"Mengapa Bapak bisa setega itu pada darah dagingnya sendiri. Bagaimana mungkin Emak mengatakan kalau Bapak adalah orang Baik".
Demi menolak keinginan Bapaknya Dia pergi dari rumah. disini lah awal mula keteguhan hatinya di uji, kekuatan mentalnya di beli dan kerinduannya terhadap sosok Emaknya.
Dialah Shofiyyah,gadis biasa yang di angkat menjadi penerus keluarga kaya.
Akankah dia bisa kembali bersama keluarganya yang sedehana namun bahagia.
Ikuti perjalanan hidupnya di mangatoon..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon deska wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch28 Mengajak Cahya
Mobil memasuki halaman rumah yang megah itu,Fifi turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah, dia ingin mengganti pakaiannya.
Saat akan membuka pintu,Cahya sudah lebih dulu keluar dengan wajah bahagianya.
"Ayo kita berangkat", dia menggerakkan tangannya cepat.
"Eeee tunggu dulu sebentar, aku mau mengganti pakaian dulu, agar lebih leluasa bergerak, ini terlalu peminim."
Cahya mengangguk dan duduk di kursi teras,menunggu Fifi.
Terima kasih tuhan,engkau mengirimkan malaikat untuk menemaniku.batin Cahya.
Papi dan maminya selalu bepergian,mengurus,bisnis,bisnis,bisnis. tampa mereka sadari ada hati yang kesepian dan merasa tidak di butuhkan.
mungkin karna mereka tidak tau harus bagaimana, berada disisinya namun tidak bisa di ajak bicara.
Atau menyibukkan diri demi menutupi kesedihan mereka, dalam satu bulan Papi dan maminya hanya pulang sehari, atau kadang tidak pulang sama sekali. memang semua kebutuhan Cahya selalu terpenuhi,dan tidak pernah kekurangan materi.
Namun hidup hanya berteman angan dan asa jauh lebih menyakitkan. itulah yang kadang menyebabkan Cahya lebih memilih mati,dari pada hidup bagaikan patung yang hanya bisa berdiri dan melihat orang lain bahagia.
Sementara didalam kamar Fifi meraba lututnya,sedikit perih akibat tersungkur tadi. cepat dia menutup lemari dan mengganti pakaian,Cahya pasti sudah tidak sabar menunggunya. Fifi berjalan cepat menuruni anak tangga,dan melihat Cahya sedang duduk termenung,entah apa yang dipikirkan gadis itu.
"Heyy ngelamunin apa?,ayoooo", Fifi sudah keluar dan berganti pakaian dengan celana jeans dan kaos. Rambut yang awalnya di biarkan terurai,kini sudah di ikat naik keatas,menampakkan leher putihnya.
Cahya memanyunkan bibirnya, terkejut atas ulah saudaranya itu.
"Ayo berangkat," ajak Fifi.
Mereka pergi dengan di antar pak kasim,supir baru Fifi pengganti Ilham.
Setiap kali akan menaiki mobil itu,raut wajah Fifi nampak muram. mana mungkin dia bisa melupakan Ilham dengan cepat,jika bayangnya selalu hidup.
Lengannya di tarik Cahya yang sudah dari tadi duduk di bangku belakang, Fifi tersenyum dan duduk di samping Cahya.
Mobil melaju ditengah ramainya Ibu kota,hiruk pikuk aktivitas manusia yang memenuhi bumi kota itu.
Setengah jam perjalanan,akhirnya mereka sampai di sekolah luar biasa.
Fifi turun dari mobil,Cahya mengikutinya dari belakang. mereka bergandengan menuju kelas.
Rasyid yang dari jauh melihat Fifi membawa satu orang teman, tersenyum penuh makna. dia berjalan cepat ke arah Fifi dengan memasang wajah sempurnanya.
"Loh non Fifi, hari ini kita tidak ada jadwal belajar," ucapnya dengan lembut penuh sopan santun.
"Iya,pak Rasyid", saya hanya mau mampir sebentar saja.
" Apa Ibu kepala Sekolah ada di ruangannya?", saya ada perlu dengan beliau", Fifi bertanya.
"Oh ada non", Mari saya antar.
" Tidak usah repot-repot Pak," kami bisa sendiri.Fifi tersenyum.
"Baiklah," ucap Rasyid.
dua kali nona muda,,dua kali kamu menolakku..maka dua kali juga kamu akan membayar hutang padaku. ya, aku anggap penolakanmu adalah hutang, dan aku akan menagihnya beserta bunganya, tunggu saja.
Rasyid melihat kepergian Fifi dan Cahya dengan senyuman,namun senyum yang dibumbui sianida.
"Tok..tok..tok.."
"Masuk," terdengar suara dari dalam.
Fifi membuka pintu dan masuk bersama Cahya.
"Loh nak Fifi, ada apa kemari", perempuan itu cepat berdiri dengan sejuta senyumannya.
"Mari silahkan duduk," ucapnya lembut bagaikan gula-gula kapas.
Fifi dan Cahya duduk. melihat Fifi tidak sendiri Ibu Juwita, kepala sekolah melihat Fifi.
"Maaf bu, Ini Cahya teman saya. dia tidak bisa bicara, apa boleh dia ikut mengajar anak-anak di Sekolah ini," ucap Fifi.
Bisma mengatakan agar Fifi tidak menyebutkan Identitas Cahya,demi keselamatan gadis itu. sejauh ini tidak ada satu orangpun yang tau siapa Cahya sebenarnya, karna yang berada di depan adalah Fifi,sebagai penerus Mulyo Group.
Cahya tidak pernah tersorot media,ataupun hal lainnya. Setiap apa yang di lakukannya selalu di awasi orang-orang Bisma.
Ibu Juwita memandang penampilan Cahya.
kalau bukan nona dari keluarga Mulyo yang membawamu kesini, mana mungkin aku sudi menerima gadis bisu itu.
Ibu Juwita tersenyum menganggukkan kepalanya,"Tentu saja dia boleh mengajar di sini", ucapnya.
Tok..tok..tok..
Rasyid masuk dengan membawa nampan minuman dan cemilan, dia tersenyum sambil meletakkan gelas minuman di depan tamu istimewa itu, dan juga untuk Ibu Juwita.
"Maaf bu, saya mengantar ini saja," ucapnya sopan kepada ibu Juwita, dan wanita itu mengangguk.
"Terima kasih Pak Rasyid",ucapnya.
"Baik,saya permisi dulu," masih ada kerjaan lain. Rasyid keluar ruangan itu dengan sejuta senyum.
"Kenapa Pak Rasyid membuatkan minum, dia kan seorang guru, Fifi bertanya kepada ibu Juwita."
"Iya,Dia memang Guru, namun orang tuanya bekerja sebagai pelayan, Terkadang dia membantu saat sedang Of," Ibu Juwita menjelaskan.
"Mari, silahkan diminun nak Fifi,nak cahya."
Mereka minum dan berbincang-bincang kecil mengenai murid di sekolah itu.
Di balik pintu,Rasyid tersenyum. dia mengeluarkan ponselnya,mengirim pesan singkat.
Ikan sudah memakan umpan, ayo kita bermain..
Hay Kaka, aku mampir lagi nih bawa 3 like.
maaf baru sempat mampir ya.
nyicil baca dulu ❤️❤️❤️❤️
Semangat....
lanjut
salam dari
MAHABBAH RINDU
KETEGARAN BUNDA