Demi membatalkan perjodohan yang dilakukan oleh papanya, Alea terpaksa harus meminjam uang kepada sang Bos, demi melunasi hutang-hutang keluarganya kepada kakek Will.
Bahkan, Alea juga sampai rela memotong urat malunya, demi meminta sang bos, untuk menjadi kekasih bohongannya.
Akan tetapi, takdir berkata lain, apa yang Alea rencanakan semuanya gagal. Dan malah berujung pada pernikahan serius dengan sang bos-nya.
Padahal, bos-nya adalah orang yang paling dihindari Alea sejak SMA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baby Shower
Bel pulang kerja sudah berbunyi. Riuh suasana kantor pun terdengar, menggema di seluruh ruangan. Semua orang sibuk merapikan meja kerjanya masing-masing, bahkan ada yang langsung pergi tanpa merapikannya terlebih dahulu.
Edwin yang baru saja selesai merapikan perlengkapan kerjanya. Ia pun menarik tas ransel hitam miliknya, dan mengaitkannya di sebelah pundaknya. Lalu menghampiri Alea, dan ikut membantu merapikan tumpukan kertas putih yang ada di meja kerja Alea.
"Tidak usah repot-repot Tuan," ujar Alea, merasa tidak enak. Ia pun segera mengambil alih tumpukan kertas itu dari tangan Edwin.
"Tidak apa-apa. Oh ya, panggil aku Edwin saja, kita kan rekan kerja, jangan panggil Tuan, Tuan gitu," ujar Edwin, sedikit terkekeh.
"Hm... baiklah." Alea menganggukkan kepalanya sambil tersenyum simpul.
"Lea, pulang bareng gak?" tanya Yaya begitu menghampiri meja kerjanya.
"Em... hari ini kita gak pulang bareng dulu Ya, aku ada urusan lain soalnya," jawab Alea, karena ia ingat kalau hari ini ia ada janji pergi bersama Rey.
"Ya sudah kalau begitu aku pulang duluan ya." Yaya pun segera pergi meninggalkan mereka.
"Sudah selesai," ujar Alea, begitu ia selesai merapikan meja kerjanya. Tumpukan berkas, alat tulis dan komputer sudah tersusun dan terletak begitu rapi di atas meja.
"Ayo, keluar bareng," ajak Edwin. Namun, Alea terdiam.
"Em... kamu, duluan aja. Saya lagi nunggu seseorang soalnya," ucap Alea seakan tak enak hati.
"Hm... sepertinya yang dia tunggu si Rey," gumam Edwin dalam hati.
Edwin pun tersenyum. "Ya sudah aku pulang duluan ya, sampai jumpa besok," ujar Edwin, seraya berlalu meninggalkan ruangan itu.
Kini tinggallah Alea seorang. Ia mendudukkan kembali tubuhnya di atas kursi kerja miliknya. Keadaan mulai terasa sepi. Karena orang-orang yang satu lantai dengannya, sudah pada turun dan pulang.
Tap, tap, tap.
Suara langkah sepatu yang berbenturan langsung dengan lantai marmer, terdengar jelas di kedua telinga Alea. Langkah itu tak lain ialah langkah kaki Nando yang tengah berjalan menghampiri Alea.
Alea langsung berdiri dari duduknya, ketika Nando sudah berada 1 meter di hadapannya.
"Alea, Rey menunggumu di ruangannya. Kau pergilah, aku mau ke bawah mengambil berkas," ujar Nando. Alea pun mengangguk mengiyakan.
Lalu mereka berdua pun keluar dari ruangan itu secara bersamaan, hanya saja pas di pintu keluar, Nando belok ke kiri, sedangkan Alea belok ke kanan menuju ruang kerja Rey.
Setelah mengetuk pintu ruang kerja Rey Alea masuk tanpa diminta. Terlihat Rey yang masih sibuk dengan beberapa berkas kerja yang ada di atas meja kerjanya.
"Pak Rey," panggil Alea berjalan menghampiri Rey.
"Panggil aku ...." Suara Rey tertahan.
"Iya iya, Rey," ralat Alea dengan cepat.
"Duduklah dulu, aku masih harus memeriksa beberapa dokumen penting," ujar Rey. Alea pun menurutinya dan duduk di atas sofa yang ada di ruangan itu.
Setelah kurang lebih 1 jam Alea menunggu dengan rasa bosan. Kini kedua matanya sudah mulai berair, karena sedari tadi ia menahan kantuk dan menguap teru-terusan.
Setelah Rey menyelesaikan semua pekerjaannya. Kini kedua matanya, memandang ke arah Alea yang sedang tertidur di sofa dengan posisi duduk.
Rey pun mengulaskan senyuman manis di wajahnya. Lalu ia berjalan menghampiri Alea yang ternyata sedang tertidur pulang.
Kedua matanya, perlahan mengamati lekukan di setiap wajah Alea, mulai dari mata, hidung dan kini matanya terpusat ke bibir manis Alea yang berwarna merah cherry itu, dengan bibir yang sedikit terbuka, membuat Rey begitu tergoda.
"Kenapa melihatku seperti itu?" ujar Alea dengan mata yang masih terpejam. Sontak membuat Rey sedikit terkejut.
"Kau tidak tidur?" tanya Rey, seraya berdiri di depan Alea. Alea pun mengucek kedua matanya, tanpa menjawab pertanyaan yang Rey berikan padanya barusan.
"Apa sudah selesai?" Rey mengangguk mengiyakan, lalu mengajak Alea untuk segera pergi ke mall untuk membeli suatu barang.
****
Malam harinya, Alea dan Rey tengah bersiap untuk pergi ke acara Baby Shower temannya Rey, yang sama-sama pebisnis. Tak lupa mereka juga sudah menyiapkan kado terbaik. Karena sepulangnya sore tadi dari kantor, mereka berdua menyempatkan diri untuk pergi ke mall terlebih dahulu.
"Kak Rey, Kak Lea, kalian mau ke mana?" tanya Tio begitu melihat mereka berdua turun dari tangga, dengan pakaian serba putih.
"Kita mau pergi ke acara Baby Shower temannya Rey," jawab Alea. Tio pun memanggut-manggutkan kepalanya.
"Di mana Kakak?" tanya Rey.
"Ada tuh di taman, lagi ngobrol sama Paman Deri," ujar Tio.
"Loh, papaku ada di sini?" Alea seakan senang begitu mendengar papanya ada di sini. Tio pun mengiyakan pertanyaan Alea.
Lalu dengan langkah semangat, Alea pun segera pergi ke taman untuk menemui papanya itu. Karena sudah satu minggu mereka tidak bertemu, sejak Alea pindahan ke rumah kakek William.
"Papa," pekik Alea, menghampiri Deri dan Kakek Will yang tengah mengobrol.
Alea langsung memeluk erat tubuh Papanya itu dari samping, dengan perasaan senang. Layaknya anak kecil yang begitu merindukan orang tuanya. Deri pun memberikan ciuman di kening dan pipi putrinya itu sambil tersenyum bahagia, bisa melihat wajah ceria putri kesayangannya itu.
"Alea, kamu rapi sekali, mau ke mana?" tanya Kakek Will, begitu melihat Alea yang mengenakan dress selutut berwarna putih, yang dipadukan dengan lingkaran mutiara cantik di bagian pinggangnya.
"Oh, iya aku sama Rey mau pergi ke acara Baby Shower Kek," jawab Alea seraya melepaskan pelukannya dari tubuh Deri.
Lalu Rey pun muncul, menyalami Deri terlebih dahulu tentunya. Dan kurang lebih 5 menit mereka mengobrol, lalu Rey dan Alea pun memutuskan untuk segera pergi, dikarenakan waktu yang sudah menunjukkan pukul 20.15 malam.
^
"Lihatlah mereka, begitu serasi bukan?" tanya William kepada Deri, yang melihat kepergian Alea dan Rey.
Deri pun membenarkannya. Ia menarik nafas begitu panjang sambil membayangkan senyuman manis putrinya itu. "Sebenarnya saya masih tidak percaya akan hari ini, gadis kecil yang selama ini saya rawat dengan penuh kasih sayang, ternyata sudah dewasa, sudah mempunya suami dan kehidupan barunya sekarang," ujar Deri, seakan rindu dengan momen-momen kebersamaannya dengan Alea.
"Iya Der, saya pun merasa seperti itu, saya masih ingat ketika Reyhan dan Tio, begitu murungnya saat mengetahui kabar kematian kedua orang tuanya yang mendadak itu. Mereka masih cukup kecil untuk menerima kepahitan hidup seperti itu, tapi ... tak terasa waktu berlalu begitu cepat, kini mereka sudah dewasa. Apalagi Rey, semenjak menikah aku lebih sering melihat wajahnya terlihat berenergi, ceria dan memancarkan aura positif. Tidak seperti dulu lagi, yang dingin dan cuek," tutur William, kemudian ia dengan pelan menyesap secangkir kopi yang ada di tangannya.
***
Acara Baby Shower itu di adakan di sebuah hotel bintang lima yang terkemuka. Suasana ballroom hotel waktu itu sangatlah mewah dan begitu indah. Semua hiasan bunga lampu hias, dan serta segala pernah pernik pengias ruangan, semuanya berwarna pink dan biru.
Rey mengajak Alea untuk berkeliling sambil menyapa sebagian rekan-rekan bisnisnya. Termasuk menghampiri rekan bisnis yang mengadakan acara ini.
Sebuah paper bag cantik yang berisi kado di dalamnya, Alea berikan kepada pemilik acara ini. Mereka pun sejenak saling mengobrol.
Karena merasa tak tahan ingin buang air kecil, Alea terpaksa menyela Rey dan rekan bisnisnya itu dari obrolan.
"Rey aku pergi ke toilet dulu ya, kamu tunggu di sekitar sini, jangan ke mana-mana," bisik Alea, lalu buru-buru pergi ke toilet yang ada di luar ballroom.
Suasana di ballroom kali ini semakin ramai, dengan berdatangannya para tamu satu persatu, yang mulai memenuhi isi ruangan. Alunan musik jaz yang berada di samping panggung pun ikut memeriahkan acara malam ini. Sebuah alunan musik dari Ed Sheeran yang berjudul Perfect, cukup membuat perasaan Rey seakan terbawa suasana, cinta yang menghangatkan hati.
Sudah sekitar 12 menit Rey menunggu kembalinya Alea, namun, istrinya itu belum muncul juga. Rey pun berinisiatif untuk menyusul istrinya itu ke toilet.
Namun, langkah Rey tib-tiba terhenti, ia cukup terkesiap, saat melihat Marvel sang musuh dan Rayyan, orang keprcayaan Marvel yang menjadi tangan kanan atau anak buah kesayangan dia. Rey tak menyangka kalau mereka ternyata di undang juga untuk menghadiri acara ini.
"Marvel, Rayyan ..." gumam Rey, menatap tajam, langkah kaki mereka. Marvel dan Rayyan pun melihat ke arahnya dengan tatapan sinis dan tajam, bahkan seringai senyuman licik tersirat di wajah garang Marvel.
.
.
.
Bersambung.
Mohon maaf ya, kalau bulan ini author gak rajin up. Author lagi ngejar deadline yang lain. Insya allah awal oktober sudah mulai produktif lagi, dan author rutinin buat up setiap hari novel Bos-ku Suamiku ini.
Jangan lupa beri dukungan like, komen dan votenya ya... sayang-sayangku❤️
Author sayang kalian, sarangheyoooo 🤗
ha ha ha
ha ha ha