Dikhianati kekasih dan juga sahabat sendiri adalah hal yang paling menyakitkan bagi seorang Gea Anastasya. Gadis 24 tahun itu sangat syok melihat secara langsung pengkhianatan dari dua orang yang sangat ia percayai.
Rasa kecewa Gea membuatnya mati rasa terhadap pria manapun, sampai akhirnya ia tak sengaja bertemu dengan Duda anak satu yang berhasil mematahkan janji Gea pada dirinya untuk tidak membuka hatinya kepada siapapun.
Mau tau cerita selanjutnya? Langsung klik subscribe yaaa!!! ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 28 : Keinginan Orang Tua Bunga
Keesokan Pagi.
Usai sholat subuh berjama'ah, Bunga berinisiatif untuk membantu Bunda Siti memasak di dapur. Bunga ingin kehadirannya di rumah itu bisa membuat Bunda Siti nyaman.
Bunda Siti menolak niat baik Bunga karena merasa bahwa Bunga adalah tamu dan sebagai tuan rumah, Bunda Siti tidak ingin merepotkan tamunya.
“Bunga lebih baik temani Ican bermain saja di ruang keluarga, soal memasak biar Bunda saja yang melakukannya,” ucap Bunda Siti yang saat itu sedang menggoreng ayam.
“Bunda yakin tidak apa-apa jika memasak sendirian?” tanya Bunga memastikan kembali.
“Iya Bunga, Bunda tidak apa-apa. Ican saat ini butuh teman bermain,” jawab Bunda Siti.
Bunga pada akhirnya menemani Ican bermain dan meninggalkan Bunda Siti sendirian di dapur.
Usai memasak sarapan, Bunda Siti bergegas memanggil ketiganya yang saat itu tengah berkumpul di ruang keluarga.
“Papa.. Mau cama Mama,” ucap Ican yang teringat akan Gea yang biasa ia panggil Mama.
Hasan tak pernah membahas perihal Ican yang memanggil salah satu pegawai restoran dengan panggilan Mama kepada Bunda Siti. Mendengar hal itu tentu saja Bunda Siti terkejut hingga tak sengaja menyenggol gelas miliknya hingga tumpah membasahi meja makan.
Bunga dengan cepat mengambil tisu untuk mengeringkan meja yang basah akibat tumpahan gelas minum milik Bunda Siti.
“Ican kok bicara begitu?” tanya Bunda Siti penasaran.
Bunga tak ingin bila Bunda Siti menanyakan atau mengetahui perihal yang dimaksud oleh Ican. Bunga pun sengaja terbatuk-batuk untuk mengalihkan perhatian Bunda Siti.
Melihat Bunga yang terbatuk-batuk, Bunda Siti bergegas memberikan segelas air minum kepada Bunga dan mempersilakan Bunga untuk meneguk air minum tersebut.
“Terima kasih, Bunda.” Bunga bernapas lega seraya menepuk kecil dadanya.
Hasan tahu kalau Bunga sengaja mengalihkan perhatian Bunda Siti dan secara tak langsung Hasan berterima kasih kepada Bunga yang berhasil mengalihkan perhatian Bunda Siti terhadap perkataan Ican.
Usai sarapan, Hasan menawarkan diri untuk mengantarkan Bunga ke rumah orang tuanya karena Hasan tahu kalau Bunga belum juga pulang ke rumah dan langsung menemui Ican.
Di perjalanan menuju kediaman Bunga, tak ada perbincangan sedikitpun dari keduanya. Hasan fokus dengan jalan didepannya. Sementara Bunga hanya diam seraya memperhatikan Ican yang sedang main mobil-mobilan.
“Papa, mau cama Mama.” Ican merindukan Gea dan ingin sekali bertemu dengan Gea.
“Ican sayang, lain kali saja ya. Papa hari ini sibuk dan Ican sementara ini sama Papa,” balas Hasan yang fokus mengemudikan mobilnya.
Bunga hanya bisa diam mendengar percakapan keduanya dan tak ingin ikut bergabung membahas perihal wanita yang dimaksud oleh Ican.
Kenapa perjalanan ini terasa sangat lama? (Batin Bunga)
Bunga berharap ia bisa segera sampai di rumah karena ia ingin berkumpul sejenak dengan keluarganya.
Beberapa saat kemudian.
Bunga tersenyum lega karena akhirnya ia tiba di depan rumah. Bunga pun turun dan tak lupa mengajak keduanya untuk mampir terlebih dulu.
Hasan bergegas turun, namun Ican tetap diam di dalam mobil yang mana membuat Bunga sedih.
Ican sebelumnya sangat senang jika bermain ke rumah keluarga dari Almarhumah Mamanya, namun kali ini Ican nampak biasa saja yang tentu saja membuat Bunga sedih.
“Ican kenapa tidak turun? Malam ini Ican tidur sama Tante Bunga lagi ya? Besok Tante Bunga sudah kembali ke Semarang,” ucap Bunga.
Ican tak langsung menjawab seperti ada hal yang sedang dipikirkannya. Bunga bersabar menunggu jawaban Ican dan pada akhirnya Ican mengiyakan ajakan Sang Tante.
Bunga tersenyum lega mendengar jawaban Ican. Kemudian Bunga meminta izin kepada Hasan dan Hasan tentu saja mempersilakan Ican untuk menginap.
Hasan hanya mampir sebentar karena ia harus kembali melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pemilik restoran yang sudah memiliki 3 cabang yang ketiganya itu bisa dikatakan cukup ramai pembeli.
Selepas Hasan pergi, Ican tiba-tiba menangis dan kembali mengatakan hal yang sangat tidak ingin didengar oleh Bunga. Meski begitu, Bunga berusaha untuk membuat Ican bahagia agar Ican melupakan keinginannya untuk bertemu dengan wanita yang biasa Ican panggil dengan panggilan Mama.
Tak butuh waktu lama, Bunga berhasil mengalihkan perhatian Ican dan keduanya kembali bermain seperti biasanya.
Ibu Maya dan Ayah Roni hanya bisa memperhatikan keduanya dari kejauhan karena tak ingin mengganggu keduanya yang sangat dekat itu.
Waktu terus berjalan, hingga waktu menunjukan pukul 9 malam. Sudah saatnya bagi Ican untuk tidur karena besok ia akan dijemput oleh Hasan.
Sebelum Bunga masuk ke dalam kamar untuk menidurkan Ican, Ibu Maya menghampiri Bunga dan meminta Bunga untuk mengobrol sebentar.
“Bunga menidurkan Ican dulu ya, baru setelah itu Bunga menyusul Ibu,” balas Bunga.
Tak berselang lama Bunga menghampiri kedua orang tuanya yang saat itu sedang minum teh di ruang keluarga.
Bunga pun duduk dekat dengan Ibu Maya dan Ayah Roni yang sedang menatapnya dengan penuh kasih sayang.
“Kenapa tidak beritahu Ayah dan Ibu kalau mau pulang ke Jakarta?” tanya Ibu Maya penasaran.
“Bunga sengaja tidak memberitahu Ayah dan Ibu karena ingin memberikan kejutan,” jawab Bunga apa adanya.
“Bunga sudah ada calon suami?” tanya Ibu Maya penasaran berharap putri mereka itu memiliki calon suami baik seperti Hasan yang begitu baik terhadap Yani, putri sulungnya yang telah tiada.
Bunga meminta baik Ayah maupun Ibunya untuk tak membahas perihal calon suaminya. Bunga hanya ingin kedua orang tuanya menjaga kesehatan di usia mereka yang tak lagi muda.
Ayah Roni paham dengan ucapan putrinya, namun Ibu Maya nampaknya sangat ingin melihat Bunga menikah dalam waktu dekat.
“Bunga, sebagai seorang Ibu tentu saja Ibu ingin melihat kamu menikah dengan laki-laki yang baik juga. Akan lebih bagus lagi kalau kamu menikah dengan laki-laki yang baik serta akhlaknya bagus seperti kakak ipar kamu,” pungkas Ibu Maya.
“Ayah dan Ibu cukup do'akan saja yang terbaik untuk Bunga. Bunga yakin Allah pasti akan mengabulkan do'a baik itu,” balas Bunga dengan tenang.
Ibu Maya tak pernah menunjukkan air matanya di depan Bunga, namun kali itu Ibu Maya tak bisa membendung kesedihannya.
Melihat Sang Ibu menangis, Bunga langsung memeluk Ibu Maya dan meminta wanita paruh baya untuk tak menangis memikirkan jalan hidupnya.
“Ibu jangan nangis ya. Allah pasti memberikan jalan terbaik untuk hidup Bunga,” ucap Bunga yang tak bisa melihat Ibunya menangis secara tiba-tiba seperti itu.
“Iya Bunga, Ibu tahu maksud kamu. Sebagai seorang Ibu tetap saja Ibu ingin melihat kamu segera menikah.” Ibu Maya sangat berharap Bunga menikah dalam waktu dekat.
Bunga menoleh ke arah Ayah Roni dengan memberikan tatapan pembelaan agar Sang Ayah mau membela dirinya.
Ayah Roni tak bisa berbicara banyak karena ia setuju dengan apa yang dikatakan istrinya.
Bersambung..
Mohon klik suka, komen dan vote.. 🙏 Bintang 5 juga ya 🥰