Hidup gadis itu sederhana___terlalu sederhana untuk seseorang yang selalu merasa seperti tidak berada di tempat yang tepat. Saat keadaan memaksanya dirinya merantau ke kota, semuanya berubah ketika tanpa sengaja ia terseret masuk ke dalam kehidupan sebuah keluarga terpandang__Algara.
Salah satu pemuda pewaris keluarga itu membencinya sejak hari pertama kedatangan nya.
Baginya, gadis itu hanyalah masalah yang datang tanpa permisi. Pengganti yang tak seharusnya di akui. Namun semakin ia mencoba menjauh, gadis itu justru semakin mengganggu pikirannya. Sikap hangat gadis itu merusak dinding-dinding dingin yang selama ini ia bangun.
Hingga perlahan… kebencian berubah menjadi ketergantungan.
Ketergantungan berubah menjadi rasa yang ia benci akui; cinta.
Tanpa tau ada rahasia lama yang terkubur dalam malam kelahiran tiga anak di sebuah fasilitas darurat bertahun-tahun lalu.
Rahasia yang tidak pernah dibicarakan.
Tidak pernah dicari. tak pernah di sadari...
Bersambung...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARQ ween004, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gracelya dan kerapuhannya
Hujan turun semakin deras, membasahi jalanan ibu kota yang mulai dipenuhi genangan.
Deru mesin motor hitam membelah hujan tanpa sedikit pun mengurangi kecepatan. Lorenzo memacu kendaraannya seolah tak lagi memedulikan derasnya air yang menghantam tubuhnya. Jemarinya mencengkeram setang begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Pikirannya masih dipenuhi bayangan makam Bevva dan pertemuannya dengan Elvino beberapa saat lalu___pertemuan yang kembali menguak luka lama sekaligus menyisakan bara amarah yang belum sempat mereda.
Namun, semua itu buyar ketika ponselnya berdering.
Nama Gracelya yang muncul di layar, disusul isak tangis serta suara gadis itu yang bergetar dipenuhi ketakutan dari seberang telepon, seketika menghapus seluruh gejolak yang sejak tadi memenuhi benaknya. Ketegangan yang nyaris berubah menjadi bentrokan dengan Elvino pun tak lagi menjadi hal yang ia pikirkan.
Tanpa ragu, Lorenzo segera meninggalkan area pemakaman dan memutar gas motornya lebih dalam, melesat menuju kediaman keluarga Arkatama.
Kurang dari dua puluh menit kemudian, deru mesin motor itu akhirnya terhenti di halaman rumah bergaya modern klasik milik keluarga Arkatama.
Begitu mesin dimatikan, Lorenzo langsung turun dari motornya. Helm yang masih membasahi kepalanya bahkan tak sempat ia lepaskan dengan benar. Dengan langkah lebar dan tergesa, ia menerobos derasnya hujan, lalu bergegas menuju pintu utama.
Namun, langkah Lorenzo seketika terhenti. Keningnya langsung berkerut saat mendapati pintu utama rumah itu sedikit terbuka. Entah mengapa, firasat buruk tiba-tiba menjalari dadanya.
"Grace?" panggil Lorenzo sembari mendorong pintu itu hingga terbuka lebar.
Tak ada jawaban.
Tatapannya menyapu setiap sudut rumah yang sunyi. Dengan langkah cepat, ia terus melangkah semakin jauh ke dalam hingga tiba di ruang tengah.
Langkahnya mendadak terhenti.
Di sana, Gracelya tampak terduduk di lantai dengan kepala tertunduk, menyembunyikan wajahnya di balik kedua lutut yang ditekuk. Kedua lengannya melingkari kaki yang terus bergetar.
Rambut panjangnya terurai berantakan. Air mata mengalir tanpa henti di kedua pipinya. Seragam yang dikenakannya tampak kusut, sementara luka-luka lecet terlihat jelas menghiasi lengan juga kedua lututnya.
Di sekelilingnya, pecahan vas bunga, bingkai foto, dan berbagai perabot berserakan memenuhi lantai, menciptakan pemandangan yang begitu kacau.
Tak ada lagi Gracelya yang selama ini dikenal semua orang.
Tak ada lagi gadis angkuh yang selalu melangkah dengan kepala tegak.
Tak ada lagi siswi paling berpengaruh di SMA Cipta Karsa yang mampu membuat siapa pun ciut hanya dengan satu tatapan matanya.
Tapi kini yang ada di hadapan Lorenzo hanyalah seorang gadis rapuh___seorang gadis yang kehilangan pijakan ketika tempat yang selama ini ia sebut rumah justru menjadi tempat yang meruntuhkan segalanya.
"Grace..." suara Lorenzo melembut saat ia segera menghampiri gadis itu dan berlutut di hadapannya.
Mendengar panggilan itu, Gracelya perlahan mengangkat kepalanya. Mata yang biasanya menyorot tajam dan penuh wibawa kini tampak redup, dipenuhi luka yang tak mampu lagi disembunyikan. Tatapannya bertemu dengan iris hazel milik Lorenzo, seolah mencari secercah rasa aman yang masih bisa ia genggam di tengah dunia nya yang tengah kacau.
Bibir Gracelya bergetar pelan. Matanya kembali digenangi air hingga pandangannya tampak mengabur. Dengan suara lirih yang nyaris tak terdengar, ia hanya mampu memanggil, "Al..."
Panggilan itu membuat dada Lorenzo terasa sesak. Namun, sebelum sempat mengatakan apa pun, tatapannya lebih dulu menangkap luka di kening Gracelya yang masih menyisakan jejak darah mengering. Sudut bibir gadis itu tampak robek, sementara bekas tamparan yang memerah masih begitu jelas membekas di pipi putihnya.
Perlahan, Lorenzo mengangkat tangannya, lalu mengusap lembut pipi Gracelya dengan ujung jarinya, seolah takut sentuhan sekecil apa pun akan menambah rasa sakit gadis itu.
Sentuhan hangat itu menjadi titik runtuhnya seluruh pertahanan Gracelya.
"Al... aku takut," lirihnya dengan suara bergetar, sebelum akhirnya berhambur ke dalam pelukan Lorenzo.
Tangis yang sejak tadi berusaha ia bendung pecah seketika menjadi isakan pilu yang tak lagi mampu ia tahan.
Lorenzo refleks merengkuhnya erat. Satu tangannya mengusap perlahan punggung Gracelya, sementara tangan yang lain mengelus lembut rambut panjang gadis itu, berusaha menyalurkan ketenangan lewat setiap sentuhannya.
"Udah... nggak apa-apa," bisiknya pelan di dekat telinga Gracelya. "Ada gue di sini."
Mendengar kalimat itu, Gracelya justru menangis semakin keras. Jemarinya mencengkeram erat bagian belakang kaus yang Lorenzo kenakan, sementara wajahnya semakin tersembunyi di dada bidang pemuda itu, seolah hanya di sanalah ia masih merasa sedikit rasa aman.
Beberapa saat kemudian, Lorenzo tetap membiarkan Gracelya meluapkan seluruh tangisnya. Ia tak berkata apa-apa, hanya terus mengusap perlahan punggung gadis itu dan sesekali mengecup lembut puncak kepalanya, berusaha menenangkan luka yang tak bisa disembuhkan hanya dengan kata-kata.
Lama-kelamaan, isakan Gracelya mulai mereda. Perlahan, ia mengurai pelukan mereka lalu mengangkat wajahnya. Mata sembab yang dipenuhi sisa air mata itu menatap Lorenzo sebelum bibirnya bergetar pelan.
"Al... Papah..." lirihnya.
Lorenzo menganggukkan kepalanya, seolah satu kata itu sudah cukup memberinya penjelasan atas apa yang terjadi di rumah ini. Tanpa berkata apa-apa, ia mengangkat kedua telapak tangannya, lalu menangkup lembut wajah Gracelya.
"Kita obatin luka lo dulu, ya?" tuturnya lembut, ibu jarinya mengusap pelan pipi gadis itu.
Gracelya menggeleng lemah.
"Tapi Mama, Al..." bisiknya, suaranya kembali bergetar.
Lorenzo mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang porak-poranda sebelum kembali menatap Gracelya.
"Nyokap lo ke mana?" tanyanya pelan.
Gracelya mengusap sisa air matanya dengan punggung tangan sebelum menjawab lirih, "Mama nyusul Papah pakai mobil. Aku takut... hujan di luar cukup deras. Mama juga nggak terlalu pandai nyetir kalau cuacanya begini."
Perlahan, kedua tangannya menggenggam tangan Lorenzo yang masih menangkup pipinya.
"Al..." suaranya nyaris pecah. "Tolong susul mereka. Aku takut Mama kenapa-kenapa."
Lorenzo mengangguk pelan.
"Oke," ujarnya mantap. "Gue bakal nyusul mereka. Tapi sekarang gue obatin luka lo dulu."
Baru saja Lorenzo hendak bangkit untuk mencari kotak P3K, Gracelya kembali menahan tangannya.
"Nggak..." katanya sambil menggeleng pelan. "Nggak usah. Nanti aku bisa obatin sendiri."
Tatapan Lorenzo kembali menyapu luka-luka yang menghiasi lengan, lutut, hingga wajah gadis itu. Dadanya terasa semakin sesak.
"Tapi luka lo..." ucapnya.
Gracelya kembali menggeleng. Genggamannya pada tangan Lorenzo justru semakin erat, seolah takut pemuda itu pergi sebelum mendengar permintaannya.
"Al... aku nggak apa-apa," lirihnya. "Tolong susul Mama dulu. Aku takut terjadi sesuatu sama beliau."
Tatapan mereka saling bertaut dalam diam.
Sebelum akhirnya, Lorenzo akhirnya mengembuskan napas panjang.
Ia mengenal Gracelya lebih baik daripada siapa pun.
Jika gadis itu sudah mengambil keputusan, membujuknya hanya akan membuang waktu. Keras kepala Gracelya nyaris setara dengan dirinya. Mungkin itulah alasan mereka begitu sering bertengkar. Namun, di balik semua perdebatan itu, mereka selalu tahu ke mana harus kembali ketika dunia terasa terlalu berat untuk dihadapi seorang diri.
Seperti sekarang.
Satu minggu yang lalu, Gracelyalah yang memilih mengakhiri hubungan mereka.
Selama satu minggu itu pula, tak ada permintaan maaf, tak ada penjelasan, dan tak ada satu pun usaha dari Lorenzo untuk membujuknya. Keduanya memilih saling menjauh, bukan karena telah berhenti saling peduli, melainkan karena sama-sama percaya bahwa diam terkadang lebih baik daripada mempertahankan pertengkaran.
Namun, sejauh apa pun mereka berusaha menghindar, ada satu hal yang tak pernah berubah.
Mereka selalu tahu ke mana harus pulang ketika dunia tak lagi berpihak.
Dan malam ini, saat seluruh dunia Gracelya runtuh dalam sekejap, nama pertama yang terlintas di benaknya tetaplah Lorenzo___satu-satunya orang yang selalu mampu membuatnya merasa aman di tengah segala kekacauan.
"Oke," ujar Lorenzo akhirnya mengalah. Sesaat kemudian, ia teringat sesuatu dan kembali menatap Gracelya. "Terus Mbak Sari mana?"
Gracelya menundukkan kepalanya.
"Dua hari lalu Mbak pamit pulang ke kampung," jawabnya lirih. "Besok baru balik."
Lorenzo mengangguk pelan. "Oke."
Lalu dengan hati-hati, ia membantu Gracelya berdiri. Satu lengannya merangkul bahu gadis itu, sementara tangan yang lain menopang lengannya agar tidak kehilangan keseimbangan.
"Pelan-pelan," ucapnya lembut sembari menuntun Gracelya melangkah. "Gue anterin lo ke kamar dulu. Habis itu gue langsung nyusul bokap sama nyokap lo."
Gracelya hanya mengangguk pelan. Begitu kakinya mulai menopang berat tubuhnya, rintihan kecil lolos dari bibirnya menahan nyeri.
Melihat itu, Lorenzo segera mempererat topangannya agar gadis itu tak kembali terjatuh.
Mereka menaiki anak tangga dalam keheningan. Tak ada lagi percakapan yang terucap. Yang terdengar hanyalah derap langkah kaki mereka yang bergema pelan, menyatu dengan sunyi yang menyelimuti seluruh penjuru rumah.
Sesampainya di depan kamar, Lorenzo membuka pintu lalu membantu Gracelya duduk di tepi ranjang. Setelah memastikan gadis itu benar-benar nyaman, ia berjongkok tepat di hadapannya.
"Jangan ke mana-mana," pesan Lorenzo lembut seraya menatap lekat kedua mata Gracelya. Ibu jarinya mengusap pelan pipi gadis itu sebelum kembali berucap, "Kunci pintu begitu gue pergi. Nanti, kalau gue udah balik, gue obatin semua luka lo. Oke?"
Gracelya mengangguk patuh. "Oke."
Lorenzo membalas anggukan itu, lalu mengusap singkat pucuk kepala Gracelya sebelum berpesan, "Kalau ada apa-apa, langsung telepon gue."
"Iya," jawab Gracelya pelan, menatap Lorenzo seolah menggantungkan seluruh harapannya pada pemuda itu.
Lorenzo mengembuskan napas pelan. Untuk sesaat ia tetap berdiri di sana, memastikan Gracelya benar-benar tenang sebelum akhirnya berbalik dan melangkah cepat meninggalkan kamar.
Begitu keluar, langkahnya langsung dipercepat menuruni anak tangga. Kini hanya ada satu tujuan di benaknya___menemukan kedua orang tua Gracelya, terutama Elena, sebelum sesuatu yang tidak di inginkan benar-benar menimpa wanita itu.