Di sebuah kerajaan yang penuh dengan intrik dan kekuatan mistis pada masa Dinasti Tang, hiduplah seorang pangeran bernama Li Wei. Sejak kecil, Li Wei selalu dianggap lemah dan tidak berbakat dalam seni bela diri, sehingga ia sering dijuluki "Pangeran Cupu" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, di balik penampilannya yang lemah, Li Wei memiliki hati yang baik dan kecerdasan yang luar biasa.
Li Wei tumbuh di istana dengan penuh cemoohan dari saudara-saudaranya dan para pejabat istana. Ayahnya, Kaisar Li, merasa malu dengan kelemahan Li Wei dan lebih mengutamakan putra-putranya yang lain. Namun, Li Wei tidak pernah menyerah dan terus berusaha untuk membuktikan dirinya.
Suatu hari, saat sedang berjalan-jalan di hutan, Li Wei bertemu dengan seorang guru bela diri misterius bernama Master Feng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Putri Lu Zhuang mengangkat dagunya sedikit lebih tinggi. Kilatan ketidaksenangan melintas di wajah cantiknya.
"Beristirahat?" ulangnya pelan. "Dari pagi sampai malam?"
Nada suaranya terdengar ringan, tetapi siapa pun yang mendengarnya dapat merasakan sindiran yang tersembunyi di balik kata-kata itu.
Shilian tetap berdiri tegak seperti tombak yang tertancap kokoh di tanah.
"Benar, Tuan Putri."
"Kalau begitu, kapan Kakak Li Wei akan menemuiku?"
"Hamba tidak tahu."
Jawaban singkat itu membuat sudut bibir Lu Zhuang berkedut.
Tidak tahu?
Bagaimana mungkin seorang pelayan pribadi tidak tahu?
Jelas wanita itu sengaja menghalanginya.
Pelayan pribadi Lu Zhuang yang berdiri di belakangnya langsung melangkah maju.
"Kurang ajar! Beraninya kau membiarkan Putri Kerajaan menunggu seharian di luar? Apa kau tidak tahu siapa tuanku?"
Shilian tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut.
"Hamba tahu."
"Kalau tahu, kenapa kau masih berani menghalangi jalan?"
"Hamba hanya menjalankan perintah Putri Mei Ling."
Mendengar nama Mei Ling disebut, wajah Lu Zhuang langsung berubah.
Sejak kecil, ia selalu mendengar bagaimana Putri Mei Ling adalah wanita paling disayang keluarga kekaisaran. Cantik, cerdas, dan hampir tidak pernah kalah dalam permainan politik istana.
Namun Lu Zhuang tidak pernah menganggap serius semua itu.
Menurutnya, Mei Ling hanya beruntung karena lahir dengan status tinggi.
Kini, untuk pertama kalinya, ia mulai merasakan sendiri bagaimana rasanya berhadapan dengan wanita itu.
Dan perasaan itu...
Sangat tidak menyenangkan.
"Kau boleh pergi sekarang," kata Lu Zhuang akhirnya sambil tersenyum tipis.
Shilian sedikit terkejut.
"Hamba?"
"Ya. Aku akan menunggu sendiri."
"Hamba diperintahkan untuk menjaga di sini."
"Tidak perlu. Aku bukan pencuri yang akan menerobos masuk."
Shilian memandang Lu Zhuang beberapa saat sebelum akhirnya memberi hormat.
"Kalau begitu hamba akan berjaga tidak jauh dari sini."
Setelah mengatakan itu, ia mundur beberapa langkah dan berdiri di sudut aula.
Begitu Shilian menjauh, pelayan pribadi Lu Zhuang segera mendekat.
"Tuan Putri, wanita itu sengaja mempermalukan Anda."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa Anda tidak marah?" Lu Zhuang mengepalkan tangannya di balik lengan baju.
"Aku baru datang. Jika aku membuat keributan sekarang, Kakak Li Wei pasti akan menganggapku tidak tahu aturan." Pelayan itu menggigit bibirnya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
Lu Zhuang memandang ke arah kamar utama yang masih tertutup rapat.
Lampu di dalam kamar masih menyala.
Bayangan dua sosok samar terlihat melalui jendela kertas.
Hati Lu Zhuang langsung terasa panas.
Mereka benar-benar sedang bersama.
Sementara dirinya menunggu seperti orang bodoh di luar.
"Aku akan bersabar."
"Sampai kapan?"
"Sampai aku menjadi wanita yang berdiri di sisi Kakak Li Wei." Matanya menyipit perlahan.
"Aku tidak percaya Putri Mei Ling bisa menemaninya selamanya."
Di dalam kamar utama.
Putri Mei Ling sedang menikmati semangkuk sup sarang burung yang baru saja disiapkan pelayan. Pangeran Li Wei duduk di sampingnya sambil membaca buku.
Tiba-tiba terdengar suara tawa kecil dari Mei Ling. Li Wei menurunkan bukunya.
"Apa yang lucu?" Mei Ling menutup mulutnya dengan saputangan sutra.
"Lu Zhuang masih menunggu di luar."
Pangeran Li Wei menghela napas panjang.
"Xiao Ling..."
"Apa?"
"Kurasa kau terlalu kejam."
"Kejam?" Mei Ling mengangkat alisnya. "Aku hanya mengajarinya aturan."
"Aturan apa?"
"Aturan pertama hidup di kediaman ini."
Li Wei memandang istrinya dengan rasa penasaran.
Mei Ling tersenyum manis.
"Bahwa semua orang harus tahu posisi mereka."
Senyumnya terlihat lembut.
Terlalu lembut.
Sampai-sampai Li Wei justru merasa kasihan kepada Lu Zhuang.
"Dan jika dia tidak mengerti?"
Mei Ling meletakkan mangkuk supnya perlahan.
Suara porselen menyentuh meja terdengar pelan.
Mata indahnya berkilat penuh arti.
"Kalau begitu, aku akan mengajarinya sedikit demi sedikit."
Entah kenapa, mendengar kalimat itu membuat Li Wei merinding.
Ia tiba-tiba merasa bahwa keponakan Selir Liu Yuhe telah melangkah masuk ke sarang harimau tanpa menyadarinya.
Dan harimau itu...
Sedang tersenyum dengan sangat manis.
Malam semakin larut.
Langit di atas ibu kota tampak gelap seperti hamparan tinta pekat, hanya dihiasi gugusan bintang yang berkilauan samar. Angin malam berembus pelan melewati halaman kediaman Pangeran Li Wei, menggoyangkan lentera-lentera merah yang menggantung di sepanjang koridor.
Putri Lu Zhuang masih duduk di aula depan.
Awalnya ia berdiri dengan penuh semangat.
Kemudian berjalan mondar-mandir.
Lalu duduk dengan anggun.
Dan sekarang...
Ia mulai terlihat lelah.
Perutnya bahkan mengeluarkan suara lirih karena belum makan malam.
"Tuan Putri..." pelayan pribadinya berbisik pelan. "Bagaimana kalau kita kembali ke kamar dulu?"
Lu Zhuang menggertakkan giginya.
"Tidak."
"Tapi sudah sangat malam."
"Kalau aku pergi sekarang, bagaimana jika Kakak Li Wei keluar?"
Pelayan itu hanya bisa menundukkan kepala.
Sementara itu, di sudut koridor, Shilian yang sejak tadi mengawasi diam-diam merasa kagum.
Putri Lu Zhuang memang manja dan keras kepala. Namun tingkat kegigihannya ternyata cukup mengesankan.
Sayangnya...
Ia sedang berhadapan dengan Putri Mei Ling.
Di dalam kamar utama. Pangeran Li Wei baru saja selesai mandi.
Rambut hitam panjangnya masih sedikit basah ketika ia kembali ke ruang tidur.
Begitu masuk, ia mendapati Mei Ling sedang duduk di depan meja rias.
Jari-jari lentiknya menyisir rambut hitam berkilau yang menjuntai hingga pinggang.
Kilauan lilin memantulkan wajah cantiknya yang tampak tenang.
"Xiao Ling."
"Hm?"
"Lu Zhuang masih di luar." Mei Ling mengangguk santai.
"Aku tahu."
"Kau benar-benar tidak berniat menemuinya?"
"Tidak malam ini."
Li Wei menghela napas.
"Kau sedang menghukumnya?"
"Tidak."
"Lalu?"
Mei Ling tersenyum kecil.
"Aku sedang membantunya belajar."
"Belajar apa?"
"Belajar bahwa dunia tidak berputar mengelilinginya."
Li Wei terdiam. Ia tidak bisa membantah.
Sejak kecil, Lu Zhuang memang tumbuh sebagai putri kesayangan keluarga kerajaan. Hampir semua keinginannya selalu terpenuhi.
Bahkan Selir Liu Yuhe sangat memanjakannya. Karena itulah Lu Zhuang memiliki kebiasaan buruk. Menganggap segala sesuatu bisa diperoleh jika ia cukup menginginkannya.
Termasuk...
Li Wei.
Tak lama kemudian.
Seorang pelayan datang membawa laporan.
"Yang Mulia Putri."
"Masuk."
Pelayan wanita itu memberi hormat.
"Putri Lu Zhuang masih menunggu di aula depan."
Mei Ling menahan senyum.
"Sudah berapa lama?"
"Hampir empat jam."
Pelayan itu menambahkan dengan suara hati-hati.
"Dan sepertinya Tuan Putri belum makan malam."
Li Wei langsung mengangkat kepala.
Belum makan? Bahkan dirinya merasa sedikit kasihan sekarang.
Namun sebelum ia sempat berbicara, Mei Ling sudah lebih dulu membuka mulut.
"Kirimkan makanan." Li Wei mengangguk puas. Setidaknya istrinya masih memiliki belas kasihan.
Namun kalimat berikutnya langsung membuat sudut bibirnya berkedut.
"Kirimkan semangkuk bubur sayur."
"Bubur sayur?" ulang pelayan itu bingung.
"Ya."
"Tidak ada lauk?"
"Tidak perlu."
"Buah-buahan?"
"Tidak perlu."
"Teh?"
"Air hangat sudah cukup."
Pelayan itu berkedip beberapa kali.
"Baik, Yang Mulia."
Begitu pelayan pergi, Li Wei menatap istrinya.
"Xiao Ling..."
"Hm?"
"Kau sungguh kejam."
Mei Ling tertawa pelan.
"Tidak."
"Lalu apa namanya memberi seorang putri kerajaan bubur sayur setelah membuatnya menunggu berjam-jam?"
"Itu namanya pendidikan hidup."
Li Wei tidak tahu harus tertawa atau menangis.
Ketika bubur itu akhirnya sampai di aula depan, wajah Lu Zhuang langsung berseri.
"Kakak Li Wei mengirim makanan untukku?"
Pelayan yang mengantar tersenyum canggung.
"Ini perintah Putri Mei Ling."
Senyum Lu Zhuang langsung membeku.
Perlahan ia membuka tutup mangkuk.
Lalu...
Ia menatap isi mangkuk itu dengan wajah kosong.
Bubur.
Polos.
Bahkan tidak ada potongan daging sedikit pun.
Hanya beberapa helai sayuran hijau mengambang di permukaannya.
"..."
Pelayan pribadinya juga ikut terdiam.
"..."
Untuk beberapa saat, suasana menjadi sangat hening.
Lu Zhuang menarik napas panjang.
Kemudian tersenyum.
Senyum yang terlihat lebih menyeramkan daripada tangisan.
"Putri Mei Ling benar-benar perhatian."
Pelayan itu menelan ludah.
Ia bisa merasakan amarah yang hampir meledak dari tuannya.
Namun Lu Zhuang tetap memakan bubur itu.
Satu suapan.
Dua suapan.
Tiga suapan.
Setiap suapan terasa seperti penghinaan yang harus ia telan bersama bubur tersebut.
Di saat yang sama, jauh di dalam kamar utama. Mei Ling sedang membaca buku sambil menikmati kue osmanthus kesukaannya.
"Yang Mulia." Seorang pelayan masuk sambil menahan tawa.
"Putri Lu Zhuang memakan buburnya."
Mei Ling mengangguk puas.
"Bagus."
Pangeran Li Wei yang duduk di sampingnya menatap istrinya dengan tatapan aneh.
"Kenapa kau terlihat begitu bahagia?"
Mei Ling menutup bukunya perlahan.
Karena...
Tahap pertama rencananya telah berhasil.
Lu Zhuang masih mengira dirinya datang ke kediaman Pangeran Li Wei sebagai calon selir yang akan dimanjakan.
Padahal kenyataannya—
Ia baru saja resmi menjadi murid pertama dalam pelajaran panjang yang disiapkan Putri Mei Ling.
Dan pelajaran berikutnya...
Akan dimulai esok pagi.