Di saat suasana yang kurang baik akibat kena PHK, seorang gadis bernama Alena malah melihat orang yang hendak bunuh diri.
Namun, bukannya berhasil menyelamatkan malah Alena terjun bebas dari atas gedung tersebut. Alena pasrah saat merasakan dirinya yang sudah tidak berdaya, namun ternyata Alena malah masuk ke dalam sebuah Novel yang sangat dia sukai.
Meski dia tidak suka akhir dari novel itu, tapi dia sangat menyukai sosok antagonis yang berakhir mengenaskan itu. Yah mungkin karena namanya dan nama antagonis itu sama.
Tunggu! Alena kini tersadar dalam tubuh antagonis? Bagaimana bisa? Sedangkan akhir mengenaskan kini berada di hadapannya.
Bagiamana Alena bisa lolos dari maut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Mattias mengangkat wajahnya, dia melihat sosok mengerikan di atas tanah Altair. Sosok bertubuh besar dengan dua tanduk menyala, selayaknya api yang berkobar.
Dia adalah salah satu pemimpin dari 12 pemimpin para iblis, para prajurit yang tak pernah berkultivasi merasakan tubuh mereka yang terasa remuk oleh tekanan luar biasa itu.
Cahaya menyala dari kastil Altair, yang artinya iblis itu belum berhasil menyentuh kastil Altair. Mattias yang kehabisan tenaga hampir terjatuh, namun dia tetap berusaha berdiri di antara para prajurit yang tersungkur.
Beberapa prajurit yang terluka meregang nyawa, Mattias mengangkat wajahnya sekali lagi, hingga seteguk darah keluar dari mulut Mattias.
"Uhuk! Uhuk!" Mattias merasakan kepalanya yang sekan mau pecah, tubuh Mattias pada akhirnya ambruk namun berusaha bertahan dengan pedang di tangannya.
"Kau Altair?" Ucap iblis itu menggema hebat, Mattias tak dapat bicara sepatah katapun.
.
.
.
Beberapa saat sebelumnya, Alena tengah membaca sebuah buku yang baginya cukup menarik. Selama dia hamil dia juga sudah membaca buku itu hingga ratusan kali.
"Ibu, bukankah itu buku pengorbanan?" Tanya Bintang, Alix nampak terlelap dalam ayunan bayi.
"Iya, menurut mu apakah semua manusia mampu melakukan pengorbanan?" Tanya Alena dengan perasaan takjub.
"Tidak Bu, aku pernah membaca di salah satu buku sihir. Orang yang hanya dapat melakukan pengorbanan hanya orang yang jiwanya berasal dari dunia lain." Ucap Bintang, Alena terkekeh dan menganggukkan kepalanya setuju.
"Bintang, kau juga tahu bukan, bila aku bukan dari dunia ini?" Tanya Alena, Bintang menganggukkan kepalanya.
"Meski aku merasa tidak begitu ingat, tapi aku merasa apa yang Ibu katakan itu benar." Ucap Bintang, Alena tersenyum dan memeluk Bintang dengan hangatnya.
"Bila suatu hari aku harus pergi, bisakan Bintang menjaga Alix?" Tanya Alena, Bintang menggelengkan kepalanya cepat.
"Tidak Bu, kenapa harus aku yang menjaga Alix? Lagi pula, Bintang akan tumbuh dengan cepat dan menjaga kalian Bu." Ucap Bintang tersenyum lembut.
Alena tersenyum dan menyisir rambut bintang yang panjang, Alena mengepang kedua sisi rambut bintang dan menyatukannya di tengah, Alena menghias rambut Bintang dengan hiasan bintang dan bulan di belakang rambut Bintang.
"Ibu berharap Bintang akan cepat besar," Ucap Alena tulus, keduanya larut dalam keharmonisan meaki hati di hantui rasa cemas akibat peperangan yang tengah berlangsung.
Tanah Altair tiba-tiba bergetar, seluruh manusia suci di kastil langsung berhamburan ke luar, bagitu-pun Alena dan Bintang. Mereka keluar melihat ke arah balkon kamar mereka.
"Mahluk apa itu?" Alena merasa ketakutan bukan main, Bintang menggenggam tangan Alena dan berlari menuju Alix yang kini menangis.
"Cup, cup, Kakak akan jaga Alix." Ucap Bintang dengan lembut, Alena terjatuh saat mahluk itu melangkahkan kakinya.
Alena kini sadar bila mahluk itu bukan mahluk biasa, dia adalah salah satu pemimpin dari 12 pilar dewa iblis. Iblis api kehancuran, begitulah panggilannya.
Api menyala dari kedua tanduk mahluk tersebut, rantai yang nampak membara membelit seluruh tangan besarnya. Kakinya melangkah seperti gunung yang meletus.
Wajahnya seperti banteng dengan asap yang mengepul dari kedua hidungnya, para manusia suci langung melakukan penjagaan dari mantra malaikat.
Ujung jari iblis itu nampak menunjuk ke arah di mana kastil Altair berdiri, sebuah cahaya merah seperti kumpulan energi terkumpul di ujung jarinya. Alena merasakan seluruh tubuhnya yang seakan lemah, dia berlari menuju Bintang dan Alix berada.
"Itu, dewa iblis. Lakukan perlindungan terkuat!" Pekik beberapa penyihir yang memang ada untuk menjaga Alena, termasuk Anna dan beberapa pelayan Alena.
Ujung jari iblis itu nampak menembakkan sebuah cahaya layaknya leser, Alena memeluk Bintang dan Alix.
Duar!
Benturan energi terdengar menggema di seluruh penjuru tanah Altair, beberapa rakyat Altair nampak berlarian tak tentu arah. Rasa ketakutan kini menjalari seluruh tubuh rakyat dari tanah Altair.
Dari kejauhan, menara sihir nampak bercahaya terang dan beberpa burung merpati di terbangkan oleh manusia suci demi mencari bantuan, dua orang prajurit juga keluar dari kastil.
"Para manusia bodoh, aku merasakan energi yang besar di sini!" Ucap iblis itu, Bintang memeluk Alix dengan erat. Alena juga memeluk Bintang dan putrinya.
Sebuah pasukan akhirnya tiba, mereka adalah pasukan Altair yang baru saja selesai berperang. Mattias dan rombongannya, iblis itu nampak menyeringai dan menatap Mattias.
Iblis itu memalingkan pandangannya dan melangkah mendekati Mattias dan rombongannya, sebuah gravitasi berbentuk kekuatan super luar biasa terpancar dari setiap langkah iblis itu.
"Itu yang mulia!" Pekik Anna yang berada di dekat kamar Alena, Alena yang mendengar itu langsung terbelalak. Alena berlari kembali ke arah balkon dan melihat tubuh suaminya yang bercucuran darah.
Beberapa prajurit nampak tewas dan yang lainnya nampak terluka, Alena menangis tak dapat berkata apa-apa, air matanya mengalir selayaknya rasa pedih yang tak terungkap. Hanya sekejap itukah kebahagiaan dan kebersamaan Alena dan Mattias.
Setelah menunggu ribuan tahun dan ratusan reinkarnasi Mattias hanya di beri kesempatan sangat sebentar bertemu Alena. Mattias nampak melihat ke arah kastil yang berdiri kokoh.
Tanpa di sengaja pandangan Mattias dan Alena saling bertemu, Mattias berusaha tersenyum seolah memberi kode agar Alena pergi meninggalkan tempat itu secepatnya.
"Dasar pria bodoh! Kamu selalu melakukan banyak pengorbanan untukku!" Pekik Alena menangis, dia menunduk lemas. Kaki Alena seolah tak bertenaga sedikitpun.
"Uhuk! Uhuk!" Untuk ke dua kalinya Mattias memuntahkan seteguk darah, Alena semakin histeris tak kala iblis itu bertanya nama Mattias.
"Aku Altair!" Pekik Mattias, dia berusaha berdiri meski sendi di kakinya seolah akan copot dari tempatnya, iblis itu nampak menyeringai.
Ujung jari iblis itu kembali mengumpulkan banyak energi, sebuah pedang keluar dari kening Mattias dan membuat iblis itu kembali menyeringai.
"Kau mahluk dengan nafas kematian? Sungguh menarik! Tapi kau harus mati hari ini." Ucap iblis itu, sebuah energi besar melesat ke arah Mattias berada.
"Tidaaak!!" Teriak Alena, tanpa sengaja Alena membaca mantra pengorbanan yang pernah dia lihat di buku. Sebuah cahaya mengelilingi tubuh Alena.
"Ibu!" Teriak Bintang dari dalam kamar, Bintang memeluk Alix dan berlari menuju ke arah Alena berada. Alena tersenyum dan mengecup kening Bintang.
"Jaga Alix ya Bintang?" Pinta Alena, air matanya jatuh beruraian. Bintang menangis tak kala energi di tubuh Alena semakin meluap-luap.
"Ibu, jangan tinggalkan kami!" Teriak Bintang, Alix juga ikut menangis tak kala Bintang berteriak.
Di sisi lain, Mattias hampir kehilangan kesadarannya. Pengelihatannya mulai mengabur, matanya berkedip dengan bola energi besar yang kian mendekat.
"Ibu!" Teriak Bintang saat Alena berlari ke arah balkon dan melompat dari balkon tersebut, Alena kembali membaca mantra.
Pengumuman
Untuk pemenang 20 bab terbaik, untuk 3 orang.
Untuk 3 orang teratas bisa langsung PC ke Nuah ya, udah Nuah follow juga.
Kirimkan no dana atau hp kalian, Nuah tunggu ya.
Bagi yang belum dapat jangan berkecil hati, siapa tahu karya ini lulus di 40 bab. Dan bisa melakukan pembagian GA lagi bagi 5 orang pemenang.
Yang udah dapat juga amankan posisi kalian ya, siapa tahu di season selanjutnya kalian bisa dapat lagi, meski recehan yang penting berkah ya mentemen.