"Mas Kenzo! Pocongnya kabur lagi!" teriak Srini sambil ngemil ceker ayam._
"Bukan waktunya makan, sri! Itu pocong bawa kabur anak kepala desa!"
Kenzo, dukun muda nyeleneh dan Srini, kuntilanak centil juga narsis , harus menghadapi Gerombolan pocong pemburu nyawa,Pengkhianatan makhluk gaib yang mereka percaya ,Rahasia mengerikan di balik kematian orang tua Kenzo.
misteri apa yang terjadi mengapa bisa ribuan pocong mengepung sebuah desa dan mengapa orang tua Kenzo bisa mati secara misterius. temukan jawabannya di buku ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the last shadow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Perperangan jauh dari kata selesai. Mayat bertumbangan dari kedua kubu, medan perang dipenuhi oleh suara dentuman, jeritan, dan ledakan energi. Srimurni (Srini) meleset dengan meliuk-liuk menghantam prajurit musuh di depannya. Gerakannya lincah, mematikan, bagai angin merah yang tak bisa disentuh. Dia dengan gesit menghindari serangan dan membalas dengan cepatnya.
"Mati kalian makhluk brengsek!"
teriak Srimurni membunuh seluruh pasukan musuh dengan kekuatannya yang dahsyat, menyapu habis barisan yang menghalanginya.
"Srini, cepat! Kita harus bergabung dengan Kenzo!"
ucap Maya yang sedang melawan musuh di depannya. Terlihat pocong cantik itu dengan gesitnya sambil menghindari serangan dan melibas musuh hingga terbelah dengan kain kafannya. Gerakannya lembut tapi tajam, tiap ayunan kain kafan menjadi tebasan mematikan.
"Rawrr! Ayo cepat! Saat ini mental bos terguncang, dia tidak akan bisa bertarung dengan maksimal!" ucap Gwandra sambil memukul musuh di depannya. Suara gendruwo besar itu menggelegar di antara kepungan musuh yang semakin banyak. Ia mulai kesulitan, tapi semangat bertarungnya belum padam meski jumlah mereka terus bertambah dan makin mengurung dari segala arah.
Sosok ular raksasa datang menerjang, menghantam Gwandra yang sedang melawan musuh. Tubuh gendruwo raksasa tersebut terpental sangat cepat, menghantam pasukannya hingga berantakan.
"Gwandra!"
teriak Maya dan Srini bersamaan, melihat teman mereka terpukul mundur begitu keras. Debu dan asap membumbung tinggi, menyelimuti tubuh besar Gwandra yang tergeletak tak bergerak.
Perlahan, sosok ular raksasa tersebut menyusut. Asap hitam menyelimuti tubuhnya, melingkar lalu pecah seperti kabut tipis. Dari balik kabut itu, wujud wanita muncul. Ia melangkah maju dengan penuh percaya diri. Wanita yang sangat cantik, kulitnya putih pucat dilapisi dengan sisik-sisik kecil berkilau. Tubuhnya terbungkus gaun berwarna hitam dengan motif sangat indah, mengalir mengikuti bentuk tubuhnya. Di atas rambutnya ada sebuah mahkota kecil yang indah, menambah kesan anggun sekaligus mematikan.
Matanya tajam, dingin, menyapu seluruh medan perang di hadapannya.
"Kalian pikir semudah itu mengalahkan kami dengan kekuatan kalian yang hanya segini? Cih, sungguh naif!" ucap Blorong dengan menyilangkan tangannya di tubuhnya, menatap mereka dengan sangat tajam.
Ya, musuh yang datang menyerang Gwandra adalah Blorong, panglima perang Nyi Roro Kidul. Ratu siluman ular tersebut akhirnya turun tangan dan bergabung dalam peperangan ini.
Srimurni mengeluarkan aura membunuh yang sangat besar. Getaran energi itu menyebar cepat ke seluruh penjuru medan perang, membuat tanah berderak dan udara bergetar.
Dia menatap Blorong dengan tak kalah sengitnya, mata merahnya menyala, penuh amarah dan dendam yang sudah lama disimpan. Aura itu seperti tekanan gaib yang menusuk hingga ke tulang.
Maya dan seluruh pasukan yang berada di medan perang tidak tahan dengan tekanan tersebut. Maya berlutut, tubuhnya gemetar hebat, lalu memuntahkan darah hitam yang sangat kental. Nafasnya tersengal. Beberapa pasukan lain bahkan tak sempat bereaksi—mereka roboh, mati begitu saja, tubuh mereka hancur dari dalam.
"Blorong, kau masih saja sombong seperti dahulu!"
ucap Srimurni, suaranya menggema, menggulung seluruh medan perang seperti petir di langit malam.
Blorong tersenyum tipis. Tatapan matanya tetap tajam, tapi kini ada sedikit nada meremehkan di wajahnya. Rambut hitam panjangnya berkibar pelan ditiup angin, gaunnya bergerak perlahan mengikuti gelombang aura yang dilepaskan Srimurni.
"Aku tidak menyangka kau masih hidup, Srimurni. Kupikir kau sudah lenyap waktu peperangan waktu" ucap Blorong dengan tenang, suaranya lembut tapi dingin seperti bisa menusuk langsung ke jantung.
Dia melangkah maju perlahan, seolah aura membunuh Srimurni tak ada artinya. Setiap langkahnya membuat tanah di bawah kakinya retak dan rumput menghitam.
"Tidak semudah itu membunuhku" jawab Srimurni, tubuhnya dikelilingi kilatan api merah yang menyelimuti tubuhnya "kau tetap sama hanya besar mulut!"
Maya berusaha bangkit, tangannya bergetar memegang ujung kain kafan. Darah masih menetes dari mulutnya, tapi tatapannya tak lepas dari pertarungan dua ratu itu.
"Aku tidak akan membiarkan dia bertarung sendirian," gumam Maya pelan, meski tubuhnya masih lemah.
Langit mendadak gelap, angin berhembus makin kencang, dan di antara dua kekuatan besar yang saling bertabrakan, peperangan... berubah menjadi duel yang akan mengguncang segalanya.
Di bawah laut, Kenzo berenang cepat menembus arus yang ganas. Air laut terasa seperti menolak kehadirannya, gelombangnya liar, penuh tekanan dari kekuatan gaib yang menyebar dari istana bawah laut. Cahaya dari Keris Karang Hyang di tangannya bersinar terang, menerangi jalur yang ia tempuh.
Batu karang tajam dan makhluk-makhluk laut bermata merah terus bermunculan menghalangi jalannya. Tapi Kenzo tak gentar. Nafasnya teratur, tatapannya tajam menembus kegelapan.
"Aku tidak akan gagal..." gumamnya. "Azura, Srini, Maya... semua sudah bertaruh nyawa."
Seekor siluman laut muncul dari balik reruntuhan batu karang, melesat ke arahnya dengan rahang menganga. Kenzo memutar tubuhnya dan menebas cepat dengan keris. Darah hitam membaur di air.
"Jalan ini... pasti menuju ke pusatnya..."
Dari kejauhan, terlihat siluet bangunan besar megah di dasar laut, dikelilingi pusaran air dan aliran energi berwarna hijau. Istana Nyi Roro Kidul.
Kenzo menggenggam kerisnya lebih erat, lalu mendorong tubuhnya lebih dalam, menuju ke jantung kegelapan.
feed back la yaa😍