Jeehan tak menyangka bahwa akhir persahabatannya dengan Harris harus berubah menjadi perasaan cinta dalam munajat panjang. Dengan rangkaian doa dan pinta, ia mencoba mengetuk pintu langit bersama nama Harris di hatinya. Berharap laki-laki itu jadi kekasih halalnya kelak.
Namun, ia tak menyangka bahwa perhatian yang sahabatnya berikan hanyalah wujud dari rasa simpati sebagai teman. Yang Harris cintai sebenarnya ialah seorang perempuan di masa lalunya yang tanpa sengaja kembali hadir.
Rasa cinta yang semula Jeehan miliki harus terpaksa ia hapus saat Harris menyatakan cintanya pada Alisha. Mau tak mau Jeehan harus menelan pahitnya kecewa sendirian, sebab setelah sekian lama bersahabat, Harris masih tak memahami diri juga perasaannya.
Sejak saat itu, Jeehan memilih untuk menutup rapat hatinya sebab kecewa bukanlah episode yang ingin ia ulang, apapun alasannya. Lalu, bagaimanakah perjalanan cinta mereka? Akankah Jeehan berhasil menghapus Harris dalam hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Disenchanted 28
"Thanks ya, kamu udah mau maafin aku. Aku gak expect kalau kamu tiba-tiba mau kasih aku kesempatan kedua." Alisha melepaskan pelukannya pada Harris lalu tersenyum senang. Akhirnya, Harris mau berbicara padanya dan bahkan memberinya kesempatan kedua.
"Jangan sembarangan peluk-peluk Gue!" bentak Harris sedikit mendorong Alisha ke belakang. "Jangan karena gue kasih lo kesempatan kedua, terus lo bisa semau lo gitu, ya, Al."
"Iya deh, maaf, aku terlalu excited. Lain kali aku janji gak akan lakuin hal itu kecuali kamu udah izinin."
"Itu bagus, sekarang gue harus pergi."
"Mau ke mana? Aku ikut ya?" pinta Alisha dengan manja.
"Gak perlu! Gue harus temuin Jee dan jelasin hal ini." Baru saja kakinya hendak melangkah, tangannya dicekal Alisha.
"Kenapa? Kenapa kamu harus bilang hal ini ke dia?" tanya Alisha tak suka jika Harris terus saja berhubungan dengan Jeehan.
"Karena dia sahabat gue! Dia berhak tahu. Lepasin tangan gue, Al, gue harus cari Jee sebelum jam istirahat selesai."
Alisha menggeleng, ia justru lebih kuat lagi menggenggam lengan Harris agar tak pergi. "Kalau aku bilang aku gak suka kalau kamu dekat sama Jee, kamu tetap bakalan pergi?"
"Ya."
Lalu, Alisha tak lagi bisa menahan Harris. Selama apapun ia mencoba menahannya, Harris akan tetap memilih sahabatnya, Jee. Alisha tak habis pikir, apa pentingnya Jee bagi Harris? Mengapa mereka sedekat itu?
"Fine, silakan pergi, tapi nanti kita pulang bareng ya? Please. Aku mau ngerasain lagi rasanya dibonceng kamu, ya?" pintanya.
Sesaat, Harris tampak berpikir. "Hmm, lihat nanti aja." Tanpa berkata apa-apa lagi, Harris berjalan menjauh dari taman. Alisha tampak bersungut-sungut sebal.
Tanpa Alisha tahu, seseorang tengah memandangnya dari sudut lain. Tangannya terkepal kuat saat melihat Alisha memeluk Harris tadi.
•••
"Di sini kamu rupanya, aku cari-cari kamu dari tadi." Harris mengambil tempat duduk tepat di depan Jeehan yang sedang asyik membaca buku di perpustakaan. Namun, fokusnya terpecah saat suara Harris tiba-tiba menggema di telinganya.
Jee mendongak, "Kok kamu ada di sini?" tanyanya bingung. Jeehan menutup buku yang dibacanya, lalu meletakkannya di meja.
"Kenapa? Gak boleh ya?"
Jeehan menggeleng, "Bukannya gitu, tapi —"
"Oh ya, aku punya kabar baik buat kamu, lho!" katanya antusias.
"Oh ya? Apa itu?" tanya Jee tanpa minat.
Harris tersenyum simpul, "Coba tebak!"
"Hmm, kamu dapat nilai sempurna lagi?" tebaknya, namun Harris menggeleng. "Apa dong? Langsung bilang ajalah, to the point, Ris, sebentar lagi masuk kelas tahu!"
"Hmm, iya deh, iya. Akhirnya, aku coba ikuti saran kamu, lho, Jee. Aku mau kasih Alisha kesempatan kedua, seperti yang kamu bilang," katanya penuh senyum.
Namun, berbanding terbalik dengan Jee. Meski tersenyum, hati Jee rasanya sakit mendengarnya. "Oh ya bagus dong, akhirnya kamu mau membuka hati kembali, semoga hubungan kalian membaik, ya."
"Jeehan, gawat!" Entah dari mana datangnya Anin. Tiba-tiba ia masuk dan berteriak, membuat beberapa siswa dan siswi memandangnya.
"Kenapa Anin? Kok mukamu panik gitu?" tanya Jee.
Anin tampak menghela napas beberapa saat, memandang wajah Jeehan dan Harris bergantian. "Pokoknya gawat! Ayo ke lapangan basket sekarang! Lo juga ikut, Ris! Itu temen lo berdua lagi berantem di lapangan!"
"Apa?! Siapa yang war? Ck, gak bisa dibiarin nih!" Harris lalu langsung berlari keluar perpustakaan, disusul dengan Jee dan Anin di belakang.
Benar saja, di lapangan basket terlihat sudah ramai siswa berkerumun, seolah pertengkaran itu jadi tontonan yang mengasyikkan.
"STOP! GUE BILANG STOP YA KALIAN!" teriak Harris lantang menghampiri dua orang teman dekatnya yang sedang bergulat itu. "Mau jadi jagoan kalian, huh?" katanya berkacak pinggang.
Amir dan Bastian yang semula saling beradu tinju, mendadak menoleh ke arah Harris dan seketika menghentikan aksinya. Keduanya mematung di tempat lantaran melihat wajah Harris yang tampak serius dan garang.
"Kalian gak apa-apa? Ada yang luka?" tanya Jee menyusul Harris, perempuan itu tampak panik.
Amir mendelik, "Gak usah sok perhatian sama gue, gak bakalan mempan!" katanya ketus sambil membuang muka. Vino yang berada di samping laki-laki itu, menyenggol pinggang Amir, memperingatkannya agar hati-hati dalam bicara.
"Jaga mulut lo, ya, Mir. Kalau ditanya tuh jawab!" ucap Harris, tak suka dengan cara Amir yang memperlakukan Jeehan. Namun, bukannya menjawab, Amir justru membuat gesture seolah ia tak peduli.
"Kalian berdua, ikut gue!" katanya lagi dengan tegas pada kedua laki-laki yang berada di hadapannya itu. "Jee, kamu balik ke kelas aja, mereka biar aku yang urus." Setelahnya, Harris berjalan keluar lapangan setelah membubarkan kerumunan siswa dan siswi di sana.
Dengan malas, Amir dan Bastian mengikuti langkah Harris, menuju sebuah ruangan yang berada di sudut lapangan basket. Ruangan itu, biasanya digunakan untuk berganti pakaian.
Harris berkacak pinggang, menatap tajam ke arah Amir dan Bastian bergantian. "Duduk," perintahnya. Namun keduanya menggeleng, memilih berdiri saja ketimbang duduk dengan pemandangan Harris yang berdiri menyorot keduanya dengan sangar.
"Gak mau duduk? Yaudah gue aja yang duduk!" katanya lalu duduk dengan kaki bertumpang di kaki yang lainnya. "Jadi, siapa yang mau cerita duluan?"
"Si Bastian, dia yang mulai duluan!" sungut Amir.
"Hah? Kok gue? Jelas-jelas lo yang datang-datang langsung marah-marah gak jelas ke gue, kayak perempuan lagi PMS," elak Bastian tak terima disalahkan.
"Kan lo yang tadi—"
Kringgg
Belum sempat Amir menyanggah, bel tanda pelajaran berikutnya berbunyi nyaring, memaksa semua siswa untuk bergegas ke kelas masing-masing. Begitu pula Harris, Amir dan Bastian.
"Gue gak tahu apa problem kalian sebenarnya, tapi kalau kalian mau adu kekuatan, lakuin di luar! Jangan di area sekolah. Malu sama yang lain kalau kalian jadi tontonan publik, paham?"
•••
Panas terik menyengat kulit, bagi Alisha yang tak terbiasa dengan cuaca panas, keadaan seperti ini sangatlah menyiksa dirinya. Namun apapun akan ia lakukan agar bisa pulang bersama sang pujaan hati.
"Duuuh, Harris kok lama banget sih?! Capek deh!" gerutunya mulai tak sabar. Keringat sudah membasahi pelipisnya.
Tak lama dari itu, Harris tampak keluar dari kelas menuju tempat parkir, tempat di mana Alisha menunggunya sejak tadi.
Alisha tersenyum saat melihat sosok tinggi itu mendekat, namun, sedetik kemudian senyumnya hilang saat melihat Jee berjalan di belakangnya.
"Ini si Jee ngapain deh sama Harris." Alisha mulai bersungut-sungut sebal. "Awas aja kalau tiba-tiba gak jadi pulang bareng aku!"
"Loh, Al, belum pulang?" tanyanya seolah tak tahu apa-apa.
"Ish, kamu gimana sih, aku kan nunggu kamu. Kamu lupa ya? Kita kan dah janji mau pulang bareng, Ris!"
"Hah? Masa? Emangnya gue bilang gitu ya?"
Alisha berdecak sebal, "Terus gimana dong? Kita jadi kan pulang bareng? Iya kan?" tanyanya memaksa.
Harris melirik Jee yang sedari tadi hanya memerhatikan keduanya. "Aku dijemput, kok," kata Jee beralasan. Belum lagi tatapan Alisha yang seakan mengancamnya membuat Jee harus berbohong. Lagi pula, tak seharusnya ia terus diantar Harris saat ia tahu bahwa laki-laki itu telah berbaikan dengan Alisha.
"Beneran kamu dijemput, Jee? Siapa yang jemput? Atau gak aku anterin Al pulang dulu terus jemput kamu lagi, gimana?" Harris tampaknya belum mengerti situasi di antara mereka bertiga.
"Gak usah, aku dijemput kok. Kamu antar Alisha pulang aja," jawabnya dengan senyum tulusnya.
"Oh yaudah kalau gitu, aku duluan ya, jangan lupa kabarin aku kalau udah sampe rumah ya?" pintanya masih saja protektif. Padahal di belakangnya, Alisha sudah mendengus sebal.
"Ayo Ris jalan, panas banget lho ini." Keduanya pun melaju di tengah teriknya matahari siang itu.
Meski wajahnya menampilkan senyum, namun hatinya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang melesak ke dalam. Jee mengusap-usap dadanya pelan sambil lirih beristighfar.
Semangaaat Jee 💪
hiks.. hiks...
Gk usah buat sequelnya kk Hern..
sedih&kecewaku sdh Habis disini..
ikut Terbang bersama Jee
(eaaaaaaa lebay....)
wkwkwk
tp kl kk berazzam tuk itu..
yaahh dgn Terpaksa la aqu read
dgn syarat Jee hidup bahagia dgn pria lain.. NO HARRIS!!!!
(eh.. situ Siapa ya, kok ngatur Author..
hihiiiiiiiii)
walaupun itu sgt pahit.....
ternyata, thor..
begini jg alurnya???
kukira kyk drama di novel2,
bakal Harris yg kena getahnya
wkwkwk