinya baru saja selesai menangani pasien yang sempet mengalami kecelakaan akibat tabrak lari, waktu pulangnya jadi terundur namun Tirta tidak mempermasalahkannya, karena nyawa seseorang lebih penting baginya terlebih lagi ini adalah pekerjaannya sebagai tenaga medis.
"Bang." panggilnya.
Sena berdiri dari duduknya saat melihat Tirta keluar dari ruang perawatan, Ia sengaja nungguin Tirta di depan. Sudah satu bulan lamanya laki-laki itu terus menghindarinya dan tidak mau bertemu dengannya, Sena sendiri tidak tau alasan Tirta berubah eperti sekarang? Setiap kali di tanya tunangannya itu tidak pernah kasih jawaban apapun. Yah.. Sena merasa kalau sekarang Tirta bener-bener sudah berubah. Tirta bahkan sering menolak saat dirinya mengjaknya makan bareng ataupun pulang bareng? Sena menatap dalam kedua bola mata Tirta. Dirinya kangen tatapan hangat yang Tirta berikan untuknya, tatapan itu sekarang berubah menjadi tatapan dingin membuat dirinya semakin terluka.
Tirta balik badan. Ia tidak bergeming melihat gadis yang sudah lama bertatah di hatinya saat ini sudah ada di depan matanya menatapnya dengan hangat dan dalam. Tirta merasakan dadanya bergemuruh hebat melihat wajah sendu gadisnya, Ia ikut terluka setiap kali melihat tatapan Sena yang di tunjukan untuknya. Rasanya Tirta ingin sekali menarik Sena dan membawanya kedalam pelukannya, tapi entah kenapa ada rasa benci yang selalu membuat dirinya ingin menjauh dari gadis itu? Tirta sendiri tidak tau kenapa? Laki-laki itu mengalihkan pandangannya menghindari tatapan gadisnya, dia memijit pelipisnya kepalanya tiba-tiba terasa berat.
"Bang Tirta, abang kenapa? Abang sakit?" tanya Sena panik dia memegang lengan Tirta.
"Enggak. Aku enggak papa. Kamu kenapa ada disini?" jawab Tirta langsung menyingkirkan tangan Sena dari lengannya.
"Aku sengaja nungguin abang," sahut Sena tersenyum kecut saat Tirta menyingkirkan tangannya, sungguh sangat menyakitkan untuknya akan tetapi Sena masih mencoba untuk tetep tersenyum meskipun Tirta memperlakukannya dengan tidak baik.
"Buat apa nungguin aku? Sena, aku lagi buru-buru nanti kita bicara lagi. Aku harus pergi sekarang," Tirta nyelonong pergi meninggalkan Sena yang masih berdiri mematung.
Deg..
Tes.
Bagai tertancap belatih sampai menembus jantungnya, Sena merasakan sakit atas perubahan Tirta belakangan ini air mata yang sejak tadi di tahan akhirnya luruh juga. Sena mengusap dadanya yang begitu menyesakan dada, ini kali pertamanya Tirta memanggilnya dengan sebutan Sena tanpa embel-embel Dik.
"Kenapa sikapmu berubah bang? Kalau memang abang sudah nggak sayang sama aku katakan saja. Jangan membuat aku jadi seperti ini," ucap Sena lirih. Ia buru-buru mengusap air matanya takut ada orang yang melihatnya.
Sena memandangi punggung Tirta yang semakin menjauh dari pandangan matanya. Dia melangkah dengan gontai bersiap pulang ke rumah. Dirinya butuh istirahat menenangkan pikiran karena saat ini hatinya sedang tidak baik-baik saja.
****
Di dalam kamarnya Tirta masih terus memikirkan kejadian tadi siang dimana saat ia pergi meninggalkan Sena begitu saja. Tirta merasa sangat bersalah sama gadis yang sudah menjadi tunangannya itu. Tirta terlihat sangat gelisah merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya atas perubahan sikapnya terhadap Sena? Ia ingin sekali menjauhi gadis itu tapi hatinya menolak keras sola memintanya agar dirinya terus berada di dekatnya menjaganya dan melindunginya.
Argh!!!!
"Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku jadi seperti ini? Dia tunanganku tapi aku tidak ingin dekat dengannya! Tapi kenapa hatiku selalu bertentangan sama apa yang aku lakuin padanya!" teriak Tirta meremas rambutnya kuat.
Tirta begitu frustasi, dia memukul-mukul kepalanya sendiri, suara seseorang mengalihkan perhatiannya.
"Bang Tirta." panggilnya.
"Ninis kau? Ngapain kamu malem-malem ada disini? Pergilah!" Tirta mendorong Ninis keluar.
Ninis tersenyum sinis mulutnya mulai komat-kamit. Baru berapa detik saja sikap Tirta langsung berubah manis padanya. Ninis mendorong Tirta masuk kedalan dan mendudukannya di ranjang, perempuan itu langsung duduk di pangkuan Tirta dan memainkan bibirnya, tangan Ninis bergelayar masuk kedalam kaos Tirta dan mengusap dadanya.
Tatapan Tirta terlihat kosong laki-laki itu terlihat patuh saat Ninis membaringkannya di ranjang, Tirta membiarkan saat Ninis membuka kaosnya, Tirta menganggukan kepalanya saat Ninis membisikan sesuatu di telinganya. Ninis langsung menciumi leher Tirta tanpa ada yang terlewat sedikitpun.
"Jadikan aku milikmu seutuhnya bang Tirta," bisiknya lagi.
Lagi-lagi Tirta mengangguk patuh. Dia membelai wajah Ninis, tanganya bergerak mau membuka baju yang Ninis kenakan, suara seseorang di depan pintu masuk mengagetkan keduanya.
"Apa yang kalian lakukan!" teriaknya lantang.
"Sena." Tirta mendorong Ninis sampai jatuh ke bawah, laki-laki itu berdiri merapihkan kaos yang sudah terbuka sebagian.
Plak! Plak!
Sena mendekati Ninis dan berjongkok di depannya. Sena langsung melayangkan tamparan di kedua pipi Ninis, enggak cukup sampai disitu Sena juga menjambak rambut Ninis dengan kuat bahkan sangat kuat membuat perempuan iti meringis kesakitan.
"Beraninya kamu menamparku!" teriak Ninis menahan rambutnya yang di jambak Sena.
"Aku bahkan bisa melakukan lebih dari ini!" teriak Sena di wajah Ninis, tatapan matanya begitu tajam sampai mampu membuat Ninis bergidik ngeri melihatnya.
Deg..
******